Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Cerita Ditya-2


Lara


Aku mendengarkan segala cerita yang Ditya katakan dengan pikiran yang tenang dan bisa menerimanya. Apa yang Ia katakan adalah yang sejujur-jujurnya. Aku bisa membaca dari sorot matanya.


Sesekali Ditya berhenti bercerita dan meneruskan makannya dengan lahap. Sepertinya Ia sudah lama tidak makan dengan lahap seperti itu. Aku pun jadi ikutan menikmati sekali mie ayam yang sudah lama tidak aku makan ini.


"Aku pun mulai menyadari perbedaan yang ada dalam diri kamu. Kadang aku merasa kalau kamu tuh seperti Agni. Kadang juga aku merasa kamu adalah Lara yang begitu rapuh dan bahkan butuh perlindungan dariku. Kayak sekarang ini. Kelihatannya aja kuat dan berani, padahal kamu ingin berada di pelukan aku." Ditya tersenyum menggodaku. Sempat-sempatnya Ia sedang cerita serius seperti ini menggodaku.


"Bukan kamu aja sih yang merasa seperti iti. Bima juga menyadarinya. Itulah alasanku terus mencari tahu arti mimpi aku selama ini. Kamu dan Bima membuat aku menyadari kalau ada sisi lain dalam diriku yang aku sendiri nggak kenal,"


"Jujur saja aku sudah lama nggak makan seafood. Karena seafood adalah makanan kesukaan Mamaku. Aku selalu sedih setiap makan seafood. Namun semenjak aku bunuh diri, aku jadi suka seafood. Lalu banyak perubahan lain yang terjadi pada diri aku, salah satunya adalah sudah tidak perlu lagi memakai kacamata. Bima bilang, aku harus mencari tahu kenapa aku berubah dan kenapa aku terus menerus bermimpi yang sama. Mimpi tentang sebuah cincin yang tertanam di belakang Panti. Aku pun ke panti dan aku ingin membuktikan sendiri, apakah mimpi yang selama ini hadir menemani malam-malamku adalah benar nyata atau hanya sekedar bunga tidur saja. Ternyata memang benar." mie ayam yang kumakan sudah habis. Aku benar-benar rindu mie ayam ini.


"Jadi itu penyebab kamu sering datang ke Panti? Ingin mencari tahu kebenaran mimpi kamu?" tanya Ditya sambil menatapku lekat dan serius.


"Enggak juga. Aku merasa, Panti sudah seperti rumahku sendiri. Aku suka dengan adik-adik disana dan aku merasa nyaman. Aku nggak kesepian dan enggak perlu bertemu dengan keluarga palsu yang selalu menyakitiku. Aku mulai mencari tahu tentang Panti semenjak mimpi tentang kamu dan Agni yang mengubur cincin mulai mengusikku dan sifatku mulai menjadi semakin tidak kukenali. Aku nggak mau seperti orang yang hidup dengan kepribadian ganda, karena itu aku buktikan. Itulah awal kita bertengkar hebat dan segala kesalahpahaman yang terjadi. "


Ditya menghela nafasnya. Dijauhkannya mangkok mie ayam yang sudah selesai Ia makan lalu meminum teh dingin miliknya. "Ya... Itu salahku. Aku juga selama ini sudah berburuk sangka sama kamu. Seharusnya, sebagai seorang suami aku tuh bertanya apa masalah kamu. Bukan hanya sekedar menikahi kamu saja namun tidak tahu bagaimana perasaan yang kamu rasakan."


"Ada yang masih aku mau tanyakan sama kamu." kataku. "Kenapa kamu nggak jujur padaku tentang status kamu yang bukan anak kandung Keluarga Kusuma?! Padahal, dalam sekali lihat aja aku sudah tahu wajah kalian nggak mirip sama sekali!"


Ditya malah tertawa. Lalu tatapannya mulai terlihat ingin menggodaku lagi. "Kenapa? Aku ganteng ya? Enggak kayak Papa yang sudah mulai tua dan kisut?!" Ditya tertawa dengan gurauan yang Ia buat sendiri.


"Iya deh yang ganteng. Cepat dong jawab! Aku nggak bisa lama-lama di tempat mie ayam ini. Kita kan harus kembali bekerja!"


"Enggak usah mikirin pekerjaan! Selama ini aku sudah bekerja penuh di perusahaan. Aku akan bilang sama sekretarisku, kita sedang meeting di luar." Ditya lalu mengeluarkan Hp miliknya dan menelepon sekretarisnya.


Aku menunggu sampai Ditya menyelesaikan percakapannya. "Tadi kamu nanya kan kenapa aku tidak mengatakan kalau aku adalah anak adopsi? Jujur aja, aku nggak mau rencana pernikahan kita gagal. Aku nggak mau kamu malu punya suami yang ternyata adalah penghuni Panti, nggak punya orang tua. Aku enggak mau kehilangan kamu. Itu alasan aku menyembunyikan status aku. Aku nekat melakukannya demi mendapatkan kamu. Satu-satunya hal nekat yang kulakukan karena kamu!"


Apa yang Ditya katakan masuk akal sih. Aku hanya mengangguk seakan membenarkan semua perkataannya. "Kalau begitu, sekarang gantian aku yang tanya tentang kamu." raut wajah Ditya kembali serius. Ia menatapku dengan lekat dan tatapan yang tajam seakan menelisik kebenaran dari setiap perkataanku. "Ceritakan bagaimana kamu sampai bisa bunuh diri, lalu kamu berada di mana selama ini?"


"Lalu kamu selama ini berada di mana? Aku nggak pernah bisa menemukan keberadaan kamu. Kamu bagai hilang ditelan bumi. Bahkan, Bima juga menghilang. Apa... Kamu sudah menikah dengan Bima?"


"Bagaimana aku bisa menikah jika surat cerai saja tidak kamu tanda tangani?!" sindirku. "Selama ini aku dan Bima tinggal di luar negeri. Kami membuat konten dan jalan-jalan selama berada di sana. Bima sakit dan meninggal setahun kemudian. Om Wisnu yang mengatur semuanya untukku. Uang yang kamu kirimkan ditransfer oleh Om Wisnu ke rekeningku yang ada di Belanda."


"Pantas saja aku sulit menemukan kamu! Pintar sekali!" gerutu Ditya. "Boleh tau Bima meninggal kenapa?"


"Bima meninggal karena sakit. Sejak lama Ia hidup dengan satu ginjal. Aku tak tahu karena selama ini Ia baik-baik saja. Bima tahu keadaannya akan memburuk karena donor ginjal selalu ditolak oleh tubuhnya. Bima berkeinginan mencari keberadaanku, Ia ingin menghabiskan hidupnya bersamaku. Lalu kami tak sengaja bertemu dan bersahabat sampai akhir hidupnya."


"Kenapa tak memberitahuku? Setidaknya aku bisa membantu?!"


"Tak perlu membahas Bima lagi. Ayo kita kembali ke kantor. Aku tak bisa terlalu lama berada di luar. Aku baru kembali ke perusahaan dan tak mau jadi bahan omongan orang lain."


Ditya setuju saja, Ia lalu membayar makanan dan kami kembali ke kantor. Entah kenapa aku merasa sangat mengantuk. Semalam aku tidur lelap sekali tapi sekarang kok mengantuk ya?


Mobil Ditya yang nyaman dan harum serta suara musik yang menenangkan membuat aku mulai memejamkan kedua mataku. Aku pun tertidur dan saat aku membuka mata aku merasa dunia seakan lebih tinggi dan besar.


Aku melihat ke sekeliling, ternyata aku sedang dituntun oleh seseorang. Kutatap wanita cantik dengan dress selutut yang menarik tanganku.


"Mama mau mengajak aku kemana?" tanyaku.


Tunggu, Mama? Wanita ini Mamaku?


Lalu wanita cantik itu berhenti dan berbalik badan. Karena Ia sangat tinggi dariku, Ia pun berjongkok. Jarak kami begitu dekat dan aku terkejut saat mengetahui siapa wanita ini.


****