Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Resepsi Super Megah


Lara


Hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku. Hari dimana hubungan cintaku dan Ditya disatukan di hadapan Allah. Menjadi sebuah hubungan yang sakral.


Senyum di wajahku terus mengembang sempurna. Hari bahagia, senyum juga harus sangat bahagia.


Tamu yang datang ke pesta pernikahanku dan Ditya sangat banyak sekali. Benar-benar pesta pernikahan super megah yang dihadiri oleh banyak pengusaha dan wartawan tentunya.


Aku membaca beberapa judul artikel ditulis besar-besar tentang pernikahanku.


...PERNIKAHAN DUA ANAK PENGUSAHA BESAR, DITYA KUSUMA DAN LARA HANDAKA DILANGSUNGKAN HARI INI. AKANKAH INI MENJADI PERNIKAHAN BISNIS SEMATA? ATAUKAH DITYA DAN LARA MEMANG SALING MENCINTAI? ...


Judul yang aneh!


Kenapa juga aku menikah karena bisnis?


Aku menikah dengan Ditya ya karena aku sangat mencintai Ditya! Perasaan yang kurasakan jauh lebih dalam daripada yang kurasakan pada Arya.


Kulirik pria tampan dan gagah yang berdiri di sampingku. Dia suamiku, Ditya Kusuma.


Mulai sekarang, hari-hariku akan dihiasi dengan Ditya... Ditya... dan Ditya...


Indahnya...


Seakan tahu kalau sejak tadi aku terus menatapnya, Ditya pun menoleh dan tersenyum padaku. Momen ini tentu saja tidak dilewatkan oleh para wartawan. Saat Ditya tersenyum dan aku membalas senyumannya. Biar seisi dunia tahu kalau kami saling mencintai.


"Kenapa sih liatin aku terus?" tanya Ditya sambil berbisik pelan agar para tamu yang hendak bersalaman dengan kami tak mendengar apa yang kami bicarakan.


"Aku masih merasa kalau semua ini hanya mimpi!" kataku dengan jujur.


Ditya kembali tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi. "Kamu tuh kalau ngomong lugu begini, aku suka banget. Orisinil dan Lara Handaka banget!"


Maksud Ditya apa ya? Memangnya aku bukan Lara Handaka apa? Ah sudahlah! Mungkin itu hanya sekedar kata-kata tanpa maksud saja.


Aku dan Ditya harus menghentikan obrolan kami ketika seorang menteri yang diundang oleh Papa Handaka datang. Kami harus menyambut tamu penting tersebut dengan senyum.


"Selamat ya Lara Handaka dan Ditya Kusuma... Semoga keluarga kalian selalu berbahagia dan cepat dikaruniai momongan." kata Pak Menteri tersebut.


Aku dan Ditya kompak mengamini doanya. "Aamiin!"


Kami pun lalu foto bersama dengan Pak Menteri yang berdiri di sebelah Ditya dan Papa Handaka. Nampak Papa Handaka tersenyum penuh kebanggaan bisa menikahkan putri kandungnya dengan megah dan mewah.


Mataku menatap Anggi dan Arya yang berdiri di antara para undangan. Anggi memakai gaun cantik dan mahal, namun sayang wajahnya ditekuk dan cemberut. Merasa ditikung olehku yang justru malah nikah duluan.


Sehabis Pak Menteri berfoto bersama dan bersalaman, gantian kini yang datang para anggota DPR. Wah... Papa Handaka memang kenalanannya tidak kaleng-kaleng.


Selama ini pantas saja saat orang tau siapa nama lengkapku mereka akan sangat terkejut. Seorang Handaka. Ibaratnya punya kasta berbeda, itu yang Ditya katakan dulu.


Harta kekayaan Papa Handaka memang sangat banyak. Tentu ada sebagian besar milikku di dalamnya. Namun Papa sudah mewasiatkan sebagian hartanya pada Anggi dan Tante Sofie juga. Semua bertujuan agar aku dan keluarga angkatku akur. Tidak memperebutkan harta.


Kini setelah aku menikah, otomatis perusahaan akan Ditya yang memimpin. Aku hanya perlu menjadi istri yang baik dan selebgram saja untuk mengisi waktu kosongku.


Aku terus tersenyum sampai terasa pegal rahangku karena tamu yang datang tak kunjung habis. Kakiku juga pegal berdiri lama. Perut juga terasa lapar.


Menyesal sekali tadi aku tidak makan banyak. Kalau tau akan melelahkan seperti ini, lebih baik aku makan sebanyak mungkin tadi!


Ditya berbisik di telingaku. "Aku lapar. Kamu lapar enggak?"


Loh kok kita satu pemikiran juga sih?


Aku mengangguk dan menjawab dengan berbisik juga. "Banget."


Ditya mengulum senyum. "Enak nih kalau makan mie ayam!"


"Setuju!" jawab Ditya. Kami pun tertawa bersama sampai MC pernikahan menggoda kami.


"Di hari yang berbahagia ini, Ditya dan Lara sudah berbisik-bisik sejak tadi. Sudah senyum-senyum dan asyik berdua saja. Hmm... Akankah nanti malam akan lebih asyik lagi?" tak lama para tamu pun tertawa mendengar gurauan sang MC.


Mereka tertawa, aku dan Ditya yang menunduk malu. Huh...


Seakan jabat tangan tak kunjung selesai, kini waktunya foto bersama. Ini lebih melelahkan lagi. Senyum harus lebih lebar lagi karena akan menjadi foto kenang-kenangan.


Rahangku yang sudah pegal menjadi lebih pegal lagi. Silih berganti nama-nama yang dipanggil berfoto bareng. Senyum lebar pun harus aku tampilkan.


Kapankah semua ini akan berakhir?


Pegel....


"Sabar ya! Nanti aku pijitin kaki kamu!" bisik Ditya yang membuat wajahku kembali memanas.


Mau dipijitin dong sama Ditya. Siapa yang akan nolak?


"Sekarang gaya bebas! 1....2....3...."


Cekrek...


Waktu resepsi pun akhirnya selesai. Tak peduli dengan tamu yang datang telat. Enaknya di gedung seperti itu. On time.


Akhirnya...


Aku pun duduk di kursi yang seperti pajangan saja. Hanya diduduki saat awal pembukaan acara saja. Sisanya aku dan Ditya berdiri.


"Capeknya...." keluhku pelan.


"Lapernya...." Ditya juga ikut mengeluh.


Kami saling tatap dan kembali tertawa bersama. Ditya memang suami rasa teman. Kompak selalu denganku.


Kami pun diminta untuk makan bersama keluarga besar di tempat yang disediakan. Nampak Tante Sofie yang masih terlihat cantik mempesona dan tak terlihat menua sama sekali. Hari ini Ia berakting menjadi ibu tiri yang baik. Yang tersenyum anggun dengan semua yang hadir.


Di sisi lain ada Arya yang terus saja menatap ke arahku dan menggubris Anggi yang sejak tadi terus memanyunkan bibirnya. Arya tersenyum ke arahku namun kubalas dengan membuang pandanganku ke arah lain.


Tanpa aku sadari, sejak tadi Ditya terus memperhatikan apa yang Arya lakukan dan bagaimana aku membuang pandanganku.


"Terima kasih atas kerjasama antara keluarga Handaka dan keluarga Kusuma sehingga acara hari ini dapat terlaksana dengan baik. Sekarang kita sudah menjadi keluarga. Kedepannya semoga hubungan kekeluargaan kita semakin erat dan baik. Aamiin. Silahkan dinikmati hidangannya!"


Aku dan Ditya akhirnya bisa makan sampai kenyang. Ditya sih, kalau aku enggak. Maklum, pakai korset mana bisa makan banyak?


Selesai acara, aku dan Ditya sudah dijemput dengan mobil pengantin yang dihiasi dengan bunga dan pita. Ditya menyuruh supir untuk mengangkat koper yang tadi pagi aku bawa.


Jujur saja aku masih belum tahu akan dibawa tinggal dimana dengan Ditya. Aku ikut saja kemana suamiku akan mengajakku tinggal.


Kami pun meninggalkan lambaian tangan kerabat yang melepas kepergian kami dengan senyuman.


Tak tahan menahan rasa penasaran yang membuncah, aku pun bertanya pada Ditya.


"Kita mau kemana?" tanyaku.


"Ada deh! Surprise pokoknya!"


Hmm... Makin penasaran aku!


****