Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Pembagian Harta-2


Lara


Enak sekali Tante Sofie meminta harta Papa dibagi 3. Kalau begitu aku akan kalah suara nantinya! Tak akan kubiarkan. Akan aku cegah kalau Ia berniat mengubah pikiran Papa!


"Ini keputusanku, tak ada yang bisa mengganggu gugat!" kata Papa dengan tegas.


Huft.... Syukurlah...


"Silahkan dilanjutkan, Pak!" pinta pengacara Papa.


"Baik. Lara 50 persen, Sofie dan Anggi masing-masing 20 persen. Lalu sisanya 10 persen akan saya berikan kepada kedua menantu saya. Masing-masing 5 persen. Mereka yang akan memajukan perusahaan setelah saya tiada. Keputusan ini saya buat dengan kesadaran penuh tanpa ada pemaksaan dari siapapun." kata Papa menutup isi wasiatnya.


Aku setuju dengan keputusan Papa. Namun tidak dengan Tante Sofie. Ia masih berusaha memaksakan kehendaknya pada Papa.


"Sayang, bagaimana kedua menantu akan memiliki kekuasaan di perusahaan kalau mereka hanya mendapat 5 persen saja? Pasti karyawan mereka tak akan menghormati mereka nantinya."


"Mereka tetap pemimpin tertinggi di perusahaan, bagaimana bisa mereka tak akan dihormati! Sudah kamu jangan serakah, Sofie! Itu sudah keputusan saya!" Papa pun menandatangani surat wasiat miliknya di atas materai.


Kembali aku ditatap dengan tatapan menyeramkan dari Tant Sofie. Tatapan penuh kekalahan yang seakan tak rela aku mendapat harta Papa lebih banyak.


Suasana di rumah menjadi tak nyaman. Tatapan sinis dan tak suka selalu Tante Sofie berikan padaku. Tak mau kalah, aku tatap balik.


"Kenapa? Enggak dapat banyak harta ya? Makanya kerja! Jangan cuma ngarepin harta aja!" kataku dengan pedas.


"Cih! Pasti harta kamu yang akan habis duluan! Lihat saja nanti! Arya calon menantuku akan lebih hebat dan menggantikan Ditya memimpin perusahaan!" ancam Tante Sofie.


"Oh ya? Yakin? Bikin budget biaya saja sudah berniat korupsi. Hati-hati justru harta kalian yang akan Arya kuras nantinya!" aku pergi sambil tersenyum smirk.


Aku tak betah berlama-lama lagi di rumah Papa. Esok pagi, aku dan Ditya pamit pulang. Setidaknya kini aku punya suami tempat berkeluh kesah.


****


Hari ini aku berencana untuk ke Panti. Seharusnya kemarin, namun Bima harus mengantar Mamanya ke dokter jadi rencana kami pending.


Bima datang menjemputku dengan membawa mobil berisi banyak bahan makanan untuk Panti. Uang untuk biaya operasional Panti juga sudah disiapkan. Akan diberikan langsung pada Kak Nisa nanti.


"Kamu siap, Ra?" tanya Bima.


Aku mengangguk. "Harus siap. Aku harus mencari tahu sebanyak mungkin tentang Agni."


Ya, kami bukan hanya berniat amal saja ke sana. Namun juga mencari tahu lebih banyak tentang Agni. Semua yang bisa aku tahu.


Kami pun berangkat ke Panti. Aku sudah minta ijin pada Ditya tentunya, dan suamiku sudah memberi ijin.


Lagi-lagi perasaan nyaman langsung kurasakan begitu mobil Bima memasuki halaman Panti.


"Perasaan nyaman mulai datang, Bim. Seperti aku terbiasa tinggal di sini dan merasa kalau ini adalah rumahku." kataku pada Bima.


"Terus gali, Ra. Rasakan setiap perasaan berbeda. Kalau perlu keluarkan kepribadian lain kamu. Kita harus mencari tahu semua. Apakah benar setengah diri kamu adalah Agni atau bukan!" ujar Bima.


"Iya, Bim. Aku akan memberitahu kamu apa saja yang kulihat atau kurasakan."


Kami pun turun dari mobil dan disambut dengan senyum hangat Kak Nisa. Aku memeluk Kak Nisa dengan akrab. Ia benar-benar wanita baik yang mengabdikan dirinya untuk panti asuhan ini.


"Kak Nisa senang Lara datang lagi kesini. Aduh pakai repot bawa bawaan segala! Main aja. Adik-adik di sini suka sama Lara. Katanya ada artis!" kata Kak Nisa sambil tersenyum.


"Ah Kakak bisa saja! Ini ada rejeki yang aku dan Bima sisihkan untuk Panti." kuberikan amplop berisi uang pada Kak Nisa.


"Alhamdulillah! Terima kasih banyak, Lara. Semoga Allah akan membalas semua kebaikan kamu dengan rejeki yang berlimpah dan hidup yang bahagia selamanya." doa Kak Nisa.


"Aamiin!"


"Kak, Bunga mana? Aku mau ketemu sama Bunga!" tanyaku.


"Ada. Kayaknya lagi di kamarnya deh. Lagi ngerjain tugas sekolahnya. Ayo Kak Nisa antar." Kak Nisa pun mengantarku ke salah satu kamar di antara banyak kamar yang berderet.


Meski sederhana, namun Panti ini bersih dan rapi. Aku masuk ke dalam kamar Bunga. Kamar ini berisi empat ranjang tingkat yang bisa dihuni oleh 8 anak.


Nampak Bunga sedang tengkurap di lantai, mengerjakan pekerjaan rumahnya. "Bunga, lihat siapa yang datang!" kata Kak Nisa.


Aku melongokkan kepalaku dan Bunga tersenyum lebar saat melihatku. "Kak Lara!" Ia langsung berdiri dan memelukku erat.


"Bunga apa kabar? Sedang apa? Boleh Kak Lara lihat?" tanyaku.


"Boleh dong, Kak." Bunga lalu mengajakku melihat yang Ia kerjakan sejak tadi.


"Kak Nisa pamit dulu ya. Mau membantu Bima di depan!" pamit Kak Nisa.


"Iya, Kak."


Aku pun memperhatikan apa yang Bunga kerjakan. Nampak beberapa anak sedang membuat gelang dan kalung untuk mengisi waktu senggang mereka. Lumayan untuk dijual di acara bazar nanti.


"Kak Lara kemana sih? Kok enggak pernah datang kesini?" tanya Bunga.


"Kakak sibuk. Sekarang Kakak sudah menikah jadi enggak bisa pergi tanpa ijin dari suami Kakak." jawabku.


"Pasti susah deh minta ijin sama Kak Ditya. Kak Ditya memang begitu. Anak-anak saja kalau mau pergi dharmawisata dari sekolah saja ditanya panjang lebar. Apalagi Kak Lara sebagai istrinya." seakan menyadari kesalahannya, Bunga pun menutup mulutnya.


"Ditya? Kak Ditya yang Bunga maksud suaminya Kak Lara? Bunga kenal akrab dengan Kak Ditya?" tanyaku.


"Eh... Eng... Enggak. Bunga salah orang." aku tahu Ia berbohong. Kenapa Ia menyembunyikannya?


"Bunga. Kenapa bohong? Kak Lara enggak apa-apa kok. Jujur yuk sama Kak Lara." aku berusaha meyakinkan Bunga agar mau bercerita padaku apa maksud perkataannya tadi.


"Aku enggak boleh bilang sama Kak Ditya. Nanti aku bisa diomeli." bisik Bunga sambil celingak-celinguk takut ada yang mendengar.


"Memangnya kenapa? Kamu tenang aja, Kak Lara akan jaga rahasia kok!" janjiku.


"Kak Ditya minta sama anak-anak yang kenal Kak Ditya untuk tidak memberitahu orang lain kalau Kak Ditya pernah tinggal di sini." bisik Bunga.


Ditya pernah tinggal di sini? Maksudnya apa?


"Siapa saja yang disuruh berjanji sama Ditya?" tanyaku sambil berbisik juga.


"Cuma anak-anak yang tau aja. Sekarang hanya aku, Santi dan Ida yang tahu. Anak-anak lain masuk ke panti setelah Kak Ditya pergi."


Deg...


Maksudnya dulu Ditya adalah penghuni panti ini? Jadi Ditya bukan anak kandung keluarga Kusuma? Pantas saja mereka sama sekali tidak mirip!


"Kak! Kak Lara!" Bunga mengagetkanku yang sedang melamun.


"Ah iya. Kenapa?"


"Kak Lara janji ya kalau tidak kasih tau Kak Ditya kalau aku keceplosan sama Kak Lara?" pinta Bunga.


Aku mengangguk. "Kak Lara janji. Kalau kakak yang Bunga bilang waktu itu di surga namanya... Agni bukan?"


****