
POV Author
Lara memikirkan perkataan Ditya dengan seksama. Benar juga yang dikatakannya. Ia yang sudah lama tidak terjun ke perusahaan tak akan dengan mudah memperoleh kepercayaan dari para pemegang saham.
Ditya yang sudah lama memimpin perusahaan tentu akan menang tanpa harus buang-buang tenaga. Semua sudah mengetahui kemampuan Ditya seperti apa. Sepak terjangnya memimpin Kusuma Corporation tak perlu diragukan lagi.
Setelah Kusuma Corporation berbesanan dengan Handaka Group, perusahaan mereka semakin maju saja. Benar yang Om Wisnu bilang, Ditya memang hebat bisa memimpin dua perusahaan dalam waktu bersamaan. Ditya bahkan bisa memajukan dua perusahaan tersebut selama kepemimpinannya.
Susah bersaing dengan yang sudah profesional dalam bidangnya. Lara menyadari itu. Karena itu, Ia harus membuang ego-nya dan menerima kenyataan kalau Ia perlu belajar dahulu sebelum memimpin perusahaan lagi.
Masalahnya adalah waktu. Lara harus mengurus Lily dan juga membuat vlog. Kapan Ia akan belajar?
"Kenapa? Perkataanku benar?" sindir Ditya yang kini merasa di atas angin.
Meski di luar terkesan galak dan sombong, Lara tetaplah Lara di mata Ditya. Istrinya tak bisa selamanya menyembunyikan sifat aslinya dibalik topeng kesombongan.
"Biasa aja. Baiklah. Aku akan mempelajari perusahaan dahulu. Aku setuju ditempatkan di ruangan ini, tapi aku minta sekat. Aku tak mau ada eye contact di antara kita!" request Lara.
"Tak masalah! Toh pada akhirnya kita akan terus bekerja sama. Bukan eye contact saja, tapi skin ship mungkin akan kita lakukan." goda Ditya lagi.
Lara menghela nafas sebal. "Aku akan mulai bekerja besok. Start jam 9 dan pulang jam 4 sore."
Ditya mengernyitkan keningnya. "Pemimpin perusahaan tak pernah ada jam kerjanya!"
"Aku tak peduli. Itu peraturanku!" balas Lara dengan acuh.
Ditya pun mengalah. Sudah cukup Ia menyudutkan Lara sejak tadi. Kini saatnya Ia menghargai keinginan Lara. "Baiklah. Aku setuju."
Tok....tok...tok...
Pintu ruangan Ditya diketuk oleh sekretaris pribadinya yang datang membawakan laporan keuangan yang Lara minta. Lara pun langsung mengambil dan memeriksanya.
"Tanyakan saja apa yang mau kamu tanyakan, Sayang!" goda Ditya sambil mengulum senyumnya.
Lara mendelik tak suka atas panggilan yang Ditya tujukan padanya. Bukan apa-apa, Ia takut luluh dan lemah hati. Takut akan terbuai dengan godaan cinta yang Ditya tawarkan.
"Biaya ini kenapa sampai membengkak?" tanya Lara yang juga memeriksa hasil audit dari audit eksternal.
Ditya mengangkat kedua bahunya. "Tanyakan saja pada adik ipar kamu, Sayang. Oh iya aku lupa, mantan pacar kamu juga dulu." ledek Ditya sambil tersenyum mengejek.
Senyum di wajah Ditya menghilang saat Lara menatapnya tajam. "Ups... Sorry. Maksud aku itu perbuatan Arya Prabakesa. Suami Anggi, adik tiri kamu. Waktu dia menjabat sebagai manajer produksi, banyak penyelewengan yang dia lakukan. Uang hasil penyelewengannya dia buat usaha. Hasilnya? Tentu saja gagal! Uang hasil korupsi kok dipakai jadi modal!"
Lara teringat apa yang Om Wisnu ceritakan. Arya yang gagal dalam bisnis. Ternyata modalnya dari uang korupsi rupanya! "Kenapa Ditya menyembunyikannya? Apa karena mereka satu kubu sekarang?" batin Lara.
"Lalu ada dimana dia sekarang? Masih jadi manager produksi?" tanya Lara penasaran.
"Kenapa? Kangen ya? Sama aku kangen juga enggak?" goda Ditya lagi.
"Lupakan! Aku tak peduli dia ada dimana!" balas Lara acuh. Lara kembali melihat laporan di tangannya.
"Marah? Aku jawab kok, Sayang! Karena Arya menantunya Tante Sofie, aku tak bisa menyingkirkannya begitu saja. Mau-nya sih aku laporin ke polisi atas tuduhan penggelapan aset perusahaan, tapi belum bisa jadi terpaksa aku rotasi. Kutempatkan di bagian pemusnahan. Jadi kepala sih, tapi anggap aja kayak tukang bersih-bersih."
Lara kembali setuju dengan keputusan Ditya.
"Kamu enggak bilang terima kasih sama aku? Selama kamu pergi, aku loh yang memimpin perusahaan kamu!" sindir Ditya.
"Thanks!" kata Lara singkat.
"Cuma thanks aja?" sindir Ditya. Ia lalu menyentuh pipinya dengan jari telunjuknya. "Buat DP dulu kiss di pipi. Boleh kan?"
"Jangan harap!" balas Lara.
"Yaudah berarti aku mau minta jatah sebagai suami kamu selama 5 tahun yang kamu tidak berikan padaku. Aku tetap mengirim uang bulanan beserta gaji kamu loh! Aku enggak mau kamu kekurangan dan kesusahan." tagih Ditya.
Lara tetap acuh dan fokus melihat laporan di tangannya. "Udah? Udah mimpinya? Kalau udah, aku minta laporan keuangan ini dikirim ke email aku. Akan aku periksa saat berada di rumah nanti."
Lara mengeluarkan sebuah pulpen dan menuliskan alamat emailnya. "Kirim ke sini aja!"
"Kamu beneran ke sini karena pekerjaan? Tidak kangen denganku? Kita sudah 5 tahun tidak bertemu loh! Hampir gila aku nyariin keberadaan kamu!" Ditya mulai tak sabaran dan mengeluarkan isi harinya.
Memang, mengharapkan Lara kembali dengan senyum hangat dan memeluk erat dirinya adalah hal yang mustahil. Namun kedatangan Lara yang sangat dingin membuat Ditya kesal.
Lara masih saja tak peduli. Ia mengambil tas miliknya dan berdiri. "Aku akan kembali besok pagi untuk bekerja." katanya acuh.
Ditya tak mau Lara pergi begitu saja. Dengan langkah besar Ia mengejar dan memeluk Lara dari belakang. Lara terkejut dengan sikap Ditya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lara dengan marah.
"Aku kangen sama kamu, Ra! Tolong maafkan semua salahku. Aku salah, Ra. Aku sudah menyakiti hati kamu. Kepergian kamu aku anggap sebagai hukuman atas kesalahanku. Jadi aku mohon sekarang kamu maafkan aku. Aku sangat merindukan kamu, Ra!"
Sekuat tenaga Lara menahan air matanya agar tidak terjatuh. "Udah? Kalau sudah lepaskan! Aku tak suka tubuhku disentuh orang asing!"
Ditya malah merekatkan pelukannya. "Aku suami kamu, Ra. Aku yang paling berhak atas kamu! Aku sayang sama kamu, Ra. Waktu itu kamu bertanya sama aku, siapa yang aku cintai? Baik dulu maupun sekarang jawabanku tetap sama. Kamu yang aku cintai, Ra. Kamu." kata Ditya dengan suara bergetar karena kini air matanya mulai menetes membasahi bahu terbuka Lara.
"Oh ya? Tentu saja kamu bilang kalau kamu mencintaiku. Semua karena Agni sudah meninggal bukan? Coba kalau Agni masih hidup, pasti kamu akan semakin meragu!" sindir Lara.
"Aku yakin tidak. Agni hanya sahabatku, Ra. Ia yang sudah menemaniku selama di Panti. Agni hanyalah teman senasib sepenanggungan. Sahabat dalam kesusahan. Berbeda dengan kamu. Kamu adalah teman hidupku, Ra. Kamu segalanya dalam hidupku. Aku sudah menunggu hari ini tiba. Aku selalu bermimpi hari ini akan datang, dimana aku bisa melihat kamu dan memeluk kamu lagi seperti saat ini. Tolong, Ra. Kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku akan membuktikan betapa aku mencintai kamu!"
Lara terdiam.
Mengendalikan amarahnya dengan menghitung sampai sepuluh.
Tiga...
Dua...
Satu...
"Udah?" tanya Lara dengan dingin kembali.
"Mau ya Ra maafin aku?" bujuk Ditya lagi.
Lara lalu mengangkat kakinya dan...
"Awww!" Ditya yang kesakitan karena kakinya diinjak oleh Lara yang memakai high heels otomatis melepas pelukannya.
"Sampai ketemu besok pagi, Pak Ditya!" ujar Lara sambil tersenyum puas. Lara pun meninggalkan Ditya yang masih kesakitan.
****