
Lara
Aku sedang membaca komentar para netijen. Meski banyak yang menghujat namun lebih banyak lagi yang membelaku. Bahkan ada yang memberitahu bagaimana kehidupanku di Belanda yang mengispirasi banyak orang. Perlahan hujatan berganti menjadi pujian. Ditya mendengar komentar yang kubacakan sambil tiduran di atas pangkuanku. Sesekali kuusap rambutnya yang lebat.
Semakin hari, rasa sayangku terhadap Ditya semakin besar saja. Pengorbanannya untukku membuatku menyadari betapa Ia sangat mencintaiku. Menanti aku terbangun dan membacakanku buku setiap hari. Aku beruntung memiliki Ditya dalam hidupku.
"Papa! Pokoknya aku enggak mau Papa terus sama Mama! Papa harus sama aku!" kata Lily yang tiba-tiba datang. Ia sudah mulai posesif terhadapku. Tak mau Papanya merebutku dari sisinya.
"Tapi Papa kangen sama Mama. Mau peluk Mama kamu terus, Sayang!" balas Ditya tak mau kalah.
"Papa punya Lily, Mama juga punya Lily. Tapi Papa jangan deket-deket Mama terus!" protes Lily karena Ditya selalu di dekatku dan memelukku erat.
Aku tersenyum mendengar pertengkaran mereka berdua. Bukan pertengkaran yang menyakiti satu sama lain, melainkan pertengkaran penuh cinta.
"Papa kan kangen sama Mama!" gerutu Ditya.
"Kemarin sore Papa bilang begitu. Kemarinnya lagi Papa bilang begitu. Sekarang Papa juga bilang kayak begitu! Papa bohong!" Lily mengerucutkan bibirnya. Sangat menggemaskan.
Benar kata orang, Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Meskipun bertemu setelah Lily berusia 4 tahun, namun kedekatan mereka sekarang begitu erat dan sulit dipisahkan.
"Sudah... sudah! Papa sayang Lily kok. Papa kalau malam selalu meninabobokan Lily dan membaca cerita untuk Lily, kalau sama Mama tidak. Berarti Papa lebih sayang Lily bukan?" bujukku seraya melerai pertengkaran Bapak dan anak yang sangat manis ini.
Lily mengangguk. "Iya."
"Sekarang, bagaimana kalau kita pergi ke tempat kakek Lily?" ajakku. Sejak terbangun dari koma, aku belum kemana-mana. Aku lebih sering berada di rumah memulihkan keadaanku.
"Lily mau ke tempat kakek!" kata Lily penuh semangat. Ditya cerita, katanya Ia sudah pernah mengajak Lily ke makam Papa Handaka.
"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang!"
Kami bertiga pun pergi ke makam Papa Handaka. Saat kami baru datang, tak sengaja kami berpapasan dengan Tante Sofie dan Anggi yang juga hendak ke makam Agni. Sorot mata Tante Sofie terlihat kosong.
Kami berpisah arah. Aku berbelok ke kanan dan Anggi ke kiri. Aku lalu mengajak Lily mendoakan Papa. Lily menurut. Ia mendoakan kakeknya dengan sungguh-sungguh. Meski tak pernah melihat kakeknya sekalipun, namun Lily sudah menyayangi Papa.
Aku melirik ke arah Anggi dan Mamanya. Tante Sofie tak lagi terlihat cantik dan mempesona seperti sebelumnya. Ia mengenakan hijab dengan pakaian yang menutupi tubuhnya. Wajahnya pun polos tanpa make up yang menutupi. Menampilkan keriput yang selama ini selalu Ia sembunyikan.
Dalam tiga bulan, banyak yang sudah terjadi. Ditya cerita, katanya Anggi sudah menggugat cerai Arya karena kedapatan selingkuh dengan sekretarisnya. Anggi sempat depresi namun Om Wisnu menolongnya sesuai amanat Papa untuk menjaga keluarganya.
Anggi sangat tertekan. Mamanya begitu shock saat tau anak yang dibuangnya sudah meninggal, Mamanya jadi sering meratapi makam Agni dan tak mau makan. Suami yang Ia cintai dan banggakan malah selingkuh di depan matanya. Lengkap sudah penderitaan Anggi.
Menurut cerita Om Wisnu, Anggi ingin mengakhiri hidupnya namun takut Mamanya akan melakukan hal yang sama. Anggi berusaha kuat menghadapi cobaan hidupnya seorang diri. Anggi juga memegang amanat Agni agar menjaga Mamanya dan mengajaknya ke jalan yang benar agar tidak semakin tersesat.
Wajahnya terlihat kusut. Pakaiannya pun asal, tak seperti dulu yang semuanya harus matching dari atas sampai bawah. Kini begitu tak terurus.
"Hi, Ra! Bagaimana kabar lo?" tanya Anggi membuka percakapan.
"Baik." jawabku singkat. "Tante Sofie mana?" tanyaku padahal aku tahu dimana Mama tiriku berada. Sudah pasti di depan makam Agni.
"Di makam Agni." Anggi seperti sedang mengatur kata-katanya sebelum berbicara denganku. "Gue... Mau minta maaf sama lo, Ra. Selama ini gue banyak salah dan nyakitin hati lo. Padahal lo enggak pernah membalas gue. Karena gue juga, lo sampai nekat bunuh diri,"
Anggi menghapus air mata yang membasahi wajahnya. "Cowok yang selama ini gue banggakan dan pertahankan ternyata malah mengkhianati gue. Setelah semua yang telah gue berikan sama dia, hanya pengkhianatan yang gue dapat. Ini adalah... balasan untuk gue, Ra... atas dosa gue sama lo!"
Aku mendengarkan dalam diam. Benar yang Anggi katakan. Anggi memang penyebab hidupku amat menderita. Namun dari Anggi aku menyadari satu hal, ada hikmah di balik segala kejadian yang telah terjadi.
"Gue tau, kesalahan gue sangat besar. Sangat besar sampai tak bisa gue balas seumur hidup gue. Maafin gue, Ra. Tuhan sudah membalas dosa gue dengan penderitaan tiada akhir yang gue alami saat ini." apa yang dikatakan oleh Anggi terdengar penuh penyesalan. Aku bisa merasakan hidupnya yang kini penuh dengan tekanan.
Lalu Anggi melakukan apa yang tak pernah kupikirkan. Anggi bersujud dan bersimpuh di kakiku. "Maafin gue, Ra.... maafin semua kesalahan gue..."
"Gi, jangan begini! Bangunlah!" aku merasa tak enak hati dan membantu Anggi berdiri. "Aku sudah lama memaafkan kamu kok. Bangunlah! Tak enak seperti ini!"
"Maafin gue Ra.... " Anggi menangis tersedu-sedu. Suaranya begitu lirih dan menyayat hati.
Anggi yang selama ini sering menyakitiku kini terlihat begitu rapuh. Hilang sudah segala kesombongan dalam dirinya.
Setelah Anggi lebih tenang, aku pun pergi ke makam Agni. Aku sudah beberapa kali kesana jadi hafal.
Nampak Tante Sofie sedang duduk sambil membacakan cerita anak-anak. Ia seperti melihat Amel, anaknya yang masih kecil saat ditinggalkan dulu.
"Dokter bilang, memori Mama seperti kembali ke waktu masih muda. Mama membalas penyesalan dalam dirinya dengan menciptakan gambaran seakan Agni masih hidup,"
Aku menatap ke arah Tante Sofie yang kadang tersenyum sambil membaca cerita.
"Mama memang salah sudah menelantarkan Agni. Rasa bersalahnya semakin menguasai manakala Ia tak tahu kalau anak yang Ia telantarkan nyatanya sudah meninggal. Meski Mama membenci karena sampai hamil, namun Mama tidak menggugurkan anak dalam kandungannya,"
"Aku mewakili Mama meminta maaf sama kamu, Ra. Mungkin selama ini kamu mencurigai Mama sebagai pembunuh Papa kamu, ketahuilah hal itu tidak benar sama sekali. Aku saksinya. Mama dan Papa bertengkar hebat malam itu. Papa tetap teguh dengan pendiriannya memberikan kamu 50% saham miliknya sama kamu. Mama marah besar dan mengancam akan pergi dari rumah. Papa kamu tak bergeming, Mama kembali mengancam Papa akan menceraikannya,"
"Papa terlihat syok. Untuk membujuk Mama membatalkan niatnya, Papa mau menandatangani pengalihan kepemilikan rumah. Tak lama Papa merasakan sakit di dadanya dan kena serangan jantung. Gue... sangat sedih kehilangan Papa. Terserah lo mau percaya atau tidak, Papa Handaka adalah Papa bagi gue. Dari Papa Handaka gue mengenal cinta seorang Papa yang selama ini tak pernah gue rasakan. Gue sama Mama berencana akan pindah dari rumah Papa Handaka. Rumah itu bukan hak kami berdua. Rumah itu milik lo, Ra. Gue mau mengajak Mama tinggal dekat Panti. Mungkin berada dekat dengan anak-anak bisa membuat Mama sembuh. Doain kesembuhan Mama ya, Ra."
*****