Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Detektif Bima


Lara


Aku menurut apa yang Bima suruh. Aku menunggu Bima mencari data tentang Agni. Selain Bima jago membuat konten video, dia juga jago masalah IT dan merakit komputer.


Justru, latar belakang pendidikan Bima yang sebenarnya adalah bidang IT komputer. Mengedit video adalah pekerjaan sampingan. Jadi aku mempercayakan pada Bima untuk mencari tahu semua tentang Agni secara lebih dalam padanya.


Aku awalnya agak khawatir, karena hari sudah hampir sore dan masih belum ada jawaban dari Bima. Ia masih terus mencari lebih dalam lagi tentang Agni namun sepertinya Agni menyembunyikan semua identitasnya dari publik.


Aku tak bisa berlama-lama berada di rumah Bima. Aku harus pulang dan menyiapkan makan malam untuk Ditya. Aku tak mau, suamiku pulang nanti aku masih berada diluar. Aku harus menjaga kepercayaan yang Ditya berikan tentunya.


"Dapet nih, Ra!" teriak Bima dengan penuh semangat. "Kamu pasti nggak nyangka apa yang aku temuin!"


"Apa? Apa yang kamu temuin Bim?" aku yang sejak tadi tidur-tiduran di kasurnya, cepat-cepat menghampiri Bima dan melihat hasil temuannya.


"Agni itu anak yatim piatu ternyata, dan kamu tahu, Ia tinggal di mana? Bukan di apartemen miliknya yang ada di bilangan Jakarta Selatan seperti yang di informasikan oleh para wartawan. Iya sih, itu benar kalau Agni pemilik sebenarnya. Tapi aku dapat informasi kalau Agni nggak tinggal di sana. Aku juga punya bukti dari kumpulan foto-foto miliknya. Dan aku juga tadi sempat meretas transaksi yang dilakukan dan ternyata kamu tahu alirannya ke mana?"


"Ke mana? Kamu jangan bikin aku tambah penasaran dong?" tanyaku tak sabaran.


"Ke Panti Asuhan Peduli Sesama Itu Yang Utama." Bima menatapku dengan lekat. "Iya kami benar... Itu adalah Panti Asuhan milik Kak Nisa yang waktu itu kita datangi."


Jeger...


Aku benar-benar kaget dan tak percaya dengan apa yang Bima katakan. Jadi, Agni adalah salah satu penghuni panti asuhan yang dipimpin oleh Kak Nisa? Apa mungkin, Agni adalah kakak yang dimaksud oleh Bunga? Kakak yang menurut cerita Bunga sudah pergi dan tinggal di atas langit sana.


"Ra! Lah... Kamu kok malah bengong sih?!" kata Bima mengagetkanku.


"Aku enggak nyangka aja Bim. Kenapa Agni bisa di Panti Asuhan itu? Kenapa semuanya serba kebetulan, Bim? Kenapa dalam hidup aku tuh selalu Agni, Agni dan Agni terus? " aku tanpa sadar telah mengeluh. Mencurahkan isi hatiku.


Tentu saja Bima sangat heran dengan Keluhanku. "Kamu ngomongin apa sih, Ra? Aku nggak ngerti, sumpah! Kamu bilang Agni, Agni dan Agni. Lalu apa hubungannya kamu dengan Agni? Kalian tuh enggak lebih dari sesama selebgram aja. Bahkan, kamu belum jadi selebgram saat dia masih hidup. Enggak ada hubungannya kamu tuh sama Agni?! Kenapa kamu masih mikirin aja sih?! "


Andai kamu tahu...


"Tuh kan, bukannya jelasin malah bengong lagi! Ada apa sih? Kamu tuh aneh tau enggak? Tiba-tiba datang pas aku lagi kerja, terus minta cariin data tentang Agni. Sekarang kamu udah tahu, malah tambah bengong. Kamu ada masalah sama Agni? Orang dia udah meninggal kok, Ra. Ngapain sih masih ngebahas tentang dia terus? Fansnya dia aja mungkin udah lupa kali sama dia!" kata Bima panjang lebar. Apa yang Bima katakan hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan bagiku.


"Kamu percaya nggak Bim kalau Agni itu meninggalnya karena bunuh diri?" aku beranikan diri bertanya pada Bima. Aku mau tahu bagaimana pemikiran dia yang sebenarnya.


"Iya.... Percaya sih. Media memberitakan seperti itu. Apa alasan Aku nggak percaya? Nggak ada saksi di sana! Dan juga, katanya yang aku dengar Agni sakit keras makanya ingin mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Masuk akal sih menurutku. Mungkin dia nggak mau menyusahkan orang lain? Ya, kita kan udah tahu dia itu asal usulnya dari mana. Mungkin, Agni takut merepotkan orang-orang di Panti?! Kamu tahu sendiri, Panti saja membutuhkan uang dari donatur agar bisa bertahan. Biaya yang harus dikeluarkan sudah besar, kalau harus membiayai pengobatan Agni aku rasa mereka tidak akan sanggup. Mungkin itu yang jadi alasan kenapa Agni nekat bunuh diri." kata Bima panjang lebar.


"Kalau... Kalau misalnya ya. Ini aku bilang misalnya, kalau Agni itu sebenarnya bukan bunuh diri dan kamu jadi saksinya, kamu akan melakukan apa?" pancingku


"Kalau aku jadi saksinya, aku akan bicara sama wartawan. Aku akan kasih tahu apa yang seluruh dunia nggak tahu, kalau Agni itu nggak bunuh diri. Tapi kayaknya, nggak mungkin deh. Di tubuhnya itu nggak ada bekas perlawanan sama sekali. Berarti kan bukan karena memang ada yang berniat jahat sama dia. Apalagi penyebabnya kalau bukan memang Ia sendiri yang pengen menjatuhkan diri ke dalam sungai?" jawab Bima.


"Kamu lupa Bin, status saksi itu bisa berubah menjadi tersangka. Kamu kan saksi, lalu kamu speak up ke wartawan. Mereka kan nanya dong, bukti kamu tuh apa? Kamu lagi apa dan kenapa enggak menolong dia? Kamu bisa loh berubah status dari saksi menjadi tersangka. Emangnya kamu mau?" tanyaku lagi.


"Ya... menurut kamu aku harus diam aja gitu? Aku melihat seseorang meninggal di depan mataku dan aku diam aja? Aku melihat sendiri bagaimana cara dia meninggal dan seisi dunia malah mau fitnah dia dengan mengatakan kalau dia itu meninggal bunuh diri. Apa aku masih bisa hidup tenang? Apa aku masih bisa ketawa ketiwi seakan semua baik-baik saja? Apa aku nggak dihantui rasa bersalah? Maaf Ra, aku bukan orang yang seperti itu! Lebih baik aku berkata jujur meskipun hukumannya nanti aku bisa saja mendekam di balik jeruji besi." kata Bima dengan tegas.


Bima benar. Apa yang Ia katakan tak ada yang salah sama sekali. Seharusnya aku memang harus lebih berani untuk Speak Up. Aku saksinya. Masalah nanti aku berubah jadi tersangka atau tidak, itu belakangan. Aku nggak membunuh Agni pastinya. Agni jatuh terpeleset karena kulihat, Ia memegang kepalanya. Bisa saja karena pusing atau hal lain?


"Kenapa kamu diam aja, Ra? Aku makin curiga nih. Apa jangan-jangan, kamu tahu sesuatu tentang kematian Agni? Sikap kamu tuh aneh hari ini. Selain kamu bilang mau cari tahu tentang Agni, kamu tadi bilang juga kan kalau kamu mungkin saja mengenal Agni? Kamu jujur deh sama aku. Ada apa antara kamu dan Agni. Karena jujur aja nih, kalau aku lihat ya sifat dan sikap kamu tuh kadang mirip loh sama Agni!"


Deg...


Bima sepeka itu. Bagaimana kalau Bima memang benar tahu semuanya? Apakah Ia bisa memegang rahasia? Ataukah, Ia justru akan melaporkanku ke polisi?


****


Ayo jangan lupa yang belum like dan komen, yuk like dan komen ya 🥰