
Flashback
Lara
Aku begitu terpukul saat mengetahui Papa terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal dunia di depan mataku. Rasanya, seluruh duniaku begitu hancur. Namun, rasa dendam yang membara begitu menguasaiku. Membuatku terus bertahan hidup demi membalaskan dendam pada orang di sekitarku yang telah berbuat dzolim pada Papa.
Setelah kematian Papa aku pun pergi menemui pengacara yang telah Papa tunjuk untuk mengurus surat-surat wasiatnya. Kebetulan, Ditya hari ini pergi ke kantor. Ia tidak bisa selamanya menemaniku di rumah. Banyak pekerjaan yang harus Ia kerjakan dan semua menumpuk karena Ditya tak bisa meninggalkanku yang terus-menerus meratapi kepergian Papa.
Aku minta Bima untuk menemaniku ke tempat pengacara 0apa. Aku kenal sekali dengan Om Wisnu. Om Wisnu sudah menjadi sahabat sekaligus pengacara Papa yang sangat Papa percayai dalam mengatur berbagai permasalahan di perusahaan dan Om Wisnu pula yang dipercaya Papa untuk memegang surat wasiat yang Papa tahu persis akan menjadi permasalahan di kemudian hari.
Om Wisnu menyambut kedatanganku dengan hangat. Ia memelukku dengan erat seraya menepuk punggungku dengan penuh kasih. Om Wisnu sudah menganggapku seperti putrinya sendiri. Om Wisnu lalu mempersilakan aku duduk dan menceritakan apa yang sudah terjadi selama ini.
"Lara, setelah kematian Papa kamu pasti akan banyak cobaan yang akan kamu hadapi. Papa kamu sudah menduganya. Karena itu, Papa kamu membagi langsung saham miliknya di depan kamu dan Ibu serta adik tirimu. Tujuannya, agar tidak ada yang mengganggu-gugat apa yang menjadi hak kamu." kata Om Wisnu memulai percakapan kami.
"Lara enggak menginginkannya, Om! Lara udah punya penghasilan sendiri kok. Kalau boleh memilih, Lara rela melepas semuanya asalkan Papa masih hidup di dunia ini. Kalau nggak ada Papa, siapa yang akan melindungi Lara, Om? Bagaimana Lara akan menghadapi kejamnya dunia ini? Papa yang selalu melindungi Lara. Om tahu sendiri kan, Lara pernah hampir bunuh diri. Papa yang membereskan semua masalah Lara. Kini, tak ada Papa di sisi Lara siapa yang akan menolong Lara? Tante Sofie dan Anggi sejak dulu tak pernah menyukai Lara,Om. Mereka selalu menjahati Lara dan bahkan Lara yakin kematian Papa ada sangkut-pautnya dengan mereka!" kataku penuh emosi sampai tak kusadari air mata sudah membasahi wajahku.
"Om mengerti. Tapi, tujuan Papa kamu memberikan harta ini adalah wujud kasih sayang seorang Papa terhadap anaknya. Papa kamu selama ini sengaja tidak membiasakan kamu hidup mewah. Tujuannya agar kamu tidak serakah terhadap harta yang hanya sifatnya sementara dan tidak dibawa mati tentunya. Tapi, Papa kamu tidak bisa meninggalkan anaknya tanpa uang sepeser pun. Karena itu, Papa kamu membagi saham perusahaannya sebesar 50% untuk kamu. Tujuannya apalagi kalau bukan melindungi kamu dari orang-orang yang akan menjahati kamu nantinya. Kalau pun orang-orang di sekitar kamu menjahati kamu, kamu masih memiliki setengah perusahaan milik Papa kamu. Kekuasaan terbesar masih kamu yang miliki. Itu tujuan Papa kamu memberikan 50% sahamnya untuk kamu,"
"Papa kamu juga sudah memperkirakan kalau keputusannya ini akan berakibat pada keselamatannya. Benar saja, setelah Ia membagi warisan kita sudah tahu sendiri kan, Papa kamu langsung kena serangan jantung dan meninggal dunia. Beruntung, Papa kamu masih sempat menyelamatkan perusahaannya untuk kamu. Nanti, akan ada harta milik Papa kamu yang dikuasai oleh Ibu tiri kamu. Kamu jangan kaget. Biarkan saja Ia menguasainya. Saham perusahaan lebih besar jumlahnya dibanding harta yang akan Ia akan kuasai. "
"Maksud Om apa?" aku masih tak mengerti. Aku selama ini terlalu sedih dengan kematian Papa dan tidak pernah memikirkan tentang harta yang lain.
"Jujur saja, Ibu tiri kamu sudah lebih dulu mendatangi Om sebelum kamu. Tujuannya apalagi kalau bukan mengajak Om untuk berkhianat dari Papa kamu. Tapi kamu tenang aja, Om nggak akan menghianati sahabat Om sendiri. Namun, untuk mendapatkan kepercayaannya terpaksa Om melakukan apa yang Ia inginkan. Ibu tiri kamu telah mengubah sertifikat rumah Papa kamu menjadi atas namanya. Saran Om, kamu biarkan saja. Pura-pura marah tak apa tapi kamu ikhlaskan. Tak apa kehilangan rumah, daripada kamu tinggal di sana dan kamu nggak nyaman? Kamu sudah punya keluarga. Tinggallah dengan suami kamu. Hanya itu yang bisa kamu lakukan untuk mempertahankan saham yang Papa kamu berikan."
"Bisa saja. Malah, Om curiga hal itu yang menyebabkan kematian Papa kamu. Sayangnya, Om nggak punya bukti untuk melaporkan kasus ini ke kepolisian. Kamu ikuti saja keinginannya yang penting saham kamu aman. Om beralasan pada Ibu tiri kamu kalau sahan tidak bisa diganggu gugat lagi. Karena itu Ibu tiri kamu ngotot mau merubah sertifikat rumah atas nama dia. Tak apa kamu kehilangan rumah tapi saham yang lebih berharga bisa tetap kamu pegang. Jangan sampai perusahaan hasil jerih payah Papa kamu semua dikuasai oleh dua orang jahat itu."
"Itu yang membuat Lara semakin berat Om kehilangan Papa. Papa selalu melindungi Lara. Pantas saja di saat terakhir Papa masih meminta maaf pada Lara. Karena Papa tahu, nantinya Papa tak bisa lagi melindungi Lara. Saat Lara bunuh diri dulu, Papa bahkan sampai menutup kasus dengan banyak uang. Tak mau beritanya sampai bocor. Hanya agar Lara tidak semakin tertekan dan malu." kataku sambil menangis kembali. Om Wisnu memberikanku tisu dan kupakai untuk menghapus air mataku yang terus mengalir kala mengingat Papa.
"Jadi kamu belum tahu, alasan Papa kamu menutup rapat kasus itu bukan hanya karena kamu saja. Melainkan karena Agni." aku terkejut mendengar informasi yang baru saja Om Wisnu berikan.
"Karena Agni? Memang Papa mengenal Agni?" tanyaku.
Om Wisnu lalu mengeluarkan sebuah dokumen berisi fotocopy hasil lab milik Agni. "Sebenarnya, Agni meninggal bukan karena menolong Lara. Berdasarkan kesaksian warga sekitar yang sengaja Papa kamu bungkam, Agni terjatuh karena memegang kepalanya yang sakit. Lara lihat sendiri, hasil tes membuktikan kalau Agni menderita tumor otak. Bukan Lara yang membunuh Agni, melainkan memang Agni sudah menemui ajalnya."
Benarkah? Aku harus mencoba mengingatnya lagi. Tapi aku enggak tahu kalau ternyata Agni memiliki penyakit tumor otak juga. Yang aku tahu, Agni punya kanker darah stadium empat. Dari mana Papa bisa tahu?
"Maaf, Om. Boleh Lara tahu, dari mana Papa bisa tahu kalau Agni menderita penyakit tumor otak?"
Om Wisnu tersenyum. "Jelas Papa kamu tahu. Karena Agni adalah salah satu anak asuh miliknya yang selama ini Ia biayai. Agni adalah anak di Panti Asuhan yang khusus dibiayai oleh Papa kamu sampai bisa sukses menjadi selebgram."
Lagi-lagi informasi yang aku peroleh membuatku kembali terkejut. Jadi, Papa sudah mengenal Agni sebelumnya? Kok bisa? Kenapa dunia ini begitu sempit?
****