
Lara
Mungkin karena terlalu fokus dengan kesedihanku karena Ditya, membuat aku tak memperhatikan gerak-gerik Bima yang mencurigakan. Ya, Bima seperti menyimpan rahasia.
"Apa yang kamu sembunyikan, Bim?" tanyaku.
Bima tak menjawab. Ia terlihat gugup dan beberapa kali membuang pandangannya. "Nanti saja aku ceritakan."
"Sekarang enggak bisa?" desakku.
"Aku janji akan aku ceritakan. Tapi tidak sekarang.
Aku berniat mendesak Bima ketika kurasakan perutku bergejolak. Rasa mual dan keinginan untuk muntah begitu besar dalam diriku.
Aku lalu berdiri dan berlari ke kamar mandi yang letaknya tak jauh dariku. Ueeekkk...ueeekkk...
"Ra, kamu enggak apa-apa?" tanya Bima yang masuk ke kamar mandi dan menepuk punggungku agar lebih lega.
Ueeekkkk.... ueeekkk...
Baru saja aku menikmati pisang goreng hangat buatan Bima, kini semua sudah aku muntahkan.
"Minum teh hangat dulu ya, Ra!" Bima memberikan teh manis padaku dan kuteguk habis. Rasanya begitu lega dan terasa hangat di perutku.
"Kamu belum makan sih jadi mual. Seharusnya tadi makan bubur atau yang teksturnya lunak. Aku salah. Malah nyuguhin kamu pisang goreng. Maaf ya, Ra!"
Bima benar-benar baik sekali. Aku merasa sudah salah memilih pasangan hidup. Andai saja cintaku hanya untuk Bima dan bukan Ditya...
"Jangan merasa bersalah, Bim. Kamu enggak salah. Memang aku yang sejak tadi malas makan dan malah mual. Aku minum teh hangat saja, terasa enak di perutku."
"Minumlah! Aku bawakan lagi ya! Atau mau beli makan malam sekarang?" tanya Bima penuh perhatian.
Aku merasa sedih. Biasanya yang perhatian padaku seperti ini adalah Ditya, tapi kini malah Bima.
"Loh kok malah nangis lagi sih?" tanya Bima.
"Aku menyesal, Bim. Aku menyesal menikah dengan Ditya huaaaa..... Andai aku tahu niatnya menikahiku pasti aku tak terkena bujuk rayunya... Huaaa....."
Lagi-lagi Bima memelukku dengan erat. Membiarkanku menangis di pelukannya. Membasahi bajunya dengan air mataku yang terus menetes tanpa henti.
"Huaaaa...."
"Sudahlah. Jalani saja takdir kamu. Jadikan pelajaran untuk kamu lebih baik lagi."
****
"Udah siap?" tanya Bima beberapa hari kemudian.
Aku mengangguk. "Paspor dan tiket kamu bawa kan?"
Gantian Bima yang mengangguk. "Udah dong. Video terakhir kamu akan aku upload begitu kita sampai di Belanda."
"Kalau kita kembali lagi ke Indonesia, aku akan menginap lagi di rumah ini. Boleh, Bim?" tanyaku.
Bima mengangguk dan tersenyum. "Kapanpun. Aku akan mengatakan pada Mama dan Papa untuk mengijinkan kamu menginap di rumah ini kapan saja."
Aku senang mendengarnya. Mama dan Papa Bima memang sebaik Bima. Mereka juga dekat denganku.
"Mm... Ra, Ditya hubungi kamu lagi?" tanya Bima.
Aku mengangkat kedua bahuku. "Entah. Aku sudah memblokir nomornya dan tidak kuaktifkan sampai tadi pagi. Pasti deketif yang Ia sewa akan menemukan alamat ini secepatnya. Sayangnya, kita sudah meninggalkan Indonesia saat mereka menemukannya."
"Bagaimana perusahaan kamu?" tanya Bima lagi.
"Aku menelepon Om Wisnu, beliau cerita katanya kepemimpinan perusahaan dipegang oleh Ditya sekarang. Semula Ibu tiri aku memaksa Arya yang memimpin tapi Ditya keukeuh dengan pendiriannya. Daripada perusahaan hancur, lebih baik Ditya yang pegang. Toh posisi Ditya lebih kuat meski hanya punya 5 persen saham, namun Ia suami aku. Kedudukannya lebih tinggi dibanding Arya yang memiliki 5 persen saham namun belum menikahi Anggi." ceritaku.
"Lalu kalau nantinya Anggi menikah dengan Arya, bagaimana status Ditya di perusahaan? Bukankah akan sama saja dengan Arya?" tanya Bima lagi.
"Om Wisnu bilang sih itu akan diputuskan lewat RUPS alias Rapat Umum Pemegang Saham. Kalau menurut Om Wisnu, kemampuan memimpin Ditya sangat jauh dibandingkan dengan Arya. Apalagi ada track record Ditya yang berhasil membuat Kusuma Corporation yang semula hampir bangkrut menjadi sukses seperti sekarang. Itu akan menjadi bahan pertimbangan para direksi." aku menceritakan apa yang Om Wisnu katakan.
"Syukurlah. Aku lebih percaya Ditya dibanding Arya." kata Bima terus terang. Melihat perubahan mimik wajahku Bima pun meminta maaf. "Maaf, Ra. Aku nggak bermaksud memuji Ditya setelah apa yang Ia lakukan sama kamu. Aku hanya bertindak netral saja. Setidaknya perusahaan kamu lebih aman jika berada di tangan Ditya. Saham milik Paapa kamu memang jumlahnya besar, namun keputusan juga berdasarkan pemilik saham yang lain. Aku mau, kamu tetap mendapatkan hak kamu sebagai anak sah dari Papa kamu. Itu milik kamu, Ra. Hiduplah dengan nyaman dan nikmati hidup kamu."
"Iya. Kenapa kamu terlalu banyak pesan sih sama aku, Bim! Aku bukan anak kecil. Meski aku bodoh kalau masalah cinta, tapi hal lain aku lumayan pintar kok!" protesku.
Bima tersenyum dan mengacak rambutku. "Iya. Lara memang pintar. Ayo kita berangkat sekarang!"
Dengan berat hati kutinggalkan rumah yang sudah menemaniku beberapa hari ini. Kutinggalkan negara ini yang telah kutempati selama puluhan tahun lamanya.
Aku akan kembali. Aku janji. Masih ada urusanku di sini. Masih ada rumah dan perusahaan Papaku di sini.
Kutinggalkan negeri tercinta dengan senyuman. Terbang menembus awan bersama segudang harapan. Meski ternyata saat aku sampai di Belanda, segalanya tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan.
"Ini serius, Bim?" tanyaku tak percaya saat mendengar cerita Bima.
Bima mengangguk dengan tatapan sedih. "Ini yang selama ini aku sembunyikan dari kamu, Ra. Bukan karena aku jahat. Namun karena aku takut. Aku terlalu takut menyakiti kamu. Aku terlalu takut menghadapi takdirku sendiri."
"Tapi kamu bisa cerita sama aku, Bim! Kamu bisa sharing sama aku! Aku sahabat kamu, Bim. Kamu anggap apa keberadaan aku selama ini di samping kamu?" kataku penuh emosi.
Kenyataan bahwa Bima menyembunyikan hal sepenting ini membuatku marah. Aku merasa tak dianggap oleh Bima padahal selama ini aku sudah menggantungkan semuanya sama Bima.
"Maaf, Ra. Maafkan sikap pengecutku. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku... hanya terlalu takut. Aku sudah sangat nyaman dengan kehidupan mengasyikan bersama kamu. Aku merasakan menggapai impian yang selama ini aku anggap hanya sebagai angan kosong semata. Kamu yang membuat aku bermimpi, Ra. Namun aku harus segera terbangun. Aku tak mungkin hidup selamanya di dunia penuh ilusi yang justru semakin membuatku terjerat dan terseret semakin dalam!" Bima bahkan menangis. Menangis. Hal yang tak pernah kulihat sejak terakhir aku membelanya saat SD dulu dari para pembully.
Bima yang kupikir sudah berubah jadi laki-laki kuat dimana aku bisa berlindung ternyata tidak seperti yang kubayangkan.
Aku menghapus air mataku dengan kasar. "Kenapa harus Belanda?"
"Karena aku ingin menghabiskan sisa hidupku di tanah kelahiran kakekku. Mau kah kamu mengabulkannya dan memberikan kenangan terindah di sisa hidupku?"
****