Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Lily Meet Ditya


Lara


Ditya terpaku menatap Lily. Informasi yang kuberikan rupanya baru dicerna otaknya. Ia lalu berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan Lily.


"Papa Lily? Bukankah Papa Lily adalah Papa Bima?" tanya Lily dengan polosnya.


Aku tersenyum, anakku ini memang sangat peka dan cerdas. "Papa Bima memang Papa kamu, tapi Papa angkat. Papa Ditya adalah Papa kamu yang sebenarnya. Lihatlah di cermin. Wajah kalian sangat mirip!"


Ditya masih terdiam. Kulihat Ia berusaha berbicara ditengah kekagetannya. "Lily... anakku, Ra?"


Aku mengangguk. "Aku tak tahu kalau aku pergi di saat aku sedang hamil. Bima yang menjagaku selama di Belanda. Karena itu Lily kuajarkan memanggil Bima dengan sebutan Papa."


Ditya lalu mendekati Lily yang terlihat ketakutan melihat Papanya. "Lily... Boleh Papa peluk kamu?" tanya Ditya yang kini sudah berlinang air mata.


Lily nampak ragu dan malah memelukku karena takut dengan Ditya yang dianggapnya orang asing. Aku menepuk tangan Ditya, "Pelan-pelan saja. Nanti juga Lily akan akrab sama kamu. Kita duduk dulu ya di dalam!"


Kugendong Lily dan mendudukkannya di pangkuanku. Ditya terus menatap Lily tanpa berkedip.


"Lily Sayang, Papa Ditya adalah Papa kandungnya Lily. Lily harus sayang juga ya sama Papa Ditya." kataku membujuk Lily.


"Tapi Papa enggak pernah mengunjungi Lily." tolak Lily.


"Ini salah Mama, Sayang. Mama marah sama Papa dan mengajak kamu tinggal di luar negeri. Sekarang Mama sudah tidak marah sama Papa lagi, buktinya Mama ajak Lily kembali ke Indonesia lagi bukan? Lily suka enggak di Indonesia?"


Lily mengangguk. "Suka. Lily bisa makan bakso dan mie ayam. Lily bisa main sama teman-teman. Lily suka di sini."


"Lily pasti akan lebih senang karena ada Papa Ditya. Lily tau enggak, Papa Ditya kerjanya di perusahaan yang tinggi sekali."


"Lily mau lihat kantor Papa enggak? Nanti kita bisa makan es krim dan bakso yang banyak. Papa punya banyak es krim dan cokelat di kantor. Lily mau ambil sendiri enggak?" Ditya ikut membujuk Lily.


Meski sempat ragu, Lily menganggukkan kepalanya. "Lily mau."


"Kalau mau, Lily peluk Papa Ditya dulu dong!" kataku.


Lily menurut apa yang kukatakan. Kesempatan ini tak dilewatkan oleh Ditya. Ia pun memeluk Lily dan menangis haru. "Maafin Papa ya Nak. Papa tak datang saat kamu lahir. Maafin Papa...."


Aku semakin merasa bersalah. Aku yang memisahkan ayah dan anak karena keegoisanku. Aku pun ikut memeluk mereka berdua dan menangis haru. "Maafin Mama juga ya Lily. Mama udah egois selama ini. Mama janji tak akan memisahkan Lily dan Papa lagi mulai sekarang."


Lily yang kebingungan hanya bisa menatap aku dan Ditya bergantian. Mungkin bingung kenapa Mama dan Papanya menangis sedih seperti itu.


"Sudah.... Sudah... Sekarang ayo diminum dulu! Yang lalu biar berlalu. Kalian harus saling memaafkan dan mulai sekarang menjalani kehidupan kalian dengan bahagia." nasehat Mama Bima yang datang dengan membawa minuman dan cemilan.


Kami melepaskan pelukan kami. Ditya kini memangku Lily dan sesekali memeluknya. Ia masih tak percaya kalau Lily adalah anak kandungnya.


"Kalian mau mengajak Lily jalan-jalan? Nanti Mama bilang ke gurunya Lily." Mama Bima tau kalau Ditya masih butuh waktu bersama Lily.


"Iya, Ma. Lily mau Lara ajak ke kantor. Biar Lily tau pekerjaan Lara dan Papanya sekaligus mendekatkan mereka berdua." jawabku.


Mama Bima tersenyum. "Memang seharusnya kamu seperti itu. Pergilah. Jalan-jalan dan nikmati kebersamaan kalian."


"Terima kasih banyak, Tante. Tante dan Bima sudah menjaga Lara dan Lily selama mereka tak berada di sisi saya." kata Ditya dengan sungguh-sungguh.


"Justru saya yang mau berterima kasih dan meminta maaf pada Nak Ditya. Demi memenuhi keinginan terakhir Bima, Lara sampai meninggalkan Nak Ditya. Maafkan Bima ya Nak Ditya. Bima bisa menghembuskan nafas terakhirnya dengan bahagia karena ada Lara dan Lily." ujar Mama Bima sambil menangis sesegukan.


"Ayo kita ke kantor Papa!" Lily rupanya tak sabar mau ke kantor Ditya.


"Ayo! Kamu sudah tak sabar ya Sayang?" tanya Ditya dengan lembut. Lily mengangguk.


"Pamit dulu sama Oma. Bilang kita mau ke kantor Papa." kataku.


Lily turun dari pangkuan Ditya dan memeluk Mama Bima. "Oma. Lily pergi ke kantor Papa dulu ya. Oma jangan sedih. Nanti Lily temani Oma lagi."


Mama Bima tersenyum. "Tentu Lily Sayang. Bersenang-senang ya di sana."


Mama Bima mengantar kami sampai depan dan melambaikan tangannya. Aku dan Lily masuk ke dalam mobil yang sudah Ditya bukakan pintunya. Lily yang duduk di pangkuanku membalas lambaian tangan Mama Bima. "Bye Oma!"


Kami pun meninggalkan rumah Mama Bima. "Lily mau setel TV?" tanya Ditya mencairkan suasana.


"Mau!" Ditya lalu membiarkan Lily memilih channel TV yang Ia suka.


"Jadi semua boneka di kamar kamu adalah milik Lily?" tanya Ditya sambil mengemudikan mobilnya.


"Iya. Kamu pikir aku sudah setua ini masih asyik bermain boneka?" balasku.


Ditya terdiam. "Siapa yang mendampingi kamu saat melahirkan?" suara Ditya terdengar sedih.


"Mamanya Bima. Yang mengadzani Lily adalah Bima. Tak lama setelah Lily lahir, Bima drop dan Ia menghembuskan nafas terakhirnya. Bima berpesan padaku untuk segera kembali padamu, tapi aku belum siap. Aku takut dan selalu terngiang kejadian buruk waktu itu. Baru aku kembali setelah Lily agak besar. Setelah keberanian dalam diriku terkumpul."


Ditya menghembuskan nafas lega. "Syukurlah. Setidaknya ada yang mengadzani Lily siapapun orangnya aku tak peduli. Kamu mau kembali saja aku sudah bersyukur. Ada kamu dan Lily, hidup aku kembali bahagia. Aku punya segudang mimpi yang mau aku wujudkan bersama kalian."


Kupikir Ditya akan marah namun ternyata tidak. Ia malah kembali asyik mengobrol dengan Lily. Sesampainya di kantor, Ditya menggendong Lily dan membuat seisi kantor melihat ke arahnya.


Aku melirik mereka yang bertanya-tanya siapa yang Ditya gendong. Ditya seakan tak peduli. Ia terus saja mengajak Lily mengobrol.


Lily yang semula takut kini malah sudah akrab dengan Ditya. Tak heran, karena Ditya biasa mengasuh adik-adiknya di Panti. Sifatnya yang lembut dan sabar Ia dapati dari kesehariannya bersosialisasi dengan anak-anak kecil.


Aku pun mengabadikan kedekatan mereka dengan kamera handphoneku. Semoga kebahagiaan kami selamanya.


"Lily mau es krim yang mana?" tanya Ditya. Betapa terkejutnya aku saat mendapati isi lemari es Ditya semuanya es krim dan makanan kesukaan anak-anak.


Rupanya Ditya tadi mengirim pesan pada sekretarisnya untuk mengisi lemari es dengan es krim dan makanan kesukaan anak-anak. Lily dengan senang hati memilih apapun yang Ia mau.


Ditya tak mau berpisah dengan Lily namun Ia harus menandatangani beberapa dokumen yang membutuhkan persetujuannya. Aku pun membawa Lily ke mejaku dan Ia duduk tenang sambil memakan cemilannya.


Ditya sibuk dengan para tamu yang datang sambil melihat Lily dengan rasa penasaran. Aku juga sibuk belajar. Sampai si perusuh datang.


"Pagi!" sapa Arya.


"Siang!" jawabku ketus.


"Wah ada siapa ini? Hi cantik! Kenalin, Papa Arya!" kata Arya dengan penuh percaya diri.


****