Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Pagi Bersamamu


...Warning! Ada adegan 21+ ya... Bisa dibaca setelah buka puasa 🙏...


Lara


Ditya menaruh hair dryer kembali di atas meja riasnya yang kini sudah berisi aneka skincare dan make up milikku. Apartemen ini sudah menjadi rumahku bukan? Tak apa dong kalau aku meriasnya dengan barang-barang milikku?


"Ayo kita tidur. Sudah malam! Aku lelah sekali." ajak Ditya.


"Aku ganti baju tidur dulu!" kuambil piyama baru milikku yang memang sengaja kubeli untuk malam pertama kami, ya meski bukan malam pertama kami juga sih. Setidaknya aku ada usaha untuk menyenangkan hati suamiku tercinta.


Ditya sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kupikir Ia sudah tertidur lelap namun ternyata Ia memperhatikan saat aku mengganti bathrobe dan memakai piyama.


Aku berbalik badan dan terkejut saat ternyata Ia sudah berada di belakangku. Senyumnya penuh arti dan sorot matanya begitu menginginkanku.


"Kayaknya aku enggak tahan menunggu besok pagi. Aku mau sekarang saja boleh?" tanpa menunggu jawabanku. Ditya menarik pinggangku dan membuat tubuh kami semakin dekat tanpa ada jarak.


Aku tersenyum. "Lupa sama janjinya?"


"Lupa. Tadi udah ngantuk tapi pas ngeliat kamu ganti baju jadi seger lagi." Ditya memajukan tubuhnya dan mencium bibirku dengan lembut. "Lagi ya?"


Mana bisa aku menolak pesona Ditya yang begitu memabukkan ini?


Aku pun mengiyakan tanpa kata. Hanya bahasa tubuh yang tercipta di antara kita berdua.


Ditya pun membawaku ke tempat tidur dan mulai menikmati tubuhku. Saling berpagut, saling mengecup dan pada akhirnya berakhir dengan penyatuan.


Kali ini jauh lebih lama dari sebelumnya. Aku saja sampai beberapa kali merasakan kenikmatan yang tiada tara ini.


Aku merasa dipuja...


Aku merasa dihargai...


Aku merasa dicintai....


Hanya Ditya yang memperlakukanku seperti ini.


Hanya Ditya seorang...


Lalu kembali kurasakan cairan hangat mengalir di bagian intiku. Bersama senyum puas yang terukir di wajah tampan Ditya. Wajah yang tak pernah bosan aku nikmati.


Kami berdua pun tertidur lelap sehabis pelepasan yang melelahkan. Percuma membeli piyama baru kalau pada akhirnya kami tidur tanpa sehelai benang pun.


Kami saling menghangatkan dan saling melindungi. Begitulah pasangan suami istri yang seharusnya. Mimpiku pun indah, tak lagi memimpikan tentang Agni.


Kalau begitu, aku harus sering-sering melayani suamiku seperti ini. Agar aku tak lagi memimpikan Agni.


****


Aku terbangun saat menghirup wangi kopi dan roti bakar yang membuat perutku terasa lapar. Kubuka mataku dan nampak Ditya sedang membawakan sarapan untukku.


"Morning service!" kata Ditya yang terlihat segar pagi ini.


Ditya mengenakan kaos putih tipis yang menonjolkan otot-otot tubuhnya yang kekar dan kokoh. Otot yang semalam bisa kusentuh sepuasnya. Nanti juga bisa aku sentuh sih.


"Morning!" aku menarik selimut dan menutupi tubuhku yang tanpa sehelai benang pun. "Maaf aku kesiangan. Seharusnya aku yang menyiapkan sarapan buat kamu."


"Tak masalah siapa pun yang menyiapkan. Kamu mau mandi dulu atau mau langsung sarapan?" tanya Ditya.


"Mandi dong. Bau iler dan transparan begini. Tunggu sebentar ya!" aku pun melilitkan selimut untuk menutupi tubuhku dan berlari ke kamar mandi.


Berbeda dengan saat pertama kali melakukannya dengan Ditya. Terasa sakit dan perih. Kini rasa sakit tersebut seakan hilang berganti dengan rasa candu yang selalu ingin dan ingin merasakan sentuhannya.


Pagi ini aku sudah menjadi Ny. Ditya Kusuma. Aku sudah menjadi istri seseorang. Kutatap wajahku di cermin. Wajahku terlihat begitu bahagia. Semoga kebahagiaan ini abadi, bukan hanya sesaat.


Cepat-cepat aku mandi dan membersihkan tubuhku. Aku kembali memakai bathrobe karena lupa membawa pakaian ganti.


Tak masalah sih, toh Ditya sudah menjadi suamiku kini.


Aku pun keluar kamar mandi dan mendapati tempat tidur yang kusut sudah dalam keadaan rapi. Lagi-lagi aku merasa malu. Suamiku yang melakukan semuanya.


Ia benar-benar melayaniku seperti seorang putri.


Aku mengambil sebuah dress berwarna putih dan memakainya. Menyisir rambutku dan memakai skincare lalu bergabung bersama suamiku yang asyik dengan Hp miliknya sambil sesekali menyesap kopi.


Aku duduk di dekat Ditya dan mencium pipinya. "Pagi Sayang!"


Ditya tersenyum, kupikir Ia akan membalas untuk mencium pipiku namun malah menarik daguku dan mencium bibirku.


Ciuman pagi beraroma kopi bercampur mint dari pasta gigi menjadi satu. Ciuman kali ini tak lama. Ditya sudah melepaskannya.


"Pagi, Sayang! Yang bener tuh kayak gitu ciumnya!" kata Ditya sambil tersenyum.


"Oke. Akan aku lakukan besok!"


Ditya pun mengusap kepalaku pelan. "Ayo kita sarapan! Aku buat yang simple aja. Nanti kita bisa pesan makanan di luar."


"Jangan dong! Biar aku yang masakkin kamu nanti." kataku seraya mengambil selembar roti dan mengoleskannya dengan selai cokelat.


"Memang bisa? Bukankah kamu biasa dimasakkin sama asisten rumah tangga kamu yang banyak itu?" Ditya juga melakukan hal yang sama. Mengambil roti dan mengoleskan selai cokelat.


"Kata siapa? Aku biasa masak sendiri kok. Papa suka keluar kota. Selama keluar kota, Tante Sofie dan Anggi selalu memerintahkan Bibi memasak menu yang mereka suka saja. Ya, aku mengalah. Aku masak sendiri. Lama kelamaan aku makin jago saja memasak."


Ditya nampak mengerutkan keningnya mendengar ceritaku. "Sampai segitunya kalian enggak akur?"


"Yup. Maklum saja. Ibu tiri dan anak tiri. Meski aku bersikap baik pun, tetap saja belum tentu demikian di matanya." kuambil susu cokelat hangat yang Ditya buatkan untukku dan meminumnya. Pas sekali menemaniku makan roti.


"Aku pikir kamu bahagia loh menjadi putri di istana megah itu!"


Aku tersenyum getir. "Aku bahagia kok. Tapi dulu, saat Mamaku masih ada dan belum ada Tante Sofie di rumahku."


"Kalau sekarang?"


"Sekarang juga bahagia, aku sudah jadi istri kamu dan hidup bersama kamu selamanya."


Ditya tersenyum mendengar perkataanku. "Iya. Kita akan hidup bahagia selamanya. Aku, kamu dan anak-anak kita kelak."


Anak-anak?


Ya, aku akan mengandung anak Ditya dan kami akan bahagia selamanya.


"Kita mau kemana hari ini?" tanyaku setelah menghabiskan seluruh sarapan dan mencucinya di dapur.


"Hmm... Ke rumah Papa dan Mamaku mau? Mereka bilang, aku disuruh mengajak kamu. Sejak pertama kita bertemu, kamu belum pernah kan main ke rumahku?"


Iya juga ya. Aku belum pernah main ke rumah Ditya sama sekali.


"Iya aku belum pernah main ke rumah kamu sih. Kita pergi sekarang? Kalau iya, aku mau siap-siap dulu." tanyaku. Aku harus make up dulu dan merapihkan rambutku yang tadi hanya kusisir asal.


"Kapan pun Putri Lara inginkan, Abdi Ditya siap melaksanakan!"


Ah... Sweet banget sih perlakuan kamu ke aku, Dit. Aku jadi tersanjung terus nih.


"Oke. Tunggu aku siap-siap dulu ya!"


"Siap Tuan Putri!" ujar Ditya sambil menaruh tangannya di kening layaknya orang yang sedang hormat.


****