
Aku dan Ditya tidur berpelukan semalaman. Tak ada sehelai benang pun yang memisahkan kami.
Aku tak mau kehilangan Ditya, begitu pun sebaliknya. Kami mau terus bersama. Sampai suara alarm Hp milikku berbunyi dan membuat kami terbangun.
Kami harus kembali ke dunia nyata. Bukan hanya dunia indah milik kami berdua. Kedatanganku ke Batam adalah untuk bekerja. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku agar Papa tidak kecewa.
"Mm... Kamu mau kemana?" tanya Ditya yang tak mau melepaskan tubuhku.
"Aku... Harus kerja."
"Nanti saja. Tak bisa diundur dulu waktunya? Aku masih mau berdua sama kamu. Kita belum memulai yang kedua." Ditya memelukku makin erat.
Aku suka berada dalam pelukan Ditya, tapi aku harus memimpin meeting kali ini. Sia-sia semua yang kusiapkan kalau sampai gagal.
"I'm sorry... Aku beneran harus meeting. Kita bisa bertemu lagi nanti. Boleh ya?" aku mencium bibir Ditya sebagai sogokan agar mau melepas tubuhku.
"Enggak mau... Masih mau peluk kayak gini." Ditya malah semakin manja saja padaku.
"Kamu enggak ada meeting memangnya?" tanyaku berusaha mengalihkan percakapan sambil berusaha melepaskan diri.
"Akan aku batalin kalau kamu mau tetap di sini."
"Ih sweet banget. Maaf banget, tapi aku harus tetap pergi. Maaf ya!" aku berhasil meloloskan diri dari Ditya, namun baru saja turun dari tempat tidur kurasakan rasa sakit di area intiku. "Aww!"
Ditya langsung duduk tegak mendengar aku meringis kesakitan. "Sakit banget ya? Maaf! Apa yang bisa aku bantu untuk meringankan rasa sakit yang kamu rasakan?"
Ditya cepat-cepat bangun dan aku harus berbalik badan. Aku melihat tubuh polosnya tanpa sehelai benang pun. Meski semalam kami sudah melakukan penyatuan, melihatnya tanpa sehelai benang seperti ini membuatku malu dan menutup mata.
"Ups... Sorry lagi! Ah sudahlah! Toh aku sudah melihat kamu dan menjelajahi setiap lekuk tubuhmu!" Ditya mendekat dan menggendongku yang menutupi tubuh polosku dengan selimut.
Ditya membawaku ke kamar mandi. Menyalakan air hangat untukku mandi. "Mau aku mandikan atau kamu bisa sendiri?" tanya Ditya.
"Aku bisa sendiri!" jawabku cepat.
Ditya tersenyum. "Baiklah. Aku pesankan sarapan dulu ya!" Ditya mengambil bathrobe dan memakainya. Ia mungkin sadar kalau aku tak siap melihatnya tanpa sehelai benang pun.
Aku pun membersihkan tubuhku yang banyak berisi jejak cinta Ditya. Meski terasa perih namun aku tersenyum bahagia. Tak kusangka hubungan aku dan Ditya berkembang secepat ini.
Semua bermula saat kami makan bersama dan kegiatan di Panti membuat kami semakin dekat saja. Aku bisa lihat dari sorot matanya kalau Ditya begitu menginginkanku. Aku juga yakin kalau Ia akan menikahiku secepatnya.
Selesai mandi, aku memakai bathrobe karena bajuku masih di koper. Ditya sedang duduk di atas tempat tidur sambil memainkan Hp miliknya.
"Udah? Masih sakit? Mau aku antar?" tanya Ditya penuh perhatian.
"Jujur aja, masih perih sih." jawabku sambil mengambil pakaian dari dalam koper dengan hati-hati.
Ditya mendekat dan membantuku. Tanpa sungkan Ia mengeluarkan bra dan CD dengan warna senada dan baju yang aku ingin pakai. "Berarti memang aku harus antar. Aku mandi dulu kalau begitu. Aku sudah memesan sarapan, tunggulah sebentar lagi pasti sampai."
Ditya pun masuk ke kamar mandi. Cepat-cepat aku berpakaian dan memakai make up. Aku harus menyembunyikan apa yang terjadi semalam dan terlihat kalau semuanya baik-baik saja.
Aku sedang memakai make-up saat room service datang dan membawakan sarapan. Aku menaruhnya di atas meja dekat TV dan menunggu Ditya keluar dari kamar mandi.
"Udah datang sarapannya?" tanya Ditya sambil memakai celana jeansnya. Ia belum memakai kaosnya karena semalam basah dan aku tak sempat mencucinya.
Dengan bertelanjang dada, Ditya duduk di sampingku. Sebelum duduk Ditya mencium pipiku. "Selamat pagi Cantik!"
"Kok baru ngucapin sekarang?" aku memberikan sepiring nasi goreng pada Ditya.
"Kan ciuman selamat paginya juga baru sekarang. Tadi kamu begitu gugup dan gelisah sendiri. Padahal aku bersedia kamu suruh-suruh loh. Noda darah di seprei kamu saja sudah aku bersihkan."
"Noda darah? Ah... Maaf. Seharunya aku yang bersihkan." aku malu, noda darah itu adalah salah satu bukti kalau aku masih tersegel dengan baik.
Ditya tersenyum penuh kehangatan dan pancaran cinta kasih. "Tak masalah. Kamu pulang kapan?"
Aku tahu Ditya sengaja mengalihkan percakapan agar tak melulu membahas noda darah.
"Kemungkinan sih besok pagi. Aku ambil penerbangan pagi karena sore harinya aku ada jadwal syuting. Sudah diatur sama Bima."
"Kalau begitu senin malam saja ya, aku dan kedua orangtuaku akan datang dan melamar kamu secara langsung!"
Wow... Ditya beneran mau melamarku. Aku pikir itu hanya perkataan menenangkan sehabis meniduriku. Ternyata semua benar-benar serius.
"Kamu serius?"
"Aku nggak pernah tidak serius dalam hidup ini. Keputusan yang aku ambil bukan semata untuk menenangkan kamu saja, ini murni keinginanku untuk mempersunting kamu. Sebelumnya memang sudah ada rencana antara aku dan kedua orangtuaku untuk datang melamarmu. Namun, kamu terlalu sibuk dan aku nggak bisa menyesuaikan jadwal kita. Sekarang aku minta kamu mengosongkan jadwal kamu di hari Senin malam untuk menyambut kedatanganku dan keluargaku."
Aku seperti menang lotre saat Ditya mengatakan hal tersebut. Bagaimana tidak, Ditya memilihku. Ditya menyuruhku untuk mengosongkan jadwalku dan menyambut kedatangannya.
Tentu saja, aku sangat bahagia dan aku berharap kalau semua ini bukan hanya sekedar mimpi saja, yang jika aku terbangun semuanya menghilang dan menjadi bunga tidur.
Setelah sarapan, Ditya mengantarku sampai ke kantor cabang tempat aku akan melakukan meeting. Sebelum aku turun dari mobil, Ditya mendaratkan sebuah kecupan di pipiku.
"See you di Jakarta ya! Tunggu kedatanganku!"
Aku mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Aku tunggu!"
Ditya pun pergi membawa separuh hatiku bersamanya. Ditya memang sedang ada pekerjaan di Batam, tapi Ia akan pergi ke pulau lain dan lalu menyeberang ke Singapura. Jadwal meetingnya lebih banyak daripada jadwalku. Ditya bilang, semua harus selesai agar Ia bisa datang hari senin malam ke rumah.
Rasanya waktu terasa lama karena aku sudah tak sabar menanti hari senin tiba. Semangatku untuk menyelesaikan semua pekerjaan di Batam seperti layaknya semangat para pejuang untuk memerdekakan negeri ini.
Aku begitu konsentrasi dan menyelesaikan pekerjaan dengan sangat baik. Papa bahkan memuji hasil pekerjaanku. Ia bilang, aku memang seorang Handaka sejati. Jiwa bisnis dalam diriku begitu kuat, sayangnya aku lebih suka menjadi seorang selebgram dibanding menjadi seorang pebisnis handal.
Aku akan melepaskan pekerjaan ini setelah menikah dengan Ditya. Cukup aku berkonsentrasi membuat konten dan menjadi istri yang baik. Aku tak mau lagi double job seperti ini. Biar Ditya saja yang mengurus perusahaan Papa. Ditya lebih bisa aku percaya dibanding Arya yang banyak tipu muslihatnya.
Minggu pagi aku sudah menginjakkan kakiku kembali di Jakarta. Bima sudah menyambut kedatanganku dengan senyum di wajahnya. "Welcome back. Ayo kita kerja lagi!"
Bima tak memberiku waktu istirahat dan langsung mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Tak apa, aku sudah bilang padanya kalau hari senin aku akan mengosongkan semua jadwalku. Bima mengijinkan meski Ia tak tahu apa alasannya.
"Ayo kita cari uang lagi!"
****