Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
De Javu


Aku mencuri pandang ke arahnya yang makin terlihat tampan karena mengenakan kacamata sunglass. Artis mah lewat. Hidungnya saja terlihat menjulang tinggi, kalau punya anak dengannya nanti pasti anakku akan sangat tampan.


Fokus Ra! Fokus! Ditya bisa tau kalau sejak tadi kamu ngiler melihatnya. Ditya bisa tahu kalau kamu mau menerkamnya!


Ditya bahas apa ya tadi? Oh iya, sahabat. Aku harus menanggapinya agar terlihat sopan dan nyambung dengan apa yang Ia katakan.


"Oh iya, kamu sering banget menyebut tentang sahabat kamu. Sepertinya kalian dekat sekali ya?" kataku menimpali omongan Ditya.


Ditya tersenyum sambil sesekali melihat ke arahku dan kembali fokus ke depan jalan. "Kami sangat dekat karena sudah lumayan dekat sejak kami masih kecil. Namanya sahabat, sering nongkrong dan makan di tempat yang paling enak menurut kami berdua. Nah, yang kemarin kita berdua datangi itu adalah cafe yang kami sukai kalau mau makan seafood. Dan sekarang, kita menuju tempat mie ayam yang aku dan sahabatku sukai dari zaman dulu. Nanti kamu coba deh! Rasanya tuh enak banget."


"Yakin nih beneran enak? Kamu udah kayak marketing aja?! Promosi kamu tuh hebat. Aku sih nggak kaget kalau kamu bisa membuat perusahaan Papa kamu sukses dan maju. Kamu promosi sama aku saja sangat meyakinkan, apalagi sama klien yang lain?" aku tak tahan sejak kemarin ingin menguji kemampuannya dalam bidang marketing.


Ditya pemimpin hebat, aku dengar dari Papa kalau Ia mampu membuat perusahaan milik Pak Kusuma dari terpuruk sampai bangkit dan sukaes seperti sekarang. Genius kalau Papa bilang.


"Iya dong. Seorang pemimpin adalah marketing bagi perusahaannya. Kalau dia tidak pintar berjualan, maka Ia nggak akan dapat kontrak dari perusahaan lain!" Ditya lalu memarkirkan mobilnya di sebuah warung mie pinggir jalan. "Kita udah sampai. Ayo turun!"


Ditya keluar lebih dulu dan membukakan pintu untukku. Lagi-lagi sikap sopan santunnya membuatku merasa begitu dihargai sebagai seorang perempuan.


Aku melihat warung mie ayam yang terlihat sederhana di depanku. Bukan restoran mewah yang cocok dengan titelnya sebagai seorang pemimpin Kusuma Corporation. Ini yang membuatku merasa kalau Ditya adalah orang yang sangat asyik. Mau makan mie ayam pinggir jalan atau di restoran mewah yang penting rasanya. Tak peduli apa kata orang lain.


Aku mengikuti langkah Ditya menuju warung mie ayam. Baru beberapa langkah, aku seperti melihat sebuah bayangan dan merasa de javu dengan tempat ini.


"Dit, aku pokoknya mau mie ayam yang pedas ya!" ujar seorang anak perempuan seraya menepuk bahu milik Ditya.


"Jangan makan yang pedas-pedas, Ni! Ingat, perut kamu itu nggak kuat pedas! Jangan kebanyakan gaya deh!" omel Ditya.


Lalu bayangan itu menghilang dan aku pun tersadar. Kenapa aku bisa merasakan seperti itu ya? Lalu siapa yang tadi aku lihat? Ditya saat masih muda sepertinya, tapi dengan siapa? Apakah sekarang aku bisa melihat masa depan dan masa lalu? Ih... Kok jadi menyeramkan ya?


Apa ini semua karena aku pernah koma? Apa ini hukuman karena aku pernah mengakhiri hidupku?


"Loh? Kamu kenapa, Ra? Kok malah bengong di situ? Kamu nggak mau makan di sini?" tanya Ditya membuatku tersadar dari apa yang aku pikirkan sejak tadi.


Ditya lalu memesan 2 mangkok mie ayam bakso untuk kami berdua beserta minumnya es teh manis. Aku terdiam dan masih memikirkan bayangan yang tadi sempat melintas di kepalaku. Kenapa aku bisa memikirkan seperti itu ya? Nggak, ini pasti hanya bayangan semata. Pasti karena efek aku pernah hampir tenggelam, jadi aku tuh sering melihat hal-hal yang gak masuk akal kayak gini. Atau karena setan di sungai masih mengelilingiku? Ih serem banget!


"Udah datang tuh Ra mie ayamnya. Jangan makan pedes-pedes ya. Sausnya dikit aja. Nanti kalau makan pedes bisa mules perut kamu dan akhirnya sakit perut. Enggak bagus buat kesehatan kamu!" ujar Ditya dengan penuh perhatian.


Aku merasa, aku udah sering menerima perhatian seperti ini dari Ditya. Mirip sekali perkataannya dengan saat aku de javu tadi.


Aku menganggukkan kepalaku seraya menyunggingkan seulas senyum. Aku pun mulai memakan mie ayam yang rasanya juga seperti tak asing di lidahku, seperti sudah sangat sering aku makan. Aku sampai hapal bagaimana tekstur dan rasa mie ayam ini. Bagaimana kelezatannya seperti aku sudah sering memakannya.


"Kenapa? Kamu nggak suka? Maaf ya, aku ngajak kamu makan di warung mie ayam pinggir jalan kayak begini. Kalau sampai Papa kamu tahu putrinya diajak makan di sini, pasti Papa kamu akan marah sama aku." ujar Ditya dengan penuh penyesalan.


"Nggak apa-apa. Aku suka kok makan mie ayam kayak gini. Kamu jangan salah sangka, Papa aku tuh orangnya santai dan aku juga nggak terbiasa dimanja seperti itu oleh Papa. Kamu jangan berpikir, kalau aku selama ini hidup sebagai gadis manja. Aku selama ini pun terbiasa hidup hemat dan mencari sendiri uang untuk uang jajanku. Jadi, jangan terlalu merasa sungkan ya. Kamu mau ajak aku makan di warteg sekalipun aku tak masalah." aku meyakinkan Ditya agar tidak terlalu sungkan denganku. Yang kaya itu Papa, bukan aku. Aku juga bukan tuan putri seperti yang dia pikirkan.


Kini gantian Ditya yang menatapku tanpa berkedip. Entah apa yang dia pikirkan namun daripada aku terus merasa terganggu karena tatapannya, lebih baik aku melanjutkan saja deh menghabiskan mie ayam yang rasanya aku sangat suka ini.


"Kenapa sih liatin aja? Ada cabe ya di gigi aku? Atau ada sawi?" aku mengambil kaca dari dalam tas milikku. Mencari penyebab Dirtya terus melihat ke arahku. Tidak ada yang nyempil. Lalu kenapa dilihatin terus?


"Enggak ada apa-apa kok. Aku merasa jadi makin mengenal kamu saja. Kepribadian kamu. Sikap mandiri kamu. Jujur aja selama ini aku menganggap kamu anak Papa banget yang setiap permintaan kamu selalu harus dipenuhi."


Aku menutup kaca dari bedak padat milikku. "Kamu salah. Aku pernah bekerja di toko roti hanya agar bisa jajan. Perlu kamu ketahui, yang kaya itu Papa aku. Bukan aku. Aku tidak terbiasa dimanja Papa. Buktinya aku masih menerima endorse dan kecapekan karena sibuk kerja. Kalau aku banyak uang tinggal buat konten saja kayak Sisca Kohl."


Ditya tersenyum. "Jadi Lara Kohl dong? Lara sawi boleh?" godanya.


"Eh beneran ada sawi ya yang nyangkut di gigi aku?" aku membuka kaca lagi dan kembali ngaca.


"Bukan... Ha....ha...ha... Aku bukan nyindir kamu. Itu perumpamaan, Ra. Perumpamaan. Kamu lucu banget sih!" aku tersenyum melihat Ditya tertawa saat bersamaku. Entah mengapa tatapan Ditya selama ini selalu bersedih. Entah karena apa...


****