
Lara
Seminggu lagi?
Seminggu lagi aku mau menikah dengan Ditya?
Sumpah demi apa?
Ini mimpi atau nyata?
Wow....
Aku hanya diam tak mampu berkata-kata. Semua serasa tak nyata. Seperti aku bermimpi berada di sebuah taman yang indah dan banyak bunga-bunga cantik bermekaran di sekitarnya.
Pria tampan di depanku ini akan menikahiku dalam waktu seminggu ke depan. Kami sudah menghabiskan malam bersama dan ikatan cinta kami akan semakin erat lagi karena kami akan segera menikah. Aku harus memastikan kalau semua ini bukan mimpi!
Sengaja aku cubit tangan Anggi yang sedang duduk di sampingku. Anggi menjerit kesakitan dan mengomel marah-marah padaku
"Aww! Aduh! Sakit tahu! Kamu apaan sih pakai acara mencubit aku segala?!" omel Anggi. Suara teriakan kesakitan Anggi membuat semua yang sedang berada di meja makan menengok ke arahnya
"Lara tuh cubit cubit aku aja!" adu Anggi yang tidak terima semua menatap dan menyalahkannya karena berbuat keributan di momen yang tidak pas.
Tante Sofie langsung memberikanku tatapan tajam karena sudah membuat putrinya malu di depan umum.
"Maklum ya Pak, namanya juga anak-anak. Lara dan Anggi itu saling menyayangi makanya mereka suka bercanda kayak gitu." Tante Sofie langsung memasang senyum di wajahnya dan berkata dengan sangat manis.
Saling menyayangi? Pretttt! Sejak kapan aku dan Anggi saling menyayangi? Jelas-jelas tadi aku mencubit Anggi. Sejak kapan cubitan dianggap sebagai tanda kasih sayang?
Anggi menatapku penuh permusuhan. Aku hanya tersenyum saja membalasnya. Hatiku sedang senang tak mau ternoda oleh ulah nyebelinnya.
"Tidak apa-apa, Bu. Wajar kalau kakak beradik itu saling sayang. Mungkin karena Lara terlalu senang mendengar kalau Ditya akan segera menikahinya makanya jadi sangat antusias begitu." ujar Mamanya Ditya dengan bijak.
"Iya, Bu. Maklumlah, Lara kan selama ini tuh jomblo ya, enggak pernah punya pacar. Jadi agak kaget saat seorang Ditya yang ganteng, tampan dan hebat itu melamarnya. Kalau anak saya Anggi mah sudah sejak dulu jadi primadona. Bahkan, anak saya Anggi juga mau menikah dengan kekasihnya Arya. Sayangnya karena Anggi hatinya baik, jadi mengalah dengan kakak tersayangnya Lara." Tante Sofie tak mau kalah, Ia pun memamerkan hubungan Anggi dan Arya pada keluarga Ditya.
Sayang dari mana? Anak kamu tuh yang bikin aku mau bunuh diri!
" Jadi bagaimana kalau kita membahas tentang acara pernikahan Lara dan Ditya saja? Mau dengan konsep apa? Mau dirayakan di mana? Lalu berapa orang tamu yang diundang? Kita bahas aja sekalian di sini karena waktunya juga sudah mepet dan tidak bisa kita undur lagi." Papa yang mengembalikan percakapan pada jalurnya.
Memperkenalkan Anggi dan Arya pada keluarga Ditya itu nggak ada gunanya. Karena yang dibahas hari ini adalah tentang rencana pernikahanku dan Ditya.
Tante Sofie terlihat sebal karena rencananya digagalkan oleh Papa Handaka sendiri. Gagal sudah rencananya memperkenalkan Arya pada Keluarga Kusuma. Semua demi kemudahan Arya saat memimpin perusahaan nanti, pasti itu niat yang sebenarnya. Huh dasar licik! Untung saja Papa sigap dan menghentikan Tante Sofie.
Kedua orang tuaku dan Ditya lalu sibuk merancang rencana pernikahan yang akan digelar sebentar lagi. Selesai makan malam, Papa sudah mengajak calon besannya ke ruang kerjanya untuk berunding sementara aku dan Ditya memutuskan untuk mengobrol dekat kolam renang di belakang rumah.
Rupanya kami pun tidak dibiarkan mengobrol berdua saja, Arya datang dan menghampiriku. Ia berbicara seakan hubungan kami sangat dekat dan baik-baik saja. Padahal kenyataannya, Arya adalah laki-laki yang paling aku benci di muka bumi ini.
"Selamat ya, Ra. Aku pikir, aku dan Anggi duluan yang akan menikah. Ternyata, kamu malah nikung aku di garis finish." sindir Arya dengan kata-katanya yang pedas.
Arya seperti seseorang yang tak merasa kalau aku sindir, Ia ikut tersenyum dan berkata "Kita semua nggak ada yang menang dan kalah. Kita semua menang. Kita masing-masing menemukan pasangan hidup kita sendiri. Kita lupakan saja semua yang terjadi di masa lalu dan kita harus berdamai, karena kedepannya kita akan menjadi saudara ipar."
Saudara ipar? Cih! Mana sudi aku menjadi saudara ipar kamu?!
"Arya benar, Ra. Kita akan menjadi saudara ipar. Berdamai lebih baik dibanding terus menerus bermusuhan." Ditya berusaha menengahi.
Andai Ditya tahu apa yang Arya perbuat...
Andai Ditya tahu kalau aku hampir mengakhiri hidupku karena laki-laki sialan itu!
"Maaf Arya, bisa tolong tinggalkan kami berdua? Ada yang mau aku bicarakan dengan Lara." kata Ditya dengan sopan.
"Memangnya aku enggak boleh dengar? Tenang aja, aku enggak akan bocor kok. Kalian bicarakan saja. Aku tak tahu harus kemana lagi. Anggi sedang ke toilet dan aku tak bisa ikut dalam percakapan para orang tua." tolak Arya.
Ditya sepertinya mulai menyadari betapa menyebalkannya Arya. Ia terlihat menarik nafas dalam dan menahan kesabarannya.
"Baiklah." Ditya mengalah.
"Ra, kamu enggak marah kan atas jawabanku yang mengajak kamu menikah seminggu lagi?" tanya Ditya tanpa memperdulikan keberadaan Arya.
"Enggak. Aku tak masalah kapanpun kamu mau menikahiku. Asalkan kamu yang menikahiku, aku tak masalah." kataku sambil menyindir Arya.
"Sebaiknya sih kamu saling mengenal dulu, Ra. Seminggu itu waktu yang sebentar. Waktu yang cepat. Kamu kan harus mengenal calon suami kamu dulu." Arya yang tak tahu malu ikut bergabung dalam percakapanku dengan Ditya.
Aku memelototi ketidaksopanannya. "Kayaknya ini bukan urusan kamu deh, Ya!"
"Iya sih memang bukan urusan aku. Tapi aku sebagai seorang sahabat yang baik mau memberikan saran. Semua demi kebaikan kamu. Aku cuma pengin kamu lebih mengenal siapa suami kamu nanti. Karena menikah itu bukan cuma sehari dua hari tapi untuk selamanya. Apa kamu benar mencintai pasangan kamu? Aku yakin, di dalam hati kamu ada seorang pria yang sangat kamu cintai melebihi calon suami kamu itu." berani sekali Arya menyinggung tentang dirinya di depan Ditya.
Tak kusangka, Ditya tersenyum mengejek. Ditya pasti tahu yang dimaksud Arya adalah dirinya sendiri. Namun, Ditya tidak menanggapinya dan malah menganggapnya sebagai hal yang lucu.
Aku tak menyangka apa yang dilakukan Ditya untuk menjawab perkataan pedas Arya. Ditya menarik pinggangku agar kami lebih dekat lagi. Ditya lalu menatapku penuh kagum. "Kami, sudah saling mengenal luar dalam. Iya kan, Sayang?!"
Wow...
Bukan Arya saja yang terkejut. Aku juga.
Anggi yang baru datang juga terkejut karena posisi Ditya yang sedang merangkul pinggangku. "Kita bicaranya di kamar kamu aja boleh Sayang? Biar kita mengenal lebih dekat lagi!"
Anggi yang baru mendengar perkataan gombal Ditya padaku bahkan sampai membuka mulutnya lebar. Untung tidak ada lalat yang masuk.
Aku tersenyum dan ikut dengan permainan yang Ditya ciptakan. "Ayo, Sayang! Aku juga kangen banget sama kamu!"
Ditya pun memberikan lengannya untuk kugandeng. Kutinggalkan dua pasangan kepo dan rese yang masih tak percaya kalau kami sudah sangat dekat seperti ini.
****