
Ditya
Meski suasana sempat canggung karena Pak Handaka dan istrinya berselisih pendapat namun akhirnya suasana mencair. Istrinya mengalah dan membiarkan Pak Handaka dengan keputusannya.
"Kapan kamu siap menikahi Lara?" tanya Pak Handaka.
"Secepatnya!" jawabku dengan penuh keyakinan.
"Baguslah. Bilang sama Papa kamu, secepatnya kemari. Kami siap menyambut kedatangan keluarga kalian." ujar Pak Handaka dengan senyum penuh kebahagiaan.
Lara sejak tadi menunduk malu di samping Papanya. Aku sering curi-curi pandang ke arahnya. Yang kulihat Ia sesekali suka tersenyum malu. Pasti Ia sangat senang dengan keadaan ini. Kami semakin dekat dan kami akan segera menikah.
Aku tak lama berada di rumah keluarga Handaka karena aku harus pulang dan menyampaikan berita gembira ini pada Papa dan Mama di rumah. Kedua orang tuaku sangat senang mendengar rencana pernikahan yang sudah direncanakan oleh kedua keluarga tersebut.
Papa bilang, kami akan secepatnya ke rumah Pak Handaka untuk melamar Lara. Aku mengiyakan segala perkataan kedua orang tua angkatku. Mereka adalah orang tua yang baik, yang menyayangiku dengan tulus. Hanya saja, mereka tidak dianugerahi anak kandung yang akan meneruskan segala usaha mereka selama ini. Karena itu, aku dididik agar bisa menjadi penerus keluarga mereka. Meskipun kami tidak berhubungan darah.
Keesokan harinya aku tak lagi bertemu dengan Lara. Lara sangat sibuk. Aku hanya bisa mengetahui kegiatannya lewat sosial media miliknya. Ia lumayan aktif di sosmed, karena Ia harus memposting video untuk yang sudah mengendorsenya. Ternyata, Lara sudah sukses sekarang. Padahal dulu harus dibantu oleh perusahaanku terlebih dahulu untuk merintis pekerjaannya sebagai selebgram.
Kulihat jumlah followers-nya juga sangat banyak dalam waktu singkat. Hebat memang kerjasama antara Lara dan Bima. Mereka kompak dan sangat dekat.
Jujur saja, aku tak nyaman melihat kedekatan di antara mereka. Cara Bima yang begitu menyayangi Lara membuat aku merasa tak terima kalau tunanganku disayang oleh laki-laki lain. Enggak, ini bukan cemburu. Cuma nggak suka aja.
Entah mengapa aku jadi rindu ingin bertemu dengan Lara. Apa yang sedang Ia lakukan ya? Apa sedang syuting saja? Memangnya enggak lelah? Kapan ya dia istirahat? Kapan dia libur? Kapan aku bisa jalan bareng dengannya?
Aku merasa tak bisa berdiam diri seperti ini tanpa kepastian sama sekali. Aku pun menghubungi handphone Lara dan harus menelan kecewa karena handphonenya tidak aktif. Ia pasti sangat sibuk syuting. Story miliknya saja banyak sekali endorse yang masuk dan harus Ia iklankan.
Beginilah resikonya punya kekasih seorang selebgram terkenal. Aku harus banyak mengalah karena kesibukannya. Aku putuskan untuk mengirimi Lara pesan jika Ia sudah tidak sibuk.
Entah mengapa, aku sekarang mulai jatuh hati pada Lara. Aku menyukai kepribadiannya dan juga wajahnya yang cantik. Aku menjadi saksi perubahan penampilannya yang Ia lakukan alami, tanpa adanya operasi sama sekali.
Bisa saja Lara menggunakan uang yang dimiliki untuk mengubah penampilannya dengan cara instan seperti operasi plastik. Namun ternyata semua tidak Ia lakukan. Lara memilih perawatan dengan budget yang lumayan mahal namun nyatanya efektif.
Memang basic-nya Lara udah cantik. Semua kecantikannya tertutupi oleh dandanannya yang cupu. Sekarang, tak ada yang menyangka kalau Lara si Selebgram Hot itu adalah gadis cupu.
Kenapa Lara sangat sibuk hari ini? Ia baru menghubungiku sebelum aku tertidur. Kami pun mengobrol di telepon.
"Sibuk sekali kamu hari ini, Ra. Aku hubungi tapi enggak aktif Hpnya." keluhku.
"Aduh... Maaf banget ya Dit. Aku hari ini syuting beberapa produk sekaligus. Minggu besok aku harus menggantikan Papa untuk meeting di Batam makanya aku kejar setoran sekarang." suara Lara terdengar sangat lelah. Aku bisa bayangkan betapa sibuknya dia.
"Di Batam? Sama dong! Aku juga ada meeting disana. Kita ketemuan aja di sana gimana?" usulku.
"Beneran? Boleh... Boleh. Kamu kabari aku aja ya. Aku tiga hari disana." ujar Lara.
"Aku sebenarnya seminggu. Tapi aku bisa persingkat jadi 3 hari, biar kita bisa pulang bareng."
"Jangan. Nanti kerjaan kamu belum selesai. Aku nanti kabari ya dimana aku menginap." janji Lara.
"Udah. Ini baru selesai mandi. Kamu udah ngantuk ya? Tidurlah. Aku juga udah ngantuk nih hoam..."
Aku tersenyum. Lara terlalu jujur jadi orang. Aku yakin dia beneran ngantuk. Tak tega mengganggu waktu istirahatnya, aku pun menutup teleponku setelah berpamitan.
Lara beneran super sibuk sampai jarang membalas pesanku. Kutelepon juga jarang diangkat. Begitulah kalau pacaran dengan artis merangkap selebgram hot yang sangat terkenal.
Lara harus terus membuat konten yang berbobot agar followersnya terus bertambah dan eksistensinya di dunia perselebgraman tetap ada. Isi kontennya pun bagus-bagus.
Aku menonton video saat Lara mendatangi kakek penjual pisang. Banyak konten kreator membuat konten sosial seperti ini namun Lara berbeda.
Tatapan Lara yang tulus dan iba berbeda dengan akting para selebgram lain, termasuk Agni. Saat Lara merasa iba, sorot matanya menampakkan kesedihan mendalam. Seakan Lara menjiwai kesedihan orang lain. Lalu sikap spontan Lara. Murni dari hati.
Aku melihat sikap spontan Lara sudah dua kali. Pertama saat menangis ketika menggendong bayi di Panti Asuhan. Air mata kesedihannya asli tanpa rekayasa.
Kedua adalah saat Lara mengeluarkan seluruh isi dompetnya demi membantu kakek penjual pisang. Aku yakin Ia melakukannya spontan tanpa rekayasa dan aba-aba dari Bima, managernya.
Ini yang meyakinkanku kalau Lara bukan Agni. Aku hanya merasa mereka mirip, tapi sebenarnya berbeda. Agni pandai berakting dan menyembunyikan kesedihannya di depanku. Lara tidak.
Lara seperti selembar kain putih tipis. Begitu transparan dan kelihatan apa adanya. Sudah pasti Lara dan Agni berbeda bukan? Sudahlah aku akan menghapus kecurigaan aku tentang Lara.
Setelah tau kalau Lara hidupnya menderita, aku yakin Lara tak ada hubungannya dengan kematian Agni. Lara tak akan menjahati Agni. Mungkin saja mereka kebetulan melompat bersama. Takdir yang membuat Lara tetap selamat sementara Agni tidak. Aku harus mengikhlaskannya.
Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Aku berangkat subuh hari agar tidak ketinggalan pesawat karena kemacetan di jalan. Aku sampai Bandara Hang Nadim Batam jam 9 pagi, sementara meeting dimulai jam 10 pagi.
Seorang supir sudah disiapkan untuk menjemputku dari bandara menuju kantor cabang kami di Batam. Aku menikmati pemandangan sambil menunggu Lara membalas pesanku.
Kemana tunanganku itu? Kenapa enggak ada kabarnya? Aku ingin mengobrol dengannya meski sebentar saja. Susah memang kalau berpacaran dengan selebgram terkenal.
Lagi-lagi aku hanya memandang Lara lewat story miliknya. Ia sudah di Batam rupanya. Kapan kami ketemua ya kalau jadwalnya padat begitu? Huft....
Aku... kangen....
Aku terus menunggu balasan dari Lara sambil memimpin meeting tentang pengembangan produk. Sesekali kulirik Hp milikku. Apakah ada pesan masuk atau tidak.
Akhirnya yang aku tunggu-tunggu tiba. Lara membalas pesanku. Meski hanya membalas pesan sudah cukup membuatku senang.
"Aku menginap di Hotel Xxx. Kita bisa makan malam hari ini?"
Untunglah hotelnya tak terlalu jauh dari tempatku menginap. Dengan cepat kubalas pesan dari Lara.
"Aku jemput nanti malam. See you." Tak lupa menambahkan icon love dibelakang pesanku.
Ah.... Jadi begini rasanya jatuh hati....
*****