Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Bertemu Pemilik Panti yang Sebenarnya


Lara


Bapak Udin, pemilik Panti Asuhan yang sebenarnya. Mengabdikan hidupnya mengasuh anak-anak yang tidak memiliki orang tua. Mendidik dengan sepenuh hati sampai usianya renta dan dilanjutkan oleh Kak Nisa anak satu-satunya.


Pak Udin berjalan dengan menggunakan tongkat dan terlihat begitu renta. Senyum ramahnya tersungging kala melihatku dan Ditya.


"Oalah... Ada Ditya toh? Sehat Nak?" tanya Pak Udin dengan ramah.


Ditya mencium tangan Pak Udin dan memeluknya dengan penuh kasih. Pak Udin adalah orang tua sesungguhnya bagi Ditya. Pak Udin dan istrinya adalah sosok orang tua yang Ditya kenal. Dari mereka Ditya merasakan kasih sayang yang tak pernah didapatkan dari kedua orangtuanya.


"Sehat, Pak. Alhamdulillah. Bapak gimana? Obatnya rajin diminum? Jangan lupa ya diminum, Pak." pesan Ditya. Terlihat sekali Ditya sangat perhatian pada Pak Udin.


"Rajin dong! Ini... siapa?" Pak Udin menunjuk ke arahku. Ditya membantu Pak Udin duduk lalu memperkenalkan kami.


"Ini Lara Handaka, Pak. Istri Ditya."


"Oalah... Anaknya Handaka toh?! Kamu dulu suka bermain di Panti. Ibu kamu suka membuatkan makanan untuk anak-anak dan mengajak kamu bermain di sini. " aku menyalami Pak Udin dan kembali duduk di tempatku.


Aku dulu suka ke Panti? Benarkah?


"Ada apa kalian datang kesini? Biasanya kalian langsung ke Panti?!" tanya Pak Udin.


"Bapak... Kenal Papa saya?" tanyaku. Banyak teka-teki yang tak aku ketahui tentang Panti ini.


"Bapak kamu itu donatur di Panti ini. Jelas saya kenal. Sempat berhenti jadi donatur karena Mama kamu meninggal tapi kemudian jadi donatur kembali." ujar Pak Udin.


"Kedatangan kami kesini untuk menjawab rasa penasaran istri saya, Pak. Sejak terbangun dari koma, istri saya sering mendapat mimpi tentang Panti. Boleh istri saya bertanya sama Bapak?" Ditya minta ijin dengan sopan, tau saja dia kalau aku akan langsung bertanya tanpa permisi lagi.


"Boleh. Tentu saja! Apa yang bisa saya bantu?" tanya Pak Udin.


"Bapak... Kenal Amel?" tanyaku.


"Amel? Tentu saja kenal. Tapi sudah lama tak ada yang memanggilnya Amel." jawab Pak Udin jujur.


"Amel siapa Ra?" tanya Ditya yang juga tak tahu siapa Amel.


"Amel adalah...." belum sempat aku menjawab, Pak Udin sudah memberitahukannya.


"Amel adalah nama asli Agni. Amelia Agni Putri." jawaban Pak Udin membuat Ditya dan Kak Nisa terkejut. "Bapak yang mengganti nama Agni. Bapak tak mau Agni terus menerus bersedih setelah ditinggal Mamanya."


Pak Udin kini menatapku lekat. "Kamu tau darimana nama Amel?"


"Dari mimpi, Pak. Sejak bangun dari koma, aku suka bermimpi tentang Agni maksudnya Amel. Awalnya aku tak menggubris semua mimpiku, namun lama kelamaan mulai menggangguku." aku lalu memberikan selembar foto pada Pak Udin. "Ini Mamanya Agni bukan?"


Pak Udin menatap foto yang kuberikan lalu menjawab pertanyaanku dengan anggukan kepalanya. "Benar. Ini Sofie. Ibu kandung Amel. Dulu, Sofie berjanji akan menitipkan Amel sebentar saja karena harus bekerja. Namun ternyata Sofie malah menikah dengan suaminya yang sudah tua renta dan memiliki anak. Sofie tak kunjung kembali menjemput Amel."


"Bapak tidak membujuknya untuk mengambil anaknya?" tanyaku.


Pak Udin tertawa sinis. "Mana mau dia mengasuh anak yang dia dapat dari hasil pemerkosaaan? Saya ditipu olehnya. Bilangnya mau kerja padahal mau membuang anaknya! Tak sudi saya Amel dibuang begitu saja. Lebih baik saya yang besarkan."


Anak hasil pemerkosaan?


"Agni, maksudnya Amel tau siapa Mamanya?" tanyaku penasaran.


Pak Udin menggelengkan kepalanya. "Semula tidak tahu, sampai Handaka Papa kamu datang."


"Papa?"


"Papa kamu datang karena menyelidiki asal usul Sofie, wanita yang hendak dinikahinya. Handaka berjanji akan menjadi donatur jika saya mempertemukannya dengan Agni. Saya ijinkan karena saat itu Panti benar-benar membutuhkan uang. Ditya sama Agni saja sampai bekerja untuk membantu Nisa mencari donatur, masa saya tolak?" cerita Pak Udin.


"Nama Amel, Bapak yang ganti menjadi Agni. Bapak juga yang minta sama Handaka untuk merahasiakan dari Sofie. Toh dia tak pernah peduli sama anaknya sendiri. Sejak itu, Handaka menjadi donatur tetap Agni. Semua biaya Agni, Handaka yang sponsori. Agni yang suka datang dan cerita sama Bapak. Meski tak bisa memanggil Mama, mengetahui kalau Mamanya masih ada membuat Agni senang."


Jadi benar Agni sudah tau kalau dirinya adalah anak Tante Sofie. Apa Tante Sofie tau kalau anaknya sudah meninggal?


Papa sudah tau siapa Agni sejak awal. Papa yang membiayai anaknya Tante Sofie tanpa sepengetahuan Tante Sofie itu sendiri. Papa memang baik hati.


Setelah pertanyaanku terjawab, aku dan Ditya pamit pulang. Aku terdiam selama perjalanan dan terus memikirkan semua informasi yang kudapat.


Sepertinya aku harus mengungkap semua teka teki ini jika ingin Agni pergi dengan tenang dan Agni tak lagi datang ke mimpiku. Ya, itu mungkin yang Agni mau.


"Dit, aku akan ke Om Wisnu. Kamu turunkan saja aku di depan!" pintaku.


"Oh tidak! Aku yang akan mengantar kamu! Aku kan bilang sama kamu, kemanapun kamu pergi, biar aku yang mengantarnya!" tolak Ditya.


"Tapi Dit, kamu harus kembali bekerja!"


"Kamu juga harus kembali bekerja. Gini aja, sore kita ke tempat pengacara kamu. Sekarang kita balik ke kantor dulu. Aku hanya menandatangani dokumen dulu sebentar. Gimana?"


Aku mau menolak tapi aku tahu Ditya juga penasaran sama sepertiku. Dulu ada Bima yang menemaniku memecahkan misteri ini, tapi sekarang Ditya yang akan menemaniku. Setidaknya aku punya teman. "Baiklah. Nanti sore saja!"


Ditya tersenyum senang. "Aku yang akan temani kamu sejak sekarang. Kita pecahkan misteri ini bersama. Setidaknya itu hal yang aku lakukan untuk sahabatku Agni. Boleh kan?"


Ya, mereka memang bersahabat. Benar yang Ditya katakan. Misteri ini akan kami pecahkan bersama-sama. "Baiklah. Toh berdua lebih baik dari sendiri."


"Begitu dong!"


Kami pun kembali ke kantor. Ditya mulai didatangi banyak tamu dan aku sibuk mempelajari apa yang Ditya ajarkan. Waktu berlalu dengan cepat sampai jam pulang kantor tiba.


Aku menghubungi Om Wisnu dan mengatakan akan menemuinya.


"Kalau memang Tante Sofie adalah Mamanya Agni, berarti Agni dan Anggi adalah kakak beradik?" gumam Ditya.


"Ya, tapi sayangnya hanya Anggi yang disayang dan dianggap anak oleh Tante Sofie. Malang sekali nasib Agni. Andai kami saling mengenal, aku pasti akan memberinya semangat." kataku sedih.


"Kalian sudah bersahabat kok. Kalian berbagi kepribadian dan mimpi. Meski hanya bertemu sekali, kalian lebih dekat dari sahabat yang sebenarnya."


Benarkah?


****