
Lara
Rasanya aku seperti melayang tidak menampak bumi. Bima yang terus menuntun dan membawaku ke rumah sakit tempat Papa dirawat.
Kenapa bisa Papa terkena serangan jantung? Kemarin Papa masih baik-baik saja saat aku menginap. Apa Papa Terlalu lelah? Rasanya tak mungkin, Ditya membantu Papa memegang perusahaannya. Bahkan, perusahaan Papa jauh lebih maju saat dipegang oleh tangan dingin Ditya.
Apa ini karena surat wasiat Papa? Apa ini perbuatan Tante Sofie?
"Ra! Kita udah sampai. Kamu mau aku drop dulu di UGD?" tanya Bima.
Aku hanya mengangguk lemah. Tak ada semangat dalam diriku. Papa sakit, lalu siapa yang akan melindungiku kelak?
Aku turun dari mobil dan sudah ada Ditya yang menungguku di depan rumah sakit.
"Papa gimana? Kenapa Papa bisa serangan jantung? Huaaaa.... " Ditya menarikku dalam pelukannya. Aku menangisi keadaan Papa.
"Tenanglah. Papa akan secepatnya dipindahkan ke ruang ICU." kata Ditya.
"Apa? ICU?" keadaan Papa pasti parah sampai masuk ke ICU.
"Papa tidak sadarkan diri. Kamu mau bertemu Papa? Mumpung belum dipindahkan ke ICU. Ruangannya sedang disiapkan dahulu."
Aku mengangguk. Ditya lalu mengantarku bertemu Papa. Aku melihat Tante Sofie sedang menangis sambil memeluk Anggi yang juga ikut menangis.
Aku tak percaya dengan air mata mereka. Air mata palsu. Aku akan membuat perhitungan kalau Papa sampai kenapa-napa karena perbuatan mereka!
Aku pun masuk ke dalam dan melihat keadaan Papa yang sudah banyak selang di tubuhnya. Batinku menangis. Aku ingin berteriak, menangis sekencang mungkin namun harus aku tahan.
Aku tutup mulutku dengan kedua tanganku. Hanya air mata yang terus menetes tanpa bisa kutahan lagi.
Papa...
Kenapa Papa harus seperti ini?
Siapa yang membuat Papa seperti ini, Pa?
Bagaimana hidup Lara tanpa Papa?
Siapa yang akan membela dan melindungi Lara?
Ditya mendekat dan memelukku erat. Kusembunyikan wajahku di dadanya yang bidang. Yang kini basah oleh air mataku.
Tangisku semakin tak kuasa kutahan. Suara isakkan kecil mulai keluar dari mulutku.
"Ra! Itu Papa kamu sadar!" kata Ditya.
Aku melepaskan pelukan Ditya dan mendekat ke arah Papa. Kusentuh tangannya yang sudah mulai keriput namun masih bisa kurasakan kehangatannya.
"Pa... Hiks.... Papa sehat ya? Papa harus sembuh!" kataku menyemangati Papa.
"La...Ra... " kata Papa dengan lemah.
"Pa.... Papa harus melawan rasa sakit Papa. Papa harus sembuh demi Lara!" kataku dengan sesegukan.
"Maaf...in Pa... Pa...." kata Papa dengan sekuat tenaga.
"Enggak! Papa jangan minta maaf. Papa harus buktikan sama Lara kalau Papa kuat. Papa harus buktikan sama Lara kalau Papa akan sembuh. Lara mohon, Pa...."
Air mata menetes dari pelupuk mata Papa. Aku ingin memeluk Papa... Aku ingin berada di dekat Papa terus.
"Pa... "
"Maaf... Ra..." Papa lalu menghembuskan nafas terakhirnya...
Tangan Papa terkulai lemas tak lagi menggenggam balik tanganku.
"Papa! Tidak... Papa jangan pergi! DOKTER! TOLONG DOKTER!" teriakku sekuat tenaga.
Suara mesin jantung Papa terdengar datar. Piiiiiiipppppppppp....
Dengan berlari, Dokter datang dan melakukan tindakan penyelamatan.
"Papa! Papa..... Papa harus sembuh, Pa. Jangan tinggalin Lara! Papa!" Ditya terus memelukku yang berusaha memberontak.
Tante Sofie dan Anggi masuk ke dalam. "Kenapa dengan Papa?" tanya Tante Sofie dengan penuh khawatir.
"Papa... Drop. Dokter sedang melakukan pertolongan." jawab Ditya.
"Dasar wanita setan! Pasti kamu yang sudah membuat Papa sakit! Kamu wanita jahat! Apa yang kamu lakukan pada Papaku?" teriakku sampai membuat security datang dan harus mengeluarkanku karena membuat keributan di ruang UGD.
Aku tak peduli. Aku tak peduli banyak pasang mata yang melihatku. Aku mau Papaku! Aku mau Papa!
Lalu dokter yang memeriksa keluar. Cepat-cepat kulepaskan pelukan Ditya dan berlari menghampiri dokter.
"Bagaimana dengan Papaku? Papa sembuh kan? Papa baik-baik saja kan Dok?" tanyaku seraya menarik kerah leher jas putih kebesarannya.
Wajah dokter itu tertunduk lesu. Terlihat penyesalan dalam dirinya. "Mohon maaf. Kami sudah berusaha semampu kami namun nyawa Pak Handaka tidak berhasil tertolong lagi!"
Bak mendengar suara petir di siang bolong, berita yang disampaikan padaku benar-benar membuatku tak bisa mempercayainya. Baru saja Papa berbicara denganku, baru saja memanggil namaku namun kini Papa sudah pergi.
Papa....
Kenapa tinggalin Lara sendirian di dunia ini....
"Papa.... Jangan tinggalin Lara, Pa...."
"Sayang! Yang sabar ya... " Ditya kembali memelukku.
"Papa! Huaaaa.... Papa!" aku menangis meraung-raung. Bahkan aku tak sadar memukul-mukul dada Ditya.
Lalu segalanya berubah gelap dan aku tak ingat lagi apa yang sudah terjadi.
****
Aku terbangun setelah tertidur lama. Rasanya mimpi buruk masih melingkupiku. Tapi kenapa semua berwarna putih ya?
"Kamu udah sadar, Sayang?" tanya Ditya dengan raut khawatir. Ia begitu perhatian padaku.
Lalu aku teringat tentang Papa.
Aku duduk cepat-cepat dan merasa pusing. Kepalaku terasa berputar dan reflek aku memegang kepalaku yang sakit tersebut.
"Kamu kenapa? Masih pusing? Pelan-pelan bangunnya. Jangan dipaksakan!" kata Ditya yang kini menaruh bantal di belakang punggungku agar aku bisa bersandar.
Aku terdiam. Lalu bayangan Papa meninggal kembali teringat dalam pikiranku. Air mata kembali turun dan aku kembali menangis.
"Sayang! Sudah ya. Sabar. Kamu harus mengikhlaskan Papa. Biar Papa tenang di alam sana. Kalau kamu menangisi terus, siapa yang akan mengantar Papa ke pemakaman terakhirnya?" bujuk Ditya.
Pikiranku sudah kembali. Benar yang Ditya katakan. Kalau aku terus menangis, siapa yang akan mengantar Papa ke peristirahatan terakhirnya?
Aku tak mau dua iblis itu yang mengantar Papa. Aku yakin, kepergian Papa karena ada campur tangan mereka berdua. Lihat saja, aku akan mencari tahu dan meminta mereka membayar atas perbuatan mereka kelak.
Kuhapus air mata di wajahku dan mengangkat wajahku dengan tegar. "Aku yang akan mengantar Papa ke peristirahatan terakhirnya!"
Ditya tersenyum. "Nah begitu. Baru Lara yang aku kenal. Lupakan dulu kesedihan kamu dan antar Papa kamu dengan ikhlas."
Aku mengangguk setuju. Untunglah ada Ditya di sampingku. Saat ini, keluargaku hanya tinggal Ditya seorang. Kalau tak ada Ditya entah apa yang akan terjadi.
"Masih mau peluk?" Ditya membuka tangannya lebar.
Tentu...
Aku sangat ini membutuhkan pelukan melebihi apapun. Aku pun menghambur ke pelukannya dan kembali menangis.
"Menangislah dulu sampai puas. Masih ada waktu satu jam lagi lalu kita akan membawa pulang untuk selanjutnya di makamkan. Lebih baik kamu menangis di pelukanku daripada menangis di makam Papa kamu. Antar Papa kamu dengan keikhlasan di hati, agar Papa kamu tahu kalau ada aku yang akan menjaga kamu!"
Dalam tangisku aku bersyukur. Aku berterima kasih karena sudah memiliki kamu sebagai suamiku, meski aku tahu kalau kamu masih menyembunyikan banyak hal padaku.
****
Mohon maaf jadwal Update masih berantakan 🙏. Aku usahain Up rutin, bantu like, komen, vote dan add favorit ya 🙏