Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Emosi dan Gairah


... Warning! Bisa dibaca sehabis maghrib ya! ...


...Jangan lupa like, komen dan add favorit 🥰🥰...


...****...


Lara


Wajah Ditya terlihat mengeras menahan emosi. Wajahnya memerah dan aku tahu Ia sangat marah. Aku salah. Aku yang keasyikan mengobrol dengan Bima sampai lupa waktu. Aku yang sejak tadi menunggu Bima mencari tahu tentang Agni. Seharusnya aku pulang saja, dan menunggu hasilnya besok. Namun, rasa penasaran dalam diriku yang membuatku nggak mau pulang sebelum semuanya terkuak.


Aku merasa bersalah. Aku menundukkan wajahku dan menghampiri Ditya. "Maafin aku, Sayang! Aku lupa ngabarin kamu kalau kerjaan aku belum selesai."


Ditya melepaskan seat beltnya dan keluar dari dalam mobil. Rupanya Ia melihat Bima datang menghampiri kami. Aku takut mereka bertengkar. Bagaimana ini?


"Maaf ya Pak Ditya, Lara terlalu konsentrasi memilih mana yang mau di endorse. Sampai lupa waktu." Bima juga meminta maaf mewakili diriku. Baik sekali dia.


"Memangnya tidak bisa esok hari? Sekarang Lara sudah menikah. Tak bisa bekerja secara full. Aku mengijinkan Lara bekerja karena tak mau Ia merasa bosan sendirian di rumah, namun bukan berarti Ia bisa sampai lupa waktu seperti sekarang!" meski nadanya tidak tinggi, namun aku dan Bima tau kalau Ditya sangat marah.


"Maaf sekali Pak Ditya. Aku bener-bener minta maaf. Aku selaku managernya mau minta maaf sama Pak Ditya. Semua Lara lakukan karena Lara ingin beramal. Rencananya, uang dari endorse yang Lara ambil sebagian akan Ia sumbangkan untuk panti asuhan. Lara berniat menjadi donatur tetap di sana." ujar Bima berusaha meredakan amarah Ditya.


"Jadi donatur?" rupanya Ditya terpancing dengan perkataan Bima. "Panti asuhan mana?"


"Iya. Lara mau jadi donatur tetap di Panti Asuhan Peduli Sesama Itu Penting. Saat syuting di sana terakhir kali, Lara sudah jatuh hati dan bertekad ingin jadi donatur. Karena sibuk menyiapkan pernikahannya dengan Bapak Ditya, Lara baru sempat mengerjakan proyeknya sekarang. Kami tadi sedang asyik milih-milih endorse mana yang akan diambil dan konsep video yang akan kami buat itu seperti apa. Saking asyiknya sampai lupa waktu. Saya minta maaf sekali ya Pak. Besok, kami janji tak akan seperti ini lagi." Bima mengeluarkan kemampuan negosiasinya dan hasilnya...


"Besok jangan sampai sore ya! Meski tujuan kalian baik, ingat saja kalau Lara juga punya kehidupan lain. Kami pulang dulu!" Ditya menepuk bahu Bima dan masuk ke dalam mobil. "Ayo, Sayang!"


Aku kini bisa bernafas lega. Bima berhasil meyakinkan Ditya agar tak marah berlama-lama meski harus berbohong sedikit. Aku melempar tatapan penuh terima kasih pada Bima yang Ia balas dengan senyuman.


"Hati-hati di jalan!" kata Bima sambil melambaikan tangannya.


Aku masuk ke dalam mobil dan memakai seat belt. Suasana masih canggung. Aku beranikan diri bicara terlebih dahulu pada Ditya. "Maafin aku ya, Sayang! Aku keasyikan bekerja sampai lupa waktu. Maaf..."


"Sudahlah. Toh aku tau niat kamu bekerja itu baik. Aku yang minta maaf karena sudah terlanjur emosi tanpa bertanya dulu apa yang sudah terjadi." sesal Ditya. "Besok, kamu boleh kerja tapi ingat sebelum sore sudah pulang ya!"


Aku tersenyum lega. "Makasih, Sayang. Aku janji akan pulang sebelum kamu pulang."


Ditya akhirnya tersenyum, dan kecanggungan di antara kami mencair. "Kita makan di luar aja gimana? Kamu mau makan apa?"


"Terserah kamu aja. Aku ikut. Kebetulan aku belum makan karena sibuk diskusi dengan Bima. Laper banget nih!" kuusap perut rataku. Terlalu sibuk curhat sampai lupa kalau aku belum makan.


Ditya mengusap rambutku pelan. "Kerja harus ingat makan. Jangan keasyikan kerja sampai telat makan. Kalau kamu sakit gimana?"


Aku suka perhatian yang Ditya berikan. Meski tadi sempat takut kalau Ia marah. Aku jadi berpikir ulang mengatakan kalau aku memiliki dua kepribadian. Aku takut Ditya marah lagi.


****


Aku tak bisa tertidur. Aku lelah dan meski kami habis bersenang-senang tetap saja tak membuat aku mengantuk.


Kutatap Ditya yang sedang tertidur lelap. Nafasnya teratur dan terdengar suara dengkuran lembut.


Ditya pasti kelelahan setelah kami melakukan hubungan suami istri sampai dua kali. Aku menatap suamiku dengan sedih. Kasihan dia, memiliki istri yang punya kepribadian ganda dan aku terus menyembunyikan darinya.


Aku takut kehilangan kamu Dit....


Aku tak mau kehilangan kamu....


Sampai akhirnya aku tertidur lelap dan terbangun saat Ditya mulai menggodaku kembali. Rupanya hari ini Ia masih on fire. Masih mengajakku bercinta di pagi hari.


Aku tak kuasa menolak permintaannya. Ia selalu membuatku menginginkan sentuhan demi sentuhan yang Ia berikan. Membuatku merasa ketagihan dan tak mau semua ini usai.


Pagi ini gairah kami memanas. Suara mele nguh dan mendesah terdengar di seisi kamar. Sampai aku merasakan cairan hangat miliknya dalam diriku seraya berdoa semoga secepatnya kami diberi momongan.


Seakan tak puas, Ditya mengajakku mandi bersama dan kembali kami bercinta di dalam sana. Pengantin baru seperti kami memang masih sangat bergairah.


"Aku harus pergi bekerja. Padahal aku masih mau menghabiskan hari ini sama kamu!" kata Ditya saat aku memakaikannya dasi.


Aku tersenyum. "Kita lanjutkan malam ini dan kita habiskan weekend ini berdua. Bagaimana?" kataku dengan suara menggoda.


"Hmm... Weekend ini bukannya kita harus menginap di rumah Papa kamu?" kata Ditya mengingatkanku.


"Oh iya! Aku lupa! Ya... Kita bersenang-senang di rumah Papa aja. Enggak masalah kan?"


Ditya tersenyum dan mencubit pelan hidungku. "Mulai nakal ya? Tapi aku suka! Hari ini jangan pulang terlalu sore ya!" pesan Ditya.


"Iya, Sayang!" kuantar suamiku sampai depan pintu apartemen. "Hati-hati di jalan!"


Ditya mengecup keningku. "I love you!"


Aku tersenyum. "I love you too." balasku.


Aku melihat kepergian Ditya dengan senyum bahagia. Kututup pintu dan senyum di wajahku belum menghilang. Indahnya rumah tanggaku.


Cepat-cepat kurapihkan kamar dan bersiap-siap pergi ke rumah Bima. Nanti ada mbak yang membersihkan apartemen saat aku pergi.


Aku memesan taksi dan pergi ke rumah Bima. Sudah ada pisang goreng dan teh hangat menyambutku di sana. Pasti Bima memborong pisang dari Kakek tua itu lagi. Hatinya memang sangat baik.


"Gimana Ditya? Marah enggak?" tanya Bima sambil menyisir rambutnya. Hari ini kami akan membuat video di luar.


"Enggak. Karena alasan yang kamu buat. Thanks Bim. You save the world."


"Santai! Yang penting kamu senang. Udah siap? Kita buat konten hari ini banyak viewersnya!" kata Bima dengan bersemangat.


"Siap!"


Aku dan Bima pun pergi ke salah satu tempat tongkrongan anak muda. Rencananya kami buat konten juga menerima endorse di salah satu restoran all you can eat. Lumayan makan gratis dan dapat cuan.


"Nanti makannya anggun tapi yang banyak ya! Jangan buat konten makan cepat kayak orang enggak pernah makan! Buat seakan-akan kamu menikmati makanan kamu!" kata Bima mengarahkan.


"Siap Pak Manager!"


****