Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Syuting di Panti Asuhan


Aku berjalan masuk menuju ruang Aula yang tadi ditunjuk oleh Bima. Disana terlihat anak-anak sedang repot merapikan barang dagangan yang mau dipajang.


Aku menghampiri salah seorang anak berusia remaja yang sedang sibuk penyusun peralatan yang hendak dibawa ke depan. "Boleh aku bantu?" tawarku sambil menyunggingkan senyum ramah.


"Wah... Kakak artis ya? Yang mau syuting di depan sama Kak Bima?" tanya anak itu dengan mata berbinar senang.


Aku mengangguk, senyum di wajah anak itu menular denganku. "Bukan artis ah. Aku enggak se-terkenal itu. Aku bantu ya?!"


Anak itu tersenyum dan terlihat kekaguman di matanya terhadapku. "Boleh, Kak. Kalau tidak merepotkan."


"Tentu tidak dong!" Aku mengangkat sebuah kardus dan menunggu Ia mengangkat kardus yang lain. Kami pun berjalan beriringan ke depan.


"Nama kamu siapa?" tanyaku memulai percakapan.


"Nama aku Bunga. Kakak namanya Kak Lara Handaka bukan? Kemarin aku lihat konten Kakak di Hp teman aku waktu di sekolah. Kakak keren banget ih. Mau menolong kakek penjual pisang dengan tulus." puji Bunga padaku.


Aku tersenyum senang mendengarnya. Dalam hatiku seperti ingin meloncat karena terlalu bahagia mendengar pujian yang tulus dari bunga.


"Ah bisa saja kamu. Membantu sesama itu sudah kewajiban kita sebagai umat manusia. Semoga saja, konten yang aku buat bisa menginspirasi banyak orang. Jadi, akan semakin banyak orang yang mau menolong orang lain yang kesusahan. Akan semakin banyak orang yang melihat keadaan di sekitar kita dan mau membantu. Bukan hanya bersikap acuh dan tak peduli seperti gaya hidup orang zaman sekarang."


Kami pun sampai di meja yang sudah disusun oleh Bima. "Kalau saja Kakakku masih ada, pasti kalian akan berteman akrab." Bunga menaruh kardus yang dibawanya di meja sebelah yang kosong. Ia mengeluarkan sehelai taplak meja dan memasangnya agar terlihat cantik dan rapi.


"Memangnya Kakak kamu kemana?" tanyaku sambil membantu Bunga menaruh barang-barang di atas meja dan menatanya dengan rapi.


Ternyata Bunga mau menjual hiasan rambut dan juga aneka souvenir seperti gelang, tas anyaman dan gesper. Semuanya dibuat dengan kerajinan tangan tanpa bantuan mesin sama sekali. Cantik sekali.


Sambil tersenyum sedih bunga mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk ke arah langit. Aku mengerti apa yang Ia maksud. Jadi, kakak yang diceritakan oleh Bunga tadi sudah tiada. Makanya Ia menunjuk ke arah langit.


Tak mau menanyakan lebih jauh tentang kakaknya Bunga dan membuat Bunga jadi sedih di hari spesial ini, aku memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Ini siapa yang buat? Hasilnya cantik-cantik loh. Kalau aku pasarin di sosmed aku pasti bakalan laku banyak ini!"


Aku mengangkat sebuah gelang dan mencoba memakainya di pergelangan tanganku. Terlihat bagus sekali dan cocok di kulitku yang putih ini.


"Bunga yang buat Kak, bersama teman-teman di Panti." jawab Bunga dengan nada bangga. "Kak Lara mau bantu promosiin? Nanti Bunga akan buat yang banyak agar Kak Lara bisa menjualnya di sosmed Kakak."


"No. Bukannya aku nggak mau membantu menjual produk kamu, ini kesempatan buat kamu mengembangkan potensi yang kamu miliki. Kamu buat saja sebuah akun nanti aku promosiin akun kamu dan kamu tinggal posting produk yang sudah selesai kamu buat. Kalau ada yang beli tinggal kamu packing dan kirim. Biar kamu mandiri dan bisa mengelola bisnis kamu sendiri. Kalau perlu, kamu daftar di market place agar bisa ikut promo seperti gratis ongkir dan cashback. Pasti banyak pembeli yang suka."


Bunga terlihat agak bingung dengan perkataanku. "Aku akan ajari kamu caranya nanti. Kita rapihin ini dulu ya. Soalnya, aku juga harus shooting. Kalau aku udah selesai, nanti aku bisa ajarin kamu dan bantuin kamu lagi."


Bunga mengangguk setuju dengan apa yang kukatakan. Kami pun memajang barang yang akan dijual oleh Bunga agar terlihat menarik di mata pembeli.


Aku mengikuti Bunga yang membantu adik-adiknya yang lain. Mengangkat barang-barang dan membantu menyusunnya di atas meja. Ternyata seru juga bekerja di Panti seperti ini. Ada rasa kekeluargaan dan terasa hangat di hatiku.


Aku merasa Panti ini seperti rumahku sendiri. Tertawa bahagia dan bercanda gurau dengan adik-adik adalah suatu hiburan tersendiri. Aku bahkan selfie dengan mereka untuk dijadikan kenang-kenangan.


Aku pun menghampirinya dan benar saja dia sudah menata rapi meja tempat aku syuting. Produknya sudah disusun dengan rapi.


"Rapihin dulu make-up kamu, Ra!" perintah Bima. "Kamu keringetan tuh habis bantuin anak-anak, jadinya make-up kamu kurang bagus."


"Siap Bapak Manager!" aku menggoda Bima yang sedang sibuk mensetting kamera. Aku duduk di kursi yang Bima sediakan untukku. "Di sini tuh enak ya Bim. Aku suka deh berada disini. Anak-anaknya baik dan berada di samping mereka membuat aku senang dan hangat." kataku sambil merapikan make up yang mulai luntur karena aku berkeringat. Hanya touch up sedikit saja, aku sudah siap untuk syuting.


"Aku juga senang, Ra. Gimana kalau sekalian kita bikin konten tentang Panti Asuhan ini? Acara bazar mereka kita liput sekaligus ajang promosi buat mereka juga. Siapa tahu makin banyak donatur yang mau menyisihkan sebagian rezeki mereka untuk membantu adik-adik di sini." usul Bima.


"Setuju, Bim!" kataku dengan penuh semangat.


"Aku juga setuju!" aku dan Bima menoleh ke asal suara. Ternyata Ditya. Kemana saja dia sejak tadi? Sibuk sekali sampai aku dan Bima diacuhkan. "Aku bahkan sudah minta ijin dengan pengurus Panti dan mereka mengijinkan kalian meliput acara hari ini."


"Beneran? Kapan kamu ijinnya?" tanyaku.


"Tadi. Aku kebetulan kenal dengan pengurus di sini dan saat ngobrol kulihat kamu senang sekali membantu anak-anak. Aku yakin kalian akan membuat konten di sini makanya aku sekalian minta ijin deh." Ditya tersenyum, ya ampun... tampan sekali dia.


"Makasih loh Dit atas inisiatif kamu. Habis selesai syuting produk yang mengendorse kami, aku lanjut meliput bazar."


Aku dan Bima pun memulai proses syuting. Susu kemasan UHT menjadi sponsor kali ini. Aku meminum susu dan berakting seakan aku menjadi sehat dan bugar. Lalu aku berlari kecil di taman sambil memegang susu kemasan tersebut. Bima merekam semua yang kulakukan.


Syuting berjalan lancar tanpa perlu beberapa kali mengulang adegan. Selesai syuting, Bima mengabari pihak sponsor dan ternyata mereka mau menerima usul Bima.


"Kita dapat double endorse, Ra. Sponsor mau produk kita dimasukkan dalam video yang meliput anak-anak di sini. Aku minta bayaran lebih dong, dan mereka mau!" beritahu Bima dengan penuh semangat.


"Beneran? Wah honornya bisa kita sumbangin untuk Panti ini juga dong, Bim! Keren kamu Bim negonya!" pujiku.


"Bima gitu loh!"


"Iya... Iya... Bima hebat! Bima keren!" godaku seraya mengelitiki Bima yang menghindar karena tak kuat menahan rasa geli.


Tanpa kusadari Ditya sejak tadi terus memperhatikan kedekatanku dengan Bima. Kami memang sangat akrab, maklum kami berdua merintis pekerjaan sejak susah dan kini mulai bisa menuai hasil, bagaimana tidak dekat coba?


"Bisa becandanya dipending dulu?" tanya Ditya dengan raut wajah yang berubah menjadi dingin. Suaranya terdengar tegas, bak Ditya Kusuma pemimpin Kusuma Corporation yang terkenal tegas. "Acara akan segera dimulai!"


"I... Iya." jawabku dan Bima yang langsung menghentikan becanda kami.


Kenapa Ditya berubah jadi dingin dan galak secepat itu ya? Bukannya tadi dia baik-baik saja? Apa Ditya marah karena aku becanda dengan Bima? Cemburukah?


****