Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Lily


Lara


Hari ini adalah jadwalku mengantar Bima untuk cuci darah. Mamanya Bima tidak bisa ikut serta karena harus pulang sebentar ke Indonesia. Sudah tiga hari Mama Bima pergi, rencananya mau pulang weekend ini.


Sebenarnya aku tidak tega melihat Bima kesakitan seperti ini tapi apa daya? Segala upaya sudah kami lakukan untuk pengobatannya namin tetap saja Bima tidak bisa melakukan operasi transplantasi ginjal. Keadaannya semakin memburuk, yang bisa kulakukan hanyalah membuatnya bahagia saja. Setidaknya, Bima pergi dengan kenangan manis bukan dengan rasa sakit yang Ia ingat.


Sambil menunggu Bima yang sedang cuci darah, aku membaca email yang dikirimkan oleh Om Wisnu padaku. Yang menjadi mata-mata selama aku berada di luar negeri adalah Om Wisnu. Beliau yang mengabarkan bagaimana perkembangan perusahaan dan apa saja ulah yang diperbuat oleh Tante Sofie dan Anggi selama aku pergi.


Anggi dan Arya sudah menikah. Namun ternyata kepemimpinan perusahaan tidak dialihkan ke Arya melainkan tetap dipegang oleh Ditya. Om Wisnu cerita, katanya Tante Sofie sudah mengajak Ditya untuk bekerja sama dengannya dan menjadi sekutunya.


Aku sih tidak heran. Sifat ambisius dan punya tujuan terselubung pasti adalah ciri khas Ditya. Aku tak mau ambil pusing, selama uang bulananku tetap ditransfer ke rekening semua tak jadi masalah. Toh kepemilikan sahamku masih tetap 50 persen!


Om Wisnu yang mengatur semuanya. Pokoknya, keberadaanku di Belanda tak ada yang mengetahui. Uang bulananku juga Om Wisnu yang transfer tentunya dengan pengawasan dariku. Aku tak merasa kekurangan selama tinggal di Belanda. Aku juga punya penghasilan dari ngevlog selama ini. Lumayan, aku bisa membantu orang tua Bima membiayai pengobatan Bima selama di Belanda.


Aku sengaja membuat konsul ke dokter kandungan bersamaan dengan jadwal Bima cuci darah. Jadi, Bima bisa melihat perkembangan anak dalam kandunganku. Itu salah satu hal yang membuat Bima bahagia. Ia perhatian terhadap anakku meskipun anak dalam kandunganku bukanlah anaknya.


Bima bahkan lebih cerewet dan bawel ketimbang dokter kandunganku sendiri. Ia selalu tak pernah absen menasehatiku untuk meminum vitamin tepat waktu dan tak lupa mengkonsumsi susu hamil. Dia juga yang selalu mengecek makanan yang kumakan jika aku sedang membuat video di luar lewat video call. Maklum, terlalu sibuk aku kadang tidak memperhatikan apa saja makanan yang dikonsumsi.


Saat menghabiskna waktu bersama terkadang Bima suka bercerita tentang kehidupannya dulu yang harus berpindah-pindah tempat mengikuti lokasi di mana ayahnya ditugaskan. Saat tahu kalau dirinya sakit, tujuan Bima hanyalah menemukanku dan ingin menghabiskan hidupnya bersamaku. Ia mencari tahu keberadaanku dan mudah saja menemukan di mana keluarga Handaka tinggal. Merekansekeluarga pun tinggal di Jakarta sekaligus melanjutkan pengobatan dan mencari donor ginjal yang cocok. Sayangnya kami tak pernah bertemu sampai secara tidak sengaja Bima yang sedang bermain sepeda bertemu denganku. Waktu itu Ia masih sehat karena sebelah ginjalnya masih berfungsi dengan baik.


Bima lalu untuk pertama kalinya punya tujuan dalam hidup. Sejak Ia didiagnosis mengalami kerusakan ginjal, baru kali ini Ia memiliki keinginan dan hal yang akan Ia lakukan sebelum ginjalnya rusak semua. Berada disampingku dan membuat video adalah keinginannya. Karena itu Mamanya selalu mendukung apapun yang dilakukan asalkan dia bahagia.


Hari-hari berlalu dengan cepat. Jumlah followers dan penonton videoku semakin banyak saja. Meskipun aku tak menampakan diriku dan selalu memakai topeng serta baju yang besar dan suara yang disamarkan. Itu menjadi ciri khasku. Ternyata, banyak yang tidak peduli bagaimana penampilanku. Yang penting isi konten yang kusajikan.


Aku mulai kesulitan membuat video dengan perut yang semakin membesar dan kaki yang membengkak. Pinggangku juga terasa pegal karena bayi dalam kandunganku yang semakin bertambah saja beratnya.


Aku sudah mempekerjakan orang lain untuk membantu pekerjaan namun tetap saja tak ada yang sebaik Bima. Kondisi Bima semakin memburuk. Ia bahkan sudah tidak bisa berjalan lagi dan hanya bisa terbaring di tempat tidur.


Setiap kali melihat Bima yang begitu rapuh, aku selalu menangis sedih namun aku sembunyikan air mataku di depannya. Aku tak mau kesedihanku akan membuat Ia makin sedih. Aku tahu Bima sekuat tenaga berjuang untuk hidup demi bisa melihat anak dalam kandunganku lahir. Aku tak mau mematahkan semangatnya dengan tangisan cengengku.


Sampai suatu ketika di siang hari aku merasakan rasa sakit yang teramat sangat dengan perutku. Aku lalu memanggil managerku dan kami pergi ke rumah sakit. Mamanya Bima sudah kukabari dan berniat akan menyusul bersama dengan Bima. Tak berapa lama, aku melahirkan bayi perempuan dengan normal. Bayi cantik itu sangat mirip dengan Ditya. Jelas saja, Ia memang anak kandung Ditya.


Sambil menahan rasa sedih yang teramat sangat, Bima pun mulai mengadzani anakku dengan suaranya yang bergetar dan air mata yang menetes di wajahnya. Aku pun ikut menangis melihat pemandangan indah di depan mataku. Betapa Bima sangat menyayangi anak yang bukan anak kandungnya sendiri. Tak ada rasa marah dan cemburu karena wanita yang dicintainya memiliki anak dari laki-laki lain. Hati Bima begitu tulus, Ia hanya ingin aku bahagia melebihi apapun didunia ini.


Aku melihat Bima begitu bahagia karena masih bisa menyaksikan kelahiran anakku dan bisa menggendong dengan kedua tangannya. Bima pun aku beri kesempatan untuk menamai anakku.


Bima pun menamai anakku dengan nama Lily. Bima bilang, anakku cantik dan putih seperti bunga lily. Aku suka dengan nama yang Ia berikan. Sangat cocok dan terkesan simple namun penuh makna.


Karena melahirkan dengan normal, aku tak begitu lama berada di rumah sakit. Sesampainya dirumah, aku dikejutkan dengan kamar bayi yang sudah Bima rancang sendiri. Kamar dengan banyak pernak-pernik berwarna pink.


"Maaf ya Ra, aku nggak bisa memberi banyak hadiah untuk kamu. Aku hanya ingin, kamu menyukai hadiah yang aku berikan ini." kata Bima dengan suaranya yang lemah.


Sekuat mungkin aku tidak menangis padahal hatiku menjerit ingin berteriak dan menangis meraung-raung. Bagaimana Bima sangat menyayangiku dan perhatian dengan anakku. Tak ada yang sebaik dan setulus Bima padaku.


Aku hanya bisa mengangguk sambil memaksakan senyum dibalik kesedihan ku. "Terima kasih banyak Papa Bima."


Bima menangis mendengar sebutan yang aku berikan padanya. Meskipun Ia bukan suamiku, namun Ia adalah Papa anakku Lily. Dia menyayangi anakku yang bukan anak kandungnya dan menunjukkan rasa sayangnya dengan hal-hal yang manis.


Keadaan Bima semakin lama semakin memburuk. Keadaannya sudah semakin melemah dan hanya bisa di tempat tidur. Aku hanya bisa membawa Lily di dekatnya sebagai hiburan.


Air mata Bima terus menangis melihat Lily dan aku. Sampai di suatu hari, Bima mulai drop. Mama Bima sudah memanggil dokter untuk memeriksa, namun dokter mengatakan kalau inilah saat-saat terakhir Bima. Dokter sudah angkat tangan.


Aku tidak menangis. Aku sudah berjanji tak akan menangis. Aku ingin Bima pergi dengan melihat wajahku yang tersenyum. Namun, berbeda dengan Lily. Seakan tahu kalau papa angkatnya akan pergi bayi mungil ini terus saja menangis.


"Hiduplah... dengan bahagia Ra. Kembalilah pada Ditya! Kamu mencintainya. Lupakan semua dendam di hati kamu. Sampaikan maafku pada Ditya karena sudah meminjam istrinya untuk sementara. Maafkan aku tak bisa lama menemani kamu." pesan Bima dengan suara yang terbata-bata.


"Iya. Aku akan kembali ke Indonesia. Terima kasih banyak Bim atas apa yang kamu lakukan selama ini untukku dan Lily. Terimakasih... kamu sangat baik, aku beruntung memiliki sahabat seperti kamu. Aku ikhlas Bim. Aku nggak mau kamu hidup dengan rasa sakit seumur hidup kamu. Pergilah dengan tenang dan jangan khawatirkan aku dan Lily lagi." kataku dengan suara bergetar menahan tangis.


Lama kemudian, Bima pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyum di wajahnya. Barulah aku menangis kencang dan memeluk Lily yang juga sama menangis sedih kehilangan Papa pangkatnya. Selamat jalan Bim. Terima kasih atas semua kebaikan kamu selama ini sama aku. Semua nasehat dan juga ilmu yang kamu berikan tak akan pernah aku lupakan. Aku sayang sama kamu Bima...


****