
Lara
Kedatanganku dengan Bima lagi-lagi disambut dengan hangat oleh Kak Nisa. Meskipun yang aku bawa bukan-lah barang barang baru, Kak Nisa tetap menerima niat baikku. Baginya, tak masalah apapun yang disumbangkan selama masih bisa bermanfaat bagi anak-anak di Panti.
Aku lalu mulai mengorek keterangan tentang penghuni Panti ini. Aku pun bertanya pada Kak Nisa. "Kak ada foto-foto tentang kegiatan anak-anak Panti di sini nggak sih?"
"Foto? Ada dong! Kebetulan, setiap ada event biasanya kita rajin mendokumentasikannya. Lara mau lihat?" tanya Kak Nisa dengan ramah. Kak Nisa tidak mencurigai maksud dan tujuanku melihat-lihat foto tersebut.
"Mau dong Kak! Aku pengen tahu bagaimana wajah Bunga dan kawan-kawan saat di foto. Aku juga mau tahu kegiatan mereka apa aja. Buat menambah hiburan di tengah kegalauan hati aku sehabis ditinggal Papa." alasanku.
"Ah iya! Kak Nisa sampai lupa! Kak Nisa turut berduka cita ya, Lara! Maaf, Kak Nisa nggak bisa datang. Kami harus mengurus anak-anak karena sejak kemarin ada saja anak-anak yang bermasalah di sekolah. Kak Nisa hanya bisa melihat di televisi berita mengenai Lara. Anak-anak di Panti ini juga mendoakan Papa Lara. Semoga doa anak-anak di sini dikabulin ya sama Allah dan semoga Papa Lara diampuni segala dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya selama di dunia ini. " ujar Kak Nisa.
"Aamiin! Terima kasih Kak doanya. Maaf, dari kemarin aku belum sempat ke sini. Ada banyak urusan yang harus aku lakukan. Terakhir kali ke sini aku belum sempat pamit sama Kak Nisa karena ada berita Papa sakit."
Kak Nisa lalu mengambil sebuah album foto yang agak tebal. "Tidak apa-apa. Ini, katanya kamu mau melihat foto anak-anak di sini?"
"Iya, Kak. Aku lihat-lihat dulu ya. Mungkin, Kak Nisa bisa mensortir barang-barang yang aku bawa. Bima sedang membantu mengangkut barang-barangnya dari dalam mobil." Kak Nisa harus pergi dari ruangannya agar aku bisa mencari tahu lebih banyak lagi.
"Iya. Kak Nisa mau pilih-pilih dulu sebelum dibagikan ke anak-anak. Lara di sini aja ya. Biar Kak Nisa dengan Bima nanti yang mengurus semuanya." aku mengangguk setuju. Kak Nisa pun meninggalkanku di ruangannya seorang diri.
Aku membuka album foto dan mencari wajah yang pernah ada di dalam mimpiku. Saat itu, aku tidak mengenali siapa cowok tersebut. Namun, semakin aku sering bermimpi semakin aku merasa yakin kalau cowok tersebut adalah Ditya. Kalau memang benar di foto ini ada wajah Ditya sewaktu masih sekolah, berarti benar dugaanku selama ini. Ditya adalah cowok yang selalu muncul dalam mimpiku selama ini.
Cepat-cepat aku mencari sebelum Kak Nisa datang. Lalu, aku melihat di sebuah foto nampak seorang anak laki-laki mirip sekali dengan yang ada di mimpiku. Dia berfoto di bagian paling belakang dan di sebelahnya ada seorang perempuan.
Ternyata benar, laki-laki itu adalah Ditya dan perempuan di sampingnya adalah Agani. Sudah aku duga, semua mimpi dan de javu yang aku alami adalah memang berdasarkan memori dari Agni. Berarti, kesimpulan kalau setengah diriku adalah Agni adalah benar. Hanya tinggal satu pembuktian, cincin yang terkubur di halaman belakang.
Baru saja aku hendak bangun dan menaruh album foto, tiba-tiba selembar foto terjatuh. Aku memungutnya dan aku merasa sangat terkejut dengan apa yang aku lihat. Seorang wanita dengan tahi lalat di sudut bibirnya. Foto yang sama dengan yang aku temukan di dalam gudang saat tadi saat sedang mencari foto Papa. Kenapa foto itu bisa ada di sini?
Kenapa Panti Asuhan ini begitu penuh dengan misteri? Terlalu banyak hubungan yang aku tidak tahu. Ditya yang ternyata sahabatnya Agni. Agni yang ternyata adalah penghuni Panti ini dan satu lagi, kenapa bisa ada foto Tante Sofie saat masih muda bisa ada di album foto ini?
Berbeda dengan foto yang aku temukan di gudang, di mana Tante Sofie sedang berfoto seorang diri. Sedangkan di foto yang baru saja terjatuh, Tante Sofie berdua dengan seorang anak kecil. Aku tidak mengenal anak kecil tersebut namun lagi-lagi perasaan tak asing kembali menelusup ke dalam dadaku.
Anak kecil dalam foto ini bukanlah Anggi. Aku hafal betul bagaimana wajah Anggi saat masih kecil. Wajahnya banyak terpajang di figura foto yang Tante Sofie cetak di kamarnya. Jelas sekali anak ini bukanlah Anggi. Lalu siapa? Apa hubungan dengan Tante Sofie?
Aku tak bisa berlama-lama di ruangan ini. Waktu yang sebentar harus aku manfaatkan untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang Panti Asuhan yang penuh misteri ini. Aku pun mengecek keadaan di luar, dan kulihat Kak Nisa masih sibuk memilih buku-buku bersama Bima.
Aku pun memeriksa lemari yang berisi data-data anak Panti. Aku mencari dari tahun yang paling tua. Kalau dihitung dari usia Ditya, itu sekitar 25 tahun lalu.
Aku menarik sebuah buku yang sudah berwarna kuning dan agak usang. Ternyata benar, ini adalah buku data anak-anak yang pernah tinggal di Panti Asuhan ini. Aku mencari satu demi satu dengan cepat. Aku pun melihat sebuah nama yang tertulis di sana. Raditya Anggara. Bukan Ditya Kusuma. Jadi, nama asli Ditya adalah Raditya Anggara. Aku baru tahu hari ini.
Di sini, tidak tertulis siapa nama orang tuanya. Artinya, Ditya ditinggalkan tanpa mengetahui sama sekali siapa orangtua kandungnya. Pantas saja Ditya selalu mengatakan kalau nasibku sangat beruntung bisa memiliki dan merasakan kasih sayang Papa dan Mama. Aku menatap foto masa kecil Ditya. Sangat lucu dan terlihat menggemaskan.
Aku harus fokus! Aku kini harus mencari data tentang Agni. Aku membongkar buku-buku sambil mataku terus melirik ke belakang. Kalau Kak Nisa tahu aku mencari tahu tentang Ditya dan Agni, pasti aku akan diusir. Aku akan dianggap sebagai tamu yang tidak sopan saat berkunjung ke rumah orang lain.
Untunglah tidak ada CCTV di dalam ruangan ini. Aku terus mencari data tentang Agni. Sampai akhirnya aku menemukan data yang aku cari. Sayangnya, baru saja aku hendak membuka dan mempelajari data tersebut aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke ruangan Kak Nisa. Cepat-cepat aku menutup buku tersebut dan kembali duduk sambil melihat-lihat album foto.
"Gimana? Lucu-lucu kan anak-anaknya? " tanya Kak Nisa yang masuk ke dalam ruanganku bersama Bima.
"Iya Kak. Apalagi foto saat sedang lomba 17-an. Lucu-lucu banget." aku memutuskan tidak mencari tahu lagi. Aku tak mau sampai ketahuan Kak Nisa, Ia pasti akan sangat marah padaku.
****