Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Semua Sayang Lara


Lara


Tante Sofie kini menggenggam tanganku dengan erat. "Enggak... Enggak....."


"Amel pergi, Ma. Jadilah manusia baik. Jangan terus mengejar dunia. Maafkan kesalahan Amel selama ini. Maaf karena Amel belum bisa menjadi anak yang membanggakan Mama...."


Apakah Agni akan pergi?


"Jangan! Kamu jangan pergi! Mama mohon jangan pergi Amel... Mama mohon!" Tante Sofie menangis dan terus menggenggam tanganku erat. Ia menggelengkan tangannya. "Maafin Mama... Maafin Mama... Mama mohon, maafin Mama..."


Agni tersenyum sedih, "Andai saat Amel hidup Mama memperlakukan Amel seperti ini sekali... saja. Andai Mama datang melihat Amel di Panti sekali... saja. Namun Mama tak pernah datang. Mama terlalu jijik melihat Amel. Mama begitu membenci Amel."


"Maafin Mama, Nak... Maafin Mama... Mama salah... Mama salah, Nak. Jangan pergi! Jangan pergi Mama mohon!" Tante Sofie menggenggam tanganku dan menciuminya berkali-kali. Seakan aku ini adalah Amel, gadis kecil yang Ia tinggalkan di Panti sewaktu kecil.


Agni melepaskan tangan Mamanya. "Aku sudah mati, Ma. Aku hanya diberi kesempatan untuk berada dalam diri Lara sebentar saja. Kini kesempatan itu sudah habis waktunya. Aku sudah terbujur tak bernyawa di makamku. Datang dan doakan aku kalau Mama sempat ya!"


"Tidak, Amel... Jangan tinggalin Mama... Mama mohon... Mama akan menebus kesalahan Mama... Mama akan memohon ampunan kamu, Mel. Jangan pergi... " pinta Tante Sofie.


Amel kini berdiri dan menghampiri Ditya. Ia menatap sahabat terbaiknya dengan senyum di wajahnya. "Maafin aku, Dit. Aku sudah membuat rumah tangga kamu dalam masalah. Terima kasih sudah menyayangiku sebagai sahabat selama ini. Aku berdoa rumah tangga kamu dan Lara selalu berbahagia."


Ditya berjalan mendekat dan memeluk Agni. "Aku juga akan mendoakan kamu, Ni. Bahagialah di sana. Terima kasih kamu sudah menyelamatkan nyawa wanita yang aku cintai. Aku sayang kamu, Ni!"


Ditya melepaskan pelukannya pada Agni dan aku melihatnya menangis sedih. Agni kini menatap Anggi yang terus menerus berusaha menenangkan Tante Sofie yang menangis histeris.


"Sudah, Ma. Jangan menangis lagi!" bujuk Anggi. Anak itu lalu menyadari kalau aku menatapnya.


"Kamu beruntung! Kamu bisa memeluk Mama dengan bebas dan Mama sangat menyayangi kamu. Kamu beruntung bisa dibela Mama. Kamu bisa merasakan kasih sayang yang tak pernah sekalipun kurasakan. Aku iri sama kamu. Setiap perbuatan salahmu selalu Mama bela, setiap perbuatan baikku tak pernah Mama banggakan. Kini, kamu memiliki apa yang tak pernah aku miliki dalam hidup. Menjaga dan berada di sisi Mama. Aku titip Mama, bawalah Mama dalam kebaikan. Jangan biarkan keserakahan menguasai kalian. Jangan biarkan Mama terjerumus dalam kesalahan yang lebih besar lagi. Kamu bisa kan menjaga Mama?" tanya Agni pada Anggi.


Anggi menganggukkan kepalanya. "Aku akan menjaga Mama."


Agni lalu tersenyum. "Aku titip Mama. Bahagiakan dia. Buat Ia bangga dengan keberhasilan kamu."


Anggi kembali menganggukkan kepalanya. Ia bahkan meneteskan air mata.


Agni lalu terdiam, menatap Mamanya yang terus menangis sambil meminta dirinya jangan pergi.


"Ra!"


Aku terkejut. Agni memanggilku. Aku harus menjawabnya. "Iya." aku mendengar suaraku keluar dari mulutku.


Pasti setiap yang melihat kami akan seperti melihat aku sedang bicara dengan diriku sendiri.


"Terima kasih kamu telah meminjamkan tubuhmu selama ini padaku." kata Agni dengan sungguh-sungguh.


"Aku... justru yang ingin berterima kasih sama kamu. Kamu telah menyelamatkan nyawaku dan membuatku berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terima kasih, Agni. Maafkan aku karena perbuatan bodohku malah mempersingkat umurmu di dunia ini."


Agni tersenyum. "Aku memang akan pergi meski tak menolong kamu. Justru dengan menolongmu aku bisa lebih lama lagi berada di dunia ini. Tapi sekarang aku harus pergi. Aku titip adik-adikku di Panti ya, Ra. Teruslah menyayangi mereka seperti kamu menyayangi keluargamu." suara Agni bergetar karena air mata yang terus mengalir.


Aku menganggukkan kepalaku. "Pergilah dengan tenang. Kamu orang baik, akan ada tempat yang sangat indah untuk kamu yang sudah Tuhan siapkan."


"JANGAN AMEL! JANGAN PERGI! JANGAN TINGGALIN MAMA! AMPUNI KESALAHAN MAMA! AMEL! JANGAN PERGI!"


Suara teriakan Tante Sofie adalah hal yang terakhir yang aku dengar sebelum segala sesuatu dalam diriku menjadi gelap.


****


POV Author


Seminggu Kemudian...


"Pa, kapan Mama akan bangun?" tanya gadis kecil yang menatap Lara dengan suara sedih.


Lara Handaka sudah seminggu tak sadarkan diri. Ia terbaring lemah tak berdaya, layaknya orang yang sedang koma.


Dokter bilang, tak ada yang salah dengan dirinya. Semua hasil tes kesehatannya bagus. Lara hanya tertidur dan belum terbangun.


Ditya yang memangku anak gadis itu hanya bisa menangis sambil berkata lirih. "Papa yakin Mama kamu akan bangun, Sayang. Mama sayang sama Lily. Mama pasti akan bangun dan bisa memeluk Lily lagi."


Ditya berkata untuk dirinya sendiri. Ia ingin Lara bangun. Ia ingin Lara kembali lagi ke sisinya. Ia ingin membahagiakan Lara lagi di sepanjang umurnya.


"Papa kok nangis? Kata Papa kita enggak boleh nangis di depan Mama?" tanya Lily yang kini menghapus air mata di wajah Ditya dengan tangannya yang mungil.


Ditya memaksakan senyum di wajahnya meski hatinya sangat sedih. "Papa enggak nangis lagi. Maaf ya Papa tadi kelilipan. Lily lihat deh Papa tersenyum kan?"


Lily menganggukkan kepalanya. "Iya. Ayo Pa, kita doakan Mama!"


"Ayo!" Ditya lalu menengadahkan tangannya dan Lily yang memimpin doa.


"Ya Allah, tolong buat Mama Lily bangun. Lily mau Mama mengajak Lily jalan-jalan. Lily mau Mama tersenyum. Lily mau makan masakan Mama lagi. Lily kangen sama Mama. Lily mau Mama bisa berlari bersama Lily. Lily mau Mama bangun lagi. Kabulkan doa Lily ya Allah. Lily mohon!" gadis kecil itu berdoa dengan khusyuk. Memohon kesembuhan untuk Mamanya tersayang.


Ditya hanya bisa menahan air matanya. Berusaha terlihat tegar di depan anaknya. Menyembunyikan kesedihan dengan memasang senyum.


Baru saja mereka bersama setelah berpisah lima tahun lamanya, kini Lara malah kembali jatuh koma. Lara seperti kembali seperti lima tahun lalu. Entah sampai kapan Lara akan terbangun.


"Mama... Lily kangen Mama. Mama bangun ya! Lily mohon... Kasihan Papa selalu menangisi Mama. Mama mau kan terbangun dari tidur Mama?" pinta Lily dengan suara sedihnya.


Ditya menghapus air mata dari wajahnya. Air mata yang tak kuasa Ia bendung lagi. "Bangunlah Sayang! Aku kangen kamu!" kata Ditya dengan suara lirih.


Lara masih tertidur lelap. Ia bahkan tak tahu kalau dua orang yang sangat menyayanginya sangat merindukannya. Lara masih tertidur dengan cantik.


Berita tentang Lara Handaka yang koma di rumah sakit mulai menyebar. Mereka bahkan mulai mencurigai selebgram terkenal di Belanda adalah Lara karena kini tak pernah ada postingannya sama sekali.


Sampai akhirnya Manager Lara angkat bicara. Ia mengakui kalau selebgram terkenal yang selalu memakai topeng dan baju besar adalah benar Lara Handaka.


Semua fans berat Lara mengadakan acara berdoa bersama demi kesembuhan Lara. Tanpa Lara sadari, dirinya begitu dicintai banyak orang. Tak sia-sia Ia selama ini mengedukasikan tentang kebaikan pada semua orang. Semua menyayanginya dan mau Lara bangun kembali.


****