
Lara
Sehabis makan mie ayam, kami langsung kembali ke kantor. Lalu lintas kota Jakarta yang sarat dengan kemacetan membuat kami tak bisa mampir ke berbagai tempat.
"Weekend ini kita jalan yuk?!" ajak Ditya. "Hari ini cuma makan mie ayam dan kita sudah harus kembali ke kantor. Rasanya sebentar sekali. Aku masih ingin berkenalan dengan kamu lebih dekat lagi."
Ditya mau kenal aku lebih dekat? Mimpi apa aku semalam?
"Hmm... Aku atur jadwal dulu ya dengan Bima. Memangnya kamu mau pergi kemana?" tanyaku.
"Maunya sih hari sabtu. Enggak jauh kok, cuma acara amal aja. Kamu mau ikut?"
"Acara amal? Wah boleh juga tuh. Aku bisa bantu apa? Apa yang bisa disumbangkan?" tanyaku dengan penuh semangat.
Ditya tersenyum melihatku yang begitu bersemangat dengan ide yang Ia usulkan. "Jadi nanti akan ada bazar disana. Biasanya ada barang-barang buatan adik-adik yang tinggal di Panti. Kalau kamu suka, kamu bisa membelinya. Ya, anggap saja membeli sekaligus beramal. Mau?"
"Mau... Mau..." aku menganggukkan kepalaku berkali-kali saking bersemangatnya.
"Yaudah coba tanya Bima dulu, bagaimana jadwal kamu. Biar enggak bentrok!"
"Oke. Aku tanya dulu. Tunggu sebentar ya!" aku pun menghubungi Bima menanyakan jadwalku minggu ini.
"Sabtu ya? Ada endorse produk minuman susu kemasan sih." jawab Bima dari ujung telepon sana.
"Bisa buat anak-anak juga enggak?"
"Bisa. Untuk semua usia. Kenapa?" tanya balik Bima.
"Kalau kita syutingnya di Panti Asuhan gimana, Bim? Kebetulan aku ada acara mau ke Panti Asuhan. Di sana ada bazar. Coba kamu tanya sama yang endorse, mau enggak konsepnya di Panti Asuhan? Endorse sekalian beramal, Bim. Nanti bayaran endorse jatahku buat aku sumbangin aja ke Panti Asuhan." aku menatap ke arah Ditya yang terus menatapku lekat. Aku tersenyum dan Ditya membalas senyumku.
"Aku coba ajukan dulu deh, Ra. Aku hubungin dulu ya. Ide kamu bagus sih. Kok tumben kamu mau ke Panti Asuhan?" tanya Bima dari ujung telepon sana.
"Sebenarnya ini terinspirasi dari ajakannya Pak Ditya." aku melirik ke arah Ditya yang sedang fokus pengemudi sambil mendengarkan percakapanku dengan Bima.
"Pak Ditya? Kok bisa?"
"Nanti aku ceritain! Pak Ditya ngajak aku ke Panti untuk acara bazar anak-anak Panti. Aku takut jadwalnya bentrok dengan jadwal syuting kita, makanya aku tanya dulu ke kamu. Kalau kayak gini kan, kita bisa syuting juga di Panti dan aku bisa kesana juga. Jadi enggak ada yang dirugikan kan?"
"Kamu deket sama Pak Ditya sekarang?" ternyata Bima masih penasaran mengenai kedekatanku dengan Ditya.
"Nanti saja ya aku ceritakan. Kamu ada di rumah enggak nanti malam? Kita kan harus mengisi suara di video yang kita buat kemarin. Nanti aku ke kamar kamu deh setelah pulang kerja."
"Ada. Yaudah nanti ceritain semuanya loh sama aku!"
"Iya bawel!" aku pun mengakhiri percakapanku dengan Bima lalu kembali melihat ke arah Ditya yang kini terlihat mengernyitkan keningnya mendengar aku akan ke kamar Bima.
"Kamu sering main ke kamarnya Bima?" tanya Ditya.
"Ya... Sering banget. Kamar Bima itu udah kayak ruang kerja kita berdua sih. Aku sering ke sana. Orang tuanya Bima juga udah biasa melihat kedekatan kami berdua." jawabku dengan jujur.
"Memangnya kamu dan Bima enggak punya ruang tersendiri gitu untuk bekerja? Aku rasa penghasilan kamu sekarang sudah cukup untuk menyewa sebuah ruko agar kalian bisa bekerja di sebuah ruko yang pasti lebih nyaman dari kamarnya Bima bukan?"
"Iya sih. Tapi, aku dan Bima udah sepakat untuk menyelesaikan pekerjaan kami di kamar Bima saja. Kamarnya sudah lengkap dengan peralatan editing dan juga aku gampang mengaksesnya. Kamar Bima itu letaknya di lantai atas rumah orangtuanya yang bisa aku akses lewat tangga depan. Makanya kami nggak pernah menyewa ruang kerja. Toh yang mengerjakan projek ini cuma aku dan Bima saja. Tak perlu menyewa ruko yang cuma menghamburkan biaya besar."
Ditya terlihat hendak menyanggah lagi perkataanku, namun ternyata Ia mengurungkan niatnya tersebut. "Nanti setelah kita menikah kamu pasti akan semakin fokus menjadi seorang selebgram bukan?" Ditya rupanya mengalihkan pertanyaan ke masa depan kami berdua setelah menikah nanti.
"Tentu boleh dong. Selama kamu bisa membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus rumah tangga aku sih nggak masalah. Kalau memang kamu mau tinggal di rumah Papa kamu, aku juga setuju-setuju saja. Ya, paling aku harus sering bolak-balik ke rumah Papa Kusuma. Kamu tahu kan, aku anak satu-satunya mereka. Aku nggak mau membuat kedua orangtuaku kesepian semenjak kita menikah."
Benar-benar anak yang berbakti pada kedua orang tua. Jaman sekarang semakin banyak anak yang menelantarkan orangtuanya. Namun Ditya ternyata masih memikirkan kedua orangtuanya.
Aku tersenyum. "Tentu. Sebenarnya dimana pun suami aku tinggal, di situ adalah rumahku. Jadi, kalau pun kamu mengajak menginap di rumah orang tua kamu, aku sih nurut aja!" aku malu-malu saat mengatakannya.
Kami berdua laksana dua orang yang sedang dalam masa menjelang pernikahan. Membicarakan hal-hal yang kami sendiri tak tahu kapan pernikahan itu akan dilaksanakan.
Ditya membalas senyumku. "Aku senang akan memiliki istri yang penurut dengan perkataan suami seperti kamu. Tunggu aku melamar kamu ya!"
Wow....
Kata-kata itu terus terngiang di telingaku selama seharian ini.
Saat kembali bekerja di kantor, aku terus memutar kata-kata Ditya di kepalaku berulang-ulang. "Tunggu aku melamar kamu ya!"
Wuaaauuww...
Aku bahagia sekali.
Sampai...
"Ra, aku bisa minta tolong untuk menyetujui anggaran ini?" tanya Arya membuyarkan lamunan indahku.
"Kenapa harus aku?" tanyaku balik.
"Aku udah berusaha mengajukan anggaran namun selalu ditolak. Makanya aku mau minta tolong sama kamu. Kalau kamu setuju, pasti semua akan setuju." bujuk Arya.
Kenapa sih Arya begitu percaya diri kalau aku akan membantunya?
Hello??? Aku ini bukan Lara yang dulu! Aku bukan si bodoh Lara yang bisa kamu peralat demi kepentingan kamu semata!
"Kalau aku enggak mau gimana?"
"Jangan gitu dong, Ra. Please... Kamu bantuin aku ya... Kamu bisa baca dulu anggaran yang aku buat. Semuanya penting dan sesuai budget, Ra." bujuk Arya.
"Oh ya? Kenapa kamu enggak minta budget sama bagian keuangan saja? Kenapa harus sama aku? Aku enggak mau!" tolakku tanpa melihat berkas yang Arya berikan.
"Please Ra. Cuma kamu yang bisa menolong aku. Kita dikejar waktu dan pesanan ini butuh acc untuk dikerjakan. Aku sudah minta sama bagian keuangan namun mereka bilang budget perusahaan sedang ditekan seminimal mungkin." Arya lalu membuka berkasnya dan menunjukkan padaku besar biaya yang Ia ajukan. "Kamu lihat, nanti biaya ini akan balik modal kok kalau produk yang kita buat laku di pasaran."
Meskipun aku baru bekerja di perusahaan Papa, namun aku tidak bodoh. Kalau bagian keuangan menolak anggaran Arya, berarti anggaran yang Ia ajukan tidak masuk akal alias ngaco!
"Heh Ya, nenek-nenek bisa salto juga tau. Kalau yang namanya produk laku di pasaran akan banyak keuntungan dan lama kelamaan bisa balik modal kalau konsisten. Produk kamu tuh masih baru, pangsa pasarnya belum luas. Budget gede kayak begini siapa yang mau bertangggung jawab memberikan tanda tangan?"
"Karena itu aku minta tolong sama kamu, Ra. Please..."
"Maaf Ya, aku enggak bisa terjebak sama ide licik kamu lagi! Bye!"
Kutinggalkan Arya dengan penuh kepuasan di dalam hatiku.
****-