Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Cerita Dirya-1


Lara


Jujur saja, apa yang Ditya katakan membuatku merasa selama ini aku telah salah paham. Banyak yang tidak aku ketahui dan malah mengambil keputusan sendiri.


Meski uang bulanan darinya tidak pernah aku ambil dan hanya mengandalkan uang dari perusahaan dan penghasilan dari konten, tapi aku selalu mengecek dan tahu kalau Ditya tak pernah absen mengirimiku uang bulanan. Aku pikir ini adalah cara Ditya tetap bertanggung jawab sebagai seorang suami.


Bima yang selalu mengingatkanku kalau Ditya tetap bertanggung jawab dan menyuruhku menghargai usahanya. Namun rasa sakit hati dan ego yang membuatku tak mau mendengar masukan dari siapapun, termasuk dari Bima sekalipun.


Kini, hatiku seakan terketuk. Kulirik pria yang menyetir di sampingku. Ia sesekali tersenyum dan menatapku penuh cinta. Ia kini bersenandung kecil mengikuti alunan lagu yang mengalun dari radio.


Aku tahu hatinya sangat bahagia telah menjelaskan dan meminta maaf padaku. Apa Ia akan lebih bahagia lagi kalau aku beritahu kalau Ia punya gadis kecil cantik bernama Lily?


"Kita udah sampai! Kamu mau makan berapa porsi?" tanya Ditya dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia memarkirkan mobilnya di antara motor yang parkir di sana.


"Menurut kamu? Seporsi saja udah kenyang banget sama aku!" jawabku.


Ditya kembali tersenyum. "Karena aku bahagia, aku mau pesan 1.5 porsi. Lapar banget aku. Selama hampir 5 tahun ini, aku malas makan. Kini, napsu makanku sudah kembali. Aku mau makan yang banyak."


"Enggak takut gendut?"


Ditya menggeleng. "Enggak selama ada kamu!"


Aku mencibirkan bibirku, sejak kapan Ditya jadi suka gombal dan menggodaku?


Ditya membukakan pintu untukku dan mengulurkan tangannya untuk digandeng. Agak lebay sih, tapi daripada lama lebih baik kuikuti saja apa maunya.


"Wah ada Mas Ditya! Mau pesan kayak biasa Mas? Setengah porsi saja?!" tanya pedagang mie yang menyambut kedatangan Ditya.


"No! Kali ini aku mau pesan satu setengah porsi buat aku dan satu porsi buat istriku!" kata Ditya penuh kebanggaan.


Penjual mie ayam itu lalu memperhatikanku. "Ya Allah! Ini kan Mbak Lara Handaka si Selebgram Hot yang terkenal itu!" kata penjual mie ayam dengan penuh semangat.


"Ya jelas kenal, Mbak! Bapak saya dulu bangga banget pernah Mbak Lara datengin. Dia sering cerita sama pengunjung di sini kalau Mbak pernah makan mie ayam buatannya dan sedih saat tau Mbak Lara enggak ada kabarnya lagi! Loh malah saya jadi ngobrol ya!" penjual mie itu menepuk keningnya. "Mas Ditya bener ya pesan satu setengah porsi?!"


"Bener, Mas! Saya di luar ya makannya!" Ditya menunjuk tempat makan di luar yang kosong.


"Siap, Mas!"


Aku pun mengikuti Ditya. Ia menepuk kursi bakso dan menyuruhku duduk. Ia lalu mengambilkan dua buah minuman dingin dari dalam lemari es dan memberikannya padaku.


"Sambil menunggu, aku akan menceritakan semuanya sama kamu. Siapa aku dan apa hubunganku dengan Agni." Ditya menaruh sedotan dalam minumanku dan meminum minumannya sendiri.


"Seperti yang kamu ketahui, aku sejak bayi sudah ditinggal di Panti Asuhan oleh orang tuaku sendiri. Aku sama sekali tidak mengenal siapa mereka dan tak ada petunjuk yang mereka berikan sama sekali. Aku anggap saja, mereka sudah membuangku. Aku tumbuh besar di Panti Asuhan yang sudah seperti rumahku sendiri. Aku menjadi anak yang paling dewasa di Panti. Lalu, ada seorang anak perempuan yang ditinggalkan oleh Mamanya di Panti Asuhan. Anak perempuan tersebut adalah Agni. Ia terus menangis, menangisi Mamanya yang pergi dan tak pernah kembali lagi. Aku kasihan dengan apa yang dia alami,"


"Agni awalnya sangat terpukul dan menjadi anak yang tertutup. Aku dan Kak Nisa berusaha membujuknya hingga akhirnya Ia mau bermain denganku dan Kak Nisa. Lama kelamaan, kami menjadi sahabat dan menjadi anak yang tertua di Panti sampai orang tua Kak Nisa sudah mulai tak sanggup membiayai kami karena sudah tua dan sulit untuk mencari donatur di mana-mana. Kak Nisa yang menggantikannya. Aku sadar diri, sebagai anak yang tertua di Panti harus membantu Kak Nisa. Aku inisiatif kerja sampingan. Awalnya Kak Nisa nggak tau apa yang kukerjakan. Setiap pulang sekolah aku mencuci piring di salah satu restoran Padang. Lama-kelamaan, melihat pekerjaanku yang bagus, aku naik jabatan. Aku ditugaskan untuk melayani pembeli. Uang yang aku dapat juga lebih besar. Aku lalu menceritakan ke Kak Nisa, awalnya Ia nggak setuju tapi melihat niatku yang ingin membantu dirinya Ia akhirnya mau menerima uang yang aku berikan dari hasil aku bekerja di restoran Padang tersebut,"


"Tak mau kalah saing, Agni juga melakukan hal yang sama. Kemampuannya adalah membuat beraneka macam aksesoris seperti kalung, gelang, jepitan dan ikat pinggang. Agni bernasih sama sepertiku, tak ada yang mau mengadopsi kami berdua. Alasannya adalah kami sudah terlalu besar. Banyak yang lebih memilih mengadopsi anak bayi dibanding kami, karena itu kami paling lama tinggal di Panti. Kami tumbuh dewasa bersama. Ketika aku SMA, Agni berubah menjadi anak gadis yang banyak menarik perhatian laki-laki. Termasuk para pria hidung belang. Mereka menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan Agni. Ada yang melamar langsung, ada yang mengajaknya pacaran, ada yang mengiming-imingi dengan harta dan yang paling parah adalah kakek-kakek mesum yang berniat mengadopsi Agni untuk selanjutnya Ia nikahi."


Cerita Ditya terputus ketika mie ayam yang kami pesan sudah datang. Sambil sesekali makan mie ayam, Ia melanjutkan lagi ceritanya.


"Kakek-kakek itu ternyata sangat licik, Ia tahu kalau Agni menginginkan punya cincin emas. Semua karena teman-teman di sekolahnya yang memamerkan cincin emas pemberian orang tua mereka. Agni merasa iri. Suatu hari, Ia diberi cincin oleh kakek mesum itu tapi Agni hanya melihat dan akhirnya mengembalikan cincin tersebut. Agni tak mau menerimanya. Agni lalu dibujuk untuk diadopsi dengan kakek mesum dan dijanjikan akan diberi cincin yang banyak jika mau tinggal bersama kakek tersebut. Agni menolak tentu saja. Ia tahu niat kakek tersebut bukan hanya ingin mengadopsinya sebagai anak tapi ingin menikahinya."


"Merasa tak tega melihat Agni sedih, aku mengumpulkan uang untuk membelikannya cincin. Agni sangat senang, namun kakek itu punya niat jahat. Kakek itu menuduh kalau cincin yang ada di jari manis Agni adalah cincin miliknya yang dicuri. Agni tak sengaja mendengar percakapan kakek tersebut dengan Kak Nisa. Ia berlari dan menghampiriku. Kami bersepakat untuk menyembunyikan cincin tersebut agar tidak ada barang bukti yang akan menjadi celah bagi kakek tersebut untuk mengadopsi Agni,"


"Seperti yang kamu tahu, kami menyembunyikannya di bawah pohon. Hanya kami berdua yang tahu karena saat itu Kak Nisa sedang berada di dalam ruangan bersama kakek tersebut. Kak Nisa lalu melakukan sidak. Semua barang-barang diperiksa untuk mencari cincin kakek tersebut. Tentu saja, tak ada yang menemukannya dan Agni tak jadi difitnah,"


"Jalan hidupku dan Agni pun berubah. Siapa yang sangka, aku akan diadopsi oleh keluargaku Kusuma. Aku mulai fokus belajar dan memimpin perusahaan. Tujuannya adalah gaji yang aku terima bisa membantu Kak Nisa untuk membiayai adik-adikku. Agni pun tak mau kalah. Ia berubah menjadi seorang selebgram yang terkenal dan pendapatannya juga lumayan. Ia bahkan menjadi donatur tetap di Panti Asuhan kami. Kak Nisa sangat bangga dengan apa yang dilakukan kami berdua. Ia bisa tenang mengasuh anak-anak tanpa memikirkan biaya lagi. Sayangnya Agni menyembunyikan sesuatu dari kita selama ini. Aku sibuk bekerja dan tidak memperhatikan kalau Agni sedang sakit, sampai aku mendengar berita kalau sahabatku itu bunuh diri,"


"Aku tak bisa terima, aku tahu siapa Agni. Hidupnya keras tapi dia tak akan mudah menyerah seperti itu. Hasil penyelidikanku semua berujung sama kamu. Aku marah, aku kesal dengan kenyataan kalau kamu adalah anak orang kaya yang kalau melakukan sesuatu kesalahan bisa ditutupi dengan mudah oleh Papanya. Aku pun ternyata tak percaya kalau kamu bisa berada di dekatku. Awalnya, aku memanfaatkan kamu yang ingin menjadi selebgram untuk mendekati kamu dan membalas kamu, ternyata setelah kenal kamu keinginanku untuk membalasmu berubah. Sifat kamu dan makanan kesukaan kamu membuat aku teringat pada Agni. Aku mulai nyaman berteman dengan kamu sampai akhirnya aku menyadari kamu berbeda dengan kamu."


***