Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Mimpi Tuan Putri


Lara


Restoran all you can eat yang kudatangi bersama Bima menyambut kedatangan kami dengan hangat. Bima sengaja mengambil tema makanan hari ini. Bukan mau mukbang tapi mengenalkan makan yang membuat orang lain lapar saat menontonku.


Aku pun mulai syuting dengan memperkenalkan restoran terlebih dahulu. Lalu Bima mulai merekam seluruh ruangan seperti layaknya acara makan-makan. Merekamku saat mengambil makanan lalu saat menyantap makanan dengan nikmat.


Proses syuting berlangsung lancar. Kami pun lanjut mengobrol sambil menikmati makanan. Bima sih yang menikmati, aku sudah kenyang makan saat syuting tadi. Aku hanya menemani Bima makan.


"Enaknya terima job kayak gini tuh bisa makan enak, Ra. Tapi aku enggak mau image kamu berubah, dari selebgram hot jadi selebgram kuliner." kata Bima yang kubalas dengan sedikit senyum.


Bima menyadari kalau aku tidak berselera untuk mengobrol. "Kenapa lagi? Masih kepikiran kasus itu?"


"Aku mau ke Panti, Bim. Kayaknya kalau aku kesana, aku akan mendapatkan banyak hal. Waktu itu aja, aku tiba-tiba dapet kayak bayangan saat aku makan di warung mie ayam di depan Panti. Tapi kenapa sama Ditya ya? Apa jangan-jangan, Ditya kenal sama Agni? " tanyaku.


"Dari mimpi kamu lagi? Sudahlah jangan dipikirkan! Lanjutkan saja hidup kamu. Kamu punya keluarga, kamu sekarang juga udah punya suami. Udah, kamu nggak usah bahas tentang masa lalu. Cukup kamu curhat sama aku aja agar beban kamu berkurang. Enggak usah kamu kulik lagi. Biarkan semua terkubur bersama waktu. " saran Bima.


"Aku sih maunya kayak gitu, Bim. Rasanya, aku tuh masih mengganjal Bim. Masih kayak, aku harus nyari tahu gitu. Kenapa aku ngerasa diri aku tuh bukan diri aku sendiri. Kalau memang alasannya karena separuh jiwaku adalah Agni, kok bisa? Kami kan udah beda alam."


"Enggak ada yang enggak mungkin sih, Ra. Kalau kamu mau main ke Panti, kabarin aja nanti aku temenin! "


****


Sepulang syuting, aku meminta Bima mengantarkanku ke kantor Ditya. Bima pun bersedia mengantarkanku. Hari masih terlalu siang, aku tak mau sendirian di apartemen. Tadinya kami mau lanjut untuk syuting produk endorse, sayangnya kami masih menunggu sampel yang akan dikirimkan oleh klien kami.


Aku turun di lobby dan mengucapkan selamat tinggal pada Bima. Kedatanganku kali ini ke kantor Ditya, mendapat banyak perhatian dari para karyawannya. Mereka menunduk hormat padaku. Jelas aja aku kan istrinya Ditya. Bos di perusahaan ini.


Aku langsung menuju lantai atas tempat ruangan Ditya. Saat melihatku, resepsionis tak berkata apa-apa. Ibaratnya, wajahku adalah identitas diriku. Tak perlu ditanyakan siapa, semua sudah mengenalnya, seorang Lara Handaka istri dari Ditya Kusuma.


Aku meminta sekretarisnya Ditya tak perlu mengabari bos-nya terlebih dahulu. Aku ingin memberinya surprise. Aku pun mengetuk pintu ruangan Ditya dan saat dipersilahkan masuk Ditya begitu terkejut melihat kedatanganku.


"Sayang? Kamu datang? Sama siapa? Kok kamu nggak ngabarin aku dulu sih? Pasti kamu mau ngasih surprise ya buat aku?! " tanya Ditya yang langsung mengalihkan pandangan dari pekerjaannya yang menumpuk.


Aku menghampiri suamiku dan mencium pipinya. "Aku baru pulang syuting. Kerjaannya udah selesai, namun kalau pulang ke apartemen aku bosen. Yaudah aku mampir aja ke kantor kamu. Sekalian aku mengunjungi suamiku dan melakukan sidak. Siapa tahu, suamiku bukannya bekerja tapi malah main game!" godaku.


Ditya menepuk pahanya dan menarikku duduk di pangkuannya. "Enggak dong. Aku mana sempat main games? Pekerjaanku menumpuk, pusing dan mumet. Untung saja bidadari hatiku datang, aku jadi enggak mumet lagi deh."


"Jangan begini ah! Kalau karyawan kamu ada yang melihat gimana?" protesku.


Ditya tak menjawab tapi malah mengambil telepon dan menghubungi sekretarisnya. Meminta jangan ada yang mengganggu. "Aman!" katanya setelah menutup telepon.


"Kamu habis syuting apa? Kamu mau jalan-jalan? Nanti aku temenin. Kamu mau ke mana? "


"Ke hatimu." godaku.


"Hmm... Bisa godain aku sekarang ya? Mau lanjutin yang tadi pagi?"


"Serius? Di sini?"


Ditya mengangguk sambil tersenyum. "Mau?"


Aku menggelengkan kepalaku. "Di rumah aja ya! Aku malu. Kamu masih banyak kerjaan enggak? Kalau masih banyak, aku pulang duluan. Kalau sedikit, aku tunggu."


"Enggak banyak sih. Paling dua jam lagi selesai. Mau nunggu?"


"Dua jam enggak banyak? Yaudah aku tunggu. Boleh aku numpang bobo? Aku ngantuk nih, efek tadi malam dan pagi ini."


Ditya mengusap pipiku dengan lembut lalu menciumku. "Maaf ya. Aku terlalu bergairah kalau dekat kamu. Jadi memforsir kamu malam dan pagi deh. Kamu bisa tidur di kursi pijat nanti aku ubah posisinya biar kamu nyaman. Mau?"


"Yaudah turun dulu dong! Kalau pangku-pangkuan kayak begini terus nanti malah aku pengen lanjutin yang tadi pagi." goda Ditya.


"Oke! Aku turun!" aku cepat-cepat turun. Bukan tak mau melayani suamiku, namun aku beneran sangat ngantuk dan butuh tidur.


Ditya tersenyum. Ia lalu berjalan ke kursi pijat yang diletakkan menghadap ke jendela. Mungkin sengaja untuk menghilangkan penat sekalian memijat badannya yang pegal karena bekerja. Boleh juga idenya. Nanti aku saranin ke Papa ah!


"Silahkan Tuan Putri!" kata Ditya yang membantu aku duduk. Ia pun menyalakan kursi pijat dan memberiku bantal untuk kupeluk.


"Ah nyamannya."


"Selamat tidur Tuan Putri. Have a nice dream." Ditya mengecup keningku dan kembali bekerja.


Aku pun merasa nyaman dipijat dan perlahan mulai masuk ke alam mimpi.


Indah sekali mimpiku kali ini. Berada di sebuah taman yang luas dan bisa berlari-larian. Kayaknya aku tahu deh ini dimana.


Aku melihat keadaan sekitar. Rumputnya rapi dan taman luas. Keadaan sekitar sepi, namun tak masalah. Aku mau menikmati ketenangan ini.


Aku pun duduk dan memutuskan tiduran di atas hamparan rumput yang luas. Langit begitu cerah namun tidak terasa panas.


Bagaimana di sini bisa begitu menenangkan? Aku suka berada di sini.


"Agni!"


Deg...


Kenapa ada yang memanggil Agni?


Aku pun duduk dan mencari siapa yang memanggilku. Aku berbalik badan dan seorang cowok sedang berlari ke arahku.


"Agni! Aku carin kamu kemana-mana tapi enggak ada!"


Aku menengok ke kiri dan ke kanan. Tak ada siapapun selain aku di sini. "Aku?" tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri.


Cowok itu duduk di sampingku dan mencubit pipiku. "Iyalah. Siapa lagi? Lupa sama nama sendiri?"


"Tapi aku bukan Agni?!" elakku.


"Iya... iya... aku lupa. Kamu tuan putri Agni bukan? Maafin hamba tuan putri!" cowok itu masih keukeuh memanggilku Agni.


"Tapi-" Ia tak mau mendengar sanggahanku.


"Tebak, aku bawa apa?" cowok itu lalu mengeluarkan sebuah kotak.


"Apa itu?"


"Buat tuan putri Agni!"


Ia lalu membuka kotak dan nampak sebuah cincin emas. Bukan cincin berlian mahal. Namun cincin emas.


"Buat kamu! Dari gaji pertama aku!"


Aku terdiam. "Kenapa buat aku?"


****