Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Kesempatan Dalam Kesempitan


POV Author


Lara memeriksa bantex yang diberikan Ditya sambil mencocokkan dengan biaya yang dilihat di file yang tadi Ditya beritahu. Setelah menenangkan dirinya dari debaran jantung yang bertalu semakin kencang, Lara akhirnya bisa fokus bekerja.


Satu per satu tamu masuk ke dalam ruangan Ditya. Kebanyakan yang sudah membuat janji dengannya. Sisanya para bawahan yang membutuhkan tanda tangan Ditya di dokumen yang perlu disetujui.


Mereka yang datang pasti melirik heran melihat keberadaan Lara di samping meja milik Ditya. Tak berani menatap atasannya lebih lama, mereka pun menunduk dan membicarakannya pada karyawan lain di luar.


Alhasil mulai ramai gosip yang beredar. Ada yang mengatakan kalau Lara dan Ditya pasangan yang sedang perang dingin. Ada yang bilang Lara dan Ditya hanya formalitas saja di kantor bersikap dingin, padahal di luar sangat mesra. Semua berspekulasi sendiri.


Lara tak peduli. Ia harus fokus belajar agar secepatnya bisa memimpin perusahaan. Ia khawatir kalau Ditya ingin merebut perusahaan Papanya kalau terlalu lama dibiarkan jadi pimpinan. Lara tidak tahu kalau selama ini justru Ditya yang menjaga perusahaan untuknya.


"Bisa? Ada yang mau aku bantu lagi?" tanya Ditya menawarkan bantuan.


Lara reflek menjaga jarak. Sikapnya seperti orang yang memasang kuda-kuda sebelum bertarung.


Ditya mengulum senyumnya. Pasti Lara menjaga jarak darinya agar kejadian tadi tidak terulang lagi.


"Aku enggak akan mencuri ciuman lagi kok dari kamu. Tenang saja!" kata Ditya yang tahu apa yang ditakutkan Lara.


"Jangan pernah percaya pada mulut manis seekor serigala macam kamu!" ketus Lara.


Ditya akhirnya tertawa mendengar dirinya disebut serigala. "Aku bukan serigala tapi buaya."


"Cocok sih! Buaya darat!" cibir Lara.


"Yup. Kamu benar. Karena buaya adalah hewan yang setia. Serigala masih bisa berkhianat, tapi kalau buaya tidak. Tetap setia dengan pasangannya!" Ditya memainkan kedua alisnya, senang karena Lara berhasil kena jebakannya.


Lara tak mau menanggapi Ditya. Tahu kalau dirinya akan digoda lagi oleh laki-laki yang masih suaminya.


"Udah waktunya makan siang. Makan di luar yuk! Mau makan mie ayam dekat Panti enggak? Sekarang anaknya yang jualan. Rasanya enggak kalah enak dan ada sedikit modifikasi. Kerupuk pangsitnya banyak dan ada varian baru, mie ayam ranjau yang banyak cabenya. Mau enggak?" ajak Ditya.


Lara sudah terbayang enaknya mie ayam dekat Panti yang sangat Ia rindukan rasanya. Namun rasa gengsi menahannya. "Enggak usah. Makasih!"


"Yakin? Enak loh cuaca panas kayak gini makan mie ayam. Minum es campurnya makin bikin makan tambah lahap. Apalagi kalau es campurnya ada tambahan jelly. Mmm.... Yummy!" bisa saja Ditya membuat Lara menelan salivanya.


Lara melihat cuaca di luar. Memang sangat pas memakan mie ayam di cuaca kayak gini. Apalagi kalau sambalnya banyak.


Tak lama sekretaris Ditya masuk. "Permisi, Bu. Ada Pak Arya di depan. Katanya mau mengajak Ibu makan siang bareng!"


"Makan siang bareng? Kapan aku mengajaknya?" batin Lara.


"Bilang aja kalau kamu udah janji duluan mau makan siang bareng aku! Kamu tinggal pilih, pergi sama Arya atau pergi sama aku?" tanya Ditya yang kini duduk di meja Lara sambil melipat tangan di dadanya.


Sekretaris Ditya bingung mau berbuat apa. Ia menunggu keputusan Lara.


"Kamu kembali saja ke depan. Bilang kalau aku akan pergi sama Ditya!" putus Lara.


"Yess!" Ditya berseru senang. "Ayo Sayang! Kita makan siang bareng!"


Dengan terpaksa Lara pergi dengan Ditya. Ya... Lara juga mau makan mie ayam sih. Sudah hampir 5 tahun Ia tak pernah makan mie ayam kesukaannya tersebut.


Lara mengambil tas miliknya dan pergi ke luar ruangan. Rupanya di luar Arya masih menunggunya.


Sudah Lara duga, Arya tak akan menyerah semudah itu. Lalu hal yang terduga kembali Ditya lakukan.


Ditya menarik pinggang Lara mendekat dan berkata dengan mesra padanya. "Ayo, Sayang! Aku udah lapar nih! Kamu katanya juga lapar?!"


Terpaksa Lara mengikuti sandiwara yang Ditya lakukan. "Ayo! Aku juga lapar!"


Arya tertawa sinis. "Sudahlah jangan kebanyakan akting! Aku tahu hubungan kalian sudah berakhir! Kalian sudah bercerai bukan?"


Lara yang semula bersikap dingin lalu mulai berakting. Ia menaruh kepalanya di dada Ditya dan tangannya memeluk balik pinggang Ditya. "Kalau kayak gini masih kamu bilang akting?" sindir Lara.


Arya kesal sampai wajahnya memerah.


"Kita duluan ya! Laper nih!" kata Lara. "Ayo Sayang kita pergi sekarang!"


Bukan Ditya namanya kalau tidak mengambil kesempatan dalam peluang emas seperti ini. "Kayaknya mantan kekasih kamu enggak percaya dengan kemesraan kita." Ditya menunjuk pipi kirinya memberi kode pada Lara agar mencium pipinya.


Lara menatap sebal pada Ditya namun langsung cepat-cepat memasang senyum agar Arya tak curiga. Lara pun masuk jebakan Ditya dan mencium pipinya di depan Arya.


Arya dan sekretaris Ditya yang sejak tadi menguping terkejut dengan kemesraan Ditya dan Lara yang selama ini dianggap sudah bercerai.


"Kami pergi dulu ya, bye!" Ditya pun merangkul Lara dan pergi meninggalkan Arya.


Sesampainya di dalam lift Lara langsung melepaskan tangannya dan menjauh. "Kalau bukan Arya, enggak akan aku mau sandiwara sama kamu!"


"Masa sih? Tadi kok nyiumnya pakai hati gitu?!" ledek Ditya.


"Aku enggak jadi pergi nih!" ancam Lara.


"Jangan dong! Aku kan cuma becanda aja Sayang. Kita pergi sekarang ya!" Ditya takut juga dengan ancaman Lara.


Mereka pun pergi ke basement dan naik mobil Ditya. Di dalam mobil lagi-lagi Lara dikejutkan oleh hal kecil yang Ditya buat. Ada foto pernikahan mereka yang tergantung di kaca spion.


Lara jadi teringat saat mereka sangat bahagia ketika menikah dulu. Di foto tersebut Lara dan Ditya tersenyum bahagia.


Ditya membiarkan Lara mengenang memori mereka. "Kamu cantik ya pakai gaun itu? Aku tampan enggak?" Ditya pun menjalankan mobilnya keluar kantor.


"Biasa aja!" jawab Lara datar.


"Masa sih?"


"Kenapa masih kamu pajang foto ini? Mau pencitraan?" sindir Lara.


"Pencitraan sama siapa? Kamu? Lihat saja foto itu, sudah menempel di gantungan karena sudah lama berada di sana. Aku sengaja memasangnya. Biar aku waras."


"Ngaku kalau kamu gila?" ketus Lara lagi.


"Iya. Aku memang gila. Tergila-gila sama kamu! Foto itu yang membuatku waras dan yakin kalau kamu pasti akan kembali suatu hari nanti. Foto itu yang membuat aku kuat melewati hari tanpa kehadiran kamu." Ditya lalu mengusap lembut rambut Lara.


Lara reflek memundurkan dirinya. Kembali menjaga jarak. "Lebih baik kamu jutek kayak sekarang tapi bisa kulihat setiap hari, daripada kamu menghilang tanpa jejak. Terima kasih kamu sudah kembali, Ra! Terima kasih sudah membuat harapan yang kupikir semu dapat terwujud."


****