
Keesokan harinya, selepas Ditya pergi berangkat kerja, aku juga pergi ke tempat di mana kenangan buruk itu masih tersimpan sampai saat ini. Aku berjalan pelan menuju Jembatan Cinta. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi waktu itu.
Aku ingat kalau aku sedang berjalan melewati seorang perempuan yang sedang menangis. Perempuan itu adalah Agni. Ia memegang selembar kertas berisi hasil diagnosisnya. Aku melihat sedikit nama rumah sakitnya tertera di sana. Pasti hasilnya kurang bagus, terbukti dari Ia yang terus-menerus menangis sambil meratapi kertas tersebut.
Aku tak berlama-lama melihat Agni. Aku lalu berjalan menuju sisi sebelahnya, sengaja memberi sedikit jarak. Saat itu, pikiranku kalut dan aku terlalu sedih mendapati kenyataan kalau Arya berselingkuh dengan Anggi.
Aku tak punya semangat hidup lagi. Aku ingin mengakhiri hidupku namun berjuta pertimbangan ada dalam benakku. Bagaimana dengan Papa nanti kalau aku tak ada? Bagaimana perasaan Papa?
Kalau aku tidak melompat dan masih ada di dunia ini, aku akan terus dihina oleh Anggi dan Arya tentunya. Aku akan terus melihat kemesraan mereka yang membuat hatiku akan semakin tersakiti nantinya. Aku akan menerima penghinaan demi penghinaan lagi dari mereka berdua.
Lalu tiba-tiba aku merasakan tenggorokanku agak gatal. Aku tak punya air minum. Mungkin kebanyakan menangis jadi tenggorokanku kering. Aku ingat, aku punya sebuah permen yang diberikan oleh supir taksi padaku. Daripada aku batuk, lebih baik aku makan permen aja. Toh tak ada salahnya makan yang manis-manis sebelum aku mengakhiri hidupku ini. Aku pun membuka permen tersebut dan membuang bungkusnya sembarangan.
Bungkus permen berwarna pink itu lalu terbang, aku nggak peduli terbang ke mana. Lalu, sambil memakan permen yang terasa manis tersebut, aku memikirkan hidupku yang sama sekali nggak ada manis-manisnya.
Perasaan dikhianati yang begitu mendalam membuat hatiku terus-menerus merasa sakit dan sedih pada waktu bersamaan. Aku nggak mau semuanya terjadi padaku. Aku malu. Aku sudah mengaku-ngaku sebagai kekasih Arya, padahal selama ini aku hanya dimanfaatkan saja olehnya!
Lalu aku merasa yakin akan apa yang akan kulakukan. Aku akan bunuh diri saja. Papa pasti akan baik-baik saja bersama Tante Sofie yang selama ini menyayanginya karena harta. Papa tak akan dengan bodohnya menyerahkan seluruh hartanya pada Tante Sofie begitu saja.
Aku yakin, selepas kepergianku Arya pasti akan sangat senang melihat aku pergi. Ia sudah mendapatkan Anggi yang jauh memiliki segalanya dibanding denganku. Tak akan ada siapa pun yang akan menangisi jasadku saat ditemukan nanti. Enggak ada yang akan sedih kehilanganku selain Papa, nggak ada!
Andai... andai aku bisa kembali ke dunia ini dengan jiwa yang pemberani menghadapi segala permasalahan yang ada. Andai aku bisa hidup lebih bahagia lagi di dunia ini. Andai aku bisa menikahi orang lain selain Arya yang sudah sangat jahat padaku dan memanfaatkanku semata? Rasanya semua itu hanya mimpi yang tak pernah terwujud saja.
Aku ingin melompat ke bawah. Aku ingin pergi dari dunia ini. Aku melirik ke kiri dan ke kanan, tak ada yang memperhatikanku. Tak ada mobil ataupun motor yang berlalu lalang di sekitar Jembatan Cinta ini. Enggak ada yang akan tahu kalau aku melompat dari atas jembatan ini.
Aku pun mulai memanjat jembatan. Dalam hitungan ketiga aku akan melepaskan tanganku dan jatuh ke bawah lalu aku akan tenggelam bersama air sungai yang entah akan membawaku ke mana.
Satu...
Dua...
Ti-
Belum sempat aku melompat, sebuah tangan menggapaiku dan menghalangi langkahku.
Agni.... Selebgram itu menarikku. Ia mengomeliku dan mempertanyakan kenapa aku harus menyia-nyiakan hidupku?
Aku marah. Aku kesal pada semua orang termasuk pada Agni. Siapa dia? Kenapa Ia harus ikut campur dalam urusanku?
Aku sudah tak mau mendengar nasehat dari siapapun lagi. Aku hanya ingin pergi dan melupakan semuanya. Aku hanya ingin menyembunyikan rasa malu dan rasa sakit hati yang terus melekat dalam diriku.
Aku masuk ke dalam air dan aku sadar sebentar lagi ajalku pasti akan tiba. Aku tak mau lagi berusaha bernapas. Aku mau pergi saja dari dunia ini, namun lagi-lagi Agni berusaha menyelamatkanku. Dengan kemampuan berenangnya, Ia menarik dan membawaku ke pinggir sungai.
Aku mulai kehilangan kesadaran karena banyak air yang masuk ke dalam paru-paruku. Tapi aku masih melihat, saat Agni terpeleset dan akhirnya jatuh dan terbawa arus. Aku lalu tak tahu apa yang telah terjadi lagi.
Bukan! Bukan aku yang membunuh Agni! Aku bukan pembunuh! Agni meninggal karena jatuh kepleset, bukan karena jatuh terjun bersamaku dari atas jembatan.
Aku harus menjelaskan semuanya pada keluarga Agni. Aku harus memberitahu keluarganya kalau aku bukan pembunuhnya. Kemana aku harus mencari Agni? Aku menghapus air mata yang menetes di pipiku. Cepat-cepat, aku memberhentikan sebuah taksi dan aku pun pergi ke rumah Bima.
Aku langsung lari dan masuk ke dalam kamar Bima. Anak itu seperti biasa sedang memilih-milih produk yang akan kami endorse.
"Bima! Kamu harus bantuin aku!" aku masuk tanpa salam dan langsung duduk di sampingnya yang memakai headset. Ia terkejut dengan kedatanganku.
"Ngagetin aja nih anak! Ada apaan sih? Aku lagi milih-milih endorse buat kamu ambil nih! Jangan suka ngagetin gitu! Sekarang memang aku nggak punya penyakit jantung, tapi kalau dikagetin terus sama kamu nanti lama-kelamaan bisa-bisa aku beneran sakit jantung tau!" omel Bima.
"Bim, kamu mau kan bantuin aku?" tanyaku dengan mimik wajah paling serius.
"Bantuin apa? Kalau aku bisa, pasti aku akan bantuin kamu!" jawab Bima.
"Tapi aku minta kamu harus bisa jaga rahasia. Cukup tau aja. Percaya aja sama aku, aku enggak punya niat jahat sama sekali."
"Iya. Aku percaya kok sama kamu." ujar Bima. "Kamu mau minta dibantuin apa?"
"Kamu kenal kan selebgram Agni yang katanya meninggal karena bunuh diri?"
"Tau-lah. Dia waktu itu lumayan terkenal. Kalau enggak salah, dia tuh menjadi salah seorang selebgram yg berpengaruh. Kontennya juga bagus dan mengedukasi. Kenapa memangnya? Tumben banget kamu kepo sama urusan lain?" tanya Bima penuh selidik.
"Bisa kamu cari tahu asal-usulnya dia kayak gimana? Aku mau tahu Agni tinggal di mana, masa kecilnya gimana, keluarganya di mana." aku sengaja menanyakan tentang keluarganya paling akhir, agar Bima tidak curiga. Padahal, aku justru ingin tahu siapa keluarganya.
"Kamu kenapa sih? Makin aneh tau nggak? Kamu pakai nyari tau tentang orang yang udah meninggal. Ngapain coba? Emang kamu kenal Agni sebelumnya?" Bima ternyata mulai curiga dan mengajukan protesnya padaku.
"Mungkin... Mungkin aku kenal sama Agni. Kamu bisa tolong aku kan? Kalau kamu nggak mau bantu aku, aku akan cari orang lain lagi?!" ancamku dengan tegas.
"Dih ngambek! Iya. Aku akan cari tahu. Kamu duduk aja dulu!"
****