Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Kembali Menjadi Agni


Lara


Wanita cantik itu berjongkok dan mensejajarkan dirinya denganku. "Kita mau pergi ke tempat yang banyak temannya. Kamu mau kan?" bujuk wanita dengan tahi lalat di bibir tersebut padaku. Tak ada senyum di wajahnya sama sekali.


"Mau, Ma!" anggukku.


Ma? Wanita ini Mamaku? Maksudnya Mama Agni?


"Anak pintar! Kamu mau kan punya banyak teman?" tanya wanita itu lagi.


Aku kembali mengangguk. "Mau, Ma!" jawabku penuh semangat.


"Nanti Amel jangan nakal ya kalau dekat teman-teman?!" pesan wanita itu.


"Iya!"


"Ayo kita jalan lagi, kita sudah mau sampai!" wanita itu menunjuk ke sebuah rumah yang terlihat sangat teduh dan nyaman.


Aku kembali memegang tangan lembut wanita cantik bertahi lalat di dekat bibir itu. Kami berjalan menuju... Panti?


Aku sudah menduga kalau saat ini aku berada di dalam mimpinya Agni. Apakah ini ingatan masa lalu Agni? Lalu kenapa wanita itu memanggilnya Amel?


Agni?


Agni!


Aku ingin berkomunikasi dengan Agni. Namun tetap saja aku hanya sebagai tamu di sini. Aku tak bisa berkomunikasi sama sekali dengan Agni. Aku hanyalah penonton yang melihat apa yang sudah terjadi.


Aku pun pasrah. Aku juga mau tau siapa wanita itu!


Wanita itu lalu membawaku ke dalam. Ada sepasang suami istri yang sedang bermain bersama anak-anak di luar. Wajah mereka memperlihatkan kebaikan yang mereka miliki.


"Permisi!" ujar wanita tersebut.


"Ada apa ya?" tanya suami dan istri tersebut kompak.


Wanita itu tak bersuara tapi melirik ke arahku. Seakan mengerti, sang suami lalu pamit pada istrinya dan mengajakku dan wanita itu ke dalam Panti.


Kami masuk ke dalam sebuah ruangan dimana terdapat banyak dokumen. Kami lalu dipersilahkan duduk. Bapak itu menyuguhkan air mineral kemasan gelas pada kami dan duduk di hadapan wanita cantik yang menggandeng tanganku ini.


"Kedatangan saya ke sini mau menitipkan anak saya, Amelia Agni Putri. Saya harus bekerja untuk menghidupinya, saya tak bisa mengurusnya terus menerus. Saya tak ada sanak saudara yang bisa menjaganya. Saya juga tak punya uang untuk membayar pengasuh. Agni anak yang baik. Saya janji akan mengirimkan uang setiap bulan untuk biaya hidupnya. Bapak mau kan menolong saya?" tanya wanita tersebut dengan air mata yang sudah menetes di wajahnya yang cantik.


"Mama kenapa nangis?" tanyaku dengan polosnya.


Mamanya Agni adalah wanita yang ada di foto yang sama di kamar Papa. Jadi benar kalau Tante Sofie adalah Mamanya Agni?


Deg...


Tante Sofie berhasil membujuk pemilik Panti yang akhirnya mau menerima Agni. Ia lalu menatap ke arahku dengan tatapan sedih dan air mata yang mengalir deras.


"Amel Sayang, Mama mau pergi kerja. Kamu bermain di sini ya! Nanti Mama jemput!" bujuk Tante Sofie.


"Mama mau ninggalin Amel?" tanyaku dengan lugunya.


"Bukan ninggalin, Sayang! Mama cuma nitipin kamu sebentar di rumah Bapak yang baik hati ini. Hanya sebentar. Mama harus mencari uang untuk biaya hidup Amel. Amel sebentar lagi sekolah, jadi Mama mau mengumpulkan uang untuk Amel dulu. Amel mau kan menunggu Mama?"


Aku menggelengkan kepalaku. "Amel mau sama Mama terus. Amel janji Amel tak akan nakal! Amel janji tak akan membiarkan Mama menangisi Amel terus. Jangan tinggalin Amel di sini, Ma. Amel takut." aku lalu mulai menangis. Aku takut berada di tempat yang asing sendirian.


"Jangan begitu, Sayang! Mama harus pergi sekarang. Nanti Mama telat masuk kantornya!"


Tante Sofie lalu berdiri dan pergi. Aku menangis dan menangis. Aku tak mau kehilangan Mama.


"Mama.... Jangan pergi, Ma!" aku dipegangi oleh Bapak pemilik Panti. Aku tak bisa berlari mengejar Mama.


"Jangan pergi, Ma! Jangan pergi!"


Aku lalu merasakan diriku diguncang-guncang. "Ra! Bangun, Ra!"


Kubuka mataku yang ternyata basah oleh air mata. Kutatap Ditya yang menatapku dengan khawatir. "Kamu kenapa? Mimpi buruk lagi?"


Aku memegang pipiku yang basah oleh air mata. Aku menatap sekitarku dan kami berada di tepi jalan. Ditya meminggirkan mobil miliknya rupanya.


"Kita harus kembali ke Panti!" kataku dengan yakin.


Ditya mengernyitkan keningnya. "Ke Panti? Kita tadi enggak ke Panti. Kita hanya makan mie ayam dekat Panti!"


"Aku tahu. Tapi baru saja aku bermimpi tentang Agni. Cepatlah! Ada yang aku ingin cari tahu!" kataku tak sabaran.


"Mimpi? Agni... Kembali memberitahu kamu tentang dirinya?" tanya Ditya.


Aku mengangguk. "Tentang Mamanya."


"Mamanya Agni? Bukankah wanita jahat itu sudah pergi dan tak kembali lagi?!" sindir Ditya.


"Kamu mau mengantarku atau aku akan naik taksi?!" tanyaku tak sabaran.


"Aku antar! Kemanapun kamu mau pergi aku yang akan antar mulai sekarang!" Ditya lalu putar balik dan mengemudikan mobilnya kembali ke arah Panti.


"Aku mau tanya, orangtua Kak Nisa masih ada bukan?"


Ditya mengangguk. "Masih. Mereka masih hidup dan tinggal di dekat Panti."


"Aku mau menemui mereka setelah bertemu Kak Nisa!"


Ditya menurut. Kami pun sampai ke Panti setelah berkendara 15 menit. Aku langsung turun dan bertemu Kak Nisa.


Kak Nisa tentu senang dengan kedatanganku. Ia memelukku erat dan menanyakan kabarku. Aku hanya menceritakan sedikit tentangku lalu selanjutnya meminta ijin dirinya untuk masuk ke ruangannya.


Meski agak bingung namun Ditya meyakinkan Kak Nisa untuk memberiku ijin. Kak Nisa membukakan pintu ruangannya dan aku pun langsung mengambil dokumen tentang Ditya dan Agni serta anak-anak lain.


Kak Nisa hendak melarangku namun sekali lagi Ditya meyakinkan Kak Nisa. "Ada hal penting yang Lara harus cari tahu, Kak. Tentang Agni!"


"Agni?!" tanya Kak Nisa tak percaya.


"Jadi setelah Lara bangun dari koma, Ia memiliki setengah ingatan Agni. Memang susah dipercaya namun kesalahpahaman aku dan Lara tentang cincin jawabannya adalah karena Agni yang memberitahu Lara. Lara sering memimpikan tentang Agni. Baru saja Lara bermimpi lagi dan Ia harus mencari tahu kebenaran mimpinya tersebut." kata Ditya menjelaskan.


Akhirnya apa yang kucari berhasil kutemukan. Sebuah foto wanita bertahi lalat dengan anak kecil di pangkuannya.


"Boleh aku bertemu Bapaknya Kak Nisa?" tanyaku.


Kak Nisa kembali heran. "Bapak? Untuk apa?"


"Bapaknya Kak Nisa adalah yang menerima Agni di Panti ini. Ada yang mau aku tanyakan. Kak Nisa mau kan membantu aku?" tanyaku penuh harap.


Kak Nisa melihat ke arah Ditya. "Biarkan Kak. Biar semua teka-teki ini terjawab. Kak Nisa tahu kan kalau Agni anak yang tertutup. Hanya kepada Lara-lah Agni mau menceritakan semua tentang hidupnya."


"Sebenarnya Kak Nisa masih banyak yang mau ditanyakan sama Lara tapi baiklah. Kita bertemu Bapak sekarang." Kak Nisa lalu mengajakku ke rumahnya. Sebuah rumah mungil namun sangat nyaman dan penuh kehangatan.


"Kalian duduklah dahulu. Kakak panggil Bapak dulu ya!" ujar Kak Nisa.


Aku dan Ditya mengangguk. Kami lalu duduk di ruang tamu. Mataku berkeliling ruangan dan berhenti saat melihat figura Bapaknya Kak Nisa.


Ternyata benar. Bapak inilah yang tadi ada dalam mimpiku. Bapak ini yang menerima kedatangan Tante Sofie dan Agni.


****