
Lara
Rasanya seluruh tubuhku seperti mau rontok. Capek dan aku butuh tidur. Aku lelah sekali menjalani double job ini. Tapi mau bagaimana lagi? Arya dan Anggi begitu gigih ingin merebut perusahaan milik Papa. Kalau aku tidak bergerak cepat, maka dengan mudah Arya akan menguasai harta milik Papa. Tak akan aku biarkan itu terjadi!
Aku selesai syuting jam satu malam dan baru sampai rumah jam setengah dua. Aku harus membersihkan wajahku dan memakai skincare lalu baru tertidur sekitar jam setengah tiga. Paginya, aku sudah harus bangun dan bekerja di perusahaan Papa. Begitu terus setiap hari kecuali weekend.
Untunglah, Papa sangat baik dan perhatian padaku. Beliau mengajakku pergi bersama naik mobilnya. Sepanjang perjalanan kuhabiskan dengan tidur, lumayan untuk mengisi tenagaku menghadapi hari yang panjang ini.
Hari ini, Papa akan mengajakku ke Kusuma Corporation. Aku sudah sering ke perusahaan itu karena aku kan salah satu Brand Ambassador dari salah satu produknya. Namun kali ini aku ke sana bukan untuk shooting, melainkan untuk belajar tentang teknik negosiasi dalam sebuah penawaran bisnis. Papa akan membahas rencana bisnis kedua perusahaan, aku hanya disuruh menyimak dan memperlajari saja caranya.
Setelah ke kantor sebentar untuk menyiapkan bahan presentasi, Papa lalu mengajakku langsung ke Kusuma Corporation dan bertemu dengan pimpinan mereka. Ia adalah Ditya yang hari ini didampingi oleh Bapak Kusuma, pemilik sekaligus pemimpin sebenarnya Kusuma Corporation.
Bapak Kusuma menyambut kedatangan Papa Handaka dengan senyum lebar dan wajah yang ramah. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat. Mungkin karena seringnya melakukan kerjasama di dalam bisnis.
"Selamat datang Bapak Handaka yang terhormat!" sambut Bapak Kusuma dengan senyum lebar di wajahnya saat kami datang.
"Wah saya disambut dengan hangat seperti ini, bagaimana saya tidak terus bekerja sama dengan perusahaan ini ya? Kamu ramah sekali sama saya dan terlalu menyanjung saya ah!" balas Papa Handaka sambil tersenyum senang.
"Tentu saja dong! Kita harus terus bekerja sama secara berkesinambungan. Perusahaanku butuh perusahaan kamu, perusahaan kamu juga butuh perusahaan aku. Kita berdua akan menjadi dua perusahaan yang besar, yang akan memimpin beberapa perusahaan lain di bawahnya." harap Bapak Kusuma dengan penuh semangat dan berapi-api.
"Aku setuju. Kita harus sukses bersama-sama dan kita akan kaya bersama-sama ha...ha...ha..."
Aku ikut tersenyum melihat kedua orang sahabat itu tertawa bersama-sama. Terlihat sekali kalau mereka memiliki hubungan yang sangat erat, bukan hanya di bidang pekerjaan saja tapi hubungan pertemanan mereka juga sangat kompak.
Bapak Kusuma seakan baru menyadari kalau Papa tidak datang sendiri, melainkan bersama dengan diriku. Bapak Kusuma pun langsung menyapaku. "Bukankah ini Lara Handaka, anak kamu yang sukses sebagai selebgram? Anak kamu itu itu Brand Ambassador perusahaan aku loh!" ujar Bapak Kusuma dengan penuh rasa bangga.
"Betul sekali! Ini putri kesayanganku. Ia memang mulai terjun ke dunia selebgram. Tak apalah, itung-itung menambah pengalaman mumpung masih muda. Bebas mau mencoba apa saja. Ternyata putriku ini masih ingin menambah ilmu lagi dengan belajar tentang perusahaan, makanya hari ini Ia ikut denganku datang ke perusahaan ini." Papa lalu memperkenalkanku dengan Pak Kusuma.
"Kalau ini anakku." Pak Kusuma lalu menepuk bahu Ditya yang tersenyum malu dengan rasa bangga. "Tampan bukan? Selama ini, Ditya yang sudah memimpin perusahaan menggantikan tugasku. Aku hanya mengawasi saja. Aku percayakan semuanya dengan tangan dingin Ditya yang mampu membuat perusahaanku yang terpuruk menjadi sukses seperti sekarang." puji Bapak Kusuma pada anaknya yang memang tampan itu.
"Wah... Hebat ya kamu! Andai aku punya anak laki-laki untuk mengurus perusahaanku, pasti aku akan tenang hidupnya. Sayang kedua anakku perempuan. Anakku yang kedua malah sudah memperkenalkan calonnya. Hanya Lara ini yang masih malu-malu dan belum punya pacar." kata-kata Papa membuatku bertambah malu saja. Kesannya aku nggak laku. Padahal memang iya sih. Aku saja sampai dikhianati oleh Arya karena aku jelek.
"Ah masa sih? Justru Non Lara ini cantik sekali loh. Masa sih belum punya pacar? Siapapun nanti yang menjadi suami dari seorang Lara Handaka pasti sangat beruntung. Punya bapak mertua yang baik dan hebat, serta punya istri yang sangat cantik. Paket lengkap itu. Ditya saja pasti mau!" tiba-tiba Bapak Kusuma menyebut nama anaknya.
"Lihatlah! Mereka berdua grogi juga loh. Wah, jangan-jangan selama ini karena mereka syuting bersama sudah ada kedekatan lagi?" goda Bapak Kusuma. Aku menunduk malu, wajahku pasti sekarang sudah memerah karena diledekin seperti itu.
"Benarkah?" Papa lalu melihat ke arahku yang malu-malu. "Memangnya kalian sudah sangat dekat?" tanya Papa padaku.
Aku tak bisa menyembunyikan fakta kalau memang selama ini kami Lumayan dekat. "Iya, Pa. Kami selama ini berteman. Ditya ini selain sebagai pemimpin juga sebagai teman yang asik buat mengobrol. Kadang Ditya membantu aku mengarahkan gaya ini dan itu biar bagus di kamera."
"Wah kamu lihat sendiri kan Handaka? Kedua orang ini saling tertarik loh! Yang satu malu-malu sampai tersedak dan yang satu lagi menunduk malu sampai mukanya merah. Mirip kita waktu masa muda dulu nggak sih? Lagi kasmaran sepertinya mereka berdua. Aku jadi punya ide nih, gimana kalau mereka kita jodohkan saja? Kamu dan aku akan menjadi keluarga dan perusahaan kita akan menjadi perusahaan yang besar?" usul Bapak Kusuma tiba-tiba.
Hah? Aku dan Ditya mau dijodohin? Yang bener? Aku akan menikah dengan laki-laki tampan di depanku? Wah... Mimpi apa aku semalam? Bisa melihat Ditya setiap hari sebagai suamiku adalah anugerah! Seperti menang jackpot aku!
"Boleh juga ide kamu itu Kusuma! Aku setuju. Daripada perusahaanku dipimpin oleh orang luar yang aku nggak tahu bagaimana kredibilitasnya, aku lebih setuju kalau Ditya yang memimpin perusahaan keluargaku. Apalagi, mereka masih muda dan pasti seiring berjalannya waktu benih-benih cinta akan lahir di antara mereka. Ide bagus itu!" ujar Papa dengan penuh semangat.
"Rencana kita ingin membicarakan tentang bisnis ternyata malah lebih luas lagi nih. Kita malah membicarakan tentang perjodohan kedua anak kita. Tapi, Lara mau enggak sama Ditya?" tanya Pak Kusuma padaku.
Aku ingin berteriak, "Aku mau!" tapi aku harus jaga image. Aku perempuan, walaupun aku terlahir cupu tapi aku punya harga diri. Daripada aku salah langkah, lebih baik aku menunduk sambil menyembunyikan wajahku yang malu ini.
"Seharusnya aku yang nanya sama anak kamu!" justru Papa yang malah menjawab pertanyaan Pak Kusuma. "Ditya mau enggak sama anak Om? Kalau Ditya mau, Lara sebagai perempuan sih pasti akan nurut aja. Aku kenal bagaimana putriku ini. Ia anaknya pemalu dan penurut."
Pak Kusuma lalu menyikut lengan Ditya yang duduk di sampingnya. "Kamu ditanyain tuh! Kesempatan emas ini. Kamu bisa jadi menantu dari pemilik Handaka Group. Kamu lihat dong putrinya cantik begitu. Kalau Papa ada di posisi kamu, Papa nggak akan berpikir dua kali. Papa akan langsung bilang: "Iya saya mau!" ujar Pak Kusuma mengompori Ditya.
"Ih Papa mah, kenapa jadi Papa yang bersemangat gitu sih?" sahut Ditya.
"Ya kamu jawab dong! Kamu mau enggak sama Lara Handaka? Jangan bikin malu Papa! Kenapa malah Papa yang semangat 45 buat menjodohkan kalian berdua?! Kamu sendiri gimana? Kamu kan sering mengobrol dan dekat dengan Lara, pasti tahu dong sifat masing-masing? "
Ditya lalu mengangkat wajahnya dan menatap ke arahku. Ya Allah... Ditya tuh beneran ganteng banget. Apalagi tatapan matanya itu loh... aku nggak kuat. Ditya suka nggak ya sama aku? Kalau dia beneran mau dijodohkan denganku, dia akan menjadi suami aku dong? Ya Allah... dikabulin ya... please...
"Lara anaknya baik dan asyik kok, Pak." Ditya menatap ke arahku dan kini menatap ke arah Papa. "Memangnya, saya boleh mempersunting anak Pak Handaka? Kalau memang boleh, saya akan merasa sangat beruntung sekali bisa memperistri seorang Lara handaka, seperti yang Bapak saya katakan."
Ya Allah... Ini beneran? Ditya baru saja melamar aku? Ditya mau dijodohin denganku? Ya Allah... Mimpi apa aku semalam?
****