Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Amelia Agni Putri


Lara


Mata Tante Sofie membulat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Agni. Ia benar-benar syok mengetahui kalau di dalam diriku yang sedang berbicara saat ini adalah Amel, putri kandungnya. Yang lebih membuatnya kaget adalah kenyataan bahwa Amel putrinya sudah tak lagi ada di dunia ini.


"Nggak! Nggak mungkin! Kamu pasti sedang berakting kan?! Jangan main-main kamu, Ra! Kamu pikir, Tante percaya kata-kata kamu? Kamu tuh paling jago akting! Kamu mau menipu Tante kali ini?! Jangan main-main kamu!" rupanya Tante Sofie masih mengingkari kenyataan. Ia masih tak percaya kalau yang berbicara dengannya saat ini adalah Agni, bukan diriku yang sebenarnya.


Aku lalu menatap ke arah Ditya, Ia tahu yang melihatnya saat ini bukanlah aku melainkan Agni. "Boleh aku minta cincin yang waktu itu kita kubur bersama, Dit?"


Ditya menganggukan kepalanya. Ia lalu pergi ke brankas miliknya dan membukanya dengan kode yang hanya dirinya sendiri yang tahu. Ia lalu mengambil sebuah kotak yang dulu aku gali dari belakang Panti. Kotak berisi cincin yang membuat aku meninggalkan Ditya karena kesalahpahaman.


Ditya lalu memberikan kotak tersebut pada Agni. Agni menerima kotak yang Ditya berikan lalu kembali menatap Mamanya. "Mama tahu, apa yang paling aku ingat dari Mama? Hari itu, untuk pertama kalinya Mama menggandeng tanganku. Mama yang selama ini terlihat begitu jijik padaku, menggandeng tanganku dengan penuh kelembutan. Aku bisa merasakan kehangatan dari seorang Mama untuk pertama kalinya dalam hidupku,"


"Kita berjalan berdua. Meski tanpa kata, namun sudah cukup bagiku. Selama ini, Mama tak pernah peduli sama aku. Bahkan, Mama sering mengurung aku di kamar mandi karena merasa muak melihat wajahku," aku melihat reaksi Tante Sofie yang terlihat kaget karena aku bisa tahu apa yang Ia lakukan di masa lalu.


"Aku selalu merasakan dinginnya lantai kamar mandi, sampai aku tertidur di sana barulah Mama membukakan pintu untukku. Mama menyuruhku berganti pakaian dan lalu memberiku makanan. Bukan karena sayang atau menyesal karena sudah menghukum anak sekecil aku dengan keras, semua hanya sebatas tanggung jawab moral karena Mama nggak mau membunuhku dengan tangan Mama sendiri!" hatiku sakit mendengarnya. Aku pun menangis mendengar cerita yang Agni ceritakan.


"Hari itu saat kita pergi bersama ke Panti untuk pertama kalinya, aku memperhatikan dandanan Mama. Mama mengenakan cincin kesayangan Mama yang melingkar di jari manis, tepatnya di tangan kiri Mama yang aku genggam dengan penuh kebahagiaan," Agni menghapus air mataku, mungkin tak mau Mamanya melihat sisi lemah kami.


"Sepanjang jalan, aku memperhatikan cincin yang aku sangat sukai bentuknya tersebut. Cincin berbentuk bintang dengan permata di bagian tengahnya. Cincin terindah yang pernah aku lihat. Cincin itu mungkin tidak terlihat di foto yang aku berikan hari ini melainkan terlihat di foto yang ada di dalam gudang di rumah Om Handaka," nampak Tante Sofie kembali terkejut dengan fakta yang kukatakan.


"Aku selalu menginginkan untuk memiliki cincin seperti itu, karena itu Ditya lalu bekerja keras untuk membelikanku cincin yang sangat aku sukai tersebut. Bukan karena teman-temanku memakai cincin di kelas seperti yang Ditya ketahui, aku begitu menginginkan cincin karena aku begitu merindukan Mamaku. Mama yang sudah pergi meninggalkanku tanpa pernah menoleh lagi ke belakang. Seakan sudah membuang sampah yang sudah bau busuk dan tak lagi sanggup untuk Ia pertahankan di sisinya. Itulah aku, yang Mama buang tanpa pernah Mama pedulikan lagi."


Agni kemudian membuka kotak perhiasan yang Ia pegang, aku sudah pernah melihatnya. Namun, Tante Sofie pasti belum pernah dan tak tahu seperti apa isinya.


"Sama dengan yang Mama miliki bukan? Meskipun cincin yang aku miliki saat ini bukanlah cincin yang mahal, namun Ditya memberikannya dengan tulus sebagai seorang sahabat. Sedangkan Mama, meski memiliki cincin yang bagus dan mahal sekalipun, takkan pernah memiliki arti sama sekali. Mama adalah orang yang tak pernah merasa puas dan selalu menyakiti orang lain tanpa memikirkan akibatnya,"


"Mama tahu siapa yang membuat aku bertahan selama ini? Pasti Mama tak akan menyangka kalau laki-laki dingin yang selama ini terlihat tak peduli pada hidup Mama, adalah orang yang dengan tulus hati menyayangiku seperti menyayangi anaknya sendiri. Om Handaka yang selama ini membiayaiku. Aku yang tak pernah sama sekali Mama jenguk ataupun ditanyakan keadaannya sama sekali dan telah ditelantarkan di Panti, justru malah dipedulikan oleh suami Mama. Mamaku sendiri justru seperti sudah membuang sesuatu yang sudah lama seharusnya Mama buang, apa salahku Ma?" aku kembali meneteskan air mataku. Kembali Agni menghapus air mata yang kuteteskan.


"Aku akan memberikan cincin ini pada Mama. Agar Mama selalu terkenang akan benda yang paling Mama sayang. Hal yang pertama kali aku ingat dimana Mama menggandengku dengan penuh kasih," Agni lalu berjalan menuju Tante Sofie dan berjongkok. Menyamakan pandangan mereka agar bisa saling menatap ke dalam mata masing-masing.


Agni mengangkat tangan Tante Sofie dan memakaikannya cincin. "Mama tau, aku mempertahankan cincin ini sampai aku hampir saja dinikahi oleh kakek mesum itu," Agni kini meneteskan air matanya, bukan aku.


Aku bisa merasakan rasa sakit yang Ia rasakan. "Aku mau memberikannya pada Mama suatu hari nanti. Aku mau Mama tahu kalau aku akan hidup sukses suatu hari nanti dan bertekad membahagiakan Mama. Aku mau seperti Anggi yang Mama sayang dan selalu Mama bela."


Air mataku terus menetes, rupanya Agni sangat sedih dan cemburu melihat Mamanya lebih peduli Anggi dibanding dirinya. "Mama bahkan tak tahu kalau aku sudah tiada. Mama bahkan tak peduli dan datang ke makamku sama sekali. Padahal aku selalu menanti kedatangan Mama. Apa salah kalau aku ingin Mama sayang? Apa salah kalau aku ingin Mama datangi sekali saja?"


"Aku selama ini hanya bisa menatap Mama lewat foto yang Om Handaka kirimkan. Aku melihat Mama bahagia dengan bergelimang harta, sementara aku hanya bisa menghitung hari berapa lama aku masih bisa hidup di dunia ini," Agni yang sejak tadi memegang tangan Tante Sofie lalu mengangkatnya dan mencium tangan Mamanya dengan penuh kasih.


"Maafkan Amel, Ma. Kehadiran Amel membuat hidup Mama hancur. Keberadaan Amel membuat Mama tersiksa. Mungkin Tuhan mendengar doa Mama yang selama ini ingin menyingkirkan Amel dari muka bumi ini. Doa Mama terkabul. Amel akan pergi dan menghilang dari muka bumi ini."


Tante Sofie menggelengkan kepalanya. Air mata sudah mulai membanjiri matanya. "Jangan.... Jangan...."


Agni tersenyum, "Maafin Amel, Ma.... Maafkan Amel yang terlahir dari Papa yang sudah merusak hidup Mama. Maafin Amel...."


****