Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Konten yang Bermanfaat-1


Aku keluar dari ruangan Papa dengan penuh kemarahan. Bukan terhadap Papa, tapi karena aku kecolongan oleh niat jahat dua orang licik itu. Bagaimana mungkin aku bisa lengah begitu saja?


Papa benar, ini baru awal. Mereka akan lebih sering lagi menjebakku sampai semua keinginan mereka terkabul.


Sayangnya aku nggak bisa terus menerus berada di kantor. Aku juga harus memenuhi kewajibanku untuk membuat video barang-barang yang mengendorseku. Belum lagi, aku harus menginspirasi orang lain dengan konten milikku yang penuh edukasi dan sarat nilai moral.


"Ra, pulang kerja kita buat konten baru ya! Aku punya ide segar nih!" ujar Bima yang meneleponku dengan penuh semangat.


"Ide apa?" tanyaku tak bersemangat. Kerjaan hari ini numpuk, belum lagi moodku yang berantakan sehabis dijebak dua manusia laknat itu. Ternyata mereka kembali bersatu dan malah bertekad menghancurkanku. Argghhh...


"Ih suara kamu bete kayak gitu! Ada masalah, Neng?" tanya Bima. Anak itu tau kapan aku ada masalah dan kapan aku baik-baik saja. Peka sekali dia.


"Iya nih. Habis kena jebakan. Sudahlah malas aku bahasnya. Kita ketemuan dimana?" tanyaku. Lebih baik syuting deh daripada kesal terus menerus!


"Di daerah Xxx. Kamu aku jemput saja. Jangan naik mobil keren kamu. Bahaya!"


Aku tersenyum mendengar perkataan Bima, kadang anak itu suka lebay. Menganggap mobilku adalah mobil paling keren sedunia, padahal sih iya hehehe... "Kayak mau syuting sama begal aja bahaya! Yaudah kabarin aja kalau kamu udah sampai ya. Aku mau lanjutin kerjaan aku lagi nih!"


"Oke. Tunggu aku ya!"


Aku pun meminta supir Papa untuk membawa pulang mobil Ferrari kesayanganku. Aku sebenarnya agak risih sih ke kantor naik Ferrari, tapi mau bagaimana lagi? Mobilku hanya satu, minjam mobil si Monster Salon dan anaknya pasti tak akan dikasih. Kadang aku bareng Papa, tapi terkadang Papa tak langsung ke kantor dan meeting di luar.


Bima datang menjemputku dengan mobil sedan miliknya. Dandanannya terlihat santai dengan memakai kaos dan celana jeans saja.


Bima tuh lumayan sebenarnya, tapi kenapa belum punya pacar ya?


"Bim, kita mau syuting tentang apa?" tanyaku seraya merapihkan make up yang sudah mulai pudar karena seharian bekerja.


"Kamu dapat narasumber ini dari mana? Kok kamu tahu sih?"


"Dari aku sendiri dong! Kebetulan, kemarin aku lewat daerah situ terus aku ngeliat kok kakek ini masih jualan sambil duduk di depan pagar rumah orang. Kakek ini tuh lagi mandangin dagangannya yang masih banyak. Sedih dan lelah banget kelihatannya. Mungkin capek berkeliling karena bawa pisang itu kan lumayan berat ya. Jadi dia menunggu saja di situ. Karena nggak tega, aku beli aja deh. Padahal di rumah juga Mama bingung mau dibuat apa. Hari ini aja, aku udah makan kolak pisang dan juga pisang goreng. Rencananya Mama malah mau membuat nugget pisang dan juga pisang bakar. Aku sampai mabok pisang nih!"


Aku tertawa mendengar cerita Bima. Bima lalu mengeluarkan sebuah kotak makan yang Ia taruh di dalam dashboard. Ini, buat kamu. Biar kamu ikut-ikutan mabok pisang kayak aku. Mama buatin buat kamu, lumayan buat mengganjal perut kamu. Pulang kerja kamu pasti nggak mau makan malam kan? Ngemil pisang goreng aja ini!"


"Wah... Aku kebagian juga nih? Curang kamu Bim! Awas aja ya kalau kamu sampai ngajak aku makan pisang terus! Eh tapi bilang terima kasih ya sama Mama kamu. Aku lapar nih, aku langsung makan aja." sambil menikmati pisang goreng buatan Mamanya Bima, anak itu memberitahu bagaimana dan apa yang harus aku lakukan nanti.


"Ingat ya, kamu tuh harus buat kalau apa yang dilakukan sama kakek ini tuh adalah suatu perbuatan yang menginspirasi banyak orang. Bagaimana kakek itu bekerja keras tanpa kenal lelah dan tidak bermalas-malasan. Banyak loh orang di luar sana, masih muda tapi sudah bermalas-malasan. Seharusnya apa yang dilakukan kakek ini menjadi cambuk buat mereka agar tetap terus berusaha dan gak gampang nyerah. "


"Oke! Nanti aku sisipin nilai moralnya. Masih jauh gak?" aku sudah menghabiskan pisang goreng yang diberikan oleh Bima. Kubuka dasboard dan ada minuman juga yang sudah Ia sediakan untukku, susu Milo kemasan kotak yang siap aku minum. Bima tahu apa kesukaanku. Biasanya Ia sudah menyediakan sebelum kami mulai syuting.


"Udah deket kok. Tuh tinggal satu kali belokan aja kita udah nyampe." benar yang Bima katakan, kakek itu sedang duduk sambil meratapi dagangannya yang masih banyak di depan pagar rumah orang. Ia duduk sambil memeluk kedua lututnya dan menatap dengan sedih dagangannya yang masih banyak.


Bima lalu mulai bekerja dengan menyiapkan kamera milikku yang sering Ia pakai untuk bekerja. Sebelum turun, Bima menyuruhku untuk berbicara dahulu di mobil.


"Selamat malam Cantik! Hari ini kalian tahu enggak Lara tuh mau ke mana? Lara kasih tau ya, jadi Lara tuh mau mengunjungi salah seorang yang akan membuat kita terinspirasi oleh kegigihannya dalam mencari rezeki. Di usianya yang tak lagi muda, kakek ini masih semangat untuk mencari uang demi menafkahi keluarganya. Sementara di luar sana, banyak orang yang bermalasan dan tak mau bekerja namun ingin punya uang banyak. Kakek ini akan memberikan kita pelajaran bahwa dalam hidup tak boleh yang namanya menyerah. Mau tahu seperti apa kisahnya? Ikutin Lara terus ya Cantik!"


Aku dan Bima lalu turun. Kakek itu mengenali Bima yang baru saja semalam memborong dagangannya. "Eh ada Mas yang kemarin. Mau beli lagi Mas?" tanya kakek itu dengan mata berbinar-binar.


Kakek tersebut berfikir kalau Bima akan memborong lagi dagangannya seperti kemarin. Namun, Ia harus menelan kekecewaan karena ternyata Bima nggak mau setiap hari membeli pisang. Buat apa? Bima nggak jualan, sementara stok pisang di rumahnya masih banyak. Bisa mabok pisang jadinya!


"Maaf Kek, saya nggak ada niat untuk beli pisang seperti kemarin karena kemarin juga masih ada di rumah. Tapi saya ke sini mau mewawancarai kakek. Tapi Kakek nggak usah khawatir, meskipun saya nggak membeli pisang dari kakek tapi saya akan memberikan kakek uang ganti rugi karena sudah menyita waktu Kakek sebentar. Boleh Kek?" ujar Bima.


****