Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Di Kamarku


Lara


Aku dan Ditya menahan tawa kami dan saat masuk ke dalam kamarku, kami berdua tertawa sepuasnya.


"Kamu lihat kan bagaimana Anggi sampai mangap gitu? Aku jadi inget kuda nil ha....ha....ha...." aku masih menertawakan dua pasangan rese itu.


"Iya ha....ha...ha... Mirip... mirip. Wajahnya Arya juga. Tadi sok ngajarin aku eh sekarang malah kemakan omongannya sendiri!" Ditya tertawa dengan puas.


"Ah... Aku puas sekali! Mereka tuh memang rese banget!" Aku lalu menghampiri kulkas kecil yang aku beli dari hasil endorse. Lumayan untuk menyimpan stok makananku. "Kamu mau minum apa? Aku punya jus, teh kemasan dan susu uht tapi rasa pisang."


"Rasa pisang?" tanya Ditya sambil mengernyitkan keningnya. Hilang sudah tawa di wajahnya.


Aku mengangguk. "Iya. Aku sekarang suka banget susu rasa pisang. Awalnya aku suka rasa cokelat tapi pas aku coba rasa pisang kok enak yaudah aku beli aja yang banyak." jawabku dengan jujur.


"Oh... gitu. Aku mau teh aja deh." ujar Ditya.


Kuambilkan teh kemasan dan memberikannya pada Ditya. "Mau cemilan juga enggak? Aku punya cemilan. Hasil endorse sih, tapi masih lama expirednya kok." kutunjukkan aneka toples yang berada di atas lemari kecil. "Pilih aja mau yang mana!"


"Nanti aja. Banyak cemilan kamu. Suka ngemil juga?" Ditya berjalan menuju foto yang aku pajang dalam figura kecil. Foto masa kanak-kanakku dan sekolah. Sementara figura besar adalah foto diriku sekarang. Sudah cantik dan terlihat berbeda sekali.


"Ya kadang-kadang kalau malas makan aku ngemil sih. Lumayan loh ini semua dari endorse, nyobainnya paling 2 atau 3 buah eh sisanya banyak."


Ditya mengangkat sebuah figura berisi fotoku dan Mama saat berada di Pantai Ancol. Aku mengenakan celana kodok dan rambut Mama tergerai dengan indah.


"Ini siapa?" tanya Ditya.


"Mamaku."


"Mama kamu masih ada?" tanya Ditya lagi. Rupanya Ia tertarik dengan kisah hidupku. Pasti Ia sudah bisa menduga kalau Tante Sofie bukanlah Mama kandungku.


"Ada." aku menunjuk ke atas. "Di surga."


"Im so sorry!" sesal Ditya.


"It's ok. Mama aku cantik ya? Beda sama aku." aku dan Ditya sama-sama menatap wajah Mamaku di foto. Mama mengenakan dress polkadot yang sudah aku modif sekarang. Terlihat modis sekali.


"Kata siapa? Sama kok cantiknya! Aku penasaran kamu mirip siapa. Ternyata kamu memang mirip sekali dengan Mama kamu!"


"Ah masa sih? Kok apa yang kamu katakan sama persis dengan yang Papa aku katakan sih? Aku pikir Papa cuma baik-baikkin aku aja."


"Enggaklah. Aku jujur. Papa kamu juga pasti jujur. Memang kamu secantik Mama kamu kok." Ditya menaruh figura yang dipegangnya ke tempat semula. "Kamu beruntung masih bisa melihat Mama kamu."


"Kamu ternyata jago ngegombal ya? Aku pikir kamu tuh orangnya cool, pendiam dan enggak suka menebar kata-kata eh ternyata jago banget bikin hati orang melayang." Aku mengambil figura lain dan menunjukkan pada Ditya. "Di foto ini terlihat Mama begitu menyayangiku. Ya, kamu benar. Aku beruntung sekali memiliki Mama yang dan bisa melihatnya meski Mama hanya menemaniku sampai aku dewasa. Kalau boleh serakah, aku mau Mama menemaniku sampai aku punya anak dan anak-anakku tumbuh besar. Aku mau lebih banyak waktu untuk menyayangi Mama."


Ditya kembali tersenyum. "Itu sebenarnya keinginan semua anak di dunia, tapi enggak semua yang kita mau bisa dikabulkan bukan?"


"Ya setidaknya Mama kamu nanti bisa melihat kamu menikah dan punya anak." aku membesarkan hati Ditya yang terlihat sedih. Senyum di wajahnya menghilang sudah. "Pasti kamu lagi mikirin anak-anak di Panti Asuhan Kak Nisa bukan?"


"Hmm... Iya. Kamu kok tahu?"


Senyum Ditya sudah kembali lagi. "Ayo. Aku juga suka berada di sana. Sudah seperti berada di rumah."


Obrolan kami terhenti saat ada suara ketukan di pintu. Aku membuka pintu dan mendapati Papa berada di depan kamarku.


"Mereka lagi berduaan, Pa. Memang sih mereka mau menikah, tapi bukankah tidak pantas melakukan hal yang dilakukan sebelum menikah?" Anggi ternyata sedang mengadu pada Papa.


"Ada apa ya?" tanyaku tanpa rasa bersalah. Anggi mempermasalahkan hubungan sebelum menikah, serasa dirinya suci saja! Kami sama-sama sudah berbuat dosa sebelum menikah. Sok suci!


"Kamu sedang apa Ra sama Ditya?" tanya Papa.


Aku membuka pintu lebih lebar lagi dan menunjukkan isi kamarku. Ditya sedang melihat figura foto. "Lagi ngobrol sama Ditya. Habisnya kami ngobrol di kolam renang digangguin sama Arya dan Anggi. Yaudah ngobrol di kamar Lara aja deh."


Ditya menghampiri Papa Handaka. "Maaf ya Om, kami lagi asyik lihat-lihat foto Lara waktu kecil. Menggemaskan."


"Oh iya, silahkan dilanjutkan! Lara, nanti pintu kamarnya jangan dikunci ya! Dibuka saja. Biar tidak terjadi fitnah!" pesan Papa.


"Iya, Pa."


Papa pun kembali ke ruang kerjanya. Rupanya masih membicarakan rencana pernikahanku dan Ditya yang belum selesai.


Anggi menatapku dengan kesal. Niatnya memang jahat, makanya tidak direstui.


"Ngapain masih di depan kamar gue? Pergi sana! Kepo banget jadi orang!" kataku dengan ketus.


Dengan menghentakkan kakinya, Anggi pergi meninggalkan kamarku. Arya bak peliharaan setia yang mengikuti kemanapun Anggi pergi, selalu mengikuti.


"Maaf ya Dit. Anggi memang suka kayak gitu. Curiga terus sama aku!" aku meneguk minuman milikku untuk menenangkan diri. Emosiku suka membuncah kalau sudah berhadapan dengan dua pasangan menyebalkan itu lagi!


"It's oke. Kalau Papa kamu tahu kita udah... menghabiskan malam bersama bagaimana?" tanya Ditya.


"Enggak akan ada tahu kalau kita tidak memberitahunya. Hanya kita berdua yang tahu apa yang sudah terjadi." secara tak langsung aku meminta Ditya untuk merahasiakan semua yang sudah terjadi.


"Baiklah. Aku akan menyembunyikannya. Toh, kita akan segera menikah. Aku tahu kalau aku adalah yang pertama buat kamu, itu saja sudah cukup. "


Untuk mencairkan kembali suasana, Ditya bertanya tentang koleksi buku yang ada di dalam perpustakaan mini milikku. Ya.... aku memang suka membaca. Makanya otakku agak encer. Pengetahuanku lumayan banyak karena rajin membaca tentang ensiklopedia dan juga aku hobi membaca cerita-cerita tentang biografi orang lain yang akan menginspirasi aku tentunya.


"Banyak sekali buku-buku yang kamu baca?! Aku nggak nyangka loh, kamu suka membaca buku tentang tokoh berpengaruh di dunia. Contohnya Ini," Ditya mengangkat sebuah buku berjudul Mahatma Gandhi. "Aku juga suka kisah perjuangan seorang Mahatma Gandhi. Salah satu orang berpengaruh di India . Ternyata, bacaan kita banyak yang sama juga ya. Lalu ini," Ditya menunjuk sebuah buku yang sudah selesai aku baca tentunya.


"Buku tentang Bapak Presiden Habibie. Kamu juga suka buku seperti ini?" Ditya tak menyangka selera buku bacaanku seperti ini. "Biasanya cewek suka baca novel loh. Bukan buku biografi gitu."


"Mungkin aku cewek yang berbeda? Aku suka kedua buku yang kamu bilang karena menginspirasi. Bagaimana orang-orang hebat itu berjuang dengan caranya masing-masing. Bagaimana pola pikir mereka. Aku suka hal kayak gitu." aku mengambil sebuah novel dan menunjukkannya pada Ditya. "Ini salah satu novel kesukaanku. Aku suka baca novel juga tapi online."


Kami pun mulai mendiskusikan buku apa saja yang pernah kami baca. Asyik sendiri dengan percakapan kami sampai kedua orang tua Ditya mengajak Ditya pulang


****