Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Foto Kenangan


Lara


Setelah Ditya berangkat kerja, aku dan Bima pergi ke rumah Papa yang tak lagi milik Papa melainkan dikuasai oleh Tante Sofie. Aku mengambil barang-barang milikku yang sebagian sudah aku pilihkan untuk dibawa ke panti asuhan. Untuk barang-barang yang masih aku pakai sudah aku angkut ke apartemennya Ditya.


Tatapan sinis dari Tante Sofie dan Anggi seakan terus mengawasi apa yang aku lakukan. Takut aku mengambil apa yang bukan hakku. Aku nggak peduli mereka mau berbuat apa. Aku lalu masuk kamar Papa dan terus diikuti oleh Tante Sofie.


"Mau apa kamu ke kamar saya?" tanya Tante Sofie dengan nada tinggi.


"Cih! Kamar Tante? Nggak salah?! Kamar itu dulu kamar Papa dan Mamaku. Meskipun sekarang rumah ini sudah atas nama Tante dan Anggi, aku pasti akan akan merebut kembali rumah ini dari tangan kalian! Dan satu lagi, aku masuk ke kamar Papa bukan untuk mencuri seperti yang kalian lakukan. Aku hanya ingin menyimpan foto Papa sebagai kenang-kenangan!" balasku tanpa kenal takut.


Bima pasti menyadarinya. Saat ini bukan Lara si lemah yang sedang menantang Tante Sofie, melainkan sebagian diri Agni yang pemberani yang kini menguasaiku.


Biarlah, aku memang membutuhkan keberanian miliknya dalam menghadapi segala masalah hidupku. Lara Handaka si penakut biar menjadi penonton saja!


"Percuma kamu cari di dalam kamar saya! Semua foto Papa kamu sudah saya taruh di gudang!" Kata Tante Sofie sambil tersenyum jahat.


Aku tak menyangka, belum genap 40 hari Papa meninggal Tante Sofie sudah menyingkirkan semua foto Papa ke dalam gudang. Apalagi nanti?


Papa sudah salah mencari istri! Istri pilihan Papa bukannya menyayangi Papa dan menangisi kepergiannya melainkan malah membuka lembaran baru dengan membuang semua kenangan dan menguasai harta milik Papa.


Aku pun berbalik badan. Enggak ada gunanya berlama-lama di rumah ini dan berdebat dengan monster salon ini. Aku harus secepatnya pergi dari rumah yang kini sudah tak lagi membuatku nyaman dan terlindungi. Rumah ini bukan lagi rumah untukku, melainkan neraka.


"Kenapa dia, Ma? Nyariin foto Papanya? Kasihan deh! Orang udah mati buang aja fotonya ke gudang! Ngapain juga masih dicari-cari?!" Anggi berkata menyakiti hatiku.


Papa dulu bertindak adil sebagai orang tua, menyayangi Anggi yang bukan anaknya sendiri. Bahkan sampai membelikan saham miliknya pada Anggi dan Tante Sofie.


Kini apa yang Papa dapat? Mereka bahkan berniat jahat pada Papa dan ingin menguasai seluruh hartanya. Sayang aku tak punya bukti untuk menjerumuskan mereka. Aku berjanji suatu hari nanti aku akan membuka semua kejahatan mereka dan menjebloskan mereka ke penjara!


Aku lalu pergi ke gudang yang sudah lama tidak aku masuki. Gudang ini berukuran lumayan luas, menyimpan banyak barang-barang masa aku kecil. Rupanya, foto Mamaku juga tersimpan di sini. Aku mengambil dua bingkai foto Mama dan dua bingkai foto Papa.


Saat aku hendak pergi sambil membawa bingkai foto kedua orang tuaku, selembar foto tiba-tiba terjatuh. Foto wanita cantik dengan gaun putih bermotif bunga-bunga.


Aku terus memperhatikan foto miliknya. Kenapa aku merasa kalau aku pernah melihat wajah ini sebelumnya? Aku merasa, wajah ini tidak asing untukku.


"Ra, masih lama?" tanya Bima dari luar gudang.


Aku harus bergegas. Aku tak boleh kesorean pulang ke rumah. Aku tak mau Ditya marah padaku padahal aku sudah berjanji akan menjaga kepercayaannya tadi pagi.


Aku pun mengambil foto Tante Sofie, akan aku ingat-ingat dimana aku pernah melihat wajah ini. Aku mengenal Tante Sofie setelah Tante Sofie memiliki Anggi, sedangkan foto ini adalah foto lama. Nanti saja aku ingat-ingat dahulu.


Aku lalu keluar dari gudang dan menghampiri Bima. "Ayo kita berangkat sekarang!" ajakku.


Aku dan Bima pun pergi dengan tatapan mata dari Tante Sofie dan Anggi yang terus mengawasiku. Mereka sangat takut aku mengambil sesuatu dari ruma ini. Tenang saja, aku tak butuh! Kalian bisa ambil semuanya sekarang. Aku pastikan kalau kalian akan membayar semua yang kalian ambil dari Papa!


Mobil Bima penuh dengan barang-barang yang dibawa untuk Panti Asuhan. Ada buku bacaan, beraneka baju, tas milikku yang masih bagus dan juga beraneka hadiah dari followers yang aku terima. Semuanya masih bagus dan malah ada yang masih baru.


"Aku yakin Ra, ibu dan adik tiri kamu punya andil dalam kematian Papa kamu." Bima yang tidak begitu mengenal keluargaku saja bisa menyimpulkan seperti itu. Apalagi aku yang sudah mengenal watak ibu dan adik tiriku tersebut?


"Aku juga berpikir demikian, Bim. Sayang aku nggak punya cukup bukti untuk melaporkan mereka ke kantor polisi. Mereka melakukannya dengan halus dan sembunyi-sembunyi. Tanpa aku tahu, surat sertifikat tanah rumah Papa sudah di balik nama atas nama mereka. Untung saja, Papa sudah membuat surat wasiat yang menyatakan kalau saham perusahaan Papa 50% diberikan padaku. Jika tidak, pasti mereka akan memanipulasinya juga. Sepertinya karena Papa memang sudah tahu rencana jahat mereka. Tidak biasanya Papa memintaku datang dan langsung membagikan saham perusahaan. Aku janji akan menyelidiki semuanya!"


"Aku setuju, Ra. Banyak hal yang menurutku janggal. Kematian Papa kamu contohnya. Kamu bilang Papa kamu sehat dan terakhir ketemu masih baik-baik saja, namun langsung kena serangan jantung. Lalu cara mereka yang langsung menyingkirkan foto-foto milik Papa kamu. Itu sudah membuktikan kalau mereka merasa dihantui rasa bersalah. Aku akan membantu kamu mencari tahu semuanya. Bisa kamu kasih aku akses CCTV rumah kamu? Biar aku periksa nanti kejadian saat Papa kamu jatuh sakit bagaimana."


Benar juga. CCTV rumah. Yang tahu passwordnya hanya aku dan Papa. Karena passwordnya adalah tanggal kematian Papa. Aku harus hafal kata Papa. Agar aku selalu mengingat dan mendoakan Mama.


"Akan aku berikan sama kamu nanti, Bim. Semoga saja belum Tante Sofie hancurkan. Aku benar-benar perlu barang bukti. Bodohnya aku Bim. Aku malah jarang ke rumah Papa. Seharusnya saat Papa membagikan saham, disitu aku harus mulai curiga. Aku harus mengawasi Papa lebih ketat lagi. Tapi aku malah sibuk dengan mimpi dan dua kepribadian aneh milikku." kataku penuh penyesalan.


"Sudahlah, Ra. Yang sudah terjadi sudah takdir Yang Maha Kuasa. Sekarang mumpung di Panti, kamu bisa cari tahu tentang Agni lebih banyak lagi. Oh iya, mimpi kamu tentang cincin juga harus kamu buktikan juga."


"Iya, Bim. Aku akan mencari tahu semuanya. Aku tak mau berkutat terus dengan keanehan ini. Aku mau fokus dengan mengusut kematian Papa dan rencana jahat dua iblis itu."


****