Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Rumah Keluarga Kusuma


Lara


Aku menyalakan musik di radio mobil Ditya. Memilih salah satu stasiun radio yang biasa memutar lagu kesukaanku. Sebuah lagu mengalun, mengantar kami yang akan menuju ke rumah mertuaku.


Kami pun tiba di sebuah rumah besar nan megah. Tak kalah mewah dibanding rumah Papa namun tetap saja Papa Handaka juaranya.


Ditya memarkirkan mobilnya di parkiran mobil rumahnya yang luas. Tak banyak mobil yang ada di parkiran, tidak seperti di rumahku, yang setiap orang masing-masing punya sebuah mobil.


Apa karena penghuni rumah ini yang memang bertiga saja dengan kedua orang tuanya?


"Ayo Sayang!" Ditya sudah membukakan pintu untukku. Aku pun keluar dari dalam mobil dan mengikuti langkahnya menuju dalam rumah.


Mama Kusuma sudah menyambut kedatanganku dengan senyum ramah dan lembut. "Wah ada anak menantu. Selamat datang Sayang di rumah Mama."


Mama Kusuma lalu memelukku dengan hangat dan penuh kasih. Aku suka berada di keluarga yang penuh kasih seperti ini. Berbeda sekali dengan saat berada di rumah. Panas dan emosian terus bawaannya.


"Papa mana, Ma?" tanya Ditya yang datang lalu mencium tangan Mamanya.


"Papa pergi memancing sama temannya." Mama Kusuma memberikan tangannya seraya mengusap rambut Ditya dengan penuh kasih. Terlihat sekali betapa Ia amat menyayangi Ditya.


"Kalian berdua makan siang disini ya? Mama akan masak yang enak buat menyambut kedatangan Lara!" kata Mama Kusuma dengan penuh semangat.


"Lara boleh ikut bantu enggak, Ma?" tanyaku seraya berusaha mendekatkan diri.


"Tentu dong! Ayo kita ke dapur!" ajak Mama Kusuma. "Mama pinjam dulu ya istri kamu, Dit. Nanti Mama balikkin lagi!"


"Jangan sampai lecet ya, Ma. Baru sehari soalnya jadi istri." balas Ditya sambil tertawa-tawa. "Ditya di kamar, Ma. Ngantuk!"


"Cie... Ngantuk habis mesra-mesraan ya kalian? Beda deh kalau pengantin baru! Yaudah ayo Lara kita mulai memasak!"


Aku pun mengikuti Mama ke dapur. Aku membantu Mama membersihkan sayuran dan memotong-motongnya, Mama yang mengeksekusi.


"Lara, mohon maaf nih Mama mau nanya. Ibu Sofie apakah Mama kandungnya Lara?" tanya Mama terus terang.


"Enggak apa-apa, Ma. Santai aja. Keliatan banget ya Ma kalau aku bukan anak kandungnya Tante Sofie?" jawabku sambil tersenyum. Aku tak pernah menyembunyikan fakta kalau Tante Sofie bukan Mamaku. Biar saja seisi dunia tau. Toh aku tak pernah mau memiliki Mama seperti Tante Sofie.


"Oh... Jadi benar ya kecurigaan Mama. Pantas saja terlihat agak acuh tentang resepsi kamu. Kalau Anggi anak kandungnya bukan?" tanya Mama Kusuma lagi.


"Iya, Ma. Anggi anak kandung Tante Sofie yang dibawa saat menikah dengan Papa. Anak kandung Papa ya cuma Lara seorang." jawabku jujur.


"Sekarang Mama ngerti deh kenapa Ibu Sofie terlihat lebih mengutamakan pernikahan Anggi dibanding kamu. Maaf ya Mama bukan mau tahu urusan keluarga kamu. Hanya meluruskan kecurigaan Mama saja." Mama Kusuma jadi tak enak hati sendiri.


"Enggak apa-apa, Ma. Hal ini enggak pernah Lara sembunyikan dari siapapun. Apalagi sekarang Mama Kusuma udah jadi Mama Lara. Iya kan?"


Mama Kusuma tersenyum. "Mama bisa lihat dari pertama bertemu. Kamu memang anak yang baik. Pantas Ditya begitu menyukai kamu."


Kami pun memasak bersama sambil bercerita-cerita tentang kehidupanku dan sedikit kehidupan Ditya. Mama Kusuma hanya menceritakan masa kuliah dan Ditya saat sudah dewasa. Serasa ceritanya di skip. Aku tak berani menanyakannya.


Seakan kecurigaanku yang pertama tentang ketidakmiripan wajah mereka bukannya menghilang tapi malah bertambah lagi dengan kecurigaan lainnya. Apa memang benar Ditya bukan anak kandung keluarga Kusuma?


Aku tak berlama-lama memikirkannya. Aku dan Mama sibuk menyajikan hasil masakan kami di meja makan. Mama menyuruhku memanggil Ditya, biar sisanya Mama dan pembantu di rumah mereka yang lanjutkan.


Aku pun menaiki anak tangga yang berbentuk melingkar ke lantai atas. Ternyata di atas juga sama luasnya dengan lantai bawah. Namun karena hanya Ditya yang tidur di lantai atas jadi kesannya kosong. Kamar tamu pasti hanya digunakan kalau ada tamu saja.


Inilah alasanku tak mau punya rumah besar. Setidaknya aku dan Anggi tidur di lantai atas dan sering bertengkar makanya ada suasana ramai. Kenapa rumah ini begitu sunyi ya?


Aku pun mengetuk pelan pintu kamar paling besar sesuai petunjuk Mama. Tak ada suara, aku lalu membuka pintu dan masuk ke dalam.


Nampak Ditya sedang tertidur pulas di ranjang besar miliknya. Baru sekali ini aku masuk ke kamarnya. Kamarnya berdesign minimalis khas anak laki-laki pada umumnya.


Kamar yang rapi dan semua barang tersusun dengan beraturan. Mencerminkan Ditya banget.


Aku tak langsung membangunkan Ditya melainkan melihat-lihat isi kamarnya. Koleksi buku bacaannya berat-berat. Terlihat sekali kalau suamiku tipikal pembaca buku berkualitas dan yang butuh mikir.


Beberapa buku mirip dengan yang kumiliki. Biografi beberapa tokoh penting. Buku tentang manajemen perusahaan dan yang berkaitan dengan memimpin perusahaan. Pantas Ia menjadi pemimpin yang hebat, Ia mau belajar keras rupanya.


Aku lalu beralih ke koleksi foto milik Ditya. Nampak foto wisuda Ditya diapit dengan kedua orang tuanya. Ditya tersenyum lebar ke kamera dan orang tuanya tersenyum penuh kebanggaan.


Aku jadi iri. Di fotoku hanya ada aku dan Papa saja. Tak ada Mama yang menemani.


Sama sepertiku, Ditya juga ada beberapa figura foto yang ditaruh di lemari kayu 4 sekat miliknya.


Kuperhatikan foto-foto yang ada. Foto bersama Kak Nisa saat berada di panti. Kak Nisa tersenyum lebar dan terlihat sangat menyayangi Ditya. Mereka sudah lama saling mengenal rupanya, pantas waktu di Panti mereka sangat akrab.


Ditya juga berfoto dengan adik-adik di Panti. Terlihat betapa Ia sangat menyayangi adik-adik itu. Ada Bunga dan seorang cewek yang kemarin tak ada di Panti.


Lalu ada foto Ditya saat remaja. Rambutnya masih berponi samping. Wajahnya masih kurus dan belum berotot seperti sekarang. Lagi-lagi Ia berfoto dengan seorang cewek. Pacarnya kah?


Enggak. Ditya bilang akulah wanita pertama yang Ia cium. Masa sih Ditya bohong?


Lalu siapa cewek ini? Wajahnya biasa saja. Natural. Kalau make up bisa saja berubah jadi sangat cantik.


Aku merasa sangat mengenal cewek ini. Tapi siapa?


Apa cewek ini adalah sahabat yang Ditya sering Ia ceritakan?


"Kamu kok enggak bangunkan aku sih?" aku terkejut saat mendengar suara Ditya. Hampir saja figura yang kupegang terjatuh.


Cepat-cepat kukembalikan figura tersebut pada tempatnya dan berbalik badan. Sebuah senyum kupasang.


"Kamu ngantuk sekali soalnya. Aku melihat-lihat kamar kamu dulu deh. Capek sekali ya?" aku menghampiri Ditya dan duduk di samping tempat tidur.


"Iya. Lebih capek daripada memimpin rapat seharian penuh." Ditya membuka kedua tangannya. Aku pun menghambur dalam pelukan hangatnya.


"Aku bau asap loh. Habis masak di dapur." kataku.


"Tak masalah aku suka."


****