Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Bima Sahabat Terbaikku


Lara


"Pasti kamu nggak serius kan, Ra? Pasti kamu bercanda kan? Nggak mungkin, Ra. Enggak mungkin kamu mau bunuh diri dan enggak mungkin Agni yang nyelamatin kamu! Dunia ini enggak sesempit itu! Pasti kamu lagi ngarang cerita kan? Pasti kamu lagi berakting kan? Kamu mau casting di mana sih? Akting kamu tuh natural banget!" rupanya sejak tadi aku bercerita Bima sama sekali tidak mempercayai apa yang aku ceritakan.


"Kamu nggak percaya sama apa yang aku katakan, Bim? Sejujurnya, aku nggak boleh cerita ini sama Papa aku. Ini rahasia keluarga kami. Aku hanya menceritakannya sama kamu. Kenapa? Karena kamu adalah sahabat aku! Ini adalah aib buatku. Ini adalah kegagalan terbesar dalam hidupku, Bim. Aku menyesali perbuatanku. Namun, aku nggak bisa kembali ke masa lalu. Segalanya sudah terlanjur terjadi. Aku menyesal. Kalau bukan karena aku yang nekat bunuh diri, mungkin Agni masih hidup sampai saat ini!" aku tak kuat dan akhirnya meneteskan air mata, aku menangis dengan terisak.


Bima terdiam. Ia mengambil tisu dan mengulurkannya padaku. "Sejujurnya, aku sulit untuk mempercayainya, Ra. Tapi aku tahu, kamu jujur. Hal ini makin membuat aku nggak mau mempercayainya. Bagaimana mungkin, kamu yang selama ini aku kenal baik, penyabar dan suka membelaku bahkan nggak bisa membela diri kamu sendiri? Bahkan kamu kalah dan akhirnya memutuskan mengakhiri hidup kamu sendiri?! Aku yang marah! Aku marah pada diriku sendiri. Dimana aku saat itu? Andai kita bertemu sebelum kamu berbuat nekat, aku akan menjadi orang pertama yang akan melarang kamu! Aku juga yang akan menyelamatkan kamu, bukan Agni! Aku yang akan terjun dari jembatan itu dan aku juga mungkin yang akan mati!" kata Bima dengan berapi-api.


"Enggak! Aku enggak mau kamu mati karena aku Bim... Aku enggak mau huaaa...." tangisku semakin kencang saja.


Bima mendekat dan memelukku. "Maafin aku, Ra. Maaf karena aku telat bertemu dengan kamu!"


Ya Allah Bima... Kenapa kamu sebaik ini sama aku? Aku pikir, kamu akan memarahiku atas apa yang sudah aku lakukan pada Agni. Namun ternyata tidak, kamu malah menyalahkan diri kamu sendiri. Betapa beruntungnya aku memiliki sahabat seperti kamu Bim!


Bima lalu melepaskan pelukannya padaku. Ia menghapus air mata di wajahku dan berusaha menenangkanku. "Aku percaya sama cerita kamu. Aku yakin, bukan kamu yang membunuh Agni. Kamu nggak pernah berbuat sejahat itu, Ra. Aku kenal kamu! Sekarang, kamu tenangkan diri kamu. Kita pikirkan apa yang harus kamu perbuat selanjutnya."


Aku menurut apa yang Bima katakan. Iya benar, aku harus berpikir tenang dan jernih untuk memutuskan langkah ke depan yang harus aku ambil.


"Semua udah terjadi, Ra. Kalau kamu ingin menebus rasa bersalah kamu, sebaiknya kamu jadi donatur tetap di Panti Asuhan tempat Agni dibesarkan. Karena, yang aku lihat Agni sebelumnya adalah donatur di sana. Mereka pasti membutuhkan sumbangan dana dari kamu karena sudah kehilangan donatur mereka." saran Bima.


"Bukankah tadi kamu yang menyarankan aku untuk lapor polisi, Bim?" tanyaku.


"Mm... Itu... Aku berubah pikiran, Ra. Aku asal bicara saja. Aku enggak mau kalau sampai satu dunia menghujat kamu. Kamu enggak akan kuat, Ra. Aku enggak mau kamu down lagi!"


Betapa baiknya Bima padaku. Ia tak mau aku lebih tersakiti lagi nantinya. Aku sangat beruntung memiliki sahabat sebaik Bima.


"Sejujurnya bukan itu saja yang aku takutkan, Bim."


"Apa lagi? Masalah mimpi? Mungkin itu karena kamu merasa sangat bersalah pada Agni makanya kamu memimpikan Agni."


Aku menggelengkan kepalaku. "Bukan itu, Bim. Ini bukan karena merasa bersalah."


"Lalu?"


"Kamu yang bilang sendiri, aku memiliki dua kepribadian yang berbeda. Aku seperti ini setelah aku bunuh diri, Bim."


Bima lagi-lagi berusaha menenangkanku. "Bukan karena kamu memang mau hidup lebih berani lagi, Ra?"


"Bukan. Ada yang lebih aneh lagi. Kamu tau hari pertama kita bertemu? Aku baru dibelikan mobil sama Papa dan aku selama ini tak pernah belajar mengemudi. Sama sekali. Anehnya, sehabis menantang Tante Sofie dan Anggi aku langsung bisa menyetir. Lancar tanpa perlu belajar."


Aku mengangguk yakin. "Aku sangat yakin, Bim. Kamu pikir aku bisa make up darimana? Lara si lugu ini mana bisa, Bim? Lalu membuat aksesoris, berbicara lancar di depan kamera dan berakting. Aku enggak bisa semua itu, Bim. Seakan.... seakan Agni sedang mengambil alih tubuhku!" kataku sambil bergidik ngeri.


Bima mengernyitkan keningnya. "Jujur aja, kalau masalah kemampuan akting kamu di depan kamera aku sejak awal meragu. Kamu sangat jago seperti sudah sangat terbiasa."


Aku membuka sosial media milik Agni. Mencari sebuah aksesoris yang Ia buat dan menunjukkannya pada Bima. "Lihat ini, Bim. Hanya beda motif namun modelnya sama. Aku enggak bisa membuat aksesoris, Bim. Mama hanya mengajarkan menjahit baju secara sederhana. Bukan membuat aksesoris kayak gini!"


Bima memperhatikan foto yang aku tunjukkan. Dia kembali terdiam dan terlihat sedang berpikir keras. "Kamu benar, Ra. Terlalu banyak kejanggalannya. Aku juga akan menganggap kalau setengah diri kamu adalah Agni. Tapi apakah itu mungkin Ra? Apa yang menyebabkan kalian bisa seperti itu? Apakah karena masalah hutang Budi? Rasanya tuh aneh! Kalau hanya hutang Budi, kamu bisa bayar dengan kamu menjadi donatur! Dan kamu bisa kembali menjadi diri kamu yang sebenarnya."


Benar juga yang Bima katakan. Aku mungkin harus membayar hutang budiku. Caranya ya dengan menjadi donatur di Panti Asuhan. Dengan demikian aku bisa menjadi Lara sepenuhnya dan sebagian diri Agni bisa pergi dari diriku. Tapi, apa aku siap? Apa aku bisa menghadapi orang jahat di sekitarku tanpa setengah diri Agni dalam diriku?


Aku yang sedang berpikir kaget saat mendapati Hp milikku berdering. "Ditya?"


Ya ampun! Aku keasyikan berbicara dengan Bima sampai lupa pulang! Lara bodoh!


"Iya, Sayang." jawabku.


"Kamu masih di rumah Bima?" tanya Ditya tanpa basa-basi.


"Iya. Maaf. Aku sedang ada urusan penting. Aku pulang sekarang!" kataku tak enak hati.


"Keluarlah! Aku di depan rumah Bima sekarang!" kata Ditya yang langsung menutup sambungan teleponnya.


Hah? Ditya di depan rumah Bima?


"Kenapa, Ra?" tanya Bima.


"Ditya. Dia ada di depan rumah kamu! Mati aku, Bim! Pasti Ditya marah besar sama aku! Aku belum pulang dan tak mengabarinya sama sekali! Aku pulang dulu, Bim! Kita bicarakan lagi besok!" kuambil tas milikku dan segera turun.


"Aku antar, Ra!" kata Bima yang mengikuti langkahku dari belakang.


Aku menuruni anak tangga dan mendapati mobil Ditya yang terparkir di depan rumah. Ia membuka kaca mobil dan terlihat amat marah.


Huft...


****