
Ditya menunggu jawabanku, tapi aku malah terharu dan meneteskan air mataku. Kenapa aku selama berada di Panti ini jadi cengeng dan mudah mengeluarkan air mata ya?
"Please... Terima cintaku!" pinta Ditya dengan sorot mata penuh harap.
Aku menghapus air mataku dan mengangguk penuh keyakinan. "Ya. Aku terima kamu!" kataku dengan suara bergetar.
Ditya tersenyum lega lalu berdiri. Ia memakaikan cincin yang sangat indah itu di jari manisku. "Cantik sekali!"
"Iya. Cincin yang cantik."
"Bukan. Kamu yang cantik." pujian Ditya membuatku menunduk malu. Jangan ditanya, pasti wajahku sudah memerah.
"Ah... Aku malu! Aku tuh cuma Si Cupu Lara." kataku dengan rendah diri. Rasanya tak pantas memujiku cantik.
Ditya memegang daguku dan mengangkat wajahku. Mata kami saling bertemu. "Kamu cantik. Mau berdandan cupu atau modis kayak sekarang tetap saja kamu cantik. Aku sudah melihat kecantikan kamu sejak awal. Kamu cantik apa adanya."
Jantungku berdegup kencang. Jarak kami begitu dekat. Bahkan aku bisa melihat bulu halus di wajah Ditya karena belum bercukur. Lalu bibirnya yang seksi dan incaran para wanita. Bagaimana ya rasanya mencium bibir itu?
Tanpa sadar tanganku terangkat dan menyentuh wajah Ditya. "Kamu yang tampan."
Seakan ada listrik yang mengaliri tubuh kami, Ditya mengusap bibirku dan memajukan tubuhnya. Bibirnya mencium bibirku dengan lembut.
Ditya pasti tahu kalau ini adalah ciuman pertamaku. Aku tak bisa membalasnya. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku kan cupu!
Lalu Ditya mulai memberikan ciuman-ciuman kecil. Kututup mataku dan membiarkan naluriku yang bekerja. Aku pun mulai membalas ciumannya. Kami saling berpagut sampai...
"Ehem! Maaf mengganggu sebentar!"
Aku dan Ditya melepaskan pagutan kami. Wajah kami sama-sama memerah. Kami malu dan ah... rasanya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Aku menunduk dan tak membalas tatapan Kak Nisa. "Maaf ya kalau kedatanganku mengganggu kalian. Aku cuma mau mengajak kalian makan bareng bersama anak-anak. Mereka sudah menunggu kalian di ruang makan."
Ditya yang menjawab Kak Nisa. "Ah... Iya, Kak. Kami akan kesana!"
"Kak Nisa duluan ya!" pamit Kak Nisa. Aku hanya mengangguk tak sanggup berkata-kata.
Selepas Kak Nisa pergi aku dan Ditya sama-sama mengulum senyum. "Ayo kita ke dalam!" Ditya mengulurkan tangannya dan dengan senang hari aku menyambutnya. Cincin yang diberikan Ditya berkilau diantara pegangan tangan kami.
****
Ditya
Lara Handaka, cewek itu sudah merebut ciuman pertamaku. Entah mengapa aku terbuai oleh pesonanya dan menciumnya.
Harus kuakui, Lara memang cantik. Sejak pertama kali melihatnya, aku bisa melihat kecantikan miliknya yang tertutup oleh penampilannya yang terkesan cupu.
Aku terbiasa melihat seseorang dengan mata telanj*ng. Aku tahu mana yang asli dan palsu.
Meski Lara berdandan cupu, aku tahu ada kecantikan yang selama ini tersebunyi. Kini, image Lara sebagai selebgram hot membuatnya menampakkan sisi yang selama ini Ia sembunyikan.
Suasana mendukung. Halaman belakang Panti sepi karena anak-anak sibuk dengan acara di depan.
Awalnya aku hanya ingin mengangkat wajah Lara agar bisa menatap mata indahnya. Namun aku malah terbuai oleh wajahnya yang amat cantik.
Lalu saat tangannya menyentuh wajahku, kuyakin kalau Lara juga menginginkanku. Aku pun menciumnya, namun Ia tak membalasku. Apa ini juga ciuman pertamanya?
Aku bisa saja mengakhiri ini tapi aku merasa tak rela. Aku pun mulai mengajarinya caranya berciuman yang kulihat di film-film dan si pintar ini mulai membalasku.
Andai Kak Nisa tidak menghentikanku, aku pasti sudah menciumnya dengan penuh hasrat. Sudahlah! Nanti juga kami akan bisa berciuman lagi.
Aku menatap Lara yang ikut makan bersama anak-anak di Panti tanpa merasa risih sama sekali. Ia terlihat tulus dan bukan seperti anak orang kaya lain yang merasa gengsi dan menjaga jarak dengan adik-adikku disini.
Tadi juga kulihat Ia menitikkan air matanya saat menggendong bayi. Aku tahu air mata itu bukan karena akting semata. Air mata yang tulus ikut sedih.
Aku yakin hati Lara memang baik. Kemarin saja saat diterpa banyak fitnah Ia tak melaporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Ia malah bagi-bagi giveaway.
Lalu hari ini, Ia malah menyumbangkan banyak keperluan adik-adikku untuk sekolah. Mulia sekali hatinya.
Hal ini yang membuatku yakin untuk menikahinya. Aku... Telah jatuh hati pada Lara. Aku terpesona dengan semua pesona yang dimilikinya. Aku tak sabar untuk segera menikahinya.
Aku mengantar Lara pulang sampai ke rumahnya. Aku turun dari mobilku dan mengantar sampai depan pintu rumahnya. Rupanya kedatanganku disambut oleh Pak Handaka dan malah disuruh masuk ke dalam rumah. Aku tak enak menolaknya, jadi kuturuti saja permintaannya.
"Terima kasih Ditya, kamu sudah mengantar putri saya." ujar Pak Handaka dengan ramah dan sambil tersenyum.
"Maaf ya Pak, saya pulangin Lara kesorean. Tadi kami bantuin anak-anak di Panti dulu." kami memang tak langsung pulang, sehabis acara bazar kami harus membersihkan halaman dan merapihkan Panti menjadi seperti semula.
"Oh tidak apa-apa. Panggilnya Papa saja, jangan Pak. Sebentar lagi kamu kan akan menjadi menantu saya." ujar Pak Handaka dengan bangganya.
Pak Handaka tersenyum bahagia namun tidak istri dan anak tirinya. Mereka terkejut saat Pak handaka memberitahu kalau aku akan menjadi menantunya.
"Menantu? Maksudnya apa ya Pa?" tanya istrinya Pak Handaka.
"Jadi begini, Ma. Rencananya Papa dan Pak Kusuma akan menjodohkan Lara dengan Ditya. Kalau Anggi saja akan menikah dengan Arya, tentu Lara sebagai kakaknya Anggi harus lebih dulu. Agar kesannya Anggi tidak melangkahi Lara. Kebetulan, Pak Kusuma juga setuju. Jadi, nanti pernikahan Lara dengan Ditya akan dilangsungkan lebih dulu dibanding pernikahan Anggi dan Arya. " kata Pak Handaka.
"Tapi Anggi duluan Pa yang berencana menikah dengan Arya? Kenapa jadi Anggi yang mengalah?!" rupanya istrinya Pak Handaka tidak setuju dengan rencana pernikahan kami.
"Papa tahu, Ma. Cuma, kalau Anggi duluan yang menikah dibanding Lara orang-orang akan menggunjing. Apalagi, Anggi dan Lara adalah selebgram yang lumayan terkenal di masyarakat. Mereka pasti akan menggunjing Lara yang dilangkahi nikah oleh adiknya sendiri. Mama kayak nggak tahu aja, kebiasaan orang kita kan masih banyak yang seperti itu." Pak Handaka menjelaskan dengan sabar pada istrinya.
"Tetap saja Anggi harus mengalah. Kapan sih Pa, Papa akan membela Anggi dibanding Lara? Papa terlalu membeda-bedakan antara Anggi dan Lara. Apa salahnya sih kalau Anggi yang menikah duluan? Toh, Anggi dan Arya sudah lama berpacaran, tinggal menikah saja. Kalau mereka sampai berzina, apa Papa mau tanggung jawab?" rupanya ini yang menyebabkan Lara merasa kesepian di rumahnya sendiri. Sifat dan sikap ibu tirinya yang memaksakan kehendaknya pasti yang membuat Lara nggak betah dan merasa tertekan berada di rumahnya sendiri.
Pak Handaka melihatku dan merasa tak enak karena aku menyaksikan pertengkaran keluarganya di depan mataku langsung. "Maaf ya ya Nak Ditya, saya dengan istri saya belum merundingkan masalah ini. Saya yang mengambil keputusan sepihak, karena saya yakin kalau Nak Ditya adalah pasangan yang tepat untuk Lara."
Benarkah aku adalah pasangan yang tepat untuk Lara? Bagaimana kalau tidak?
****