
Lara
Aku mendatangi kamar Bima. Nampak Ia sedang mengedit video yang aku rekam dengan kamera Hp saat berada di kantor.
"Bim!"
"Hem." jawab Bima singkat sambil tetap fokus menatap layar komputernya.
"Seminggu lagi... Aku dan Ditya menikah!" aku harus memenuhi janjiku untuk memberitahu Bima pertama kali kalau sudah pasti.
Lamaran Ditya saat di panti memang sudah menyatakan kalau hubungan kami serius. Kedatangan orang tua Ditya membuat ikatan di antara kami semakin erat. Keputusan akan menikah seminggu lagi membuatku yakin kalau aku harus memberitahu Bima sekarang.
Bima terdiam. Tangannya yang sejak tadi sibuk dengan mouse dan keyboard kini seakan membeku dan diam di tempat. Berita yang kusampaikan rupanya membutuhkan waktu untuk diproses dahulu.
"Kamu... Lagi becanda kan?" Bima tak percaya dengan apa yang kukatakan.
"Aku serius, Bim. Keluarga Ditya sudah datang ke rumahku dan sudah diputuskan kalau seminggu lagi kami akan menikah."
"Kamu setuju?"
"Ya... Setujulah. Aku... sangat mencintai Ditya." jawabku dengan jujur.
Bima terdiam. Sedetik, semenit, lima menit. Aku terus menunggu namun...
"Baiklah kalau itu pilihan kamu. Pastikan kalau kamu akan bahagia!" Bima pun kembali fokus mengedit video.
Tak ada ucapan selamat. Tak ada senyum bahagia. Hanya kata-kata datar yang kutahu hanya basa-basi semata.
"Kamu marah?" aku akhirnya memberanikan diriku untuk bertanya.
Bima tetap menatap layar komputer. Ia mengangkat kedua bahunya. "Kenapa harus marah? Itu hidup kamu!" jawabnya dingin.
Aku tahu Ia marah. Aku tahu Ia tak menyukai keputusanku menikah dalam waktu secepat ini. Andai Bima tahu kalau aku dan Ditya bahkan sudah terlalu jauh melangkah. Pernikahan adalah jalan terbaik daripada kami terus berbuat dosa.
Suasana pun menjadi sunyi. Hanya suara mouse Bima dan kipas angin yang berputar.
Aku tak nyaman berada dalam kesunyian seperti ini. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
****
Aku mulai disibukkan dengan persiapan pernikahan yang akan dilaksanakan dalam hitungan hari saja. Pagi hari aku bekerja di kantor Papa, lalu saat jam istirahat menyicil video endorse dan pulangnya membuat konten dengan Bima.
Hari ini aku menunda untuk membuat video endorse karena harus fitting baju pengantin. Aku harus ijin sebentar di waktu bekerjaku dan pergi ke butik yang sudah ditunjuk oleh WO yang disepakati oleh kedua keluarga.
Ditya sudah sampai duluan. Ia sedang mencoba jas yang terlihat sangat bagus dikenakannya. Membuat Ditya terlihat semakin tampan dan gagah saja.
Ditya melihat kedatanganku dan tersenyum. Ia menghampiriku dan mengecup pipiku di depan karyawan butik. Membuat aku tersipu malu dibuatnya.
"Kamu datang sendirian?" tanya Ditya.
"Iya. Sama siapa lagi? Teman akrabku hanya Bima. Itu pun Bima sedang mode dingin saat aku memberitahu kalau kita akan segera menikah."
Ditya mengernyitkan keningnya mendengar perkataanku. "Kenapa? Bima marah?"
"Entah. Kamu udah lama? Sudah mencoba berapa baju?" kualihkan percakapan dari membahas Bima. Lebih baik membahas tentang rencana pernikahan kami saja.
"Hmm... Sekitar lima belas menit yang lalu. Ini jas kedua yang kucoba. Gimana? Bagus tidak?" Ditya memamerkan tubuh tegapnya dengan setelan jas yang keren abis.
Wajahku memerah membayangkan tubuh kekar dan berotot miliknya yang pernah berada di atas tubuhku. Ah gila! Kenapa aku malah mikir kotor?!
"Bagus. Bagus banget!" pujiku.
"Oh ya? Kalau begitu kamu harus melihat aku mencoba jas yang lain ya?!" belum sempat Ditya pamer padaku, aku sudah diminta mencoba kebaya dan gaun pengantinku.
Meski hanya berwarna putih, namun payet swarowski membuatnya terlihat mewah. Pasti uang yang dikeluarkan oleh Papa dan Keluarga Kusuma sangat besar. Baju pengantinnya saja semewah ini.
Aku mencoba kebayaku dan mendapat pujian dari pemilik butik. Mengatakan kalau kebaya tersebut terlihat sangat pas dan cantik saat dikenakan olehku. Benarkah?
Aku pun memperhatikan diriku di cermin. Memang kebaya ini terlihat sempurna di setiap lekuk tubuhku. Benar ternyata pujian tersebut, kupikir hanya basa-basi saja terhadap pelanggan.
"Cantik sekali!" suara Ditya yang datang dan langsung memujiku membuat aku terkejut.
"Kamu ngagetin aku aja!" omelku.
Ditya tersenyum. "Aku cepat-cepat fitting jas agar bisa melihat penampilan kamu! Ternyata aku datang tepat waktu. Aku bisa melihat saat kamu pakai kebaya putih ini. Cantik sekali!"
"Ih... Mulai deh gombal!"
Pemilik butik lalu menyesuaikan gaunku. Bagian mana yang harus dikecilkan sedikit. Ia mencatat semuanya dengan detail. Beda memang kalau butik kelas atas. Kepuasan pelanggan nomor satu. Itu yang membuat mereka dibayar mahal.
"Kita coba gaun pengantinnya ya?!" kata pemilik butik.
"Iya." aku pun meninggalkan Ditya yang kini asyik dengan Hp miliknya. Sepertinya ada pekerjaan yang harus Ia handle langsung.
Aku mencoba gaun pengantin yang berwarna gold tersebut. Benar-benar terlihat mewah dan mahal.
Saat mengenakan gaun bagus, rasa percaya diri seseorang akan naik. Begitu pun denganku. Aku saja hampir tak percaya kalau wanita yang bak putri kerajaan itu adalah diriku.
"Wow!" Ditya sampai terperangah melihat penampilanku. "Tuan putri atau bidadari dari mana nih? Cantik sekali! Apa kita lakukan pernikahannya hari ini saja?"
Pemilik butik dan karyawan yang berada di sekitar kami ikut tersenyum mendengar gombalan Ditya padaku. Membuatku malu dan wajahku memerah saja!
"Really? Kamu sejak kapan sih jago ngegombal gitu?" ledekku.
"Sejak kenal kamu dong! Habis kamu terlalu menarik perhatian aku sih! Jiwa lelaki tukang ngegombal dalam diriku keluar semua deh jadinya!"
"Ish! Malah makin ngegombal! Aku perlu ganti gaun lagi atau gimana?" aku sengaja meminta pendapat Ditya. Bagaimanapun Ditya yang akan bersanding denganku nanti di pelaminan.
"Tak perlu. Ini sudah cocok banget buat kamu. Kalau ganti gaun lain nanti aku akan galau dan bingung memilih yang mana. Ini sudah cukup membuat semua mata teralihkan oleh kecantikan kamu!"
Aku tersenyum mendengar gombalan demi gombalan yang Ditya keluarkan. "Udah ah! Aku mau diukur dulu nih!"
Kembali pemilik butik mengukur bagian mana yang harus dikecilkan dan bagian mana yang sudah pas.
Selesai fitting baju pengantin, Ditya mengajakku makan siang dahulu sebelum mengantarku kembali ke kantor. Aku tadi diantar supir Papa, hari ini aku tidak bawa mobil sendiri karena terlalu lelah jika harus berjibaku dengan kemacetan kota Jakarta.
"Kita makan di Mall aja ya? Dekat kok dari sini. Kamu juga harus segera kembali ke kantor bukan?" tanya Ditya.
Aku menyetujui keputusan Ditya. Kami makan di food court dan lagi-lagi Ditya menatapku dengan tatapan bingung.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kamu enggak suka daun bawang?" tanya Ditya.
"Enggak. Makanya selalu aku pinggirin dulu sebelum aku makan!" pasti Ditya menatap koleksi daun bawang yang kusisihkan dari capcay goreng pesananku.
"Kenapa? Bukankah kamu bisa pesan dari awal kalau kamu enggak usah pakai daun bawang saja?" usul Ditya.
"Justru itu! Kalau dikeluarkan dari menu, rasanya akan ada yang berbeda. Kalau ditambahkan, aku enggak suka memakannya jadi aku singkirkan. Makanya, aku pesan menu seperti biasa saja, tinggal kupisahkan beres deh. Betul toh?"
Ditya diam. Kenapa sih? Memang aku salah bicara ya?
****
Jangan lupa like, komen, add favorit dan vote ya... Maacih 🥰🥰