Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Belanda


Lara


"Kamu... Tak mungkin akan pergi secepat itu kan?" aku takut mendengar jawaban Bima. Jangan sampai apa yang kutakutkan akan terjadi.


Bima mengangguk sedih. "Iya."


Aku tertawa mendengarnya. "Pasti kamu bohong kan? Enggak lucu, Bim!"


Bima menatapku lekat. Tatapan kesedihannya meyakinkanku kalau Ia tidak berbohong. "Aku benera sakit, Ra. Hidupku... Tak akan lama lagi."


Senyum di wajahku menghilang. "Jangan becanda, Bim! Aku enggak suka kamu becanda kayak gitu!" aku berusaha menyangkal semua kenyataan yang kudengar. Pasti semua hanya prank. Semua bohong!


"Aku enggak becanda, Ra. Hidupku tak lama lagi, karena itu aku ingin menghabiskan-nya selama mungkin dengan kamu!"


Aku tahu Bima tidak berbohong. Aku tahu Ia berkata jujur. Namun aku masih belum siap menerimanya. Kalau tak ada Bima, bagaimana dengan hidupku?


"Bim! Please... " air mata mulai menetes membasahi wajahku. "Kalau kamu pergi, bagaimana denganku?"


"Maaf, Ra. Maaf karena aku egois. Aku pinjam kamu sebentar dari Ditya. Setelah aku pergi, kembalilah dengan Ditya yang mencintai kamu. Aku bisa lihat penyesalan di wajahnya. Aku bisa lihat betapa Ia amat mencintai kamu."


Aku tersenyum getir seraya menghapus air mataku yang terus menetes tanpa henti.


"Tak bisakah kamu transplantasi ginjal, Bim? Usaha terus demi kesembuhan kamu!" pintaku sungguh-sungguh. Apapun demi kelangsungan hidup Bima.


Aku jadi teringat alasan Bima yang sering ijin dengan alasan mengantar Mamanya. Alasan yang kupikir Bima lakukan karena Ia sangat menyayangi Mamanya namun ternyata bukan. Ia harus cuci darah demi memperpanjang usianya.


Bima yang selama ini hidup berpindah-pindah akhirnya kembali ke Jakarta. Alasannya karena ingin menemuiku dan menghabiskan sisa hidupnya denganku.


"Aku tak bisa menikahi kamu karena takut kamu menjanda di usia muda. Aku ikhlaskan kamu menikah dengan Ditya dan mengubur impian aku bersama kamu di sisa hidupku. Namun takdir berkata lain, aku masih punya kesempatan bersama kamu. Aku masih punya kesempatan menikmati negeri Belanda bersama kamu. Maaf atas keegoisan aku, Ra." cerita Bima tadi.


"Kita coba berbagai pengobatan ya, Bim. Aku yang biayai! Kita cari donor ginjal yang cocok buat kamu!" kataku tak putus semangat.


Bima tersenyum kecil. "Andai bisa dilakukan, Papa dan Mama aku pasti akan mengusahakan sejak dulu, Ra. Aku bisa hidup sampai sekarang saja sudah sangat bersyukur. Aku sudah lama hidup dengan satu ginjal. Donor ginjal selama ini tak bisa diterima oleh tubuhku. Selalu ditolak, sampai akhirnya ginjalku yang satu lagi mulai memburuk. Cuci darah memang memperpanjang hidupku, tapi sampai kapan?"


"Sampai selama mungkin, Bim. Kita keliling dunia dan berupaya menyembuhkan kamu, Bim!" aku terus meyakinkan Bima.


"Aku tak mau, Ra. Lebih baik kuhabiskan hidupku dengan mengabadikan video kamu dalam memoriku. Aku suka saat kamu di depan kamera. Aku suka saat kamu begitu bersemangat membuat konten. Itu kebahagiaan untukku. Boleh ya Ra aku habiskan hidupku dengan hal menyenangkan seperti itu?'


Ya Allah, Bim...


Kamu orang baik. Aku belajar banyak kebaikan dari kamu, Bim. Kenapa kamu malah mau menghabiskan hidup kamu dengan orang seperti aku?


Aku merasa malu...


Aku yang menyia-nyiakan hidup aku dan mengakhirinya demi laki-laki tak berharga macam Arya. Sementara kamu berjuang mempertahankan hidup hanya dengan satu ginjal saja.


Aku malu, Bim...


Aku jadi orang yang sangat tidak bersyukur.


Andai aku bertemu kamu lebih dulu, Bim. Pasti hidupku akan lebih bahagia. Hidupku akan lebih bersyukur lagi.


"Ayo kita buat konten. Ayo kita habiskan hari-hari kamu dengan kenangan indah, Bim. Aku mau mulai sekarang kamu hanya melihat dan merasakan hal-hal yang membahagiakan. Aku mau kamu pergi dengan kebahagiaan yang selama ini tak bisa aku berikan. Aku akan menebus semuanya mulai sekarang!" kataku sambil tersenyum namun tetap saja air mataku terus menangis.


***


Aku pun memulai hidup baruku di Belanda. Memulai identitas baru setelah sebelumnya pamit di konten milik Lara Handaka.


Kuserahkan nama akun baruku pada Bima. Terserah Ia mau menamainya apa. Terpilihlah nama Enjoy My Life With U. Konten baru dengan konsep yang kami sepakati berdua. Benar-benar beda dengan konten sebelumnya.


Di konten yang baru ini, aku sengaja memakai topeng dan Bima nanti akan mengedit suaraku. Semua bertujuan agar Ditya tidak menemukan keberadaanku selama ini.


Materi konten tetap sama. Mengajarkan berbagi namun kami juga menampilkan rekomendasi tempat jalan-jalan selama di Belanda.


Kami tinggal di sebuah rumah yang nyaman milik kakeknya Bima. Mama Bima adalah keturunan Belanda dan Indonesia. Bima lebih banyak mengambil gen Papanya yang Indonesia asli. Hanya tinggi badannya saja yang mirip kakeknya.


Mama dan Papa Bima datang beberapa hari kemudian. Mama Bima semula tidak setuju anaknya pergi jauh dari Jakarta. Ia mau mereka tetap di Jakarta dan Bima bisa menghabiskan hari-hari terakhirnya bersamaku.


Namun ternyata Bima punya impian untuk menghabiskan hidupnya bersamaku di Belanda. Mama dan Papanya tak bisa menolak.


Mama Bima bisa menemaninya setiap saat, namun Papa Bima hanya sesekali datang jika pekerjaannya sudah selesai. Mama Bima menjaga anaknya dan mengingatkan Bima untuk meminum obatnya.


Aku juga melakukan hal yang sama. Memastikan Bima tidak kelelahan dan makan makanan yang bergizi.


"Aku akan shoot bunga dulu baru kamu ngomong ya, Ra!" perintah Bima.


"Siap Pak Boss!"


Aku pun mengikuti arahan Bima dan mulai berbicara di kamera.


"Selamat pagi sahabat tercinta. Aku Miss Jaljal alias Jalan-jalan akan mengajak kalian menikmati taman bunga yang indah di Belanda. Kali ini kita berada di Taman Bunga Keukenhof. Taman yang disebut-sebut sebagai taman terindah di dunia ini memiliki ladang tulip terbesar di Belanda. Coba kalian lihat deh betapa cantiknya bunga-bunga di sini."


Bima lalu mulai mengambil gambar saat aku menunjuk bunga tulip yang cantik-cantik. Aku tersenyum meski hatiku sedih. Melihat Bima yang tersenyum senang meski hanya melihatku berakting depan kamera.


Aku akan membahagiakan kamu, Bim. Aku janji. Kalau ini bisa membahagiakan kamu di sisa hidup aku, aku akan sekuat tenaga melakukannya.


"Oke! Cut!" teriak Bima.


Aku menghampirinya dan membantu membawakan kameranya. "Kamu enggak apa-apa? Kecapekan enggak?" tanyaku dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja. Cuma lapar!" ujar Bima seraya tersenyum.


"Aku juga! Ayo kita makan!" kataku penuh semangat. Kusembunyikan kesedihan di wajahku hanya agar membuat Bima terlihat lebih bahagia lagi.


Baru saja melangkah beberapa langkah dari taman, kurasakan pusing yang amat sangat. Aku lalu berjongkok untuk mengurangi pusing yang kurasakan.


"Kamu kenapa, Ra? Kamu sakit?" tanya Bima penuh khawatir. "Kita ke dokter aja ya!"


"Iya, Bim." kuturuti perintahnya. Bukan karena Ia mau pergi, tapi karena aku tak mau membiarkan Ia repot dengan keadaanku.


****