Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Mimpi yang Nyata


Lara


Kak Nisa lalu bercerita tentang foto dan kisah di belakangnya. Ada foto disaat mereka sedang kesusahan namun tiba-tiba datang seorang donatur yang menyumbang banyak untuk anak-anak. Bahkan, orang tersebut mengajak semua anak-anak bermain di Dufan.


"Saat itu kami benar-benar sudah hampir putus asa. Sudah banyak yang membantu tapi kebutuhan masih banyak. Adik-adik harus masuk sekolah. Kakak-kakak yang sudah dewasa bekerja sampingan untuk membantu operasional Panti tapi semua biayanya belum tercover, sampai akhirnya ada seorang donatur yang sangat baik hati dan donatur tersebut menyumbangkan banyak uang bahkan membahagiakan semua anak-anak di Panti dengan mengajak rekreasi." cerita Kak Nisa.


"Apakah donatur tersebut masih ada sampai sekarang?" berarti donatur yang menyumbang adalah orang yang sangat kaya raya, karena mengajak anak-anak rekreasi juga membantu biaya sekolah bukanlah biaya yang sedikit. Kalau kecurigaanku benar, donatur tersebut adalah papa mertuaku yakni Papa Kusuma.


"Masih ada tapi sekarang bukan donatur itu lagi yang menyumbang ke Panti tapi salah seorang anak yang Ia adopsi. Anak tersebut menggantikan donatur baik hati itu untuk menyumbang di Panti ini sampai sekarang."ujar Kak Nisa.


Aku semakin yakin kalau donatur itu adalah Papa Kusuma. Jadi memang benar, Ditya adalah anak yatim piatu yang tinggal di Panti Asuhan ini dan diadopsi oleh Papa Kusuma. Jadi kini mimpiku sudah semakin jelas, anak cowok itu adalah Ditya. Tapi kenapa Ditya menyembunyikannya? Apakah takut nama Papa Kusuma akan jelek kalau sampai ketahuan tidak memiliki anak kandung?


Aku melihat ke arah Bima dan sahabatku itu memberi kode melalui lirikan matanya. Aku tahu apa yang Ia maksud. Aku disuruh memeriksa halaman belakang. Aku mengangguk sebagai persetujuan akan melakukan rencana yang sudah kami sepakati bersama.


"Kak Nisa, aku mau nyari udara segar dulu ya. Aku suka berada di Panti ini. Halaman belakangnya luas dan banyak udara segar. Bolehkan aku ke belakang?" tanyaku pada Kak Nisa.


"Oh tentu dong! Lara boleh jalan-jalan di mana aja di Panti Asuhan ini. Anggap aja Panti Asuhan ini adalah rumah kedua Lara. Kak Nisa mau membagikan barang-barang Lara ke anak-anak yang lain. Mungkin, Bima bisa bantu Kak Nisa?" tanya Kak Nisa.


"Tentu dong." Bima mengangguk setuju.


Aku bersyukur, setidaknya, Kak Nisa bisa dialihkan perhatiannya oleh Bima. Aku tak mau ke Kak Nisa curiga dengan apa yang akan aku lakukan di halaman belakang Panti miliknya.


"Maaf ya Kak, aku nggak bisa banyak membantu. Aku kalau melihat barang-barang lama milikku suka teringat dengan Papa. Karena itu, daripada aku terus-menerus bersedih lebih baik barang-barang milikku aku berikan kepada adik-adik di sini. Selain lebih bermanfaat, juga bisa membuat aku melupakan kesedihan karena kehilangan Papa." kataku.


Kak Nisa tersenyum. Senyumnya begitu hangat dan menenangkan. Kak Nisa mengambil tanganku lalu menepuknya dengan lembut. "Lara pasti kuat. Lara sudah punya suami sekarang. Sudah ada yang melindungi Lara. Lara tidak sendiri lagi. Papa Lara pasti lebih tenang meninggalkan Lara. Jangan terlalu bersedih dan menyesali apa yang sudah terjadi. Percayalah, semuanya sudah takdir Yang Maha Kuasa."


Aku bisa menerima nasehat yang Kak Nisa berikan padaku. Ia tidak berniat menggurui namun seperti seorang kakak yang menghibur adiknya yang sedang bersedih.


"Kalau begitu, ayo kita keluar! Kak Nisa akan membagi-bagikan buku dan Lara bisa menikmati halaman belakang Panti yang sekarang yang sudah ada beberapa bunga yang bermekaran." Kami pun berpisah jalan. Kak Nisa pergi ke kamar anak-anak satu per satu sedangkan aku berjalan ke halaman belakang.


Pertama-tama, aku berjalan pelan. Namun saat Kak Nisa sudah tidak terlihat dari pandanganku lagi, aku mempercepat langkahku.


Kebetulan sekali, ada cangkul kecil di dekat keran air. Aku butuh cangkul itu untuk menggali, jadi aku ambil lalu aku pun pergi ke tempat yang kemarin sudah aku perkirakan.


Aku pun berjalan ke belakang pohon dan mulai menghitung langkah serta posisi yang sesuai dengan ingatanku.


Satu... dua... tiga... 3 langkah dari pohon dan menghadap ke arah belakang Panti. Kalau dulu seingatku halaman belakang adalah kebun luas namun kini, sudah ada rumah penduduk. Baiklah, di bawah kakiku saat ini terkubur cincin yang akan membuktikan bahwa setengah diriku adalah Agni.


Aku lalu berjongkok dan mulai mencangkul tanah yang kini telah ditanami rumput. Sebenarnya aku merasa bersalah karena akan merusak rumput yang dirawat dengan rapi, hanya dengan cara ini aku bisa membuktikan semuanya. Aku terus menggali dan bernuat nanti aku akan perbaiki lagi. Rupanya, benda yang dikuburkan itu tidak terletak di bagian atas, namun terkubur lebih ke dalam lagi. Atau mungkin karena waktu yang sudah berlalu lama jadi terkubur dalam?


Aku pun terus mencangkul, mencangkul dan mencangkul. Sampai mata cangkul yang ku pegang menyentuh sesuatu yang keras. Sepertinya, ini dia bendanya.


Kusingkirkan tanah yang mengganggu pemandanganku. Sengaja aku menggali juga di sekitar benda tadi agar gampang mengambil benda tersebut. Pelan-pelan, aku kembali mencangkul ke bagian sisi kiri dan kanannya sampai aku melihat sebuah kotak yang tertutup oleh plastik hitam.


Apakah ini benar isi-nya kotak perhiasan?


Kotak yang sama seperti yang aku lihat dalam mimpiku?!


Aku semakin penasaran, aku gali dan terus aku gali sampai akhirnya aku bisa mengambil kotak tersebut dan mengangkatnya. Plastik yang menutupi-nya telah koyak akibat termakan waktu. Namun kotak tersebut masih utuh.


Kubuang plastik yang menutupinya. Aku begitu terkejut saat mendapati kalau kotak tersebut benar-benar mirip dengan yang ada di dalam mimpiku. Aku berusaha menenangkan diriku terlebih dahulu. Aku ingin tahu apakah di dalamnya berisi cincin yang Ditya berikan pada Agni?


Kubuka perlahan kotak tersebut dengan tanganku yang terasa dingin karena begitu penasaran. Ketika kotaknya sudah terbuka, nampak sebuah cincin yang kulihat sama persis dengan apa yang ada di dalam mimpiku. Sebuah cincin yang yang terasa sangat aku sayangi tapi harus dikubur karena fitnah kakek mesum itu.


Belum hilang rasa terkejutku, aku mendengar suara suara yang membuatku terdiam dan tak bisa bergerak. Suara yang tak pernah kusangka akan aku dengar saat ini.


"Apa yang kamu lakukan Lara?" suara dengan nada tinggi tersebut begitu mengagetkanku.


Aku ingin menyembunyikan kotak di tanganku ini, namun terlambat. Ia merebut kotak itu dan tatapannya begitu marah padaku. "Dari mana kamu tahu tentang cincin ini?"


Aku begitu takut. Aku bahkan tak berani mengangkat wajahku. Suara Ditya terdengar sangat marah. Suaranya terdengar mengintimidasi dan aku merasa diperlakukan bagai seorang pencuri yang telah ketahuan mencuri sesuatu milik orang lain.


****