
Lara
"Gimana? Kamu keren banget tau, Ra!" ujar Bima yang langsung meneleponku.
"Kenapa sih kamu harus memvideokan saat aku beramal? Aku tuh nggak mau tahu Bim amal ibadah aku seakan dipertunjukkan. Aku ikhlas membantu kakek itu. Kalau aku bawa sekoper uang juga pasti akan aku berikan satu koper itu sama kakek. Aku cuma pengen mengubah hidup kakek. Beliau udah tua, nggak seharusnya berjualan sampai malam seperti itu. Aku ingin kakek menikmati masa tuanya tanpa harus lelah bekerja."
"Ini yang aku suka dari seorang Lara. Berhati baik dan lembut. Kamu tuh dari dulu nggak pernah berubah, Ra. Kamu selalu baik sama siapa aja. Sayangnya, orang-orang di sekitar kamu yang memanfaatkan semua kebaikan yang kamu berikan. Mereka nggak tahu diri dan terus memanfaatkan kamu. Kalau mereka tahu kamu sebaik ini dan mereka menghargai apa yang kamu lakukan, mereka akan sangat takut kehilangan kamu Ra." puji Bima.
"Ah bisa aja kamu Bim. Sudahlah! Jangan lupa ya besok kita ada syuting di Panti. Kamu siapin peralatannya nanti kita ketemuan aja di Panti. Aku nggak bawa mobil, Ditya yang akan jemput aku besok." aku mengingatkan Bima tentang rencana syuting besok di Panti.
"Kenapa Ditya jadi deket banget sih sama kamu? Kalian ada hubungan? Jadian? Aneh aja gitu dia tiba-tiba deket banget padahal kan selama ini kalian hanya sebatas atasan dan bawahan aja." tanya Bima.
"Aku akan cerita semua sama kamu nanti Bim. Nggak sekarang tentunya karena aku juga nggak tahu, ini semua masih belum pasti. Kalau udah pasti, kamu orang pertama yang aku kasih tahu." janjiku.
"Oke. Aku tunggu!"
****
Sesuai janji, pagi-pagi Ditya sudah datang menjemputku. Kedatangan Ditya tentu saja membuat Tante Sofie dan Anggi menaruh curiga. Kenapa seorang Ditya Kusuma mau datang menjemputku? Mereka pun mempertanyakan hubungan kami berdua.
"Eh Cupu! Lo kok bisa sih dijemput sama Ditya?" Anggi yang mengikutiku sampai ke dalam kamar memberondongku dengan pertanyaan.
"Bukan urusan kamu! Udah ah aku mau pergi!" kuacuhkan pertanyaan Anggi dan terus berjalan meninggalkannya. Anggi tak menyerah, Ia terus mengikutiku dari belakang sampai aku berpapasan dengan Tante Sofie.
"Ma, dia enggak mau cerita tuh!" adu Anggi pada Mamanya. Kebetulan sekali, Tante Sofie menungguku keluar dari kamar. Ia sama penasaran rupanya dengan putrinya. Bagaimana tidak, yang menjemputku adalah seorang Ditya Kusuma yang ganteng, gagah, pintar dan sukses. Pasti rasa penasaran dalam dirinya begitu membuncah!
Ditya adalah menantu idaman yang diinginkan oleh Tante Sofie untuk anaknya Anggi. Sayangnya, Anggi yang bodoh malah memilih Arya sebagai kekasih dan calon suaminya. Tante Sofie pasti lebih memilih menantu kaya dan pintar dibanding parasit macam Arya.
"Ada hubungan apa kamu sama Ditya?" tanya Tante Sofie sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Hubungan spesial pake telor. Memangnya kenapa?" jawabku dengan ketus.
"Kalian berpacaran? Jangan bilang kalau kamu dan Ditya sedang berpura-pura berpacaran hanya karena ingin memanasi Anggi dan Arya?" tebak Tante Sofie.
Aku menahan tawaku mendengar kecurigaan Tante Sofie. Ngapain juga aku masih mikirin hubungan Anggi dan Arya? Arya mah sudah enggak penting! Ngapain memikirkan cowok yang suka bersikap manipulatif kayak dia? Rugi!
"Aku nggak punya waktu untuk bertindak yang kekanak-kanakan seperti itu!" aku pun melewati Tante Sofie dan meninggalkannya dengan penuh dengan tanda tanya. Kuhampiri Ditya yang sedang duduk di ruang tamu keluargaku.
Hari ini Ditya terlihat jauh lebih tampan dibanding sebelumnya. Ia memakai kaos berwarna hitam dan celana jeans dengan warna Senada. Ia memakai jaket berwarna putih yang senada dengan sepatu kets yang Ia kenakan. Tampan sekali. Pantas saja Anggi dan Tante Sofie begitu terpukau dan penasaran akan dirinya.
Dengan wajah yang sudah pasti memerah, aku tersenyum dan menjawab. "Siap dong, Ganteng!"
Ia berdiri dan berpamitan pada Tante Sofie dengan sopan, lalu kami pun pergi meninggalkan rumah dengan tatapan penuh rasa ingin tahu dari Tante Sofie dan Anggi. Tante Sofie mau bertanya namun gengsi, baguslah. Jangan terlalu banyak ingin tahu urusan orang!
"Bima sudah jalan? Bukankah dia harus menyiapkan peralatan dahulu untuk syuting?" tanya Ditya saat kami berada di dalam mobil.
"Tadi sih bilang sama aku kalau dia udah sampai Panti. Lagi nyiapin dan mengatur posisi yang pas buat lokasi syuting. Sengaja aku enggak minta dia bareng karena dia kan memang harus datang lebih dahulu dibanding aku."
"Baguslah. Semoga rencana syuting kalian lancar dan jadi konten keren kayak kemarin!" puji Ditya.
"Aamiin! Ah aku jadi malu sama kamu. Bima rese banget, aku kan kesannya pamer saat beramal. Padahal aku memang beneran mau membantu kakek, eh malah divideoin!"
Ditya tersenyum. "Kamu pikir, kenapa konten kamu itu ramai dan banyak yang menyukai? Bukan karena kamu pamer, justru karena mereka melihat ketulusan kamu di dalamnya. Beda loh antara pamer dan yang tulus. Kalau kamu tuh tulus. Makanya membuat orang makin mengagumi kamu!"
Aku rasanya mau melayang saat Ditya terus memujiku. "Udah ah aku jadi malu. Eh, kita udah sampai ya?"
"Iya." jawab Ditya.
Aku memperhatikan Panti Asuhan yang berdiri di depanku. Panti Asuhan tersebut terlihat sederhana namun begitu teduh dan penuh cinta kasih di dalamnya. Di depan Panti nampak beberapa anak-anak yang sedang merapikan meja dan menata barang-barang dagangan mereka.
Bima keluar dengan mengangkat sebuah meja kayu lalu menaruhnya sejajar dengan meja yang anak-anak tadi rapikan. Bima melihatku dan tersenyum.
Aku menghampiri Bima dan menyapanya. "Kamu sampai di sini jam berapa Bim?"
"Udah dari tadi, Ra. Niatnya aku mau langsung setting tempat, eh ternyata di dalam semua masih kerepotan. Aku nggak bisa hanya berpangku tangan aja kan? Yaudah aku ikut bantu-bantu di dalam dan baru sempet merapikan meja untuk menaruh barang-barang sponsor di sini." jawab Bima.
"Biar aku bantu, Bim! Mana produk yang mau aku tata?" aku nggak mau hanya berdiam diri dan Bima yang bekerja.
"Nggak usah bantu aku! Aku bisa sendiri. Kamu lebih baik bantu anak-anak aja. Kasihan mereka, udah jam segini tapi belum siap untuk melakukan bazar. Nanti saat para tamu datang mereka belum selesai menata barang-barang dagangnya bisa rugi, seharusnya terjual tapi belum siap dipajang."
"Baiklah. Dimana aku bisa bantu mereka?" Bima lalu menunjuk ke dalam sebuah aula besar dimana barang-barang yang mau ditata diletakkan di sana.
Aku melihat ke arah Ditya yang sedang mengobrol dengan seorang pengurus Panti dengan akrab. Tak mau mengganggu, aku pun masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh Bima.
***