Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Tawaran Kerja Sama


Lara


"Aku hamil?" tanyaku tak percaya.


Dokter yang memeriksaku mengangguk. "Usia kandungan Ibu sekitar 8 minggu." (Percakapan dalam bahasa Inggris)


Sama sepertiku, Bima juga tidak percaya kalau aku sedang hamil. Aku aktif bergerak dan selama ini tak menunjukkan tanda-tanda mual. Hanya sekali saat aku telat makan waktu itu. Kupikir aku maag, namun ternyata tidak.


Aku lalu diberikan vitamin dan diperbolehkan pulang. Baik aku dan Bima sama-sama pulang tanpa ada yang bersuara selama menaiki Metro. Kami asyik dengan pemikiran kami sendiri.


Masalahku belum berakhir. Setelah pergi dari hidup Ditya dan memilih menemani Bima di sisa hidupnya, aku juga harus menghadapi kenyataan menjadi orang tua tunggal untuk anak dalam kandunganku. Anak Ditya tentunya.


Melihatku bersedih, Bima menggenggam tanganku. "Kalau kamu mau pulang dan kembali pada Ditya, pulanglah. Aku tak apa. Aku sudah menghabiskan beberapa hari di sini bersama kamu sudah cukup bagiku. Keinginanku sudah terkabul."


"Aku tak mau pulang. Buat apa? Aku tak mau menemui laki-laki yang hanya menikahiku demi tujuannya sendiri." kataku dengan pasrah.


"Tapi kamu sedang hamil anaknya, Ra. Kamu juga masih istri sah-nya." ujar Bima.


"Biarlah. Aku tak peduli dengan statusku saat ini. Pokoknya aku mau menghabiskan waktu selama mungkin dengan kamu, Bim."


****


Ditya


Lara menghilang bagai ditelan bumi. Aku pergi ke rumah Bima dan tak menemukan keberadaannya. Rupanya Lara sempat ke apartemen dan membawa barang-barang miliknya.


Mau kucari kemana?


Terpaksa aku menyewa detektif untuk mencari keberadaan Lara. Aku terus memantau sosial media miliknya namun tak ada update selain endorse yang sudah lama Ia buat videonya hanya tinggal di upload saja.


Aku menyesal. Amat menyesal.


Aku tak menyangka kalau aku sudah salah langkah. Aku sudah menikahi Lara dengan tujuan yang buruk. Kini aku seakan mendapat karma atas apa yang kulakukan.


Apartemen yang semula sangat nyaman kini menjadi sepi. Tak ada sambutan senyum hangatnya. Tempat tidurku pun terasa sangat besar karena tak ada dirinya di sampingku.


Kemana aku harus mencari keberadaanmu, Ra?


Sementara hidup harus terus berjalan. Aku harus memimpin perusahaanmu, setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk menjaga amanat Papa Handaka.


"Permisi, Pak. Ada Bu Sofie ingin bertemu Pak Ditya." kata sekretarisku.


"Mau apa sih? Ya sudah, persilahkan masuk!" kataku dengan sebal.


Mertua ular yang sering mejahati Lara berniat menemuiku. Apa yang dia inginkan? Pasti bukan hal yang bagus tentunya.


Tante Sofie pun datang dengan pakaian yang menampakkan seolah dirinya adalah seorang pemilik perusahaan yang sebenarnya. Aku heran bagaimana Lara bisa begitu tahan hidup dengan ibu tiri jahat sepertinya.


"Siang Nak Ditya!" sapa Tante Sofie dengan senyum yang dipaksakan.


"Siang, Tante. Silahkan duduk!" kataku dengan ramah meski sebenarnya aku malas berurusan dengan manusia licik macam dia.


"Terima kasih." Tante Sofie duduk dengan anggun. Memang kuakui, untuk wanita seusianya memang Tante Sofie sangat cantik. Wajar kalau Papa Handaka sampai menyukainya.


"Tante dengar, katanya Lara pergi dari rumah ya?" Tante Sofie mengambil teh miliknya dan terus memperhatikanku.


Aku agak terkejut mengetahui kalau Tante Sofie tau tentang Lara yang pergi dari rumah. Tau dari mana dia?


"Jangan kaget begitu. Kamu lupa kalau tembok pun bisa bicara?" jawabnya tanpa kutanya.


"Lara selingkuh dengan Bima?" tanya-nya lagi tanpa memikirkan perasaanku.


"Itu...."


"Mereka memang sangat dekat sih. Wajar kalau memang pada akhirnya terjalin suatu hubungan terlarang. Sudahlah. Kamu bisa putuskan saja hubungan kalian. Tante punya penawaran menarik buat kamu!"


"Penawaran?" tanyaku dengan heran.


"Iya. Kamu bisa membalas apa yang Lara lakukan sama kamu! Pengkhianatan dibalas dengan pengkhianatan!" Tante Sofie tersenyum licik.


Bekerja sama dengannya bukan pilihan bagus, namun menolak penawarannya pasti akan membahayakan posisiku.


Aku hanya pemilik saham 5 persen di perusahaan ini. Aku tak memiliki kuasa. Berbeda kalau di perusahaan Papa Kusuma.


Aku bisa saja meninggalkan perusahaan ini dan hanya memimpin Kusuma Corporation saja. Tapi dengan menjadi pemimpin di perusahaan Papa Handaka aku bisa tunjukkan pada Lara kalau aku bisa dipercaya. Aku tidak seburuk penilaiannya padaku. Aku bisa menebus kesalahaanku.


"Membalas? Dengan cara?" aku pura-pura masuk dalam jebakan Tante Sofie.


"Kita gabungkan saham perusahaan dan menyingkirkan Lara dari pemilik saham terbesar. Kalau dihitung-hitung, saham Tante ada 20 persen, Anggi 20 persen, Arya yang sebentar lagi menikah dengan Anggi akan mendapat 5 persen. Jika digabungkan dengan saham kamu maka posisi kita akan imbang dengan Lara. Sama-sama memegang 50 persen saham Handaka di perusahaan. Karena Lara tak tahu ada dimana, bukankah kita bisa menjadi pemilik perusahaan yang sebenarnya? Kamu dan Arya akan memimpin perusahaan lalu sedikit demi sedikit kita akan menyingkirkan Lara. Bagaimana?"


Sudah kuduga, rencana Tante Sofie sangat jahat.


"Jadi, Arya yang akan memimpin perusahaan?" tanyaku to the point.


Tante Sofie mengangguk penuh keyakinan. "Tentu saja! Arya itu calon menantu yang potensial. Mantan ketua BEM di kampusnya. Ia pasti bisa memimpin perusahaan."


Cih! Memimpin? Bukankah Arya yang mendorong Lara sampai nekad bunuh diri ? Laki-laki seperti itu kok dibanggakan? Sehebat apa sih?


Dari hasil laporan yang Arya berikan di bagian produksi saja banyak kejanggalan. Biaya produksi membengkak dengan alasan kenaikan harga bahan baku, padahal naiknya juga tak seberapa tapi biayanya dinaikkan sangat besar.


"Kalau Arya yang memimpin, aku mundur Tante. Aku enggak mau mempertaruhkan nama baikku di sini. Aku sudah terkenal sebagai pemimpin Handaka Group sekarang. Kalau Arya yang memimpin dan membuat kinerja perusahaan makin turun tentu namaku akan terbawa jelek juga!" tolakku mentah-mentah.


Wajah Tante Sofie memerah. Ia terlihat menahan amarahnya mendengar calon menantunya diremehkan olehku.


"Tak masalah. Kalau kamu merasa tak nyaman dengan Arya sebagai pemimpin, kita akan tetap memakai kamu sebagai pemimpinnya. Arya bisa menjabat sebagai wakil pimpinan. Bagaimana? Kamu setuju?" tanya Tante Sofie penuh harap.


"Hmm... Akan aku pikirkan!" sengaja aku menggantung jawabanku agar Tante Sofie semakin menginginkanku berada di kubunya.


"Jangan lama-lama ya memikirkannya! Semakin cepat kita bekerja sama maka akan semakin baik!" bujuk Tante Sofie.


Aku tersenyum hangat, berpura-pura berada di kubunya. Aku mengantar Tante Sofie sampai ke depan dan saat kembali aku mendapati pesan dari detektif yang kusewa.


...Lara dan Bima berada di rumah pinggir pantai tempat dulu Bima tinggal. Alamatnya di Jalan C Blok X No. 15 ...


Aku menyambar jas milikku dan langsung tancap gas menuju tempat istriku. Tunggu aku Lara. Aku akan menjelaskan semua. Aku akan minta maaf bahkan bersujud memohon ampunan dari kamu. Tunggu aku!