Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Pemakaman Papa


Lara


Aku menatap makam Papa yang penuh taburan bunga dengan tatapan kosong. Tak kuhiraukan kilatan blitz kamera yang terus terarah padaku.


Rasanya masih belum bisa aku percaya. Papa yang belum lama masih menyebut namaku kini hanya berupa gundukan tanah makam. Tak ada lagi omelan Papa. Tak ada lagi suara lembut penuh kasih yang selalu aku rindukan.


Siapa yang akan mengomeliku kalau aku sibuk bekerja sampai lupa makan? Siapa lagi yang akan membelaku saat ada masalah?


Bagaimana hidupku tanpa Papa? Papa yang telah menutup rapat kebodohanku yang nekat bunuh diri dari media. Karir selebgramku akan hancur saat seluruh dunia tahu kalau aku bunuh diri dan meloncat bersama Agni.


Aku masih meratapi makam Papa ketika semua pelayat sudah pulang. Rasanya aku ingin pergi menyusul Papa. Aku takut berada di dunia yang kejam ini seorang diri. Ada dua perasaan berbeda dalam diriku saat ini. Perasaan marah bercampur dendam pada Ibu dan adik tiriku serta perasaan takut karena akan sendirian di dunia ini.


"Kita pulang sekarang yuk, Sayang!" ajak Ditya padaku.


Aku hanya menggeleng lemah. Tatapanku terus tertuju pada makam Papa yang masih basah. Rasanya tak mau meninggalkan Papa.


"Kamu belum makan loh dari tadi. Muka kamu udah pucat. Jangan sampai pingsan lagi seperti tadi." sabar sekali Ditya membujukku.


Ditya menarik tubuhku dan memberikanku pelukan hangat. Aku mau menangis, namun aku tahan. Aku tak mau Papa melihatku mengantar kepergiannya dengan air mata.


"Kita pulang sekarang ya?" kata Ditya lagi.


Aku mengangguk pasrah. Aku masih melihat beberapa wartawan yang masih menungguku. Mereka mengambil fotoku, aku tak peduli.


Bima masih menungguku dan Ditya sampai meninggalkan area makam. Aku baru sadar kalau Ia terus menemaniku. Bima menunggu di dekat mobil. Menunggu aku selesai meratapi makam Papa.


Kulepaskan tangan Ditya dan memeluk Bima. Barulah aku menangis dalam pelukannya. Bima mengusap rambutku dengan lembut seraya menguatkanku.


"Kamu kuat, Ra! Kamu pasti bisa melewati semua ini!" kata Bima menyemangatiku.


Aku mengangguk. Setelah puas menangis kulepaskan pelukan Bima. Ditya langsung maju dan bertindak posesif. "Biar Lara langsung pulang bersamaku!" terdengar tegas dan tak menerima bantahan.


Aku tak mau memikirkannya. Aku pasrah mengikuti Ditya yang membimbingku masuk ke dalam mobil. Kami pun pergi meninggalkan makam Papa.


****


Hari-hari berikutnya aku menjadi tak semangat menjalani hidupku. Hanya tiduran dan menangis. Kadang Ditya memaksaku untuk makan. Ia tak mau aku jatuh sakit karena terlalu sedih.


Hasil pemeriksaan dokter mengatakan kalau Papa mengalami serangan jantung. Tapi rasanya tak mungkin. Papa selalu rajin medical check up. Papa selalu memperhatikan kesehatannya.


Kedua iblis itu pun mulai menguasai rumah Papa. Tante Sofie mengatakan kalau rumah Papa sudah diatasnamakan dirinya.


Aku harus memindahkan barang-barang di kamarku ke apartemen Ditya. Aku benar-benar diusir dari rumahku sendiri.


Ternyata tanpa sepengetahuanku, Tante Sofie merubah sertifikat tanah dari atas nama Papa menjadi atas namanya. Aku kecolongan. Aku tak pernah memperhatikan harta Papa, itu kekuranganku. Kehilangan rumah adalah kesalahan fatalku.


Untunglah, saham perusahaan masih atas namaku sebesar 50 persen. Setidaknya tidak semua harta Papa berhasil mereka kuasai.


"Aku akan menyumbangkan barang-barangku ke Panti Asuhan." kataku pada Ditya saat kami sedang sarapan pagi sebelum Ditya pergi bekerja.


"Kamu serius?" tanya Ditya dengan tatapan berbinar.


"Aku serius. Untuk apa barang-barangku sebanyak itu di apartemen kamu? Penuh. Malah membatasi gerak kita. Lebih baik aku sumbangkan saja untuk yang membutuhkan."


"Bagus. Baru itu istriku. Baik hati dan suka menolong. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Masih banyak orang di luar sana yang lebih menderita lagi. Daripada berlarut-larut dengan kesedihan lebih baik mengisinya dengan berbagi pada sesama." nasehat Ditya dengan bijak.


Memang kuakui, kalau masalah sedekah dan berbagi dengan anak yatim Ditya memang sangat royal. Apa mungkin karena Ia dulu tinggal di sana? Apa mungkin rasa kepedulian terhadap adik-adiknya yang membuat Ia begitu senang jika ada yang menyumbang ke panti asuhan tempat Ia dibesarkan dulu?


"Sepertinya kamu sangat peduli ya dengan Panti Asuhan yang dipimpin oleh Kak Nisa? Kamu donatur di sana juga kan? Udah lama?" daripada terus memikirkan Papa, lebih baik aku mulai menginterogasi suamiku sendiri. Aku mau tahu sampai sejauh mana Ia menyembunyikan fakta kalau dirinya pernah tinggal di Panti Asuhan tersebut.


"Bukan di sana aja sih. Aku memang menyisihkan sebagian pendapatanku untuk kusumbangkan kepada adik-adik di Panti Asuhan. Ada Panti Asuhan lain yang juga aku sumbang. Jadi, bukan punya Kak Nisa aja. Cuma, Panti Asuhan Kak Nisa yang paling lama, bisa dibilang Panti Asuhan Kak Nisa adalah Panti Asuhan pertama yang aku Sumbang." Lagi-lagi jika membicarakan tentang Panti Asuhan, mata Ditya begitu berbinar. Terlihat sekali kebahagiaan terpancar dari sorot matanya tersebut.


"Ternyata, suamiku memang benar-benar sangat baik hati. Aku bangga telah menikahi kamu. Kamu bukan hanya sempurna dalam hal fisik, tapi kamu juga punya hati yang sangat mulia. Berkat kamu, aku belajar untuk berbagi dengan orang-orang di sekitarku."


"Memang sebelumnya tidak?" tanya Ditya.


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku nggak punya banyak uang. Yang kaya dan banyak uang adalah Papa. Sejak dulu, aku terbiasa dengan uang jajan yang pas-pasan. Untuk jajan lebih, biasanya aku kerja paruh waktu di tempat lain. Sayangnya, waktu itu aku begitu bodoh, begitu mudah dibohongi. Kalau tahu begitu, lebih baik uang gajiku aku sisihkan untuk adik-adik di Panti Asuhan saja!"


Ditya tersenyum. "Tak apa. Enggak ada kata terlambat untuk menyumbang dan untuk berbagi kepada sesama. Mungkin, waktu itu kamu belum mampu tapi sekarang kamu bisa. Kamu kan punya perusahaan dan kamu juga mendapat penghasilan dari endorse. Kalau untuk biaya hidup kamu sehari-hari ada aku yang menanggungnya. Jadi, kamu punya banyak peluang untuk bersedekah."


"Kamu benar. Hari ini, aku akan pergi ke Panti Asuhan bersama Bima. Aku butuh bantuan Bima untuk mengangkut barang-barangku. Aku berharap semoga barang-barang yang aku sumbangkan bisa bermanfaat untuk adik-adik di sana. Kamu tahu kan, ada banyak koleksi buku aku yang bisa menambah ilmu pengetahuan mereka. Ada juga beberapa baju yang sudah aku modifikasi, mungkin mereka bisa jual nanti saat di bazar. Ada juga koleksi aksesoris. Bisa mereka pakai untuk mempercantik diri juga."


"Pergilah. Aku percaya sama kamu. Ya, meskipun aku agak kesal saat kamu memeluk dan menangis di pelukan Bima saat di pemakaman waktu itu. Jujur saja, aku cemburu. Aku mohon jaga kepercayaanku. Aku tahu kalian hanya berteman saja. Bisa kan?"


Rasanya senang mendengar Ditya mencemburuiku. "Iya. Terima kasih atas ijin kamu. Aku akan menjaga kepercayaan kamu."


****