Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Bertemu Kembali


POV Author


Ditya menahan nafas dan seakan membeku melihat kedatangan Lara yang begitu anggun dan sangat cantik. Istrinya kembali. Jauh lebih cantik daripada sebelumnya.


Pulpen yang sedang Ditya pegang bahkan sampai terjatuh dan Ia tidak menyadarinya. Perhatiannya tertuju hanya pada Lara Handaka yang masuk ke dalam ruangannya tanpa senyum sama sekali.


Lara dengan tatapan angkuh menatap sekeliling ruangan dan tatapannya pada akhirnya tertuju pada laki-laki yang masih berstatus suaminya. Ditya masih tetap saja. Masih tampan dan mempesona.


Kalau di majalah bisnis yang Ia lihat, Ditya begitu tampan. Namun saat melihat langsung ternyata jauh lebih tampan lagi. Suaminya masih mempesona seperti terakhir kali mereka bertemu.


"La-ra?" akhirnya Ditya bisa mengeluarkan sepatah kata. Ia singkirkan dulu keterkejutannya dan berdiri. Ia berjalan menghampiri Lara.


Tanpa sadar Ditya hendak memeluk Lara. Rasa rindu begitu membuncah dalam dirinya. Lara masih memiliki tempat teristimewa dalam hatinya sampai saat ini dan Ditya semakin yakin saat mereka terpisah.


Awalnya Ditya sempat meragukan kata-kata Lara yang mengatakan kalau bukan Lara yang Ditya cintai melainkan Agni. Ditya meyakinkan dirinya dan sangat yakin kalau yang Ia cintai adalah Lara.


Saat Agni meninggal, Ia sangat sedih. Rasa marah menguasainya karena menganggap Agni meninggal secara tak wajar. Namun saat Lara pergi, hatinya hancur dan dunia seakan runtuh. Hanya bekerja dan bekerja caranya mengisi kekosongan di hatinya.


Kini, sang pemilik hati kembali. Membawa segudang harapan dan mengisi kekosongan dengan kebahagiaan. Setidaknya itu yang Ditya harapkan.


Sayangnya, Lara menahan tubuh Ditya dengan tangannya. Tak mau Ditya sampai memeluknya apalagi melakukan kontak fisik sama sekali.


"Sebaiknya kita duduk dulu!" Ditya tak mau memaksakan kehendaknya. Meskipun Ia sangat merindukan Lara, Ia menahan diri. Lara yang menolak pelukan dari-nya menandakan kalau amarah dalam diri Lara belum hilang. Ditya lalu menyuruh sekretarisnya membawakan minum untuk mereka berdua.


Lara lalu memilih sebuah sofa yang jauh dari Ditya. Ia bahkan tak mau duduk bersebelahan dengan Ditya. Lagi-lagi, Ditya mengalah. Ia sudah cukup senang melihat kedatangan Lara. Bisa melihat Lara kembali adalah suatu mukjizat baginya.


"Bagaimana keadaan kamu? Kemana kamu selama ini? Aku mencari kamu dan tak pernah bisa menemukan keberadaanmu. Aku bahkan sudah datang ke rumah tepi pantai milik Bima, namun ternyata kamu sudah pergi." Ditya pun memulai percakapan di antara mereka.


"Itu urusanku! Kamu nggak perlu tahu dimana aku berada! Kenapa kamu tidak menandatangani surat cerai yang aku kirimkan?" tanya Lara dengan nada ketus.


"Karena aku memang nggak mau bercerai dari kamu. Lebih baik, aku biarkan kamu pergi karena aku yakin kamu pasti akan kembali. Karena itu aku nggak pernah melepaskan ikatan di antara kita."


Lara tersenyum sinis. Percakapan mereka harus berhenti manakala sekretaris Ditya datang dengan membawa dua buah minuman untuk mereka berdua.


"Aku minta laporan keuangan selama 5 tahun terakhir!" sengaja Lara mengatakannya di depan sekretaris Ditya.


"Baiklah. Akan aku berikan. Tapi nanti, kita ngobrol dulu. Masih banyak yang harus kita bicarakan." bujuk Ditya.


"Kalau kamu enggak mau memberikannya sekarang, aku akan minta sendiri pada Bagian Keuangan!" ancam Lara. Kini Lara memang sudah berubah, Ia tak lagi gadis lemah seperti dulu. Jika Ia diancam, Ia akan mengancam balik. Seperti yang Ia lakukan saat ini pada Ditya. Lara tahu ini adalah upaya Ditya untuk memperlama keberadaan dirinya di ruangan ini.


"Oke. Aku berikan sekarang. Tapi kamu janji, kamu akan lebih lama lagi berada di sini. Masih banyak yang harus kita bicarakan. Kalau tidak, aku enggak bisa memberikannya pada kamu!" Ditya masih berupaya untuk menahan Lara lebih lama lagi.


"Ya sudah aku akan minta pada Bagian Keuangan!" lagi-lagi Lara tidak mempan untuk diancam. Ia mengambil tasnya dan berniat untuk berdiri dan pergi sendiri ke Bagian Keuangan.


Ditya mengumpulkan stok sabar dalam dirinya dan akhirnya Ia menyerah. "Ambilkan laporan keuangan!" perintah Ditya pada sekretarisnya.


Keinginannya untuk menahan Lara lebih lama sepertinya akan susah. Sekretarisnya yang sejak tadi diam membeku sambil memperhatikan pasangan suami istri yang sudah lama tidak bertemu ini akhirnya pergi karena perintah langsung dari atasannya.


"Duduklah kembali. Sambil menunggu sekretarisku mengambilkan laporan, minumlah dahulu!" bujuk Ditya.


Lara kembali duduk di tempatnya. "Aku enggak haus!" tolaknya.


"Sabar Ditya... Sabar!" batin Ditya.


"Kamu cantik sekali hari ini! Semakin cantik saja sejak terakhir kita bertemu!" puji Ditya. Biasanya perempuan kalau sedang marah akan lupa terhadap kemarahannya jika dipuji.


"Aku datang ke sini bukan ingin menerima pujian dari kamu! Aku akan kembali bekerja dan aku mau, aku yang memimpin perusahaan ini!" kata Lara dengan tegas.


"Oh... Tidak masalah! Justru aku sangat senang. Kita bisa ketemu setiap hari. Itu yang aku mau. Kamu mau bekerja dimana? Ruangan ini kan luas, akan aku bagi dua nanti. Kamu di sebelah kanan dan aku di sebelah kiri. Kita bersebelahan. Atau aku akan buat tempat duduknya berhadap-hadapan agar kita bisa terus saling menatap?!" Ditya terus menggoda Lara, berharap amarah dalam diri Lara perlahan terkikis dan teringat lagi akan cinta mereka yang dulu sangat membara.


"Aku mau di ruangan ini sendiri. Kamu saja yang pergi dari ruangan ini! Toh seharusnya ruangan ini memang milikku!" tolak Lara mentah-mentah.


Ditya tak habis akal. Bagaimanapun Ia harus membujuk Lara agar mau satu ruangan dengannya. Dityaa nggak mau kehilangan kesempatan lagi untuk kedua kalinya.


Terlambat menemukan Lara adalah penyesalan dalam hidupnya. Ia selalu berandai-andai kalau saja Ia tidak terlambat waktu itu. Karena itu, Ia menjadi semakin agresif dan menggunakan segala kemampuan bisnisnya untuk memperdaya Lara agar mau satu ruangan dengannya.


"Sayangnya, permintaan kamu kali ini nggak bisa aku turuti. Mengubah kepemimpinan perusahaan dalam waktu sekejap itu nggak mungkin. Kamu juga tahu itu. Meskipun kamu pemegang saham terbesar di perusahaan ini, namun aku adalah pemimpinnya. Memecat aku berarti harus mengumpulkan para pemegang saham dan mengadakan rapat umum pemegang saham. Kamu yakin kamu yang baru datang akan mendapatkan kepercayaan dari mereka?" kata Ditya penuh tekanan.


"Kamu nggak ada pengalaman memimpin perusahaan, Ra! Dulu. Memang kamu sempat bekerja di perusahaan ini, tapi sudah 5 tahun berlalu. Bisnis terus mengalami perubahan, kamu nggak akan bisa mengejar ketertinggalan kamu dalam waktu sekejap. Tapi kamu tenang aja, aku akan memberikan tampuk kepemimpinan ini kembali pada kamu. Tentunya, setelah kamu belajar untuk menjadi pemimpin yang baik padaku. Kamu nggak usah khawatir aku akan melepaskannya sendiri."


Ditya tersenyum. Ia tahu, Lara sedang memikirkan perkataannya yang sangat masuk akal tersebut.


***