Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Tanda Tangan-2


Lara


Keesokan harinya saat aku sedang membahas pekerjaan dengan Papa di ruangan kerjanya, tiba-tiba Anggi datang. Wajah Anggi ditekuk dan bibirnya dimanyunkan.


"Ada apa kamu datang ke kantor Papa?" tanya papa saat melihat anak manja itu datang dengan wajah kesalnya.


"Pa, Lara tuh keterlaluan tau enggak Pa!" Anggi lalu duduk disamping Papa dan mulai mengadu pada Papa.


"Keterlaluan bagaimana?" Papa melihat ke arahku, aku mengangkat kedua bahuku pertanda aku nggak tahu apa yang dikatakan oleh Anggi.


"Jangan pura-pura nggak tahu deh! Lara tuh Pa, dia udah menjegal rencana yang sudah susah payah dibuat oleh Arya. Lara menolak begitu saja rencana Arya tanpa dibaca terlebih dahulu! Padahal, sudah beberapa hari ini Arya selalu lembur dan pulang malam hanya demi membuat rencana yang dengan susah payah Ia buat. Eh.... tanpa dibaca dulu oleh Lara sudah ditolak mentah-mentah. Sok berkuasa sekali Lara itu, Pa!


Oh... ternyata dia datang karena Arya sudah mengadu kalau budget yang kemarin dia ajukan sudah aku tolak. Jadi laki-laki kok cengeng banget sih, sebentar-bentar ngadu. Untung saja aku nggak jadi sama laki-laki macam dia! Kalau tidak, aku akan terus direngek olehnya.


Papa kini melihat ke arahku dan meminta jawabanku. Oke kalau kamu ngadu sama Papa, aku juga bisa ngadu!


"Jadi begini Pa, kemarin Arya datang dan mengajukan budget untuk produk baru miliknya. Arya bilang, dia udah mengajukan ke divisi keuangan namun ditolak. Lara udah baca kok budget yang Arya ajukan. Jumlahnya itu nggak masuk akal. Untuk sebuah produk baru, bukannya menekan biaya tapi malah over budget. Arya sih bilang kalau produknya laku terjual maka akan balik modal. Lara juga tahu, semua produk juga kayak gitu. Tapi, untuk produk yang baru saja diluncurkan memiliki biaya sebesar itu bukankah hanya menambah beban perusahaan saja? Iya kalau produknya laku, kalau malah gagal dan malah mengakibatkan kerugian bagi perusahaan bagaimana? Bukankah itu sia-sia belaka?" jawabku terus terang.


Papa mengangguk mendengar penjelasan yang kukatakan. Jelas, aku mengatakan yang sejujurnya. Pasti Papa akan lebih percaya dengan omonganku dibanding dengan pengaduan dari Anggi.


"Kamu sudah dengar kan Anggi, penjelasan dari Lara? Lara itu enggak sembarangan menolak suatu budget yang diajukan. Pasti punya pertimbangan sendiri. Kalau misalnya Arya tetap mau mengajukan anggaran, buat anggaran yang lebih realistis. Jangan over budget. Nanti Papa yang akan menganalisa sendiri." Papa bertindak sebagai orang tua yang adil. Mendengarkan saranku namun juga mempertimbangkan pengaduan yang Anggi lakukan.


"Tapi Pa, Lara tuh enggak memeriksa dulu Pa. Dia langsung menolak saja budget yang diajukan oleh Arya. Itu yang membuat Anggi kesal. Apa Lara sudah merasa semena-mena pada Arya? Arya itu calon suami Anggi loh, Pa! Dia yang akan membantu Papa memimpin perusahaan ini." rajuk Anggi.


Arya akan memimpin perusahaan? Jangan mimpi! Tak akan aku biarkan perusahaan ini jatuh ke tangan orang macam kalian berdua! Camkan itu!


"Papa mengerti. Kalau kamu masih mau mengusut tuntas tentang masalah budget tersebut, suruh saja Arya datang kesini dan menghadap Papa. Biar Papa sendiri yang memeriksa budgetnya!" Papa malah menantang balik Anggi.


"Hm... Anggi coba hubungi Arya dulu ya, Pa." Anggi lalu meminjam telepon yang ada di ruangan Papa untuk menghubungi ext Arya.


Aku dan Papa kembali membahas tentang pekerjaan sambil menunggu Arya datang. Tak lama pintu ruangan Papa diketuk dan datanglah Arya membawa berkas anggaran yang diajukan.


"Siang, Pak! Bapak manggil saya?" tanya Arya dengan penuh hormat. Aku memperhatikan map yang Arya bawa. Aku menaruh curiga, sepertinya dia punya rencana lain.


"Mungkin Lara terlalu sibuk, Pak. Jadi nggak sempat memperhatikan budget yang saya buat." Arya mulai bermain curang. Bertindak seakan-akan aku adalah orang yang tidak memeriksa pekerjaannya dan lebih mengutamakan emosi.


Papa lalu menerima berkas yang Arya berikan. Ia memeriksa setiap halaman dengan teliti lalu tibalah untuk membuat keputusan. "Budget-nya masuk akal kok. Jumlah produksinya dengan biaya pembuatan juga masih masuk di akal dan kamu juga pintar ya, tidak produksi dalam jumlah besar terlebih dahulu karena masih produk baru dan biayanya juga ditekan sedemikian rupa sehingga masuk akal kok untuk dijalankan."


Aku terbelalak kaget mendengarnya. Yang Arya ajukan kemarin padaku bukan biaya itu! Biaya yang kemarin itu justru sangat tidak masuk akal. Dia memproduksi banyak barang dan dengan harga yang lebih mahal. Kenapa Ia mengganti laporannya?


"Boleh Lara lihat dulu Pa?" Papa lalu menyerahkan laporan yang dipegang oleh Papa padaku.


Laporan tersebut memang benar sudah diganti oleh Arya. Sialan! Ternyata aku dijebak oleh mereka! Aku enggak hati-hati dan mereka sengaja membuat seakan-akan aku ini tidak profesional dalam bekerja. Aku masuk jebakan mereka! Sial!


"Tuh kan, Pa! Lara nggak memeriksa hasil pekerjaan Arya dengan teliti! Lara tuh terlalu sibuk dengan syutingnya jadi nggak bisa membagi waktu antara pekerjaan kantor dengan pekerjaannya sebagai selebgram! Kalau begini caranya, apa dia bisa profesional dalam bekerja? Kasihan Arya dong Pa! Arya udah susah-susah membuat budget yang masuk akal dan ditekan seminimal mungkin tapi ternyata Lara malah bertindak sok dengan menolaknya tanpa memeriksa langsung budget yang Arya buat!" Anggi pun mulai memanas-manasi keadaan.


Lagi-lagi Ia pintar bermain kata-kata untuk membujuk Papa. Aku tahu mereka berdua merencanakan ini semua untuk menjebakku. Mereka ingin menguasai perusahaan Papa dan kehadiran aku disini cuma membuat langkah mereka terganggu saja. Lihat saja nanti, aku akan menikah dengan Ditya dan nanti dia yang akan mengurus perusahaan ini serta menghancurkan kalian berdua!


"Sudahlah! Mungkin Lara lelah karena dia harus double job. Kalau kayak gini, Papa setuju dengan budgetnya. Nanti kamu tinggal ajukan saja ke bagian keuangan. Papa tanda tangan di sini ya sebagai bukti kalau Papa sudah setuju." Papa langsung menandatangani surat persetujuan untuk rencana yang dibuat oleh Arya.


Sial! Lagi-lagi aku kalah dari rencana licik mereka. Akan kubalas mereka nanti!


Papa tidak mempermasalahkanku, namun aku merasa kalau posisiku semakin lama semakin dibuat tidak berarti di perusahaan ini. Aku memang bekerja hanya setengah hari kalau ada syuting dadakan, tapi bukan berarti aku bekerja main-main di perusahaan ini. Aku serius menjalankannya.


Anggi dan Arya lalu meninggalkan ruangan Papa sambil tersenyum penuh kemenangan. Selepas mereka pergi aku meyakinkan Papa kalau budget awal yang dibuat oleh Arya memang berbeda dari laporan yang diajukan hari ini ke Papa.


"Pa, Lara periksa semuanya. Lara enggak sembarangan tolak. Beneran, Pa. Laporan tadi tuh berbeda dengan laporan yang kemarin diajukan sama Lara." kataku membela diri.


Papa hanya tersenyum mendengar pengaduanku. "Kamu sampai emosi seperti ini karena melihat dua laporan yang berbeda? Kamu harus sering lebih banyak belajar lagi, karena kejadian seperti ini tuh akan terus berulang. Akan banyak orang yang menjatuhkan posisi kamu karena mereka sendiri mengincar apa yang kamu miliki,"


"Papa tahu apa yang kamu katakan adalah sebuah kejujuran. Namun, saat bukti yang dimanipulasi terlihat lebih meyakinkan daripada sebuah kejujuran, maka kamu akan kalah. Lain kali, Papa minta kamu lebih teliti, lebih hati-hati lagi dan kalau memang itu adalah laporan yang Arya ajukan, kamu minta salinannya sebagai bukti kalau kamu sudah memeriksa laporan tersebut. Jangan sampai kejadian hari ini terulang lagi sama kamu di masa depan,"


"Jangan khawatir, Papa menyetujui anggaran itu karena memang benar-benar masuk akal. Banyaklah belajar mempelajari watak dan tabiat seseorang. Karena perusahaan ini bukan hanya didirikan berdasarkan kemampuan saja, ada andil watak seseorang didalamnya. Ada juga yang bermain licik dan suka menjatuhkan orang lain. Jadikan ini pelajaran agar kamu lebih baik lagi nantinya."


****