
...Warning! Ada adegan 21++ Bisa dibaca sehabis maghrib. ...
Lara
Aku masih penasaran akan dibawa kemana oleh suamiku ini. Ditya masih mengulum senyum dan merahasiakan tujuan kami.
"Ih.. Kemana sih? Bikin penasaran aja deh!" rengekku dengan manja.
Aku melingkarkan tanganku di lengan kekar Ditya seraya menyandarkan kepalaku di lengannya. Ah... Nyaman sekali... Rasanya begitu aman dan terlindungi.
"Rahasia!" masih saja suamiku ini bermain teka-teki. Aku makin penasaran saja dibuatnya.
"Ih... Gitu deh. Ayo dong kasih tau!" rengekku lagi.
Ditya malah mencubit ujung hidungku dengan gemas. "Sabar! Nanti pasti kamu tau mau kuajak kemana."
Huh... Ditya ternyata keras kepala. Sekali bilang rahasia akan selamanya rahasia.
"Marah?" tanya Ditya saat aku tak lagi merengek dan asyik menatap lampu jalanan sambil tetap bersandar di lengannya yang kokoh.
Aku menggelengkan kepalaku. "Cuma lelah aja. Lelah yang membahagiakan."
"Aku setuju. Lelah tapi bahagia rasanya." ujar Ditya.
Aku tersenyum. "Tak ada yang menyangka kalau jodohku adalah kamu. Mantan bos besarku. Ternyata jodoh seseorang tuh memang dekat, asal kita mau membuka mata dan melihat lebih jelas saja."
"Iya. Aku juga enggak menyangka akan berjodoh dengan gadis nekat yang ngirimin video buatannya ke perusahaanku untuk bekerja sama. Tapi aku salut dengan keberanianmu." Ditya mengusap rambutku dengan lembut. "Enggak semua orang punya keberanian seperti yang kamu miliki. Dalam hidupku, aku baru menemukan beberapa orang saja yang memiliki keberanian seperti kamu."
Aku mengangkat kepalaku. "Kadang, mendapatkan sesuatu bukan hanya diperlukan usaha saja. Keberanian juga kunci utama."
Ditya mengecup keningku dengan lembut dan penuh kasih. "Kita melangkah sejauh ini juga karena ada keberanian di samping rasa cinta. Benar?"
Aku tersenyum dan menguasai diriku. Ada supir yang mungkin saja sedang memperhatikan kemesraanku dan Ditya saat ini.
Mobil pun berbelok ke salah satu apartemen mewah. "Kita... Tinggal disini?"
Ditya mengangguk. "Daripada bersama keluarga kamu atau keluarga aku, lebih baik kita tinggal sendiri. Selain lebih mandiri juga lebih bebas." Ditya tersenyum penuh arti. Aku tahu apa maksudnya.
Sambil menenteng koper milikku, kami berjalan menuju apartemen milik Ditya. Sebuah apartemen yang lumayan luas dan pastinya mahal karena berada di lokasi yang strategis. Dekat dengan kantor Papa.
Ditya menaruh koper sembarangan dan menutup pintu dengan kakinya. Secara tiba-tiba Ia menggendongku. Membuat aku tersentak kaget dibuatnya.
"Astaga! Kamu ngapain gendong aku? Ngagetin aja!" protesku. Kulingkarkan tanganku di lehernya. Takut jatuh aku, Ditya kan tinggi, kalau jatuh lumayan.
"Mau ngajak kamu mandi bareng lalu kita bersenang-senang. Kamu mau kan?"
Aku mengangguk dan tersenyum dengan penuh keyakinan. "Tentu Suamiku!"
Ditya tersenyum mendengar panggilan dariku. "Ready?"
Aku kembali mengangguk. "Go!!!"
Aku lalu digendong sampai ke kamar mandi mewah milik Ditya. Ada sebuah bathup besar cukup untuk kami berdua. Ups...
Untung saja aku sudah mengganti gaun pernikahan dengan dress. Proses copot mencopot pakaian pun dilakukan dengan mudah dan cepat.
Bak dua orang yang sudah lama tidak meluapkan gairah terpendam, kami pun langsung berciuman dan berpagut. Ditya dengan ahlinya menurunkan dressku, begitu pun denganku yang mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.
Rasa lelah dan kangen kasur yang kami rasakan tadi saat menjadi pengantin kini lenyap sudah. Berganti dengan rasa enak menggoda yang pernah kami rasakan sebelumnya.
Kurapatkan diriku makin mendekat seiring dorongan tangan Ditya di pinggangku yang makin memangkas jarak di antara kami.
Dressku sudah dilucuti Ditya. Hanya tinggal bra dan cd saja yang tersisa. "Selalu mempesona!" puji Ditya sambil mulai menuntunku menuju bathup. Rupanya tadi Ia menyalakan dulu air dalam bathup saat aku begitu fokus dengan ciumannya.
Bagaimana Ia bisa memikirkan hal sepele itu ditengah kami bersilat lidah dan saling memagut? Aku saja sampai hampir terduduk lemas menahan tubuhku yang rupanya begitu merindukan sentuhan demi sentuhan yang Ditya berikan.
Kami pun mulai saling bercumbu di dalam bathup berisi air hangat. Ditya meraba belakangku dan mengambil sebotol sabun dan menuangkannya tanpa dilihat dahulu. Kami masih saling bersilat lidah dan meraba.
Aku contohnya, asyik menelusuri perutnya yang datar dan dada bidangnya yang keras karena otot. Wow... Sempurna sekali suamiku ini.
Kini Ditya mulai mencumbu tubuhku. Dimulai dari leher dan berlama-lama di dua buah sintal milikku. Membuatku mengerang dan memanggil namanya dalam suara serak yang mende sah.
"Ditya..."
"Yes, Baby. Call my name..." kembali Ditya memberikan kenikmatan demi kenikmatan yang membuatku ingin cepat-cepat merasakan penyatuan.
"Are you ready?" tanya Ditya. Rupanya Ia pun merasakan hal yang sama.
"Ya... " jawabku dengan yakin.
Ditya pun mulai memasukiku. Awalnya sakit, tak berbeda sakitnya dibanding yang pertama dulu.
"Relax... Aku pelan-pelan ya!" ujar Ditya yang rupanya kesulitan karena aku tegang. Ia pun kembali memancing gairahku, membuatku relax dan akhirnya berhasil melakukan penyatuan.
Saat Ditya bergerak, aku merasakan sensasi yang berbeda. Aku mau lagi! Aku tak peduli kalau saat ini banyak busa yang mengelilingi kami.
Aku pun kembali mendesahkan nama Ditya. Membuatnya semakin terus bergerak memberikanku kenikmatan demi kenikmatan.
Busa di antara kami semakin banyak, seiring gerakan Ditya yang semakin cepat. Aku pun merasakan kenikmatan yang baru kurasakan sekarang, saat pertama dulu lebih banyak sakitnya dibanding enaknya.
Tubuh Ditya pun lemas dan aku merasakan sesuatu yang hangat memenuhi bagian inti milikku.
Ditya lalu duduk di sampingku. Tak mau tubuhnya yang berat terus menerus menindihku.
Kami pun saling menatap. Aku melihat Ia begitu mencintaiku. Tatapannya penuh cinta. Aku bahagia sekali. Inilah kebahagiaan yang selalu ingin aku rasakan.
Ditya lalu tersenyum setelah nafasnya yang tersengal mulai teratur. "Hari ini sekali dulu ya. Aku capek. Kita lanjut sehabis bangun tidur."
Kupikir Ia mau bicara apa. Ternyata...
Aku mengangguk sambil tersenyum. "Iya."
Kembali Ditya memelukku dan mengecup keningku. Kami pun melanjutkan acara mandi yang sebenarnya lalu memakai bathrobe ke dalam kamar.
Aku belum berpakaian. Aku mau mengeringkan rambutku dahulu dan memakai skincare sebelum tidur. Hal yang rutin kulakukan sejak perawatan wajah di klinik.
Ditya ternyata sudah berpakaian. Ia mengambil alih hair dryer dan membantuku mengeringkan rambut. "Rambut kamu cantik sekali. Panjang, lurus dan halus."
"Kamu selalu saja memujiku. Seakan aku tak ada kekurangannya sama sekali. Padahal aku jauh dari sempurna." aku selalu teringat perkataan menyakitkan Arya yang mengatakan aku jelek.
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Pujian aku tulus. Kamu wanita paling cantik di mataku. Cantik alami. Cantik yang tersembunyi dan hanya aku yang bisa melihatnya sejak pertama kali."
Ada yang tidak melayang tidak dipuji kayak gitu?
****