
POV Author
"Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku, Ra?!" kata Ditya karena sejak tadi Lara hanya terdiam sejak mendengar pengakuan darinya.
"Aku nggak mau bahas ini sekarang!" kata Lara dengan dingin.
"Harus berapa kali aku katakan kalau aku menyesal? Harus berapa kali aku harus meminta maaf sama kamu? Haruskah aku bersujud dan memohon ampunan dari kamu? Tuhan saja maha pemaaf kenapa kamu tidak memaafkan kesalahanku?"
"Aku bukan Tuhan! Aku juga manusia yang masih punya rasa sakit hati! Kamu pikir, aku bisa semudah itu memaafkan seseorang yang menikahiku dengan tujuan mencari tahu kematian sahabatnya? Kamu pernah enggak berada di posisi aku? Kamu adalah satu-satunya yang aku andalkan selain Papa. Kamu satu-satunya yang aku percaya bisa melindungiku. Ternyata apa? Kamu terlalu terobsesi dengan rencana kamu untuk menyelidiki kematian sahabat dekatmu sampai nekat menikah denganku! Bagaimana aku bisa percaya setiap perkataan dari mulut kamu, sedangkan ikatan pernikahan yang sakral saja bisa kamu permainkan!" balas Lara dengan emosi meluap-luap.
"Aku tahu, itu kesalahanku. Jujur saja, memang itu niat aku dari awal. Mencari tahu penyebab kematian Agni. Namun, setelah kenal kamu lebih jauh aku berubah pikiran. Aku mulai menerima kalau kamu itu bukanlah Agni dan kamu bukanlah penyebab kematian Agni. Aku salah! Aku tahu itu. Namun sejak awal aku enggak pernah meragukan cintaku buat kamu. Aku tahu kamu dan Agni adalah dua orang yang berbeda. Sempat beberapa kali aku terkecoh karena persamaan sifat kalian. Namun aku bisa membedakan mana Lara dan mana Agni. Dan aku, mencintai kamu Ra!"
Lara sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak menetes. Ia tak mau pertahanannya runtuh karena tersentuh oleh kata-kata Ditya yang begitu membuatnya terbuai.
"Kasih aku kesempatan untuk membuktikan bahwa apa yang aku katakan sama kamu itu benar adanya."
"Bagaimana aku bisa percaya sama kamu kalau kamu satu kubu dengan Tante Sofie?!" sindir Lara.
Ditya terkejut mendengar perkataan Lara. "Satu kubu? Dengan Tante Sofie? Untuk apa?"
"Ya... untuk menyatukan semua saham kalian agar posisi aku bisa tergantikan di perusahaan! Itu kan yang membuat kamu masih bertahan selama ini?"
Ditya geleng-geleng kepala mendengar perkataan Lara. "Jadi itu yang bikin kamu benci banget sama aku? Bukan hanya masalah di antara kita berdua tapi juga praduga kamu kalau aku ini bersekutu dengan Ibu tiri kamu itu? Ra, jujur aja aku pernah ditawari bekerja sama dengan Tante Sofie. Aku berpura-pura menerimanya dengan tujuan agar perusahaan kamu tetap aku yang memimpin!"
"Oh ya? Kau pikir aku akan percaya? Buktinya, kamu mulai membeli saham mereka!"
"Jelas aja aku harus membeli saham mereka! Aku sudah memasang jebakan agar mereka pikir kalau aku di kubu mereka. Kamu lihat saja, Arya dan istrinya Anggi bertindak seperti benar-benar pemilik perusahaan. Gaya hidup mereka yang melebihi batas membuat mereka kesulitan membayar hutang hutang mereka. Akhirnya mereka terpaksa menjual saham dan Aku membelinya. Tujuannya apa, agar kekuatan mereka semakin berkurang. Asal kamu tahu, saham yang aku punya ini akan aku kembalikan lagi sama kamu! Kalau Arya yang memimpin perusahaan, perusahaan kamu akan bangkrut! Lalu bagaimana dengan hidup kamu? Kamu tahu, selama ini aku selalu mengirim uang bulanan untuk kamu? Aku juga mengirim yang seharusnya dikirimkan dari perusahaan kepada pemilik saham. Semua untuk apa? Untuk biaya hidup kamu, Ra! Karena aku percaya, dimanapun kamu berada kalau ada uang kamu bisa hidup dengan tenang dan kamu nggak akan kekurangan."
Lara terdiam dan tak lagi membantah apa yang dikatakan oleh Ditya. Apa yang Ditya katakan memang masuk akal, itulah mengapa Ia bisa tetap bertahan hidup di luar negeri dan bahkan membiayai pengobatan Bima. Semua karena uang yang terus Ditya kirimkan setiap bulannya.
"Please, kamu percaya sama aku! Aku nggak pernah menghianati kamu! Kalau kamu enggak percaya, aku bisa mengalihkan 30% saham perusahaan milikku sama kamu sekarang juga! Aku nggak butuh, Ra! Keluargaku sudah mewariskan seluruh hartanya sama aku padahal mereka bukan orang tua kandungku. Aku sebenarnya nggak mau, tapi demi mereka aku akan menerima. Aku akan memajukan perusahaan dan tetap menghidupi karyawan mereka yang banyak itu. Aku hanya ingin, aku tetap punya uang agar bisa terus membantu Panti tempat aku dibesarkan. Aku tak mau, adik-adikku hidup kekurangan dan Kak Nisa harus berjuang seorang diri menghidupi Panti yang semakin banyak penghuninya. "
Akhirnya, pertahanan diri Lara runtuh. Lara pun mulai menangis dan menyesali pemikirannya selama ini. Ia sudah banyak berprasangka buruk pada suaminya sendiri. Padahal selama ini Ditya selalu menyayanginya. Rasa sakit hati karena ditipu membuat Lara dibutakan segalanya. Padahal, Bima sudah mengatakan pada Lara untuk kembali pada Ditya.
Ditya menepikan mobilnya dan menghapus air mata di wajah Lara. "Maafin aku. Aku berjanji enggak akan membuat kamu menangis. Tapi ternyata, malah aku yang membuat kamu menangis kencang seperti ini." Ditya mengusap air mata Lara dengan penuh kasih.
"Aku dan kamu pasti butuh waktu untuk mulai mengenal sifat kita yang sebenarnya. Kamu yang menyembunyikan sesuatu dan aku juga yang menyembunyikan rahasia tentang hidupku. Kita berdua terlalu banyak merahasiakan sesuatu dan malah nggak terbuka satu sama lain. Satu yang pasti, kita berdua butuh komunikasi. Aku mau tahu apa yang terjadi dengan kamu, kemana kamu selama ini, bagaimana perasaan kamu selama ini sama aku? Kamu mau pembuka hati kamu untuk aku lagi? Mari kita saling mengenal dengan sejujur-jujurnya! "
Lara mengangkat wajahnya dan melihat ke dalam mata Ditya. Laki-laki di depannya ini berkata dengan jujur dan apa adanya. Ada ketulusan dalam setiap kata-kata yang diucapkan.
"Aku akan kasih kamu waktu sebanyak mungkin untuk menyembuhkan luka hati kamu karena apa yang telah kulakukan . Namun satu hal yang aku minta, biarkan aku menceritakan semua sama kamu. Dan biarkan aku mendengarkan semua cerita kamu. Karena yang kita butuhkan adalah komunikasi bukan hanya sekedar cinta membara seperti dulu. Kita bisa mengobrol selama 2 hari penuh kalau kamu mau. Tapi, kita makan dulu ya! Aku lapar!"
Mau tak mau Lara tersenyum mendengar perkataan Ditya. Sedang serius seperti ini, dia malah mikirin makan! "Gitu dong! senyum. Aku mau hanya melihat senyum kamu selama sisa hidupku. Aku enggak mau bikin kamu nangis lagi! Bisa menyentuh kamu seperti sekarang, itu yang aku mau. Kita makan dulu baru kita mengobrol yang lama. Heart to heart!"
****