Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Aku Bukan Pencuri


Lara


"Memangnya aku pernah minta cincin?" tanyaku penasaran. Sekalian saja aku tanya, berakting seakan aku ini Agni. Aku akan mengulik lebih dalam lagi dan tau bagaimana kehidupan Agni.


"Enggak sih. Kamu enggak minta. Kamu pernah bilang katanya di sekolah teman kamu ada anak yang cincinnya bagus. Katanya dibeliin sama orangtuanya. Kamu sedih dan berkata: "Andai orang tuaku masih ada. Pasti aku juga akan dibelikan cincin." Inget enggak?" tanya cowok itu.


Mana aku ingat? Ini kan bukan memori aku!


"Lupa!" jawabku jujur.


Cowok itu tersenyum. "Lupaan terus nih! Udah kayak nenek-nenek aja!" katanya seraya mengacak rambutku. "Kita kapan ada yang mengadopsi ya? Jadi kita bisa punya keluarga sendiri? Tapi kayaknya kita susah deh, kita udah terlalu besar. Mana ada yang mau punya anak sudah remaja kayak kita?"


Iya juga ya? Cowok ini masih remaja. Uang dari mana untuk membeli cincin?


"Kamu... Membeli cincin ini darimana uangnya?" tanyaku penasaran.


"Ya kerja-lah. Kamu lupa kalau aku kerja di restoran bagian cuci piring? Kemarin aku dapat bonus, lalu aku tambahin sama uang di celengan aku. Lumayan dapat cincin 2 gram. Kamu simpan ya. Kalau kamu butuh uang, bisa kamu jual."


Cowok ini kerja? Kayaknya usianya masih SMA deh. Rajin sekali. Tanpa sadar aku mengangguk.


"Nama kamu siapa?"


Belum sempat dijawab, mimpiku berganti. Kali ini aku sedang terengah-engah sehabis berlari. Nafasku memburu. Keringat bercucuran.


Kenapa aku lari ketakutan begini?


"Agni!"


Pasti itu panggilan untukku. Aku menoleh dan benar saja, cowok itu datang berlari di belakangku.


"Kamu bawa cincinnya?" tanya cowok itu.


Cincin?


Aku melihat kedua tanganku kosong. Aku memakai jaket hodie berwarna usang. Aku mencari di saku jaket dan benar saja, aku membawa kotak cincin yang cowok itu berikan.


"Bagus! Ayo kita sembunyikan!" Cowok itu lalu menarik tanganku. Ia berjalan celingukan agar tak ada yang melihatnya.


Ternyata Ia membawaku ke halaman belakang Panti yang luas itu. Ternyata benar. Ini di Panti. Mungkin karena sudah lama kejadiannya aku tak tahu dan banyak perubahan di sini.


Ia lalu mengajakku ke sebuah pohon besar. "Kita kubur disini saja." Ia lalu mengambil sebuah kaleng susu yang Ia bawa. "Pakai ini. Semoga aman. Toh ada kotaknya juga. Nanti kalau keadaan sudah tenang kita ambil lagi!"


Aku hanya bisa diam. Tak tahu apa yang harus aku lakukan.


"Jangan bengong! Nanti Ibu Yuli datang!"


"Ibu Yuli?" tanyaku. Siapa lagi Ibu Yuli?


"Ih kalau lagi panik kenapa kamu suka lupaan sih? Pemilik Panti kita itu Ibu Yuli! Kamu lupa?" omel cowok itu.


Aku memasang senyum. Jangan sampai ketahuan aku bukan Agni. "He... he... he... Aku cuma berakting. Jago kan akting aku?"


Cowok itu cemberut. "Iya. Jago! Kelak kamu akan jadi artis besar! Sampai teman sendiri aja kamu jadikan bahan latihan akting! Sudah ayo kita kubur di sini!"


Aku menurut meski aku merasa enggan. Rasanya sayang mengubur cincin emas yang cowok ini beli dari hasil kerja kerasnya.


"Nanti kita ambil lagi! Yang penting fitnah buat kamu hilang dulu!" aku menurut dan nemberikan cincin di saku hodie-ku pada cowok itu.


"Fitnah?" tanyaku tanpa bisa ditahan lagi. Pokoknya aku mau nanya yang banyak. Aku mau cari tahu semua yang terjadi. Aku harus tahu kenapa aku terus berada di mimpi yang bagaikan kenyataan ini.


"Ya apa coba namanya kalau bukan fitnah?" sambil mengubur cincinku, cowok itu terus berceloteh panjang lebar. "Aku tahu kakek tua bangka itu bukan ingin mengadopsi kamu karena sayang. Karena napsu! Kelihatan dari muka mesumnya!"


Ini apa lagi? Kakek tua bangka siapa lagi? Aku makin penasaran dan penasaran terus.


"Kalau sampai Ibu Yuli menyetujui kamu diadopsi sama kakek itu, aku akan protes. Aku akan marah! Kakek itu melihat kamu bukan penuh kasih sayang, tapi penuh napsu! Pokoknya kamu harus menolak kalau diadopsi. Jangan mikirin biaya Panti saat mengurus kamu! Biar aku yang kerja! Biar aku yang bantu biaya Panti. Kita bisa berhemat pasti. Kita bisa kok selama ini tanpa bantuan kakek mesum itu!" emosi sekali cowok itu. Sejak tadi marah-marah saja.


Aku bisa simpulkan kalau ada yang mau mengadopai Agni namun cowok itu tak setuju karena niat jahat si pengadopsi.


Cowok itu lalu berdiri dan menepuk tangannya yang kotor. "Ayo ke dalam! Kamu harus bilang dengan tegas kalau kamu tidak mencuri dari kakek itu! Kalau kakek itu bilang pernah melihat kamu memakai cincin miliknya, tantang saja untuk mencari ke sekeliling Panti. Tak akan bisa Ia temukan. Inget ya, jangan kamu katakan dimana kita menyembunyikan cincin itu!"


Aku mengangguk. "Iya."


"Ayo kita ke dalam."


"Tunggu, nama kamu siapa?" kembali aku bertanya siapa nama cowok itu, namun lagi-lagi mimpiku berubah.


Kali ini aku berada di dalam ruangan. Aku sedang disidang. Ada ibu-ibu yang sudah berumur namun terlihat sangat baik. Lalu ada bapak-bapak sekitar umur 50 tahun yang menatapku dengan tatapan berbeda. Tatapan serigala saat melihat domba.


Apa ini kakek mesum yang cowok itu bilang?


"Saya tak akan mempermasalahkan cincin yang diambil oleh Agni. Saya yang akan mendidiknya sebagai orang tua angkatnya kelak kalau mencuri itu tidak baik." kata kakek mesum itu. Aku tahu Ia berbohong. Mulutnya manis namun penuh maksud terselubung.


"Aku enggak mencuri! Cincinnya seperti apa saja aku tak tahu!" kataku membela diri.


"Tapi kemarin kamu memakai cincin! Itu punya Bapak, Nak. Nanti Bapak belikan lagi kalau kamu mau. Kamu akan Bapak belikan yang lain juga kalau mau jadi anak angkat Bapak. Kamu mirip sekali dengan putri Bapak yang sudah meninggal dulu. Mau ya Nak...." akting Bapak-bapak itu meyakinkan sekali namun aku tahu ada kebohongan dan niat jahat yang tersembunyi di dalam sana.


"Aku enggak mau. Aku mau tinggal di panti ini saja!" kataku dengan tegas.


"Kamu enggak kasihan sama Ibu Yuli. Selain harus membiayai Panti, Ibu Yuli juga harus menyekolahkan anaknya sendiri, Nisa. Pasti butuh banyak biaya. Kalau kamu jadi anak Bapak, bisa berkurang biaya yang dikeluarkan Ibu Yuli." bujuk kakek mesum itu.


Oh... Jadi Ibu Yuli adalah ibunya Kak Nisa. Pantas mukanya mirip. Jadi ini kisah saat Agni masih muda dulu. Saat Panti masih diurus oleh orangtuanya dulu.


"Maaf, Pak. Kalau Agni tak mau diadopsi jangan dipaksa. Masalah cincin, biar nanti saya yang ganti!" kata Bu Yuli pasrah.


"Jangan diganti, Bu. Aku enggak mencuri. Aku bukan pencuri. Aku bukan pencuri, Bu. Aku enggak pernah mencuri. Aku bukan pencuri!"


Aku merasakan tubuhku diguncang dan aku tersadar. Air mata sudah membasahi wajahku. Nampak Ditya mengerutkan keningnya.


"Sayang! Kamu mimpi buruk?" Ia menghapus air mataku.


Ternyata mimpi...


Tapi kali ini akan aku buktikan kebenaran mimpi itu!


****