
POV Author
Flashback
"Tadi Om bilang, Papa melakukannya karena Agni. Maksudnya Papa lebih peduli dengan Agni dibanding Lara gitu? Memangnya Agni anak kandung Papa dan bukan Lara?" tanya Lara setengah emosi.
Om Wisnu tersenyum. Wajar kalau seorang anak menanyakan anak lain yang dibela oleh Papanya. "Bukan seperti itu, percayalah. Anak kandung Papa kamu hanya kamu seorang, Ra. Papa kamu hanya menganggap Agni sebagai anak asuh saja, tidak lebih,"
"Saat Agni tahu kalau dirinya sakit parah, orang pertama yang Agni hubungi adalah Papa kamu. Agni bimbang. Ia selama ini harus membiayai adik-adik di Panti Asuhan. Kalau uangnya dipakai untuk berobat, bagaimana dengan adik-adiknya nanti? Agni pun meminta Papa kamu membantu membiayai adik-adiknya, sebagai gantinya Ia berjanji akan fokus berobat dan menyembuhkan dirinya." cerita Om Wisnu.
"Benarkah? Mereka sedekat itu? Kenapa Papa begitu baik pada Agni? Aku jadi curiga!"
"Percayalah, Papa kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan Agni. Semua karena hati Papa kamu saja yang sangat baik. Sekarang, kamu hiduplah dengan tenang bersama suami kamu. Jangan lagi memikirkan tentang Agni. Lalu masalah ibu tiri kamu, biarkan saja Ia mengambil rumah Papa kamu asal jangan perusahaan Papa kamu. Itu yang sekuat tenaga Papa kamu perjuangkan untukmu. Mungkin mereka bisa merasa menang sekarang, namun percayalah kebenaran akan datang dan membuka semuanya." nasehat Om Wisnu.
"Om akan tetap berpura-pura berpihak pada Ibu tiri kamu. Jadi, kita harus berakting seolah-olah kamu tidak mengenal Om." pesan Om Wisnu. "Kematian Papa kamu akan Om cari tahu lebih dalam lagi. Om berjanji!"
Mau tak mau Lara menuruti perintah Om Wisnu. Semua sudah terjadi. Tak bisa diulangi lagi.
Beberapa hari kemudian, Lara kembali bermimpi. Di mimpinya kali ini, Ia kembali melihat Agni dan Ditya. Tempat menguburkan cincin semakin jelas saja. Maka, dengan beralasan mau menyumbangkan barang-barang dari rumah Papanya, Lara pun kembali ke Panti.
Flashback Off
****
Bima
Aku begitu marah melihat Lara diteriaki begitu. Ditya memang marah dengan Lara, namun tak perlu sampai menuduhnya sebagai pembunuh segala!
Lara adalah cewek terbaik yang pernah aku kenal. Meski sempat tak mengenali sifatnya yang berubah jadi pemberani dan penuh percaya diri, namun Lara tetaplah Lara Handaka yang aku kenal.
Kebaikan hatinya selalu terpancar di manapun Ia berada. Keinginannya untuk berbagi dengan sesama selalu terlihat tulus dan tanpa pamrih. Ini yang membuatku semakin menyukainya. Namun Sayang, aku tak akan pernah bisa memilikinya...
Kupikir Lara akan menangis dan memohon Ditya mengampuninya yang telah diam-diam menggali kisah masa lalunya, tapi ternyata tidak. Lara kembali menjadi sosok yang pemberani. Lara bahkan melawan balik dan merubah posisi menjadi Ditya yang meminta maaf padanya.
Namun semua tidaklah lama. Sekuat mungkin menahannya, sehebat apapun Lara bersandiwara semua akan luruh bersama air mata yang terus menerus mengalir dari matanya. Mata yang biasanya berbinar dan penuh kasih sayang.
"Aku enggak percaya Bim... Aku enggak nyangka, kenapa Ditya tega melakukan semua ini sama aku? Aku mencintainya, Bim! Aku sangat mencintainya! Tapi apa? Pernikahan kami cuma sandiwara, Bim! Hanya demi mengetahui penyebab kematian wanita yang Ia cintai. Sakit hati aku Bim! Sakit...." ujar Lara sambil menangis pilu.
Ya Allah, Ra...
Aku saja sangat sakit hati melihat kamu diperlakukan seperti ini, Ra. Namun aku harus berbuat apa?
Sambil tetap fokus menyetir kuhapus air mata di wajah Lara dengan tangan kiriku. "Maafin aku, Ra. Seharusnya aku tidak memaksa kamu mencari tahu semuanya. Seharusnya kamu tak perlu tahu tujuan Ditya menikahi kamu. Seharusnya kita biarkan saja semuanya penuh teka-teki. Semua salah aku, Ra. Aku yang memaksa kamu! Salahkan aku saja, Ra." kataku penuh penyesalan.
"Enggak, Bim! Kamu enggak salah!" Lara memegang tanganku dan menggenggam dengan kedua tangannya. "Aku enggak akan pernah tau kebenaran mimpi aku kalau tidak dibuktikan. Sekarang aku sudah tau dan aku tak bisa meneruskan pernikahan ini lagi."
Deg...
Maksudnya apa?
"Maksud kamu apa, Ra?" tanyaku.
"Aku... Akan bercerai dari Ditya!"
Tanpa sadar aku mengerem mobil secara mendadak. Cepat-cepat tangan kiriku melindungi tubuh Lara. Untunglah kondisi jalanan sedang sepi.
Kesadaranku pulih, kutepikan mobilku dan bertanya pada Lara apa maksud perkataannya.
"Kamu mau cerai? Pernikahan kalian bahkan belum ada hitungan 2 bulan, Ra! Kamu enggak salah? Bagaimana pendapat orang nanti? Pasti kamu yang akan disalahkan dan akan tertekan dengan serangan netijen!"
"Lalu aku harus apa, Bim? Aku tak bisa lagi hidup dengan laki-laki jahat seperti Ditya! Aku enggak bisa, Bim!"
Aku tahu, aku tak bisa terus memaksa Lara mengikuti setiap perkataanku. Ia terlihat sangat hancur dan tertekan. Pasti hatinya sakit mendapati orang yang dicintainya hanya menipunya. Dulu saja Ia sampai nekat bunuh diri, jangan sampai Ia sekarang juga nekat melakukannya! Aku tak mau kehilangan Lara.
"Aku enggak akan memaksa kamu, Ra. Tapi bercerai, tidak bisa untuk saat ini. Kasih beberapa waktu agar masyarakat bisa menerima dan tidak menjudge kamu."
Lara terdiam dan memikirkan semua perkataanku. Ia menghapus air matanya dan terlihat sudah memiliki keputusan akan hidupnya.
"Baiklah. Aku bisa bercerai nanti namun aku tak bisa hidup bersama Ditya lagi. Jadi tolong kamu antar aku ke apartemen Ditya. Aku mau mengemasi semua barang-barangku dan tinggal di rumah kamu!"
Hah? Di rumahku? Enggak salah?
"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Lara dengan tatapan tajam.
"Enggak. Baiklah. Aku ikuti apa mau kamu!"
Mungkin ini sudah jalannya. Lama kelamaan Lara akan tahu tentangku. Tak apa, aku akan siap menerima kemarahannya daripada melihatnya sedih terus menerus.
Aku pun kembali mengemudikan mobilku menuju apartemen Ditya. Kuikuti Lara sampai ke dalam apartemen dan melihat betapa mewahnya apartemen milik Ditya. Beda memang kalau anak orang kaya, tapi aku tak iri.
Ditya kaya tapi bukan hidup bersama orang tua kandungnya, sedangkan aku? Aku tidak kaya namun aku bisa bersama orang tuaku yang sangat aku sayangi.
"Ada yang bisa aku bantu, Ra?" tawarku.
Lara menggeleng. "Tak perlu. Kamu duduk saja, Bim. Aku hanya membawa sedikit barang. Aku tak peduli mau dibuang nantinya sama Ditya. Aku tak tahan berada di apartemen ini terlalu lama."
Ditya belum kembali saat kami pergi meninggalkan apartemen miliknya dengan koper milik Lara di tanganku. Sepertinya Kak Nisa yang menghalangi keinginan Ditya memaksakan kehendaknya pada Lara. Baguslah. Aku bisa pergi dengan tenang.
Aku pun membawa Lara ke rumah kedua orangtuaku. Mereka tak berpikir macam-macam. Lara suka menginap dan tak masalah mau menginap kapanpun. Mereka tak tahu saja kalau Lara sudah hengkang dari rumah suaminya.
Lara menatap layar Hp miliknya yang terus berdering. Nama My Love tertera sebagai penelepon. Ia tak mau mengangkat dan terus menangis sambil menatap kosong layar Hp miliknya.
Aku tak tega membiarkan Lara seperti ini terus. Pasti sebentar lagi Ditya akan mencari dan datang ke rumahnya. Sebelum itu terjadi, aku akan membawa Lara pergi!
****