Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Takkan Pernah Menyesal


...*** Warning! Ada adegan 21+++. Bisa dibaca setelah buka puasa ya ***...


Lara


Untuk kesekian kalinya dalam sehari Ditya membuat wajahku tersipu malu. Aku nggak tahu dia bercanda atau serius namun saat mendengar kata-kata kupinang kau dengan bismillah membuatku serasa terbang ke langit ketujuh.


"Aku suka deh kalau kamu malu-malu kayak gitu. Jarang lo jaman sekarang cewek yang masih malu-malu. Biasanya banyak yang malah enggak punya malu dan tega merebut suami orang. Melihat kamu kayak gini, membuatku semakin yakin kalau kamu tuh spesial." gombal Ditya lagi.


"Aaah... Kamu curang! Aku kan gampang tersipu eh kamu gombalin terus! Hayo kamu suka ngegombal sama yang lain ya makanya jago banget?!"


Ditya tertawa mendengar tuduhanku. "Kalau aku bilang kamu yang pertama aku gombalin, kamu percaya enggak?"


Aku menggeleng. "Enggaklah! Lancar jaya gitu ngegombalnya!"


"Ha... ha... ha... Pilot aja enggak perlu jatuhin pesawat dulu supaya bisa menerbangkannya. Semua pakai ilmu makanya aku bisa ngegombal."


"Oh ya? Ilmu apa?"


"Ilmu tatapan mata." jawab Ditya serius.


Aku mencibirkan bibirku. "Ilmu apa itu? Baru dengar aku!"


Ditya mengambil lagi luti gendang dan menyuapiku. Lumayan lama juga mie tarempa kami dibuatkan. Mungkin karena restoran sedang ramai.


"Ilmu tatapan mata itu adalah ilmu kejujuran. Apa yang dilihat dari tatapan mata, itu yang diungkapkan. Contohnya begini, kamu cantik banget sih? Cantik alami yang bikin cewek-cewek di sini menatap dengan iri!" Ditya menunjuk beberapa cewek dengan isyarat matanya.


Aku mengikuti arah pandangannya dan benar saja. Ada beberapa cewek yang melihat ke arahku sambil membicarakanku pastinya. Ada yang berbisik dan mungkin mengenal siapa aku. Ada juga yang diam-diam mengambil fotoku.


"Aku jujur kan? Gombalan itu sebenarnya ungkapan kejujuran dari apa yang dilihat oleh mata, sayangnya ada beberapa orang yang membuat kebohongan hanya agar gombalannya disukai. Itu yang membuat makna gombalan jadi kebohongan dan tak berarti sama sekali." Ditya tersenyum saat makanan kami datang. "Akhirnya makanan kita datang. Yuk kita makan Cantik!"


Aku tertawa mendengarnya. "Kamu ngeledekkin aku? Ngikutin aku aja kalau lagi ngevlog!"


Ditya ikut tertawa. "Bukan. Aku bukan ngeledekkin kamu. Aku memang mau ngajak kamu yang cantik untuk makan."


"Mulai deh... mulai..." aku dan Ditya kompak tertawa.


Ternyata benar yang dikatakan Ditya. Mie tarempa dan luti gendang serta es teh tarik memang perpaduan yang sempurna untuk makan malam kami. Ditambah pemandangan indah dari lampu di jembatan menambah keromantisan di antara kami berdua.


Selesai makan, Ditya mengantarkanku ke hotel. Ditya memarkirkan mobilnya di basement dan kami berjalan sampai ke lobby hotel. Sambil bergandengan tangan rupanya.


Kami asyik mengobrol sampai tak menyadari ada anak kecil yang sedang meminum jus dan terjatuh. Air jusnya mengenai Ditya yang sedang menaiki anak tangga menuju lobby.


Byuuurrrr...


Jaket Ditya pun basah terkena jus.


"Maaf... maaf... Aduh... Anak saya jadi mengotori baju anda." kata Ibu anak kecil itu sambil menggendong anaknya yang menangis karena terjatuh.


"Oh tidak apa-apa. Nanti saya bisa bersihkan." kata Ditya. "Jangan nangis ya Dek, Om enggak apa-apa kok." Ditya bahkan mendiamkan anak kecil yang takut diomeli tersebut.


"Mau pakai jaket aku aja? Aku bawa jaket kok. Daripada basah dan lengket. Nanti aku cuci di kamar mandi, gimana?"


Ditya memikirkan tawaranku dan menyetujuinya. "Baiklah."


Kami pun berjalan menuju kamarku. "Silahkan masuk!" kataku setelah membuka kunci pintu kamar.


Ditya masuk ke dalam kamarku yang rapi. Aku memang terbiasa rapi dan tak suka barang-barang berantakan.


Ditya menatapku lekat dan membuka jaketnya lalu Ia pun membuka kancing bajunya satu demi satu. Bodohnya aku, bukannya berbalik badan aku malah terpesona dengan bentuk tubuh Ditya. Kekar dan berotot dengan perut kotak-kotak.


Wow...


Susah payah aku menelan salivaku. Ditya kini menatapku yang ketahuan terus menatapnya dengan terpukau. Aku hendak memalingkan wajahku ketika Ditya mendekatkan dirinya, menarik pinggangku yang membuat tubuh kami berdekatan lalu Ia mencium bibirku.


Bibirnya menciumku dengan rakusnya sementara tangannya melingkar di pinggangku. Tak membiarkan kami berjauhan. Dengan satu sentakan, Ditya merapatkan tubuh kami berdua.


Aku menjatuhkan jaket Ditya di lantai dan tanganku menyentuh perut datarnya. Menyusuri setiap keindahan dari pahatan Yang Maha Kuasa.


Bibir kami berdua saling berpagut. Saling mengecap dan berbelit. Aku memejamkan mataku. Menikmati keintiman kami berdua.


Tanganku menyentuh dad* bidangnya. Rasanya tanganku ingin menyentuh setiap jengkal tubuhnya. Memenuhi rasa penasaran dan ingin tahu yang besar.


Ditya melepaskan ciuman kami dan mulai turun mencium leherku. Aku merasa lemas dan melingkarkan kedua tanganku di lehernya. Takut terjatuh karena rasa nikmat yang kurasakan. Rasa yang baru kali ini kurasakan tentunya.


Aku tak lagi menelusuri tubuh kekar Ditya. Keadaan berbalik, Ditya yang kini menelusuri lekuk tubuhku. Membuatku semakin tak kuat menyanggah tubuhku.


Ditya tiba-tiba mengangkat tubuhku. Aku terkejut namun ciuman Ditya kembali membuatku terbuai. Aku bahkan sudah terbaring di tempat tidur sekarang.


Ditya sudah membuatku terbuai. Ditya sudah membuatku melayang akan setiap sentuhan yang Ia berikan. Aku tak mau berhenti. Aku tak mau sentuhan demi sentuhan ini menghilang.


Bak gayung bersambut, Ditya juga tak mau kegiatan kami terhenti. Ia membuka satu demi satu kancing bajuku tanpa aku tahu dan mulai menyentuh buah sintal milikku yang terasa kencang dan meremang.


Aku merasa seperti ada aliran listrik yang mengaliriku, apalagi saat Ditya mengu lum buah sintalku. Rasanya.... Wow....


Aku menjambak rambut Ditya. Merasakan kenikmatan yang baru sekali ini kurasakan.


Aku mulai mendesahkan nama Ditya, membuat Ditya kembali mencium bibirku. Aku terus membalas ciuman Ditya dan tak sadar kalau aku sudah membuat dosa besar.


Aku terlena dengan kenikmatan yang Ditya berikan sampai aku merasakan sakit di bagian intiku. Aku hendak protes namun Ditya kembali menyentuhku dan membuatku kembali terbuai.


Aku merasakan miliknya berada dalam diriku. Memaksa masuk disertai rasa perih yang kurasakan. Aku menahannya agar bisa memberikan kenikmatan balasan bagi Ditya.


Aku kembali mendesahkan nama Ditya ketika tubuh kami akhirnya bersatu. Perpaduan antara rasa nikmat tiada tara dan rasa perih. Kami saling memeluk, saling menyebut nama masing-masing sampai kami akhirnya tiba di pelepasan.


Aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam tubuhku. Ya, cairan milik Ditya ada dalam tubuhku. Ditya menatapku lekat lalu mencium keningku.


"I love you Lara. Aku mau kita menikah secepatnya! Kamu milikku!"


Aku tersenyum meski tubuhku terasa sangat sakit dan ada perih di bagian intiku. "I love you too, Ditya. Aku mau menikah denganmu. Kamu juga milikku!"


Ditya tersenyum dan melepaskan tubuhku. Ia menarik tubuhku yang tanpa sehelai benang pun yang melekat dan memelukku erat. Kembali Ia mencium keningku dengan mesra.


Peluh membasahi tubuh kami berdua meski kami berada di ruang ber-AC. Ditya makin mendekatkan tubuh kami. Nafasnya masih tersengal karena aktifitas yang kami lakukan.


"Kamu enggak menyesal kan menyerahkan mahkotamu padaku?" tanya Ditya seraya mengelus wajahku dengan jari tangannya. Kembali Ditya mengecup pipiku penuh cinta.


"Tak pernah. Aku tak pernah menyesalinya." jawabku dengan yakin.


"Aku akan mempertanggung-jawabkan perbuatan kita. Sepulang dari Batam, aku akan langsung melamarmu. Aku enggak mau kehilangan kamu. Aku berjanji!"


****