Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Melamun


Lara


Aku terlalu asyik dengan pikiranku sampai tidak menyadari kalau Ditya sudah pulang ke rumah. "Loh? Kenapa lampunya dimatiin, Sayang?" tanya Ditya.


"Kamu udah pulang? Tadi aku ketiduran, makanya aku gelapin lampunya." aku sengaja berbohong pada Ditya. Padahal, saking aku terlalu asyik dengan pikiranku aku tidak menyadari kalau lampu kamar sejak tadi belum aku nyalakan.


"Iya. Kamu aku pulang ternyata nggak ada dan sedang tidur di kamar yang gelap ini." ujar Ditya. Untunglah dia tidak tahu kalau aku sejak tadi hanya melamun saja.


"Kamu mau langsung makan atau tidak? Atau mau mandi dulu?" tanyaku pada Ditya.


"Kayaknya aku mandi dulu ya. Badanku lengket banget. Seharian bolak-balik ke beberapa tempat sampai keringetan dan kepanasan. Nanti aku langsung ke meja makan aja kalau udah selesai mandi." jawab Ditya.


"Baiklah. Aku hangatkan dulu apa yang aku masak tadi ya. Kamu mandi aja, handuknya udah aku taruh di kamar mandi dan baju gantinya nanti aku sediakan di atas tempat tidur ya."


"Siap, Sayang!" Ditya pun menurut dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Aku tak mau terus-menerus melamun. Pekerjaanku sudah menunggu. Sekarang, aku harus melayani suamiku yang sudah pulang kerja.


Aku mengambil baju ganti untuk Ditya, sebuah kaos dan celana pendek yang terlihat nyaman kalau Ia kenakan dalam rumah. Setelah itu, aku pergi ke dapur. Kupanaskan lauk yang tadi aku masak dan juga menghangatkan teh madu untuk Ditya minum di dalam microwafe. Aku melihat jam di ruang tamu, ternyata sudah hampir jam setengah sembilan malam.


Sudah malam, dan Ditya baru pulang. Aku pun sedang sibuk melamun sejak tadi sampai tidak tahu waktu. Aku terus saja memikirkan tentang aku memiliki kepribadian ganda. Aku takut, sifat aku yang labil seperti ini suatu hari akan menyakiti Ditya. Namun, untuk berbicara jujur pada suamiku, jujur aku enggak bisa. Aku terlalu takut kehilangan semuanya.


Aku menunggu kedatangan Ditya di meja makan. Aku berusaha mengingat-ingat lagi apa kelebihanku setelah bangun dari koma. Satu hal yang mengganjalku adalah mimpi aneh. Kenapa aku jadi sering memimpikan Agni? Lalu, aku seperti sudah mengenal beberapa tempat meskipun aku tak pernah ke sana.


Tempat makan mie ayam bersama Ditya contohnya. Aku bahkan melihat siluet dan seperti merasa de javu karena berada di sana. Padahal, aku belum pernah sama sekali ke sana. Apakah ini adalah alam bawah sadarku? Ataukah memang kepribadianku yang lain yang pernah ke sini tanpa aku tahu?


Dari yang aku baca, para penderita kepribadian ganda suka tidak menyadari kalau mereka sudah pernah pergi ke suatu tempat. Mereka menganggap, mereka belum pernah ke tempat tersebut sebelumnya. Padahal sebenarnya, kepribadian yang lain sedang mengambil alih tubuhnya dan membuat Ia pergi ke tempat tersebut. Lama-kelamaan, memorinya mulai hilang. Karena hanya dimiliki oleh salah satu kepribadian saja. Ini yang aku tidak mau.


"Tuh kan! Melamunnya pindah! Tadi di kamar, sekarang di ruang tamu. Apa sih yang kamu pikirin, Sayang?" tanya Ditya yang kini sudah mandi dan ikut bergabung di meja makan. Harum sabun langsung tercium. Sudah segar dan wangi tak seperti saat baru pulang tadi.


"Enggak kok. Aku cuma lagi mikirin kata-katanya Bima tadi siang. Tadi aku ke tempatnya Bima dan kita sedang menyeleksi untuk beberapa produk yang akan kita endorse. Mungkin aku kelelahan karena itu melamun sudah menjadi hal yang paling enak." kataku beralasan.


"Bagaimanapun, melamun itu nggak bagus. Tetap fokus dengan diri kamu sendiri. Aku nggak mau, sikap kamu dan kepribadian kamu berubah kalau kamu melamun nanti. Aku suka kamu seperti ini. Kamu yang lembut, penyayang dan penyabar." kenapa Ditya membahas hal ini ya?


Aku jadi curiga. Sepertinya, Ditya juga sudah menyadari kalau dalam diriku ada kepribadian lain yang bertolak belakang sekali sifatnya denganku. Lalu aku harus apa? Bertanya langsung pada Ditya? Kalau dia malah menganggap aku gila gimana?


"Kenapa sih? Kamu masih melamun aja? Memangnya masalah kamu berat banget? Sini, cerita sama aku. Kita kan sekarang sudah menjadi suami istri. Kita harus memikul bareng-bareng masalah yang ada." kata Ditya dengan bijak.


"Bukan masalah kok. Aku cuma lagi kepikiran aja. Tadi Bima juga mengatakan apa yang kamu katakan padaku. Sama persis. Tentang aku yang terkadang bersifat lembut dan juga aku yang terkadang bersikap berani. Ya, memang kepribadian aku seperti ini. Kadang aku sangat pemberani. Kalau kamu boleh memilih, kamu akan menyukai aku yang seperti apa?" kuhidangkan teh madu yang tadi sudah aku panaskan untuk Ditya.


Ditya meminumnya dan aku tahu Ia menyukai teh madu buatanku. Tubuhnya yang lelah, butuh asupan madu agar tetap menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit. Madu alami juga bagus dibanding menggunakan vitamin tambahan.


"Sifat kamu yang berbeda? Hm... kalau aku boleh jujur, aku sih menyukai sikap kamu yang apa adanya kayak sekarang. Lugu, polos, dan lemah lembut. Tapi aku juga menyukai sikap kamu yang berani dan tegas. Memang, dalam diri setiap seseorang itu ada dua kepribadian yang berbeda. Contohnya aku. Di depan karyawan, aku harus bertindak sebagai seorang pemimpin yang tegas dan berani mengambil setiap keputusan. Namun, di belakang mereka aku tetaplah seorang Ditya. Aku sayang sama kamu, aku bisa bermanja ria sama kamu dan aku juga bisa menunjukkan sisi lain diriku. Itu hal yang wajar. Kita hanya belum saling mengenal saja." ujar Ditya dengan bijak.


Benar juga apa yang dikatakan oleh Ditya. Kami memang harus lebih saling mengenal satu sama lain. Termasuk diriku, aku harus lebih mengenal lagi bagaimana sifat dan kepribadian diriku yang sebenarnya. Apalagi sehabis percobaan bunuh diri waktu itu, aku merasakan diriku ini benar-benar berbeda. Entah apa penyebabnya. Terkadang mimpi aneh yang datang hampir setiap malam dan membuat aku seakan mengenal masa lalunya Agni.


Jujur saja, aku lebih mempercayai firasatku sendiri. Aku lebih mempercayai kalau dalam diriku ada dua kepribadian berbeda dan dua orang yang berbeda. Kata-kata Ditya aku anggap sebagai penghibur semata. Aku yang akan mencari tahu semuanya.


Pertama-tama, aku akan pergi ke Jembatan Cinta. Aku akan mengingat memori kejadian di waktu itu. Meski menyakitkan, aku harus menghadapinya. Aku nggak bisa terus-menerus menghindar dan membiarkan dua kepribadian ini lama-lama menggangguku. Aku harus mengembalikan sebagian ingatanku yang terkubur karena terlalu menyakitkan tersebut.


****