
Bima
"Ra, kamu masih mau menemui Ditya sekali lagi? " tanyaku memastikan untuk yang terakhir kalinya.
Meski tatapannya kosong, aku tahu Lara mendengarku. Ia menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak."
Sudah aku duga.
Aku tahu Lara sedih. Aku tahu Ia kecewa. Aku tahu Ia tak akan memberikan Ditya kesempatan kedua.
"Kalau kamu sudah menutup pintu maafmu untuknya, lebih baik kita pergi sekarang. Kecuali kamu masih mau menemuinya. Karena, Ditya pasti tahu kalau kamu ada di rumahku. Sebentar lagi Ditya pasti datang ke sini."
Lara mengangkat wajahnya dan menatapku dengan lekat. "Ayo kita pergi sekarang! Aku tak mau lagi menemuinya!"
"Baik. Aku siapkan bajuku dulu!" aku lalu menyiapkan bajuku dan pergi menemui kedua orang tuaku.
"Ma, Pa. Aku akan pergi membawa Lara bersamaku." Mama dan Papa sangat terkejut mendengar permintaanku.
"Kamu mau pergi? Bersama Lara? Kemana? Bukannya Lara sudah menikah? Kenapa kamu mau membawanya pergi? Tadi Mama lihat, Lara membawa banyak pakaian di kopernya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Mama.
"Lara bertengkar dengan suaminya, Lara bahkan mau bercerai tapi Bima larang. Bima harus membawa Lara sekarang sebelum suaminya datang, Ma. Bima tak punya banyak waktu, Bima harus pergi. Nanti Bima jelaskan." pamitku.
"Tapi kamu tak bisa menjaga Lara, Bim! Bagaimana dengan diri kamu sendiri?" tanya Mama dengan khawatir. "Kamu lupa tujuan kita kembali ke Jakarta lagi apa?"
Tentu aku tak lupa, Ma.
"Aku ingat. Mama tenang saja. Aku pergi dulu! Doakan aku ya, Ma." aku pun mencium tangan Mama dan Papa yang seakan tak rela melepas kepergianku.
Cepat-cepat kumasukkan barang-barang milikku dan Lara ke dalam bagasi mobil. Kami pun segera berangkat.
Saat keluar komplek, aku sempat melihat mobil Ditya memasuki area komplek. Aku menghela nafas lega. Syukurlah kami tidak terlambat. Andai telat sebentar saja, pasti mereka akan bertemu. Tak akan kubiarkan mereka pergi.
Lara tidak bertanya mau dibawa kemana. Ia diam saja sambil menatap kosong pemandangan di luar jendela.
Lara bahkan tak tahu aku sempat berhenti di rest area untuk membelikannya makan. Benar-benar jiwa tanpa raga. Tak ada semangat hidup.
Aku menawarinya makan, sejak tadi Ia belum menyentuh makanan. Lara menolaknya. Sudah aku paksa tapi tetap saja Ia menolak. Sudahlah, nanti saja saat kami sampai di tempat yang kami tuju.
Setelah perjalanan selama empat jam, akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang terletak di tepi pantai. Rumah yang nyaman dan terjaga dengan baik.
Lara turun dari mobil dan menatap sekitar pantai, sementara aku menurunkan barang-barang dari bagasi mobil.
"Gimana? Kamu suka pemandangan di sini?" tanyaku seraya membuka kunci rumah.
Lara mengangguk. "Rumah siapa ini?" tanya Lara.
"Rumah Papa. Aku sempat tinggal di sini tapi tak lama. Biasa, aku selalu berpindah tempat." kubuka lebar pintu rumah dan membawa barang bawaan kami masuk ke dalam. "Masuklah!"
Lara melihat-lihat ke dalam rumah, meski tidak besar namun rumah ini nyaman. "Gimana? Kamu suka?" tanya Bima.
Lara mengangguk. "Suka. Setidaknya di sini lebih tenang."
"Rencananya aku mau ngajak kamu pindah. Tinggal di sini hanya sementara saja."
"Pindah? Kemana lagi?" tanya Lara sambil mengerutkan keningnya.
"Ke luar negeri. Belanda."
"Hah? Kamu serius?" Lara seakan tidak mempercayai perkataanku.
"Kenapa? Kita mau kerja apa di sana?" tanya Lara dengan lugunya.
Ternyata ini adalah Lara yang sebenarnya. Si polos yang terkadang sangat bodoh sampai tidak menyadari kalau dirinya sekarang adalah pemilik setengah dari Handaka Group.
"Kita buat konten. Kamu juga dapat uang dari perusahaan bukan? Kalau begitu hidupi aku selama di sana. Tidak lama kok." ya, memang tidak akan lama kami di sana. Aku maunya sih lama menghabiskan waktu dengan Lara tapi...
"Bim! Kamu gimana sih? Percuma kita pergi jauh tapi menunjukkan kita berada dimana. Ditya tetap saja bisa menemukanku!" gerutu Lara sambil memanyunkan bibirnya.
Mungkin Lara pikir aku tidak merencanakan semuanya? Ini adalah mimpiku. Aku sudah memikirkan semuanya. Kupikir mimpi ini tak akan pernah terwujud namun segalanya berubah. Apa saja bisa terjadi dalam hidup ini, bahkan yang tidak mungkin sekalipun.
"Ya... Kamu menyamar! Mudah kan? Kamu bisa merubah dandanan kamu atau kamu bisa juga memakai topeng?! Kita memulai lagi semuanya dari awal. Asal bersama kamu, aku yakin kita bisa merintis lagi. Kita sudah dua kali memulai semuanya dari awal. Apa salahnya kalau sekali lagi? Aku yakin Dewi Fortuna akan selalu bersama kita. Kamu mau?"
Meski sempat ragu, namun pada akhirnya Lara menganggukkan kepalanya. "Mau. Asal sama kamu, aku yakin pasti akan baik-baik saja."
"Bagus! Aku akan siapkan paspor kamu secepatnya. Kamu istirahatlah dahulu. Aku akan membuatkan teh manis hangat buat kamu. Perut kamu kosong karena belum makan sama sekali. Mau makan roti? Aku akan pergi ke mini market untuk membelinya." wajah lemas dan pucat Lara membuatku khawatir.
"Air teh manis saja cukup. Terima kasih. Kamu jangan kemana-mana, Bim. Aku takut. Temani aku di sini saja ya?!"
Siapa yang tega meninggalkan kamu di saat seperti ini Ra? Kamu begitu rapuh. Begitu mudah patah. Hanya senyum penuh perlindungan yang dapat kuberikan padamu.
"Aku tak akan meninggalkan kamu, Ra. Tenang saja. Istirahatlah. Aku buatkan teh manis hangat buat kamu."
Kutaruh koper miliknya di kamar yang tadi sudah aku suruh orang untuk bersihkan. Aku lalu pergi ke dapur dan membuatkan teh manis hangat untuk Lara.
Tok....tok... tok....
"Masuklah, Bim!" sahut Lara dari dalam kamar.
"Aku bawa teh manis dan pisang goreng buat kamu! Ternyata yang aku suruh bersihkan rumah meninggalkan pisang dan tepung di lemari es. Makanlah. Nanti kita cari makan di luar."
Lara menurut. Dia bangun dan mengambil teh hangat serta pisang goreng yang kubuat. "Mmm... Enak, Bim!"
Aku tersenyum mendengar pujiannya. "Makanlah yang banyak. Nanti aku buatkan lagi. Kamu tau kan, aku jago bikin pisang goreng sekarang?"
Lara akhirnya tersenyum. "Pasti beli di kakek penjual pisang yang waktu itu kan?" tebaknya.
"Iya. Aku tak tega. Sudah jarang sih kakek itu jualan di depan rumah orang. Hanya sesekali. Kalau kebetulan ketemu, pasti aku beli." beginilah kalau punya sifat enggak tegaan yang terlalu besar.
"Kamu baik sekali, Bim. Maukah kamu menikahi aku setelah aku bercerai dari Ditya?"
Deg...
Senyum di wajahku menghilang.
Lara memintaku menikahinya?
Sejak bertemu lagi dengan Lara, aku tak pernah bisa berpaling darinya. Aku memang sangat mencintainya. Aku bahkan berniat melamarnya namun...
Aku tak bisa...
"Aku mau. Mau sekali menikahi kamu, Ra. Tapi aku tak bisa. Namun aku akan menemani kamu selama mungkin." jawabku dengan sedih.
"Maksud kamu, Bim?"
****